Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Kilas Masa Lalu: Takdir Jodohku
Seorang pria muda berjalan tegap menuju ke tengah ruangan dimana sang ayah berada. Sang ayah menepuk pelan bahu sang pemuda begitu mereka telah berdiri bersebelahan.
"Perhatian semuanya! Ini adalah putraku, Aidil Pramudya. Dia yang akan menggantikanku untuk memimpin perusahaan ini," ucap pria paruh baya yang adalah Erkan.
"Aidil, silakan berikan sedikit kata sambutan untuk para pemegang saham dan direktur."
Aidil mengangguk. "Salam kenal semuanya. Saya Aidil. Tolong bantu saya untuk memajukan perusahaan ini dan menjadikannya sebagai perusahaan besar! Apalah saya tanpa adanya kalian yang membantu."
Kalimat Aidil membuat para direktur dan manajer yang menghadiri rapat bertepuk tangan. Mereka percaya dengan kemampuan Aidil untuk memimpin perusahaan ke depannya.
"Pih, apa ini tidak terlalu cepat?" tanya Aidil usai rapat. Kini mereka berada di ruangan Erkan yang kini telahresmi menjadi ruangan milik Aidil.
"Tidak! Apanya yang terlalu cepat? Kau sudah pantas untuk memimpin perusahaan ini. Dan papih harap, kamu bisa membawa perusahaan ini kearah yang lebih baik." Erkan menepuk bahu putranya pelan. Ia menyerahkan tanggung jawabnya yang telah usai kepada Aidil.
"Kalau begitu Papih pergi dulu. Papih ada janji dengan kawan lama papih."
Erkan keluar dari ruangan yang mulai hari ini akan ia tinggalkan. Ia memilih mengawasi perusahaan dari rumah saja dan menghabiskan waktu dengan sang istri.
Erkan menuju ke sebuah private room sebuah restoran di Royale Hotel. Ia bertemu dengan kawan lamanya yang sudah menunggu disana.
"Johan! Apa kabar?" Erkan langsung memeluk sang sahabat lama.
"Erkan! Lama tidak berjumpa!" Johan membalas pelukan Erkan.
Mereka kemudian saling duduk berhadapan. Johan menyodorkan beberapa berkas ke hadapan Erkan.
Erkan langsung membacanya namun hanya sekilas.
"Itu semua adalah berkas kepemilikan perusahaanku. Yah, tidak sebesar perusahaan milikmu. Perusahaanku masih bertaraf kecil."
Erkan menutup berkas itu. "Jangan bicara begitu. Meskipun kecil, tapi kau membangunnya dengan keringat dan hasil kerja kerasmu. Apa kau yakin ingin menjual semua ini padaku?"
Erkan melihat ada raut kesedihan di wajah Johan.
"Mau bagaimana lagi? Aku percaya padamu, Erkan. Kau pebisnis yang handal. Aku yakin perusahaan kecil ini akan mampu menjadi besar jika di pegang olehmu."
Erkan tertawa. Menurutnya pujian Johan terlalu berlebihan.
"Aku sudah pensiun. Sekarang perusahaan dipegang oleh putraku."
"Benarkah? Putramu yang bernama..."
"Aidil. Aku hanya punya satu putra saja."
Johan mengangguk paham.
"Lalu kau sendiri? Bagaimana kabar putrimu?"
"Putriku yang mana? Aku memiliki dua putri."
"Putri sulungmu."
"Ah, Salma?"
"Dia masih kuliah kan?"
Johan menggeleng lemah. "Dia mengorbankan pendidikannya karena aku. Dia tidak mau menjadi bebanku."
"Lalu dimana dia sekarang?"
Erkan sepertinya tertarik dengan putri sulung Johan.
"Salma bekerja di kafe Cemara."
Erkan mengangguk paham. Usai berbincang banyak hal dan juga bisnis, Erkan berpisah dengan Johan.
Secara tak terduga, Erkan mendatangi kafe tempat Salma bekerja. Erkan memperhatikan Salma yang sedang bekerja melayani pelanggan yang datang.
"Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan ramah. Sepertinya aku punya rencana yang bagus untuk ini."
#
#
#
Malam itu, Evita menyiapkan makan malam istimewa untuk Aidil. Pukul tujuh malam, Aidil kembali ke rumah.
Evita menyambut kedatangan Aidil dengan sukacita.
"Bersihkan diri kamu dulu. Setelah itu kita makan bersama. Mamih memasak makanan spesial untuk malam ini."
"Iya Mih."
