Kau tahu?!
Beberapa orang singgah untuk bersama dalam waktu yang lama, sementara yang lain singgah untuk menemani sesaat.
Pada suatu waktu, ada dia yang mungkin tanpa kehadirannya, kita sama sekali tidak dapat menahan sebuah penderitaan seorang diri.
..........
Verlaat Me Niet.
(Jangan tinggalkan aku)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan Selviani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Extra Part - 01
🍁Dalam ruang yang di ciptakan oleh Tuhan, kita bertemu. Saling mengenal, tersenyum, dan menatap, lalu jatuh cinta.
Semudah itu jika denganmu.🍁
Verlaat Me Niet
(Jangan tinggalkan aku)
...
*************
Happy reading
*****************
.
.
.
Helaan nafas berat kembali terdengar dari belah bibir Sean yang tengah berdiri di depan ruang rawat Aisyah. Tadinya, ia ingin menjenguk Icha yang baru saja sadar dari koma setelah tiga hari. Namun, sejak netra terang Icha terbuka, sosok lelaki yang berstatus sebagai suami wanita itu bahkan tak beranjak barang sedetikpun dari sisi Icha, ia seolah tahu niat baik yang akan Sean lakukan.
Menyebalkan!
“Cih. Dia beruntung sekali.” cibir Sean ketika melihat Aisyah yang mengelus permukaan pipi Veno, lembut.
Tanpa sadar, sebelah tangan Sean pun ikut terangkat untuk membelai pipinya sendiri penuh damba. Membayangkan jika itu adalah belaian lembut dari Aisyah, matanya memejam perlahan dengan sudut bibir yang terangkat tinggi secara bersamaan.
“Uh. Dasar orang mesum yang menjijikkan!” dengusan suara di depan Sean membuat mata sipit Pria itu, kontan melotot kaget.
“Yya. Apa maksudmu!?” teriaknya tak terima.
Di depan Sean saat ini, berdiri seorang gadis dengan dress mauve selutut bercorak abstrak. Kaki jenjang rampingnya di balut stiletto keluaran terbaru dari inggris berwarna senada dengan tas jinjing yang berada dalam genggamannya. Sementara rambut panjangnya, di buat menjadi kepang dua lilit yang menjutai di masing-masing sisi dengan poni yang ikut terjatuh hampir menutupi mata. Jika di lihat-lihat, gadis di depannya sekarang sudah seperti karakter boneka yang sering di tontonnya di waktu senggang saja.
“Ku bilang, kau orang mesum menjijikkan. Tak terima?! ” sewot gadis itu dengan kelereng memutar serta tangan bersedikap di depan dada.
Sean menganga. Ia menatap gadis di depannya itu, tak percaya. Hell, ini kali pertama seorang gadis menyebutnya mesum. Selain Aisyah yang tak perpikat oleh pesonanya sejak pandangan pertama, sekarang, ‘seorang gadis yang tak lebih cantik dari Aisyah’ baru saja mengatainya mesum?! Damn it. Sean tentu saja tak bisa terima akan hal itu.
Alhasil, dengan tak mengurangi sedikit kekesalannya, Sean pun menatap nyalang penuh permusuhan pada gadis itu, “Aku bukan orang mesum, Anna.” tekan Sean di akhir kalimat yang sukses membuat dahi gadis itu bergelombang.
“Anna?!” beo gadis itu mengulang.
Mengangguk mantap. Sean pun berucap, “Ya. Anna — Annabelle maksudku.” ucap Sean dengan wajah sok innocent. “kau sangat mirip dengan itu, sama-sama terlihat menyeramkan.” tambahnya lagi dengan alunan tawa renyah.
“Kau —”
Ucapan penuh geram gadis di depannya itu terpaksa terhenti kala seseorang memanggil namanya dari belakang. Sean dapat melihat dengan jelas si pemanggil, yang kini membuat gadis di depannya menoleh dengan senyum merekah lebar.
