NovelToon NovelToon
My Chosen Wife

My Chosen Wife

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:11.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Putritritrii

Lanjutan Dari Novel Terpaksa Menikah. Sebelum membaca kisah dari Anak - Anak Raka dan Eva beserta sahabatnya. Mohon di baca untuk Season pertamanya.


Sebelum ke sini tolong baca dulu Terpaksa Menikah.

Memilih pasangan yang pas, seperti sang mama adalah keinginginan Rava Atmadja. Banyak keinginan yang ia dasari dari kisah cinta papa dan mamanya, yang bersatu karena sebuah kesalahan. Kesalahan yang menurut sang papa dan juga mamanya, adalah berkat dan kebahagiaan dengan hadirnya, Rava di kehidupan mereka.

.
Karena di Jodohkan oleh sang mama dengan anak sahabatnya, Rava mencoba untuk lari dari kenyataan. Dan berusaha untuk memilih yang terbaik antara pilihan sang mama dan juga pilihannya sendiri. Mari baca dan berikan dukungan kalian. Terima Kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Renata Bersedih.

"Jika kau melangkah dari pintu kamar ini, aku benar-benar akan melapasmu." ucap Renata dengan suara berat.

Rava tersenyum dan berjalan mengarah ke pintu keluar. Renata semakin terisak.

Bragggggg....!!!!

Renata menoleh ke arah belakang, dan melihat Rava terjatuh, karena pingsan. Bergegas Renata berlari ke arah Rava dengan histeris. Renata mengangkat kepala Rava ke atas pahanya, menyentuh kedua pipinya dengan sedikit tepukan.

"Rava... Ayo bangun, kamu kenapa sih?" ucap Renata takut.

"Va... bangun dong, gimana aku mau mengangkat kamu. Kamu benaran pingsan atau gimana? jangan bilang , kamu pura-pura supaya aku tidak melpaskanmu, Va." ucap Renata panik.

"Heeyy... bangunlah. Aku tidak pernah melihatmu pingsan. Kok ini pingsan sih? Duh gimana... apa aku berikan nafas buatan saja ya." ucap Renata menatap wajahnya.

Tanpa pikir panjang, Renata memberikan ciuman pertamanya untuk menolong Rava. Saat hendak mencium bibir Rava, tanpa di sadari Renata, mata Rava terbuka dengan kesadaran yang tidak stabil menatap Renata.

Cupppppp....

Renata, memberikan teknik nafas buatannya. Sampai tiga kali mencoba, Rava tidak kunjung sadar. Ia pun menjadi menangis ketakutan.

"Duh...Kamu jangan mati dulu, kamu belum bilang kalau kamu sayang sama aku, kamu cinta sama aku. Kalau kamu mati, aku bagaimana?" Renata terisak, lalu Renata meletakkan kepala Rava di lantai, dan dengan cepat ia menelepon, pihak Apartemen untuk memanggil Ambulance.

^

Rava di bawa ke Rumah Sakit, menggunakan Ambulance. Selang beberapa menit, tiba di rumah sakit dengan bantuan tenaga medis, Rava di bawa ke ruangan IGD untuk di tangani dan di periksa oleh Dokter yang bertugas. Dan barulah di ketahui, Rava pingsan karena dehidrasi dan kelaparan. Alamak, seorang pemilik perusahaan ternama kelaparan, malu dong Rava.

Dokter meminta ke Renata, agar Rava tetap di ruangan IGD, karena saat cairan infus nya habis, dan Rava siuman, dia sudah diperbolehkan pulang. Karena itu tidak di perlukan kamar inap baginya. Renata yang menatap wajah Rava yang pucat, menatapinya dengan sedih.

"Kenapa di hari pertamaku berjumpa denganmu, sudah di sambut seperti ini. Apa kau membalas, hukumanku?" ucapnya sendiri, masih menatap wajah Rava dari dekat.

"Kau itu... semuanya pertama bagiku Tapi... kenapa kau tidak pernah merasakan hal yang sama denganku? Saat kau sadar nanti, boleh kah ku getok kepalamu? Agar otakmu bekerja dengan baik." Renata bertanya sendiri.