Usai membersihkan diri, Aidil mendatangi ruang makan. Sudah ada mamih dan papihnya di sana.
"Duduklah, Aidil. Kita makan malam dulu, setelah itu ada yang ingin papih bicarakan denganmu," ucap Erkan.
Evita melirik suaminya. Ia bingung apa lagi yang ingin suaminya bicarakan dengan sang putra.
Usai makan malam, mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga. Aidil menunggu ayahnya bicara.
"Sebenarnya apa yang ingin papih bicarakan?" tanya Evita.
"Begini. Papih ingin kau segera menikah, Aidil."
Aidil melotot. Baru saja ia dibebani tanggung jawab besar sebagai pemimpin perusahaan dan sekarang ayahnya meminta hal lain.
"Pih, kenapa tiba-tiba papih membahas soal menikah? Menurut Mamih Aidil masih terlalu muda untuk menikah." Evita membela Aidil.
"Mih, Aidil sudah 25 tahun. Sudah saatnya dia menikah. Papih punya kandidat yang bagus untuknya. Dia adalah putri kawan papih." Erkan tetap pada pendiriannya.
"Papih!" protes Evita.
Aidil masih diam dan tidak menanggapi.
"Papih akan bicara dengan kawan papih. papih yakin dia setuju berbesanan dengan kita. Bagaimana, Nak?"
"Pih, ini terlalu mendadak. Bisakah aku memikirkannya dulu?"
"Iya, tentu saja. Tapi papih yakin kau akan menyukai gadis ini."
"Bagaimana jika aku tidak menyukainya?"
"Baiklah. Papih akan mempertemukan kalian berdua lebih dulu."
#
#
#
"Aku sudah menjual seluruh aset perusahaan kepada kawan lamaku. Jadi, kuharap kamu bisa mengerti dengan keadaan kita sekarang." Johan memberi pengertian pada Lidia.
"Kamu tega melakukan ini pada kita?" protes Lidia.
"Dengan uang ini kita akan memulai bisnis kecil-kecilan dari awal. Aku yakin kita bisa melakukannya."
Lidia menggeleng pelan. Setelahnya ponsel Johan berdering. Sebuah panggilan dari Erkan.
Mata Johan membola mendengar apa yang dikatakan Erkan. Johan duduk termenung sejenak.
"Ada yang ingin melamar Salma," ucap Johan kemudian.
"Apa?!" Lidia terperangah.
Johan menceritakan semuanya pada Salma. Tentu saja gadis itu menolaknya. Salma masih ingin merasakan masa mudanya dengan bebas. Ia juga baru merasakan mendapatkan uang dengan usahanya sendiri.
Seminggu setelah penolakan Salma, Johan jatuh sakit dan di vonis menderita stroke. Sebagian anggota tubuhnya tak bisa di gerakkan.
Salma yang tak memiliki pilihan lain, akhirnya menerima takdir jodohnya bersama pilihan sang ayah.
Berbeda dengan Aidil yang tetap menolak perjodohan itu. Ia tetap menguatkan pendiriannya.
Disisi lain Erkan terus berusaha meyakinkan putranya untuk menerima Salma. Ia sungguh menyukai gadis itu.
"Pih, aku tidak mencintainya. Bagaimana bisa pernikahan dibangun tanpa adanya cinta?" tegas Aidil.
"Cinta akan datang seiring berjalannya waktu, Nak."
"Jika aku tetap tidak bisa mencintainya, apakah kami harus bercerai?"
Kata-kata Aidil di masa lalu, kini kembali ia ingat. Dirinya akan menghadapi perceraian dengan Salma.
Aidil menatap langit-langit ruang kerjanya. Permintaan Salma tadi masih belum bisa jawab. Salma meminta Aidil untuk melepasnya.
Aidil mengusap wajahnya kasar. "Maafkan aku, Salma."
Kemudian Aidil memejamkan mata dan menuju ke alam mimpi.
Sementara di dalam kamar, Salma masih terjaga dan memandangi langit malam dari balkon kamar. Angin malam semakin dingin. Salma memilih masuk dan duduk di tepi ranjang.
Salma menatap seluruh ruangan kamarnya dan Aidil yang tidak banyak berubah.
"Ini seperti mimpi." Salma memejamkan matanya.
Salma naik ke atas tempat tidur lalu menutupinya dengan selimut.
"Aku sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Aku memilih takdir jodohku sendiri. Namun aku juga yang memilih untuk mengakhirinya. Mungkin memang jodoh kami hanya sampai disini."
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat