"ISTIKHARAH pada hakikatnya bukan untuk memilih diantara dua pilihan, tapi untuk menetapkan hati disatu pilihan." Anisa Rahman.
"CINTA adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati, dan terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh." Rahmat Hidayatullah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR BAHAGIA DAN KEKHAWATIRAN UMI KALSUM
Setelah memasuk gerbang pesantren, Rahmat bergegas masuk kerumah mencari keberadaan umi dan abi nya. Dan saat melewati ruang tamu, samar-samar ia mendengar suara yang sangat familiar.
"Rahmat..." panggil umi Kalsum.
Rahmat menoleh, dan ternyata umi nya itu sedang bersama salah satu guru di pesantren yang sudah beberapa bulan ini cuti karena ayah nya sedang sakit keras.
"Iya Umi." jawab Rahmat, ia menatap sebentar kearah wanita disamping umi nya sembari tersenyum tipis, kemudian beralih menatap sang umi.
"Kok kamu sudah pulang, seharusnya kan nanti malam setelah Isya. Apa semuanya baik-baik saja, Nak?" tanya umi Kalsum, ia berjalan mendekati putranya dengan wajah yang terlihat cemas. Namun setelah melihat senyum diwajah putranya itu, kekhawatirannya sedikit terkikis.
Dan disisi lain, senyum yang baru saja terukir diwajah Rahmat membuat seorang wanita yang juga berada diruangan itu, ikut tersenyum. Yah, setelah beberapa bulan akhirnya ia dapat melihat senyum itu lagi, dari laki-laki yang telah membuat nya jatuh hati dalam diam.
"Rahmat, semuanya baik-baik saja kan, Nak?" tanya umi Kalsum lagi, karena putranya itu belum menjawab pertanyaan nya.
Rahmat meraih kedua tangan umi nya, menggenggamnya dengan erat. Rasa bahagia yang ia rasakan saat ini seolah membuat nya tak mampu berkata-kata.
"Alhamdulillah Umi," ucap Rahmat, kedua mata nya berbinar menatap umi nya. Ingin sekali ia mengatakan tentang permintaan Anisa yang ingin menikah minggu depan, namun ia mengurungkannya karena diruangan itu ada orang lain.
"Umi, kita bicarakan diatas saja ya bersama Abi." ucap Rahmat kemudian perlahan melepas kedua tangan umi nya yang ia genggam. Lalu menatap wanita yang berdiri tak jauh dari tempat ia berdiri bersama umi nya.
"Uztazah Nia, maaf ya saya permisi." ucap Rahmat sambil menundukkan sedikit kepalanya.
"Iya Uztad, silahkan." jawab Uztazah Nia juga dengan menundukkan kepalanya.
Rahmat pun bergegas menaiki anak tangga menuju lantai atas untuk menemui abi nya.
Setelah Rahmat sudah tak terlihat lagi, umi Kalsum kembali mengampiri uztazah Nia yang masih berdiri disisi sofa.
"Sebaiknya Uztazah Nia istirahat dulu ya, pasti capek karena perjalanan dari kampung cukup jauh." ujar umi Kalsum sambil mengusap lengan uztazah Nia.
Uztazah Nia mengangguk patuh, kemudian mengambil tas nya." Iya Umi, kalau begitu aku pamit ke asrama." ucapnya.
Umi Kalsum mengantar uztazah Nia sampai ke depan pintu. Setelah itu ia juga segera naik ke lantai atas, rasa nya sudah tak sabar ingin mendengar berita yang dibawa pulang oleh putranya itu.
..._______________________...
"Abi, Umi, Anisa meminta pernikahan dilangsungkan minggu depan." ucap Rahmat.
"Benarkah, apa itu tidak terlalu terburu-buru?" tanya abi Ridwan. "Banyak yang perlu dipersiapkan, dan apakah semuanya bisa siap dalam waktu satu minggu?"
Rahmat tersenyum. "Abi, Anisa tidak menginginkan pernikahan yang meriah, cukup disaksikan oleh keluarga dan para santri disini itu sudah cukup baginya." ujar Rahmat.
