Aku adalah Chu Xiaoli, Ratu di abad kaisar ketiga belas. Karena sebuah kecelakaan membawa jiwaku ke dimensi lain.
Aku masuk kedalam tubuh seorang gadis di zaman modern, Lin Xia. Setiap hari ditindas kemapun ia berada.
Ling Xia yang mudah ditindas, sudah tidak ada. Sekarang yang berdiri disini adalah Chu Xiaoli, Sang Ratu penindas sampah tidak berguna. Aku tidak akan melepaskan siapapun yang menyingungku.
Selain menindas sampah, aku ahli berpura-pura lemah "ingin berakting? aku temani!"
Meskipun semua sangat mudah bagiku. Tapi, mengapa aku tidak bisa keluar dari jeratan pria itu?
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndems, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"kita sudah sampai." ucap Rio memarkir mobil.
Nino menggoyang tangan Xia perlahan, "kakak, kita sudah sampai." ucapnya dengan nada pelan.
Xia membuka matanya perlahan sembari menekan pelipisnya, "jam berapa sekarang?" tanya dia yang mengumpulkan kesadarannya.
Nino melihat jam tangannya dan menjawab, "jam delapan malam." ucapnya dengan santai.
"apa!?" pekik Xia yang terkejut hingga lupa badannya kram karena tidur dengan duduk. "kak Rio, dimana tasku?" sambungnya yang mengulurkan tangannya kearah Rio.
"ini…"
"terimakasih." ucap Xia yang bergegas mencari obat didalam tasnya.
GLEG…GLEG…GLEG…
"huff…" setelah menghela nafas panjang dia diam sejenak sambil mengumpulkan energinya. "okeh, mari turun." ucap Xia yang membuka pintu mobil.
Hotel R.
Mereka berjalan menuju lobby hotel, disana Vivan mengambil dua kamar sementara Presdir Jing dan Nino sudah kembali ke kamar mereka. Vivan dan Rio mengajak Xia ke kamar yang mereka pesan di lantai empat, sesampainya disana Xia seperti berada di rumah hantu yang tiada penghuninya, "kenapa sepi sekali? apa kita salah lantai?" tanya dia sambil menoleh kanan kirinya.
"dari lantai tiga hingga lantai sepuluh adalah kamar VIP." jawab Vivan yang berjalan menuju kamar mereka.
Xia berjalan disamping Rio dan berkata, "ternyata begitu, oh iya… dimana rekanku yang lain?" tanya dia kepada Vivan.
"lantai tiga."
"kenapa tidak satu lantai dengan kita? atau jangan-jangan… aku tidak kebagian tempat?" ucap Xia yang tampak menyedihkan.
Rio menyentil keningnya dan berkata, "karena itulah kita pesan dua kamar."
"aduh! sakit tau." ucap Xia sambil menggosok keningnya.
Saat hendak memasuki kamar, Xia memegang pundaknya yang pegal, "tunggu!" menghentikan langkahnya, "tasku, tasku ketinggalan!" panik dan bergegas kembali ke lift, sangking paniknya sampai menekan tombol yang salah.
"sepertinya ada yang salah…" gumam Rio.
Vivan datang sambil membawa barang bawaan Xia yang ketinggalan, "dimana Xia?"
"Xia mengambil barangnya… Eh tunggu! aku lupa! dia punya Claustrophobia!" ucap Rio yang bergegas membuntutinya.
Saat Vivan dan Rio ingin mencegatnya tapi pintu lift keburu tertutup, "sial, kenapa cepat sekali tertutupnya." ucap Vivan yang memukul pintu lift. "Ivan, cepat telfon kakakmu, Xia menuju lantai delapan." ucap Rio yang menepuk punggung Vivan dengan panik sambil melihat nomor lift yang dituju. Vivan mengeluarkan ponselnya dan bergegas menghubungi Presdir Jing, TUT…TUT… "hallo kak, kak cepat ke lift, Xia menuju lantai delapan." ucap Vivan yang panik.
"oh tidak, sial! ada yang mengambil lift dan itu dari… lantai sepuluh." ucap Rio terus memantau nomor lift. "apa!?" pekik Vivan yang panik, dia langsung mematikan panggilannya sembari menuju tangga, "tidak ada waktu untuk menunggu lift bodoh itu, lebih baik kita naik tangga saja." celoteh dia sambil menaiki tangga dengan tergesa-gesa.
Presdir Jing menurunkan ponselnya, "gawat, dia dalam bahaya." ucapnya sembari berlari menuju tangga dan menaikinya dengan langkah cepat.
Lantai Sepuluh
TING… Pintu lift terbuka…
Xia dan orang yang berada diluar lift saling bertatapan, "turun kelantai tiga." ucapnya sembari keluar dari lift, "blokir semua akses." sambungnya yang berjalan menuju tangga dan menuju balkon yang tak lain adalah lantai kesebelas yang tidak diketahui oleh orang-orang selain pemilik dan pengelola hotel itu.
