Tolong bijak dalam membaca.!
Novel ini mengandung 21+ dengan tingkatan level neraka jahanam.! 😂 Jadi untuk para bocil-bocil yang mau baca novel ini tolong skip dibagian tertentu 👍
Renata Raharja, seorang Dokter kandungan yang terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya. Ia cerdas, cantik, baik dan sangat berprestasi.
Namun sayang, semuanya itu hancur ketika ia bertemu dengan Diki, seorang pria yang terlahir dari keluarga biasa saja, yang sudah berhasil mencuri hatinya, dan juga keperawanannya, hingga akhirnya ia pun hamil diluar nikah.
Kira-kira seperti apakah kelanjutan ceritanya.?
Baca terus novel ku ini.!
######
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ila akbar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20.
Pagi pun tiba,,,,,
DI KAMAR DIKI.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 Pagi.
Terlihat Renata yang dari tadi sedang sibuk menyiapkan pakaian untuk Diki suaminya itu bekerja, karena sepertinya meskipun Diki suaminya itu telah berbuat kasar kepadanya, ia tetap berusaha menjadi istri yang baik untuknya, sehingga ia rela melakukan hal seperti itu, hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, karena sebelumnya sebelum ia menikah dengannya, semua keperluan dan kebutuhannya selalu diurus oleh asisten rumah tangganya.
"Mana Ren pakaian kerja Abang.?" Ucap Diki yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ini bang.!" Ucap Renata sambil memberikan pakaian tersebut kepadanya.
"Oh iya Ren, Siska sama Dimas udah pada berangkat.?" Ucapnya lagi sambil sibuk memakai pakaiannya itu.
"Udah bang, katanya sih ada kegiatan apa gitu di kampus, jadinya mereka berangkat cepet deh.!" Ucap Renata yang sedang sibuk memakaikan dasi untuknya.
"Oh gitu." Ucap Diki sambil bercermin di depan kaca untuk melihat penampilannya itu.
"Iya bang." Ucap Renata yang masih terus sibuk memakaikan dasi untuknya.
"Ya udah yah bang, Renata mau siapin sarapan buat Abang dulu.!" Ucapnya lagi setelah selesai memakaian dasi tersebut untuknya, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menuju dapur.
"Eh Ren, enggak usah.!" Ucap Diki tergesa-gesa.
"Enggak usah, emang kenapa bang.?" Ucap Renata bingung.
"Ia enggak usah.! Soalnya pagi ini Abang mau sarapan di luar."
Ucap Diki serius, sehingga membuat Renata pun seketika langsung terdiam.
"Yaaaah, sayang banget deh.! Padahal kan gw udah capek-capek belajar masak makanan kesukaan bang Diki dari tadi pagi.! Mana resepnya juga udah susah payah gw cari-cari di google lagi." Ucapnya dalam hati sedikit kecewa, karena ia sudah susah payah belajar masak untuknya, apalagi tadi pagi itu adalah kali pertama ia memasak dari sejak ia kecil sampai sekarang.
"Ya udah yah Ren, Abang berangkat kerja dulu.! Udah siang nih.!" Ucap Diki yang sudah rapih dan sudah siap untuk berangkat.
"Oh I, i, iya bang." Ucap Renata yang terbangun dari bengongnya.
"Ya udah yah bang, ati-ati.!" Ucapnya lagi sambil mengulurkan tangannya untuk salaman.
"Iya." Ucap Diki singkat.
"Oh iya, kamu juga ati-ati di rumah.! Ingat, jangan lupa minum obat.! Abang enggak mau yah, kalau sampai terjadi sesuatu lagi sama kandungan kamu ini.!" Ucapnya lagi mencoba untuk mengingatkannya seperti itu, karena sepertinya meskipun ia tidak mencintai Renta istrinya, tapi ia sangat menyayangi calon anaknya itu.
"Ia bang." Ucap Renata singkat.
"Ya udah, Abang berangkat." Ucap Diki lagi, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah keluar dari kamarnya itu menuju mobilnya, meninggalkan Renata hanya sendiri di dalam kamar tersebut.
"Yaaaah, semuanya udah pada berangkat deh.! Tinggal ada gw doang sendiri disini.! Mana ini rumah sepi banget lagi " Ucapnya merasa kesepian.
"Ya udah deh, dari pada gw kesepian kayak gini.! Mendingan gw ke depan aja siramin tanaman bang Diki." Ucapnya lagi, kemudian ia pun langsung melangkah keluar dari kamarnya menuju halaman rumah tersebut, namun baru saja ia sampai di ruang tamu, langkahnya sudah terhenti, karena tiba-tiba ia melihat seorang lelaki yang tak lain adalah Jaki temen dari Dimas yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu rumah tersebut.
"K, k, kamu siapa.? N, n, ngapain kamu ada disini.?"
Ucap Renata gugup karena saking kaget dan paniknya melihatnya bisa ada didalam rumah tersebut. Namun sayang, melihat Renata kaget dan sepanik itu, Jaki malah justru tersenyum.
"Kenapa.? Kok kamu kaget gitu lihat gw.!" Ucapnya sambil terus tersenyum.
"Kenalin.! Nama gw Jaki, gw temennya Dimas sama Diki." Ucapnya lagi mencoba untuk memperkenalkan diri kepadanya.
"O, o, oh gitu." Ucap Renata masih gugup.
"Oh iya.! T, t, tapi sebelumnya maaf banget yah mas.? Sekarang Bang Diki sama Dimas nya lagi enggak ada di rumah, gimana kalau nanti malam aja mas balik lagi ke sini.?" Ucapnya lagi mencoba untuk menyarankannya seperti itu.