"Ciss.. Salahnya aku sangat mencintaimu, jadi aku tidak tega." ucapnya lagi dengan tersenyum menatap Rava.

Jam dinding menunjukkan angka sembilan menandakan sudah malam, Rava mengerjap, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan mata yang masih berat, butuh waktu untuk menyesuaikan pandangannya. Tangannya terasa berat, ia mengangkat sedikit kepalanya dan menoleh ke tangannya, tampak Renata yang menggenggam tangannya dan sedang tiduran.

Rava pun tersenyum, ia mengingat saat Renata yang panik, dan memberikan nafas buatan untuknya. Dan merasa bersalah, karena itu ciuman pertama Renata, yang harusnya di berikan kepada orang yang tepat, bukan pada dirinya, pikir Rava.

Rava kembali merebahkan kepalanya, menyentuh keningnya dan merasa kasihan dengan Renata, yang harusnya dia beristirahat dari perjalanan panjangnya , melihatnya tertidur dengan menekukan tubuhnya.

"Kak Rava." seru Vara dengan histeris dan berjalan mendekati Rava.

Renata sontak terbangun, mendengar suara cempreng Vara. Vara menyentuh kakaknya, dengan wajah cemasnya.

"Kakak... Kok kakak bisa di sini?" tanya nya sekilas melirik tajam ke Renata.

"Agh... kakak pusing tadi, kenapa kau tahu kakak di sini? sama siapa kau ke sini?"

"Kak Rava..." Defan juga masuk dengan histeris datang memeluk Rava.

"Defan... lepaskan kakak, kau ini jangan membuat kakak malu." ucap Rava ketus.

"Kak... Kau tahu kami sangat panik. Menerima panggilan dari , Kak Rena." ucap Defan dengan wajah sedihnya.

"Kakak , baik-baik saja. Jangan di besar-besarkan, Fan. Sudah lepaskan!." ucap Rava.

"Pasti semuanya karena, Kak Rena kan?" suara Vara sedikit membentak.

Renata yang sedari tadi hanya diam menatap pada Vara, "Agh... maafin kakak, Vara. ucap Rena lembut, ya karena memang benar yang di katakan Vara. Renata itu enggak pintar berbohong, apa saja yang dia pikir dengan kesadarannya dia akan mengatakan yang sebenanrya.

"Vara... yang sopan dengan orang yang lebih tua dari kamu!" ucap Rava tegas.

"Kakak kenapa sih, terus-terusan membela, Kak Renata? Kak Renata suka nyusain kakak, mau sampai kapan dia bisa mandiri kak!." ketus nya lagi.

"Vara!" bentak Rava, Renata menyentuh tangan Rava dan menggelengkan kepalanya.

"Maafin, kakak ya Vara, kakaj enggak sengaja." katanya dengan lembut.

"Halah... Alasan kak Rena saja! mau cari perhatian kak Rava." ucap si Vara lagi.

"Vara, kau ini jangan tidak tahu sopan santun dengan kak Renata, apa kau tidak malu, kalau enggak karena kak Rena yang membawa kak Rava ke sini, bukankah akan lebih bermasalah!" Defan ikut membuka suara

Renata berdiri, "Maafin saya, membuat kalian semua jadi bertengkar, semua karena saya. Tugas saya sudah selesai di sini, dan tidak seharusnya saya berada di sini, saya permisi." ucap Renata, dan langsung berjalan.

"Renaaaa." panggil Rava.

Renata tidak menggubris panggilan Rava, ia pun berjalan terus dengan cepat keluar ruangan. Rava langsung berdiri untuk mengejar Renata, sekilas menatap tajam ke Vara.

Renata keluar dengan air mata yang mulai mengalir, sedari tadi dia menahannya, agar tidak tampak lemah di depan orang yang dia anggap keluarganya sendiri. Entah kenapa, yang biasanya Renata kuat dengan ocehan Vara, ini malahan kalah.

Defan juga mengenal Renata, malah sangat dekat. Karena saat Defan ke Jakarta, menginap di rumah Rava. Dari situlah pertemuan mereka, walaupun papa dan maminya mereka masih suka cek cok.

"Renataaa, tunggu." panggil Rava, sedari tadi mencari Renata, hingga tampak di luar rumah sakit dan memanggil taxy.