Sesampainya di balkon ia bertemu dengan Chen dan Ken. "wah Chen, cutimu sudah habis?" tanya Xia yang mendekati keduanya.
Chen yang tengah fokus memarahi Ken sontak kembali ke sikap wibawanya sembari memberikan tablet dari sakunya, "semua data yang kau butuhkan." ucapnya dengan wajah datar.
Xia membacanya sekali sembari mengembalikannya kepada Chen, "serius boleh, tapi jangan lupa tersenyum." ucapnya sembari memasang sabuk pengaman, berdiri di ujung gedung sambil memegang talinya, "atau nanti cepat tua." sambungnya yang menyebarang gedung menggunakan flying fox.
Lantai delapan Gedung A.
TAP…TAP…TAP…
"lama tidak bertemu, dokter cantik." ucap Xia yang berjalan menghampirinya.
Terlihat seorang yang tinggi dengan rambut perak yang panjang sedang berdiri membelakangi Xia. Saat Xia melepas pengaman tali itu, tiba-tiba orang itu berbalik sembari menarik tali flying fox Xia, "apa yang kau lakukan?" ucap Xia dengan mengeryitkan keningnya.
Orang itu maju selangkah dan wajahnya tersorot oleh sinar bulan, wajah putih seperti giok yang cantik dengan bulu mata yang panjang, namun sangat dingin karena tidak ada senyum diwajahnya.
"yang satu baru dinasehati, satunya lagi sama." celoteh Xia yang menggerutu, dia menghela nafas sembari turun dari flying fox, "apa kabarmu, Will?" tanya dia sembari menatapnya.
Pria itu mendorong kacamatanya dan menjawab, "aku baik." sahutnya tanpa ekspresi.
Will, orang keempat yang berada disisi LX, dia adalah Pangeran negara H yang bersembunyi dari perjodohan kerajaan, dia lebih memilih berada di sisi LX dibandingkan menikah dengan orang asing. Keduanya bertemu saat dia ketahuan menyelinap di kapal LX.
Xia mengencangkan bajunya sembari mengganti sarung tangannya dan memakai topengnya, "apa mereka akan sekarat jika tersenyum?" gumamnya yang menggerutu sendiri sembari berjalan menuju pintu keluar, membuka pintu sambil menoleh kanan kirinya.
"kenapa kau mengendap-endap seperti pencuri?" tanya Will yang berada disampingnya.
Xia menatapnya dan menjawab, "aku tidak ingin bertemu dengan tunangan aneh mu itu." ucapnya dengan wajah datar.
Will menghela nafas sembari tersenyum, "apa Chen tidak memberitahumu?"
"apa? memangnya ada yang dirahasiakan?" tanya Xia yang berjalan menuju lift.
"nanti kau akan tahu."
"hei, jangan sok misterius." ucap Xia yang jengkel.
Lantai Lima Gedung A, Ruangan No 513.
Terdengar suara bising dari dalam ruangan. TIT… mendengar pintu kamar yang dibuka, semua kebisingan itu berakhir.
TAP…TAP…TAP…
"maaf terlambat." ucap Xia sembari duduk di kursinya.
Ada empat kursi dalam satu meja, tinggal satu kursi yang masih kosong. Xia menatap kursi kosong itu. "tuan Erlan ada urusan mendadak, dia akan segera kemari." ucap asistennya yang menjelaskan. "lima menit, terlambat tidak ada negosiasi." ucap Xia yang bersandar di kursinya.
Lima menit kemudian…
"waktu habis." ucap Xia yang berdiri dari duduknya sembari berbalik.
TAP…TAP…TAP…
"hosh…hosh… maaf aku terlambat." terdengar suara pria yang terengah-engah.
Semuanya menatap pria itu namun Xia tengah fokus menatap layar tancap didepannya.
"wah Xia, apa semua ini pakaianmu?" tanya seorang wanita yang menatap koper Xia. Saat ini seorang wanita sedang menyamar menjadi Xia, "iya, memangnya kenapa?" tanya dia dengan dingin. Batinnya saat ini, "kak Xia cepatlah kembali, aku mulai bingung dengan pertanyaan mereka." tertekan oleh diri sendiri.
"hachu" Xia bersin sepanjang jalan menuju lantai delapan.
Will memberikan sapu tangannya kepada Xia, "apa kau minum es lagi?" ucapnya yang merubah sikapnya.
Xia meliriknya dengan tajam, "ada siapa didalam?" ucapnya yang menghentikan langkahnya didepan pintu kamar tadi dia mendarat.
Will tersenyum tipis sembari membuka pintu kamar, "lihat sendiri." ucapnya sembari masuk kedalam.