Sinopsis
Serra Alifiana gadis berusia 17 tahun, masih duduk di bangku SMA. Gadis itu sudah menikah diumurnya yang masih muda dan suaminya juga seumuran dengan dirinya, bernama Arkananta Xander. Serra menikah bukan karena perjodohan, melainkan Arka yang melamarnya begitu cepat. Serra yang memang mencintai Arka, membuat gadis itu tak bisa menolak lamaran tersebut.
Pernikahan mereka disembunyikan dari semua orang diluaran sana, teman-teman sekolah mereka pun tidak ada yang mengetahuinya. Arka dan Serra juga satu sekolah di ‘Xander High School International’ sekolah milik kakeknya Arka.
Tetapi bagaimana kedatangan seorang Alrezivanno Eldrick Xander, pria berusia 30 tahun, bekerja sebagai Ceo di perusahaan yang dibangun olehnya sendiri, perusahaan itu bernama Eldrick’s Corp. Pria itu adalah uncle dari Arka.
Arlez adalah sosok yang kejam, dingin dan misterius, banyak rahasia tentang dirinya yang tidak diketahui oleh keluarganya. Tapi bagaimana jika pria kejam itu terpikat dengan kecantikan, kelembutan, dan ketulusan istri keponakannya dan bukannya menjauh pria itu malah berusaha mendekati, dengan beraninya mengungkapan perasaan yang dimiliki pada istri keponakannya. Sayangnya pria itu mendapatkan penolakan, karena cintanya semakin dalam pada gadisnya membuatnya tidak mudah menyerah dan semakin gencar mendekati gadisnya untuk mendapatkan dan menjadikannya miliknya seorang.
Kehidupan Serra yang tadi tenang, seakan berubah setelah kedatangan Arlez. Sampai dimana keduanya terjebak sebuah hubungan terlarang, yang membuat Serra merasa bersalah terhadap suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon antiloversn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19
Ting! Tong!
Suara bell apartemen berbunyi, Angga yang tengah bersantai di sofa berdiri untuk membuka pintu. Dokter Dimas yang di tunggu-tunggu akhirnya datang dan tengah berdiri di depan pintu.
“Masuklah paman, tuan Arlez sudah menunggu anda di kamar.” Angga mempersilahkan dokter Dimas untuk masuk menemui Arlez.
“Wow.. Siapakan gadis manis yang tengah berbaring di ranjang mu ini tuan Arlez?” Tanya dokter Dimas berseru, pertama kalinya dokter itu melihat seorang gadis berada diapartemen mewah milik sang tuan datar.
“Kecilkan suara dokter tua! Dan cepatlah periksa gadis ini,” titah Arlez dengan menatap tajam dokter Dimas.
“Hei, aku ini lebih tua dari mu. Sopanlah sedikit denganku,” ujar dokter Dimas sambil melakukan tugas memeriksa gadis yang tengah terbaring dan mengobati luka didahinya.
Arlez tidak menggubris sama sekali perkataan dokter Dimas. Sedangkan Angga hanya menatap jengek kedua lelaki yang selalu beradu mulut jika bertemu.
“Bagimana keadaannya?” Tanya Arlez.
“Keadaan gadis mu tidak terlalu mengkhawatirkan tuan Arlez. Hanya saja prediksi ku nanti gadis mu ini akan mengalami demam panas, jadi kau harus siaga mengurusnya. Tetapi masih prediksi..” Jelas dokte Dimas.
Arlez mengangguk..
“Oh ya, aku melihat pergelangan tangan seperti memar. Apa yang melakukannya tuan Arlez,” ujar dokter Dimas.
“Bukan urusan mu dokter tua. Sekarang berikan resep obat untuk ditebus diapotik. Setelah itu kau boleh pergi dari apartemenku,” usir Arlez, tanpa mengucapkan sekedar terima kasih pada dokter Dimas yang telah meluangkan waktu, mengalihkan pekerjaan pada dokter lain untuk memeriksa pasiennya.
Dokter Dimas menyerahkan resep obat yang harus ditebus ke Arlez dengan mendengus menahan kekesalan. Jika pria paruh baya itu tidak mengingat jasa-jasa Arlez padanya, mungkin ia tak sudi datang kemari karena Arlez selalu bersikap tak sopan padanya.
“Angga ambil resep ini, tebus di apotik. Pulang stoplah di restoran belikan makanan apa saja,” ujar Arlez memerintahkan asisstennya.
“Baik tuan..” Angga segera keluar sekalian mengantar dokter Dimas ke depan pintu keluar apartemen.
“Terimakasih paman sudah berkenan datang kemari. Paman sudah sangat mengenal tuan Alrez, jadi saya tidak perlu takut jika paman tersinggung dengan perkataan tuan Arlez yang tak sopan pada anda,” tutur Angga bicara berhadapan dengan dokter Dimas.
“Aku cukup mengenalnya. Jadi bersikap seperti apapun Arlez, aku tidak akan mengambil hati. Aku sangat tahu, bahwa dia pria yang baik, hanya saja sifat sulit dirubah. Mungkin gadis yang ku periksa tadi yang akan merubah sikap Arlez nantinya dan memporak-porandak perasaan pria datar itu.” Dokter Dimas seolah-olah mengatakan kenyataan yang akan terjadi suatu saat nanti.
Angga mangut-mangut saja tak mau menanggapi lebih jauh lagi. Setelah dokter Dimas berlalu, Angga segera berangkat melaksanakan perintah bossnya.
“Uhuk, uhuk...” Serra terbatuk-batuk, Arlez yang masih berada di kamar dengan sigap menyodorkan air ke mulit Serra agar meminumnya.
Usai meminum Serra membuka matanya perlahan. Tangannya menyentuh dahinya yang terasa sakit.
“Dahiku, kenapa?” Tanya Serra lupa dengan kejadian kecelakan mereka.
“Dahimu terluka akibat membentur dashboard mobil pada saat kita kecelakaan,” jawab Arlez memeperhatikan raut wajah Serra yang tengah mengingatnya.
“Ya aku mengingatnya uncle, tapi apa uncle juga terluka?” Tanya Serra memeriksa wajah pria dihadapan tanpa sadar merangkum wajah pria dihadapannya.
“Tidak, saya baik-baik saja,” ujar Arlez melepaskan tangan Serra dari wajahnya.
“Maaf,” kata Serra.
“Kenapa meminta maaf, kau tidak ada salah apapun. Saya yang harusnya meminta maaf karena menyebabkan kau terluka seperti sekarang ini,” ujar Arlez menatap penuh permohonan.
Serra mengangguk, “Jangan seperti itu lagi uncle, aku takut naik mobil dengan melaju kencang..”
“Saya tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Arlez. Serra tersenyum menangguk mempercayai yang padahal sebenarnya dia tak mempercayai ucapan pria datar yang duduk di tepian ranjang sebelah kirinya.
***
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609