Hayu Hasmita, seorang yatim piatu yang rela menguras isi rekening demi bertemu dengan seorang pria asal Qatar, yang dia kenal melalui aplikasi kencan online. Dia harus menerima kenyataan bahwa lelaki bernama Ferhat Al Malik itu hanya main-main terhadapnya.
Demi bisa kembali ke Indonesia, Hayu harus mengumpulkan uang dengan bekerja sebagai pelayan di rumah Ferhat. Sebuah rahasia pun terungkap, dan membuat Hayu semakin sakit hati dengan keluarga besar Al Malik.
"Bodoh, adalah salah satu kata yang tepat untukku. Aku terlalu berharap bisa menggapai langit, padahal kaki serta tanganku tak cukup panjang untuk menjangkaunya." - Hayu Hasmita.
Rahasia apa yang disembunyikan oleh Ferhat dan keluarganya? Mampukah Hayu merebut hati Ferhat sehingga usahanya pergi ke Qatar tidak sia-sia? Atau Hayu memilih menyerah dan kembali ke Indonesia setelah uangnya cukup untuk pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Kencan Pertama
"Ka-kamu serius?" tanya Safa dengan mata terbelalak.
Hayu tersenyum lebar dengan mata berbinar. Perempuan itu juga mengangguk tanpa bahwa dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Wajah Safa justru terlihat gusar.
Perempuan paruh baya itu membuang pandangan ke segala arah. Bahkan tubuhnya menunjukkan kalau sedang mengalami sebuah kekhawatiran. Seketika senyuman Hayu sirna, berganti dengan alis yang saling bertautan.
"Ibu kenapa?" tanya Hayu.
"Ng-nggak apa-apa, Yu. Ka-kamu hati-hati di jalan, ya?" pesan Safa sebelum akhirnya membelai lembut pipi Hayu.
Hayu memejamkan mata sekilas, meresapi sentuhan penuh kasih dati tangan Safa. Perempuan cantik itu membuka mata lalu tersenyum lembut. Dia meraih jemari Safa, lalu mencium punggung tangan perempuan itu.
"Baiklah, Hayu berangkat dulu, Bu. Tuan Ferhat sudah menunggu di depan."
Hayu bergegas keluar dari rumah. Safa hanya bisa menatap kepergian Hayu sambil menyimpan rasa khawatirnya. Perempuan itu justru curiga dengan perubahan sikap Ferhat.
Safa merasa Ferhat memiliki maksud tersendiri kenapa sekarang menjalin hubungan percintaan dengan Hayu. Dalam waktu singkat lelaki itu berubah sikap kepada Hayu, malah terasa aneh bagi Safa. Namun, dia berusaha menepis kecurigaannya.
"Semoga apa yang aku khawatirkan tidak terjadi ya, Nak. Aku berharap kamu selalu mendapatkan kebahagiaan." Safa mengembuskan napas kasar kemudian melepas celemeknya, dan bergegas masuk ke kamar untuk mandi.
Di sisi lain, Hayu sedang terperangah melihat senyum Ferhat yang tengah mengulurkan tangan. Jantung Hayu berdegup tak beraturan. Perempuan itu berusaha menguatkan hati agar kebahagiaannya malam itu tidak terlalu meluap ke permukaan.
"Hey, kenapa melamun? Kemarilah!" ajak Ferhat seraya melambaikan tangan.
Hayu akhirnya kembali melangkah cepat ke arah Ferhat. Perempuan itu begitu bersemangat hingga lagi-lagi tersandung kakinya sendiri. Beruntungnya Ferhat selalu sigap untuk menangkap tubuh perempuan yang sangat ceroboh itu.
"Hati-hati, aku nggak akan pergi ke mana-mana kok."
Senyum Ferhat begitu lembut dan menawan, hingga mampu membuat Hayu melupakan semua keburukan lelaki itu. Hayu berusaha kembali berdiri tegap. Ferhat membukakan pi tu mobil untuk Hayu.
Bahkan lelaki itu menggunakan telapak tangannya agar kepala Hayu tidak terbentur bagian atas mobil ketika masuk ke dalamnya. Mendapat perlakuan manis dari Ferhat, semakin membuat hati Hayu berbunga-bunga. Setelah itu Ferhat ikut masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan kendaraan.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam. Hayu sesekali mencuri pandang ke arah Ferhat yang sedang fokus menyetir. Jantung Hayu benar-benar tidak dapat dikendalikan ketika hanya berdua dengan Ferhat.
Pipi perempuan cantik itu kembali memerah ketika Ferhat bersenandung, ketika mendengarkan lagu yang diputar dalam mobil. Hayu merasa Ferhat sedang menyakitkan lagu itu untuknya. Keheningan keduanya pecah ketika Ferhat mulai membuka obrolan.
"Apa makanan kesukaanmu?" tanya Ferhat.
"Makanan kesukaanku nggak ada di sini," jawab Hayu sambil terkekeh.
"Ya, maksudku selama di sini, makanan apa yang menjadi favoritmu?"
"Apa, ya? Aku selalu suka apa saja yang dimasak oleh Bibi Safa." Hayu kembali teringat perempuan yang sangat baik itu.