Renata hanya sekilas melihat Rava dan langsung masuk ke dalam taxy, tampak kegusaran wajah Rava, yang menatap kepergian Renata dengan air mata yang jelas menghiasi air matanya.

Rava menjambak rambutnya kesal, kenapa Renata tidak pernah mau mendengarkan ucapannya. Membuat kepalanya kembali pusing saja. Defan dan Vara datang mendekati Rava.

"Ayo kak... Kita pulang. Kata pihak Rumah sakit , semua biaya, Rumah sakit sudah di bayar kak Renata." ucap Defan.

Rava menatap ke Vara yang tertunduk, Vara sudah sangat siap untuk di marahin. Tapi berbedah dengan dugaannya, Rava hanya diam. Dan meminta Defan, membawa mobilnya. Selama di perjalanan, keadaan sangat hening, tidak ada satupun yang berani membuka suara, jika Rava sedang diam.

Keduanya sangat mengenal Rava, jika dia diam, itu artinya dia marah besar. Dan memilih berdiam, ketimbang harus berbicara dengan sangat kasar. Tak lama , Mobil terhenti di kediaman Rava. Ada satpam penjaga, yang juga sudah mulai bekerja, siang tadi , Membuka gerbang Rumah, Rava.

Saat mobil sudah masuk, dan gerbang akan di tutup, satpam yang bertugas terhenti, dan melihat gadis yang barusan turun dari dalam taxy.

.

.

Bersambung.

Please kalau enggak mau berpartisipasi dalam Like atau VOTE , enggak usah komentar yang aneh-aneh. Komentarla yang membangun.

1
Liliek Retno Yuwanti
maaf..sdh dicoba vote,tapi eyang kesulitan
Fatim Ummu Ayes
ciri khas frans banget ni si defan....😁😁😁😁
Fatim Ummu Ayes
bebal bnget si vara nih... jadi pengen getok kepalanya....
Fatim Ummu Ayes
kok q brasa cosplay jadi renata ya thos... sakitnya nyesek bangetttttt.....
Fatim Ummu Ayes
apakah nanti si zyan yg bikin rava cemburu na dia suka renata...?
Fatim Ummu Ayes
q nyangkax di awal si alice yg bkaal jadi pembantu di rumah rava🤭🤭🤭
Fatim Ummu Ayes
kok aku bacanya kayak bakal ada sakit"nya ya thor... secara q tim renata yg tetep swtia cintanya ke rava.. meskipun rava dah pernah khianat ma vanesa... masak iya sekrang mo khianat ama alice lagi...
❦վαղղí❦
tiba2 kangen pengan baca lagi,,novel favorit aku,,padahal bukan pertama baca tapi ttp mewek..☺️
Ema Sham
good 👍👍👍
Mohammad Ryan Haisy
bagus
VEI
🤩
ㅤㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
numpang lesehan bentar kak 🙏🏻🤭
A⃟🍏 ⍣⃝Sɾყ✪ƚҽɾʂҽɳყυɱ🖋️🎗️🌼
kukira akan ada season berikutnya ternyata judul baru,,siap meluncur lah 😉😉
Entin Fatkurina
siap meluncur.
Putritritrii: Makasih kk :)
total 1 replies
Wayan Raningsih
Hai Kak Put apa kabar? /
terima kasih krn masih mau menulis cerita untuk kami di sini 😍😍
Putritritrii: Hehwehe puji Tuhan sehat kak. Mampir ya kak 🤗
total 1 replies
༄༅⃟𝐐✰͜͡w⃠🆃🅸🆃🅾ᵉᶜ✿☂⃝⃞⃟ᶜᶠ𓆊
waaoooo kayaknya kereeen
Putritritrii: Mampir ya kak 🤗
total 1 replies
Jumriana
semangatt kakak 😍😍😍
Putritritrii: Makasih kak. Mampir ya 🤗
total 1 replies
Diana Hartati Tampubolon
hadirrrrr
Putritritrii: Wah masih ada yg baca. Mampir ya kak 😍
total 1 replies
Mamaya Mamafaren
ya
Pratiwi Mulyani
lho belum
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!