"Udah enggak papa.! Lagian gw kesini bukan untuk ketemu sama mereka kok." Ucap Jaki dengan tiba-tiba menjawabnya seperti itu, sehingga Renata pun bingung dibuatnya.
"Bukan untuk ketemu sama mereka.? Emang mas mau ketemu sama siapa.?" Ucapnya penasaran.
"Gw kesini karena gw pengin ketemu sama kamu.!" Ucap Jaki sambil tersenyum mesum memandangi tubuh Renata dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Ketemu sama Renata.?" Ucap Renata semakin bingung, karena ia benar-benar tidak tau sebenarnya apa maksud dari ucapannya itu.
"Ia ketemu sama kamu.!" Ucap Jaki lagi sambil terus tersenyum mesum, kemudian ia pun langsung buru-buru menggenggam erat tangannya.
"Mas, mas ini apa-apaan sih.? Awas.!" Ucap Renata kesel, sambil menghempaskan genggaman tangan tersebut dari tangannya, sehingga membuat Jaki pun terpancing emosinya, dengan segera ia pun langsung mendorongnya dengan kuat dan menyenderkannya ke tembok, karena ternyata pagi-pagi seperti ini ia datang ke rumah tersebut, karena ia berniat untuk memperkosanya.
"Mas, mas ini sebenarnya mau ngapain sih mas.? Awas.! Lepasin.!" Ucap Renata panik dan ketakutan sambil mencoba untuk berontak darinya, karena sepertinya ia sudah tau apa maksud dari tujuanya itu.
"Udah deh, kamu ini enggak usah munafik.! Kamu juga sebenarnya merindukan sentuhan ini kan.? Sentuhan dari seorang lelaki, iya kan.? Karena gw tau, sejak kamu menikah dengan Diki.! Kamu ini pasti kesepian, karena kamu ini belum pernah disentuh oleh Diki sedikit pun.! Karena apa.? Karena semua orang juga tau, kalau dari dulu Diki itu cuma cintanya sama Anita." Ucap Jaki dengan sangat yakin, sambil terus menyenderkannya ke tembok dengan kuat.
"Jadi lebih baik sekarang, ayo kita berdua senang-senang disini dibelakang Diki.!" Ucapnya lagi sambil terus tersenyum mesum, kemudian ia pun langsung berusaha untuk mencium bibirnya.
"Awas, enggak mau.! Lepasin.!" Ucap Renata semakin panik dan ketakutan sambil terus berusaha untuk berontak darinya.
"Tolong, tolong.!" Teriaknya meminta tolong karena saking takutnya. Namun sayang, mendengar Renata minta tolong ketakutan seperti itu, Jaki pun malah justru tersenyum.
"Percuma kamu teriak-teriak minta tolong kayak gini.! Karena enggak akan pernah ada orang yang bakalan nolongin kamu.!" Ucapnya sambil terus tersenyum, kemudian ia pun langsung berusaha untuk membuka kancing baju yang sedang Renata kenakan, sehingga membuatnya pun seketika langsung menangis karena saking takutnya.
"Hiks,, hiks,, enggak.! Hiks,, hiks,, enggak mau, lepasin.! Hiks,, hiks,, awas.!" Teriaknya.
"Tolong, tolong.! Bang Diki tolongin Renata bang.! Hiks,, hiks,, bang Diki tolongin Renata.!" Teriaknya lagi sambil terus menangis memanggil nama Diki, berharap Diki suaminya itu akan datang menolongnya.
"Udah diem.! Percuma kamu teriak-teriak panggil Diki, karena Diki itu enggak akan pernah datang untuk nolongin kamu.!" Teriak Jaki emosi, karena Renata tak henti-hentinya teriak-teriak minta tolong seperti itu.
"Jadi lebih baik, ayo sekarang juga kamu layanin gw.!" Teriaknya lagi sambil menyeret tangannya, kemudian ia pun langsung mendorongnya dengan kuat, sehingga ia pun terjatuh dan terbaring di atas sofa yang berada di dalam ruang tamu rumah tersebut.
"Aw, Sssttttt.! Sakiiiiit." Teriaknya kesakitan sambil memegangi erat perutnya. Namun lagi-lagi sayang, melihat Renata kesakitan seperti itu, Jaki tidak perduli. Dengan segera ia pun malah justru langsung membuka baju yang sedang ia kenakan, sehingga membuat Renata pun lagi-lagi semakin ketakutan.
"Aw, Sssttttt.! K, k, kamu mau ngapain.? J, j, jangan.! Tolong jangan lakukan ini sama Renata.! Renata mohon, tolong jangan lakukan ini sama Renata.! Renata mohoooon.!" Ucap Renata memohon dengan sangat melas sambil menangis terkapar tak berdaya diatas sofa tersebut, karena sekarang ini ia benar-benar sudah tidak bisa melawan apalagi berontak darinya, dikarenakan keadaan perutnya itu yang lagi-lagi kesakitan karena tadi di dorong dengan sekuat tenaga olehnya. Jadi sekarang ini ia benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah dan menunggu keajaiban dari tuhan berharap ada seseorang datang untuk menolongnya.
"Nah gitu dong, kamu ini diem.! Nurut sama gw." Bentak Jaki, kemudian ia pun langsung tersenyum bahagia, karena seneng melihatnya pasrah seperti itu, dan ia juga sangat yakin kalau ia pasti akan berhasil memperkosanya dan berhasil menikmati habis seluruh tubuhnya di pagi ini.
jadi degdeg an thor