“Bunda!” sapa gadis itu sembari memeluk wanita tua yang tadi memanggilnya. “Maaf baru sempat berkunjung, Bun. Aku sangat sibuk menyesuaikan diri akhir-akhir ini.” manja gadis itu membuat Sean berdecih, dan gadis itu pun langsung menoleh sewot dengan mata melotot.
Tersenyum lembut, wanita yang Sean ketahui sebagai Ibu mertua Aisyah itu pun berucap. “Tidak masalah, Aul. Kau datang sekarang saja Bunda sudah cukup bahagia. Tapi, apa kau datang bersama Dokter Sean?! Wah, Bunda baru tahu jika kalian tengah berkencan.” kata Imae setelah menelisik penampilan Sean yang tepat berada di sebelah Aulia.
Lelaki itu juga memegang sebuket mawar merah segar.
Menggeleng kompak, keduanya lantas melemparkan tatapan horor. “No! Aku tidak ingin berkencan dengan orang mesum sepertinya, Bun! Itu sungguh tidak masuk akal.” gidik Aulia sembari mengusap kedua lengannya, menyilang.
“Kau pikir aku sudi menurunkan standard hanya untuk berkencan denganmu?! Cih. Mimpi saja kau Anna.” balas Sean sarkas.
Imae terkekeh lucu, “Ho ho ho. Bunda kira kalian sedang berkencan, mengingat —”
“Tidak akan!” tolak kedua-nya memotong tegas.
Lagi, Imae pun kembali terkekeh. “Baiklah. Baiklah. Maafkan analisis Bunda yang salah, jadi mengapa kalian tak masuk saja? Bukankah berbicara di dalam lebih baik ketimbang bercengkrama di depan pintu seperti ini?!”
Bercengkrama!? Heh, “Kami tidak seperti itu, —”
“Yan!”
Ya ampun. Siapa lagi itu!!!? Dengus Aulia yang merasa dejavu dalam hati.
“Eoh! Bibi juga di sini?” sapaan girang dari lelaki imut yang sekarang tengah mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum memperhatikan wajah tak enak dua orang di depannya (aka Sean dan Aulia) . Dan ketika iris terangnya bersitubruk dengan kelereng bening milik Aulia, lelaki itu pun langsung mengulas senyum tipis.
“Ya. Kamu ingin menjenguk Aisyah ya?”
Mengangguk semangat, lelaki yang bernama lengkap Alamsyah Dennis Saragih itu pun berucap. “Benar, Bi. Aku ingin menjenguk Aisyah beserta baby-nya. Bagaimana keadaan mereka?”
“Sudah jauh lebih baik dari yang terakhir kali.” jawab Imae dengan senyum tulus, ia kembali teringat perkembangan baby Aisyah yang harus menginap di inkubator karna kurangnya usia. Namun meski begitu, baby yang belum memiliki nama itu tampak sehat dan juga cantik. Sangat mirip dengan Aisyah — sang Ibu.
Seakan teringat sesuatu, Imae pun menoleh kearah Sean dan Dennis secara bergantian, “Tetapi ... Apa kalian saling mengenal?”
Kedua-nya mengangguk serempak. Sementara Aulia hanya menjadi pendengar yang tidak terlalu peduli, “Dia senior-ku sewaktu kuliah dulu.” jawab Sean, membuat Dennis mengerling jenaka.
“Bagaimana dengan Nyonya?!” Sean bertanya balik.
Gantian Imae yang tersenyum. Ia mengelus pelan lengan Dennis yang berdiri tepat di sebelahnya, “Dia kepala koki di cafe milik Aisyah. Aku pun baru tahu itu sekitar setahun yang lalu.” jelas Imae membuat Sean melotot kaget.
“Apa!?”
***
Pada akhirnya, baik Sean maupun Dennis tidak ada yang jadi mengunjungi Aisyah. Mereka memilih berbalik, dan kini malah terdampar di Taman rumah sakit. Duduk bersisihan dengan pikiran menerawang jauh.
