Morgan Fernando Alvares putra dari Aland Fernando dan Regina Alvares, seorang CEO dari dua perusahaan besar yang bersatu bernama Sky Alvares Corp, bertemu dengan seorang wanita yang bernama Felicia Belleric dan memaksa wanita itu untuk menolongnya bersembunyi dari kejaran musuh. Tapi tidak di sangka akibat pengaruh obat perangsang membuat Morgan melakukan Khilaf Terindah bersama Felicia.
Ketika mengetahui bahwa Felicia masih perawan, Morgan bertekad untuk menikahi Felicia tapi di tolak oleh gadis cantik tersebut.
Felicia harus bekerja keras demi mendapatkan biaya untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit parah, tapi istri sah Ayahnya selalu mengusik dan menghina ibunya sebagai pelakor. Bahkan istri sah Ayahnya itu menyuruh kepala rumah sakit mengusir Felicia dan Ibunya. Demi menyelamatkan sang ibu dan harga dirinya akhirnya gadis itu menerima tawaran dari Morgan untuk menikah agar bisa menjadi istri dari seorang CEO dan membalaskan dendam kepada orang-orang yang telah menghinanya.
Bagaimana kisah perjuangan hidup Felicia setelah menjadi istri dari Morgan yang terkenal Arogan itu. Apakah benih-benih cinta akan tumbuh di hati mereka mengingat pernikahan mereka terjadi karena Khilaf Terindah? yuuk ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navizaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kembali
Happy Reading 😊
Felicia menghela nafas berkali-kali, sungguh rasanya masih begitu sulit kalau harus bertemu dengan Morgan saat ini.
Awalnya dia memang ingin bertemu dengannya, tetapi setelah mengingat seminggu yang lalu di bar waktu benar-benar membuatnya sangat muak dan tidak ingin bertemu dengan pria itu untuk saat ini.
Tetapi karena keinginan sang ibu yang tidak bisa di tolak, terpaksa Felicia harus bisa menahan diri agar siap bertemu dengan pria hidung belang itu.
Felicia memandang Resepsionis yang tersenyum sopan di sampingnya.
"Saya antar anda ke lantai di mana ruangan CEO berada, mari ikuti saya, Nona," ucap Resepsionis itu.
Felicia melangkah mengikuti resepsionis tersebut, dengan langkah sedikit tergesa Resepsionis itu membawa Felicia berjalan ke arah lift. "Mari, Nona," ucap sang resepsionis mempersilahkan Felicia masuk ke dalam lift terlebih dahulu.
"Iya." Jawab Felicia singkat.
Setelah Felicia masuk lebih dulu, kemudian resepsionis itu masuk dan memencet tombol angka 25. Sepertinya ruangan Presdir berada di lantai paling atas.
Felicia masih tidak mengerti kenapa resepsionis itu malah mengantarkan nya, bukankah dia bisa mengatakan saja di lantai mana ruangan CEO berada. Bukankah biasanya juga seperti itu. Misal ada tamu spesial baru mereka akan menyambutnya seperti ini.
"Apakah mereka sudah tahu kalau aku akan datang? kenapa kesannya aku ini tamu spesial? bahkan saat menuju ruangan CEO aku harus di antar-kan oleh resepsionis itu, bolehkah dia merasa tersanjung?? ah entahlah!" batin wanita itu.
Saat di dalam lift, Felicia berdiri di samping sang Resepsionis, wajahnya terlihat sedikit tersenyum. Felicia ingin bertanya kenapa dia, tapi di urungkan.
Mereka sama-sama diam dan tidak saling bicara, setelah beberapa saat pintu lift terbuka.
"Silahkan, Nona, ada sekretaris pribadi yang akan mengantarkan anda pada ruangan CEO," ucap Resepsionis sopan dan ramah.
Ruangan CEO berada di lantai paling atas perusahaan. Setelah diantar oleh resepsionis ke lantai atas, Felicia berjalan keluar dari lift dan melihat sekretaris yang sudah menunggu di sana.
Felicia keluar dan di sambut oleh sekretaris Morgan tidak kalah ramah. "Mari Nona, saya antar anda ke ruangan CEO," ucap sekretaris itu sambil menunjuk jalan dan berjalan di samping Felicia.
"Iya, terima kasih," jawab Felicia tersenyum canggung.
Entah kenapa di perusahaan ini dia merasa orang-orangnya begitu berbeda dengan perusahaan yang lain, di sini semuanya ramah, bahkan mereka memperlakukan Felicia seperti klien penting yang memegang kontrak dengan jumlah yang besar.
Sepertinya mereka melakukan semua ini karena perintah Morgan, tapi bukankah Morgan tidak tahu kalau mereka akan datang.
Sekretaris itu menatapnya diam-diam dengan tatapan ingin tahu. Wajah Felicia yang terlihat sangat cantik membuatnya terkagum.