"Lagi pula, kata Anisa kami berdua seharusnya sudah menikah sejak dua bulan yang lalu. Tapi karena... " Rahmat tak meneruskan kalimatnya, ia terkekeh mengingat kejadian dua bulan lalu. Dimana Anisa yang kabur dari perjodohan namun justru datang membawa dirinya kepada jodohnya.
Abi Ridwan dan umi Kalsum pun ikut terkekeh.
"Iya, Umi juga gak nyangka, rasa nya waktu dua bulan terbuang percuma. Seandainya kalian menikah waktu itu, pasti saat ini Anisa sudah..." umi Kalsum pun tak meneruskan kalimatnya, ia menatap putranya yang mengulum senyum.
"Begitulah Umi takdir tidak ada yang tahu. Mungkin Allah sengaja mengulur waktu agar aku lebih memantapkan hati saat itu, dan ternyata hati ku benar-benar telah terpaut padanya. Selama dua bulan ini, di setiap malam setelah menunaikan shalat istikharah, dia selalu hadir dalam mimpiku. Dan saat menatap nya walaupun dari kejauhan, hati ini selalu merasa damai." tutur Rahmat.
"Masya Allah." hanya kalimat itu yang terucap dari bibir abi Ridwan dan umi Kalsum. Sebagai orangtua, mereka turut bahagia karena kini putra bungsu mereka telah menemukan tambatan hati nya.
"Baiklah kalau begitu. Besok saat para santri sedang apel pagi, Abi akan mengumumkan kabar bahagia ini. Dan kita juga harus mengundang para guru-guru disini, karena bagaimanapun juga mereka adalah bagian dari pesantren ini, dan sudah seperti kerabat kita." ucap abi Ridwan.
Rahmat dan umi Kalsum mengangguk setuju.
"Oh ya, kebetulan sekali Uztazah Nia sudah kembali. Tadi nya Umi sempat khawatir karena santri putri tidak ada yang mengawasi lagi. Dan alhamdulillah, bertepatan Anisa meninggalkan pesantren, eh Uztazah Nia datang." ujar umi Kalsum sambil terkekeh. Namun, saat mengingat perkataan Yusuf, senyum di wajahnya perlahan memudar.
"Tante Anisa jadi jodoh nya Om Rahmat aja ya, kalau enggak nanti di ambil sama Tante Nia kalau dia sudah pulang. Tante Nia kan suka sama Om Rahmat."
Sesaat umi Kalsum jadi khawatir jika apa yang dikatakan oleh Yusuf itu benar, bahwa wanita yang beberapa saat lalu bersamanya diruang tamu, diam-diam menyukai putranya.
"Ya Allah, apa aku harus mencari kebenarannya?" gumam umi Kalsum dalam hati. Namun, ia berharap itu tidak benar.
..._____________...
Di sisi lain, pak Usman dan bu Fatimah tak kalah bahagianya saat putri mereka mengatakan telah meminta kepada calon suaminya agar melangsungkan pernikahan minggu depan.
Yah, lebih cepat lebih bagus menurut pak Usman. Karena tidak baik juga menunda-nunda hal yang baik.
Dengan mata yang berkaca-kaca, pak Usman meraih kedua tanga Anisa kemudian menggenggamnya dengan erat lalu berkata.
"Nak, kamu akan segera menikah. Pesan ayah adalah taatilah setiap perintah suamimu asalkan itu baik. Dan jadilah ibu yang mengayomi anak-anakmu kelak. Kamu akan memiliki keluarga sendiri, tapi jangan lupa kamu tetap putri Ayah dan Ibu. Jika kamu membutuhkan sesuatu, datanglah kepada kami dan kami dengan segenap hati akan membantunya." ucap pak Usman.
Anisa pun tak sadar menitihkan air matannya, ia tak mampu berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa membalas genggamanya ayah nya dengan sedikit bergetar.
Begitupun dengan bu Fatimah yang juga tak mampu berkata-kata lagi. Ia langsung menarik tubuh putri semata wayangnya itu kedalam pelukannya.
seandainya dia crt ke rahmat atau abi ridwan soal mimpinya
jazakillah khairan thor, sukses selalu dlm karya2 nya
🥰🥰🥰🥰
thot terima kasih, jazakillah khairon 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰 🤗🤗🤗🤗🤗🤗
.
bukan rambut kepala di sambung dgn rambut saja.
.
beda daerah beda panggil an kali yahh..