Sampai helaan nafas Sean yang kesekian kali kembali terdengar membuat Dennis menoleh dengan senyuman tipis tertoreh di bibir. “Masih ingin berkenalan dengan bosku?! Siapa tahu dia khilaf dan lari bersamamu.” kata Dennis mengingat percakapan nya dengan lelaki itu, tempo lalu.
“Aku tak menyangka kita bisa menyukai gadis yang sama. Bodohnya, aku bahkan tak tahu dia memiliki sakit separah itu.” tambah Dennis miris saat membuang pandang ke langit biru.
“Ya. Ternyata seleramu tinggi juga, Bang!” timpal Sean terkekeh kecil, ikut memandang langit biru.
Dennis mencibir. Dengan kuat, di sikutnya perut Sean sehingga lelaki itu mengaduh. “Cih.” dengusnya terkekeh, membuat Sean pun ikut tertawa.
Di bawah langit biru, Sean dan Dennis pun tertawa lepas. Mentertawakan kisah percintaan mereka yang tak berjalan dengan indah seperti cerita disney.
“Untukmu, pencuri hatiku. Berbahagialah!” — Sean.
.
.
.
“Jadi, sudah di tentukan nama yang cocok untuk baby kalian, nak?”
Mendengar pertanyaan Ayah Aisyah barusan, Veno pun tersenyum lembut sembari menatap Icha yang juga ikut tersenyum menatapnya, lalu mengangguk mantap pada Ayah mertuanya itu. “Ya, Ayah. Kami baru saja memilihnya semalam. Namun tak tahu apakah kalian akan menyukainya.” ucap Veno dengan senyum setipis benang.
Menepuk bahu kanan Veno singkat, Pria yang tak lagi muda itu pun ikut tersenyum. “Katakanlah nak. Kami pasti akan menyukai pilihan kalian tersebut.” ujarnya terkekeh geli.
Alveno menunduk. Untuk beberapa alasan, entah mengapa ia merasa gugup. Lelaki itu bahkan mengusap tengkuknya beberapa kali sembari menatap Aisyah untuk sepersekian detik yang langsung mendapati anggukan ringan dari wanita yang di cintanya itu, Veno pun memberanikan diri untuk menatap Ayah mertuanya itu.
“Aku ingin memberinya nama Cordelia Izma Lula, yang berarti gadis hangat yang baik hati, terhormat serupa mutiara --” senyum Alveno sembari membelai jemari Aisyah yang berada dalam genggamannya lembut, “-- karna dia telah memberi sinar yang paling terang pada hubungan kami. Aku berharap dia juga akan bersikap bijak seperti istriku yang cantik ini.” tambah Veno membuat Icha terkekeh di balik alat bantu pernafasannya.
Mata Ayah Aisyah pun berair. Ia menatap Putri serta menantu-nya takjub. “Itu sangat bagus, nak. Ayah yakin, Bunda dan yang lain pasti akan menyukainya juga.” seraknya membuat Icha mengalihkan pandang pada pria berusia 60-han itu.
“Ayah.” panggil Aisyah serak membuat yang di panggil langsung mendekat setelah menyeka sudut matanya yang berair.
“Hm? Apa kau butuh sesuatu, nak?!” padahal Akbar sudah berusaha membuat suaranya agar terdengar stabil. Namun ketika jemari Icha terangkat untuk membelai wajah keriputnya, Akbar tak lagi bisa menahan tangisnya yang meledak.
“Uh~ kenapa para Pria di sekelilingku ini cengeng sekali, sih.” lirih Aisyah terkekeh geli sembari menghapus jejak air mata sang Ayah.
Bukannya berhenti, air mata Akbar malah turun bak pancuran air. Dan Veno yang berada di sebelah mertuanya itu pun malah terkekeh dengan air mata yang sama bebalnya.
“Terimakasih Ayah.” ucap Icha.
Masih dengan terisak, Akbar menatap Icha dengan wajah bingung yang ketara. “Untuk apa, nak?”