"Yah, berarti percuma kalau begitu hari ini aku mengajakmu berkencan?"
"Ber-ken-can?" Hayu mengeja setiap suku kata yang membentuk kata tersebut.
Semakin dipikirkan bahwa dia sekarang berpacaran dengan Ferhat, semakin membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Perempuan itu masih tak menyangka kalau usahanya selama ini membuahkan hasil.
"Kalau begitu, aku akan membelikanmu ponsel dan juga make-up!"
"Eh?"
"Maaf, karena kemarin aku sudah menghancurkan semua pemberian Dayyan. Sejujurnya aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya. Jadi aku gelap mata, dan ...."
"Ferhat, dengarkan aku. Aku sudah memaafkanmu mengenai perusakan yang kamu lakukan. Tapi ... bolehkah aku memberimu sedikit saran?"
"Apa?"
Hayu terlihat berpikir. Perempuan itu menatap lurus jalanan di depannya. Dia sedang merangkai kata untuk mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan kepada Ferhat.
"Lain kali, bicaralah baik-baik jika kamu tidak menyukai sesuatu. Fer, butuh waktu untuk sepasang kekasih saling mengerti apa yang disukai dan tidak disukai oleh pasangannya."
"Baiklah," ucap Ferhat sambil tersenyum.
"Ah, satu lagi. Jangan kamu menghancurkan apa yang kamu benci. Belum tentu orang atau sesuatu yang tidak kamu sukai itu mengakibatkan sesuatu yang buruk bagimu."
Ferhat memaksakan senyum. Hatinya berontak karena mendengar nasehat dari Hayu. Ada rasa tidak terima karena Hayu terdengar seperti sedang mendikte dan mengguruinya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di pusat perbelanjaan milik Ferhat. Keduanya saling menautkan jemari dan berjalan berkeliling untuk membeli ponsel serta make-up. Ferhat membelikan semua yang Hayu mau.
Bahkan, lelaki itu membelikan ponsel serta make-up yang jauh lebih mahal, daripada yang pernah dibelikan oleh Dayyan. Hayu menolaknya berulang kali, terapi Ferhat tetap ingin membelikan semua yang terbaik dan pal8ng mahal untuk Hayu.
"Fer, kamu tidak usah sampai seperti ini. Sayang uangnya." Hayu menatap beberapa tas kertas yang ada di atas meja.
Kini mereka berdua sedang bersantai di sebuah kafe. Hayu berulang kali mengingatkan Ferhat untuk tidak terlalu membuang-buang uang untuk hal yang tidak begitu penting. Namun, Ferhat tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
"Hayu, lihat aku." Ferhat meraih jemari Hayu dan menatap sendu perempuan di hadapannya itu.
"Apa yang aku miliki sekarang tidak ada harganya jika dibandingkan denganmu. Aku akan memberikan segalanya untukmu, agar dirimu tersenyum."
Mendengar ucapan Ferhat tentu saja membuat Hayu meleleh. Dia merasa sangat beruntung karena bisa menjalin kasih dengan Ferhat. Perempuan itu tak henti-hentinya tersipu karena ucapan manis yang keluar dari bibir sang kekasih.
Setelah puas menghabiskan waktu bersama, mereka memutuskan untuk segera pulang. Sepanjang perjalanan, jemari keduanya terus bertautan. Sesekali Ferhat mencium punggung tangan sang kekasih, sehingga berhasil membuat Hayu salah tingkah.
Baru kali ini Hayu merasa sangat dicintai. Saat ini dia merasa menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia. Hayu berharap, perasaan Ferhat tidak akan pernah berubah untuknya.
"Terima kasih, Ferhat. Aku sangat bahagia. Kamu memanjakanku penuh cinta malam ini." Hayu menatap sang kekasih penuh cinta.
Ferhat tersenyum tipis. Lelaki itu hanya mengangguk, lalu keluar dari mobil. Dia membukakan pintu untuk Hayu dan menggandeng jemari lentik Hayu menuju pintu utama.
Getaran cinta yang Hayu rasakan, membuat jantungnya berpacu sepuluh kali lebih kencang. Akan tetapi, kebahagiaan Hayu runtuh seketika saat memasuki rumah Ferhat. Di sana ruang tamu sudah ada Zulaikha dan juga Malik, ayah Ferhat.
Mereka menatap Hayu dan Ferhat dengan tatapan tidak suka. Entah mengapa Hayu langsung menarik tangannya dari genggaman Ferhat. Hayu tertunduk dalam karena mendapat perasaan buruk yang menghinggapi hati.
"Dari mana kalian sampai pulang selarut ini?" Suara bariton Malik menggema di ruangan itu.
Hayu menelan ludah kasar. Perempuan itu terus menunduk, tidak berani menatap mata Malik dan juga Zulaikha. Hayu meremas terusan denim untuk meredakan ketakutannya.
"Kamu siapa?"
trus gmn pernikahan hayu dan Fayez selanjutnya...
nasi Ferhat jg blm dibahas kelanjutannya Thor ☹️☹️😥
jgn2 liatin psang mnsia yg ge brciuman..
oo ap kbr ati y Harris ap ga terbakar it....