"Jika tidak salah, wanita ini yang akan menjadi istri dari CEO. Ternyata dia memang sangat cantik, benar-benar cocok bersama Tuan Morgan yang tampan itu." Batin sekretaris tersebut.
"Mari Nona, setelah belokan itu kita sudah sampai di ruangan Presdir," ucap sekretaris menunduk.
"Baiklah, mohon bantuannya," jawab Felicia tersenyum ramah.
"Iya, Nona, ini adalah tugas saya."
Dengan hormat sekretaris itu membawa Felicia ke pintu ruangan CEO. Pintu berwarna coklat yang menjulang tinggi itu berkesan sangat mewah.
"Tuan Fernando Alvares sudah menunggu anda di dalam ruangannya. Silahkan masuk saja, Nona," ucap sekretaris itu.
"Terima kasih," ucap Felicia tersenyum. Wanita itu menatap pintu tersebut sambil menarik napas dalam-dalam. Sepertinya dia harus membuat pikirannya rilex agar tidak terlalu gugup.
'Ayolah, Feli,, dia itu hanya pria biasa, dia juga makan seperti apa yang kamu makan, jadi hadapi saja tanpa rasa takut,' batin gadis itu menyemangati dirinya.
Setelah mempersiapkan mental dan hati kemudian Felicia memegang handle pintu dan memutarnya perlahan. Felicia langsung mendorong pintu masuk ruangan itu dengan sedikit tenaga padahal pintu itu tidak berat, atau hanya perasaannya yang berat mengingat dengan siapa dia akan bertemu.
Morgan mendengar pintu ruangannya terbuka yang tanpa di ketuk. Biasanya, jika ada orang yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Morgan akan menyuruh orang itu keluar dan kembali masuk setelah mengetuk pintu.
"Selamat siang, Tuan,"
Tetapi ketika dia mendengar suara gadis yang sangat familiar itu diapun mengurungkan. Morgan mengangkat kepalanya dan menatap Felicia yang berada di pintu dengan penampilan yang sangat berbeda.
Morgan tercengang melihat gadis cantik yang ada di hadapannya sekarang. Ini adalah kedua kalinya dia melihat Felicia, pertama kali dia tidak terlalu jelas melihat Felicia karena pengaruh obat bius, tetapi sekarang Morgan melihat jelas wajah Felicia yang sangat cantik dan imut. Dengan riasan wajah natural membuatnya terlihat sangat cantik alami. Bahkan untuk waktu beberapa saat Morgan hanya diam mematung melihat kecantikan Felicia yang bisa langsung membuat Morgan mengabaikan kebiasaannya itu.
Morgan masih terpana dan tidak bisa menyuruh Felicia keluar seperti yang dia lakukan pada wanita-wanita sebelumnya.
"Egheem!" Morgan berdehem dan nampak canggung.
"Sudah datang, ya?" Ucap Morgan gugup.
Felicia juga sedikit tertegun, karena ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya dia melihat CEO arogan yang sempurna yang biasanya ada di dalam novel.
'Ternyata yang di katakan oleh ibu benar, pria ini sangat sempurna dan juga tampan. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan CEO yang tampak seperti di novel yang ku baca. Gagah, berwibawa dan sangat tampan' Batin Felicia.
'Ingat Feli, dia itu adalah pria hidung belang yang suka bermain dengan banyak wanita.' Felicia mengingat kan dirinya tengah sosok seorang Morgan Fernando Alvares.
Jika bukan karena pria tersebut pernah memaksa berhubungan badan dengannya sebelumnya, dan Morgan masih berselingkuh dengan wanita lain di toilet yang membuatnya benci, Felicia pasti akan menyukai pria ini, tetapi kesan sudah terlanjur sangat buruk untuk Morgan.
Felicia tersadar dari lamunannya. "Apakah anda tahu kalau saya akan datang?" Tanya Felicia.
"Ya, ibumu sebelumnya telah memberitahu ku kalau kamu akan datang ke kantor untuk membawakan bekal makan siang untuk ku." Jawab Morgan.
Felicia merasa sedikit malu dengan jawaban dari pria itu.
"Oh, iya."
"Di mana makan siangnya?" Tanya Morgan sambil menatap kertas-kertas di atas meja, tetapi sudut matanya tidak pernah menjauh dari Felicia dari awal hingga akhir.
Felicia berjalan ke arah sofa dan meletakkan kotak bekal itu di atas meja dan itupun tidak luput dari pandangan Morgan.
"Hemm, aku ingin melihat dengan cara apa kamu akan menggodaku." Batin Morgan.
Pria itu sedikit mengharapkan Felicia nanti akan menggunakan cara apa untuk menggodanya.
Sedangkan Felicia sendiri merasa sangat gugup karena dia sadar sedari tadi Morgan selalu menatapnya.
Bersambung
suka sama karakter Morgan n Feli
ta vote Thor
tapi kok Zidane jadi nakal😏😏😏😏😏