Icha mengulas senyum manis, “Karna telah menjadi Ayah yang hebat untukku.” lirih nya tersenyum tipis dan sukses membuat tangis Akbar pecah kembali.
Pria tua itu menggeser Veno untuk memeluk sang Putri, erat. “Maafkan Ayah nak. Sungguh, Ayah bahkan merasa malu hanya untuk mengakui diri sebagai Ayah mu. Ayah adalah yang terburuk. Kau—”
“Tidak! Ayah adalah Pria nomor satu yang paling hebat dalam hidupku.” potong Icha dengan senyum merekah lebar.
.
.
.
Beberapa menit setelah tangis mengharukan tadi, Akbar pun pamit meninggalkan Icha berdua saja dengan Veno. Pria itu beralasan ingin ikut bergabung melihat Cordelia di ruang inkubator.
Berdehem singkat, Veno kembali menggenggam jemari Icha yang bebas dari selang infus. “Jika Akbar Tanjung adalah Pria pertama dalam hidupmu, lalu si Alveno itu, Pria keberapa, sayang?” tanya Veno yang melabuhkan kecupan ringan di punggung tangan Icha.
Terkekeh geli, Aisyah memasang wajah berpikirnya membuat Veno kontan mendengus. “Kalau di antara 1-10, kamu itu Pria ke sepuluh dalam hidupku, mas.” ujar Aisyah.
Veno melotot dengan bibir mengerucut lucu. Tadinya, ia kira Icha akan meletakkan namanya di bawah nama sang Ayah, atau setidaknya di bawah nama Ayah-nya sendiri, namun nyatanya wanita yang di cintainya itu malah meletakkan namanya di bagian akhir.
Dasar kejam.
“Hayoo~ Ada apa dengan bibir sexy mu ini, mas?!” goda Icha menoel singkat dagu Veno.
Bukannya merekahkan senyum mendapati godaan dari Icha, Veno justru semakin memajukan bibirnya ke depan membuat tawa lemah Aisyah mengalun indah memasuki gendang telinganya. “Mas. Lihat aku--” suruh Icha sembari membelai sisi wajah Veno, “--kau yang terakhir bagiku. Alveno adalah satu-satunya lelaki terakhir di hidupku.” senyum Icha tulus membuat matanya menyipit membentuk bulan sabit.
Entah seberapa lama lagi, Veno dapat melihat senyum seperti itu, dari jarak sedekat ini.
“Terimakasih telah bertahan di sisi Pria lemah penuh kekurangan sepertiku.” isak Veno tiba-tiba.
Aisyah menggeleng cepat. Wanita itu bahkan berusaha merenggangkan alat bantu di bibirnya, “Tidak mas. Jangan berkata seperti itu. Aku bertahan bukan untukmu, tapi untukku yang tak sanggup kehilanganmu. Aku bahagia, mencintaimu. Berada di sisimu. Justru aku yang takut kau tak bahagia karna harus mengurus wanita penyakitan sepertiku.” lirih Aisyah.
Kali ini, Veno lah yang menggeleng tegas. Ia menangkup kedua pipi Icha, lalu melabuhkan sebuah kecupan panjang di dahi wanita itu. “Salah satu keajaiban Tuhan yang paling aku syukuri adalah bertemu denganmu, Cha. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Rasanya, aku sudah tak peduli pada yang pertama, kedua atau yang kesekian. Yang aku perdulikan saat ini, aku adalah yang terakhir.” cengir Veno yang ikut menular pada Aisyah.
“Mas. Apa kamu ingin mendengar suatu rahasia?! Aku tak tahu ini penting atau tidak, yang jelas mungkin saja mas masih penasaran.” kata Icha dengan satu tarikan nafas sembari mengulum senyum.
Dahi Veno mengernyit, “Kau masih mempunyai rahasia, Cha?! Serius?!” takjub Veno dengan wajah shock luar biasa.
Aisyah mengangguk santai. “Aku hanya akan mengucapkan ini sekali — jadi, tolong dengarkan.” kata Icha mengecil, membuat Veno semakin mendekatkan telinganya kearah bibir Icha yang terhalang alat bantu pernafasan.
“Kau yang pertama. Kau tahu, sesuatu yang ku jaga sepenuh hati, — kau yang mengambilnya.” senyum Aisyah membuat rahang Veno nyaris terjatuh dengan mata melebar tak percaya.
“Maksudmu — bagaimana bisa!?” pekik Pria itu.
Meski di liputi rasa penasaran yang tinggi, namun dalam hati, Veno tak dapat memungkiri jika ia merasa bahagia. Debaran jantungnya bahkan tak berhenti menghentak keras seolah ingin keluar, mengoyak dadanya sendiri.
***
Flashback beberapa tahun silam....
.
.
.
Sore hari di pertengahan musim, pulau Sumatera. Aisyah, Marsya, Alveno, Kiera serta Niko. Lima orang dewasa yang baru akan menginjak usia 21 tahun itu memilih berlibur ke pulau yang tengah beken di kalangan para turis luar negeri tersebut.
Bermodal uang saku pemberian orang tua mereka, sebuah rumah tradisional mewah yang tak jauh dari laut menjadi tempat persinggahan mereka selama tiga hari.
“Cha. Tunggu di sini sebentar, ya? Aku hanya akan mengambil tas dengan cepat. Baru setelah itu kita pergi melihat parade. Oke?!” sirat khawatir yang baru saja di lontarkan Marsya membuat Aisyah terkekeh kecil.
Tadinya mereka akan pergi melihat sebuah parade yang di adakan setahun sekali selama musim semi di dekat laut, Kiera serta Niko sudah lebih dahulu berada di sana, namun karna tas beserta dompet Marsya yang tertinggal di penginapan, gadis itupun terpaksa memilih menyusul belakangan.
“Ohooo~ tak biasanya mbak menjadi pelupa seperti ini. Apa jangan-jangan...” sengaja menggantungkan kalimatnya untuk melihat reaksi sang Kakak, Aisyah terkekeh kala pipi gadis itu memerah.
Bukannya tak tahu alasan sebenarnya Marsya ingin kembali ke penginapan, gadis itu ingin mengecek keberadaan Veno — sang kekasih yang telah menghilang sejak pagi tadi. Namun Aisyah memilih untuk diam dan pura-pura tak tahu dengan menggoda sang Kakak.
“Apa maksudmu! Aku benar-benar hanya akan mengambil tas saja. Lagi pula, mas Veno sudah tak ada sejak tadi.” bela Marsya membuat Aisyah kembali terkekeh.
See?
“Mas Veno?! Aku bahkan tak menyebut namanya.” goda Aisyah lagi membuat wajah Marsya semakin memerah.
“Kau ini. Aku tidak—”
“Baiklah. Biar aku saja yang mengambilkan tas mu mbak. Aku hanya tak ingin kau kelelahan. Itu saja.” potong Aisyah membujuk.
Marsya tersenyum manis kemudian menggeleng singkat, “Dasar anak kecil! Kau tunggu di sini saja, eoh.” kerling Marsya sembari menjulurkan lidahnya membuat Aisyah menyemburkan tawa-nya.
Hei. Usia mereka hanya terpaut 3 detik saja.
“Baiklah mbak, tapi biarkan aku—”
“Heh! Gunakan ini, cuacanya sangat dingin. Kau bisa membeku selagi menunggu.” potong Marsya memelototkan matanya sendiri sembari menyampirkan kardigan hitam miliknya di bahu Aisyah. “Oya~ jika ada pangeran tampan yang tersesat, kau tak lupakan harus apa?” kerling Marsya sebelum benar-benar berlari memasuki penginapan.
“Ck. Dasar!” kekeh Aisyah lagi.
Mengeratkan kardigan hitam milik Marsya di tubuhnya, Icha pun membuang pandang menatap langit yang mulai berubah. Saat itulah seseorang tiba-tiba memegang tangannya erat dari belakang.
Seseorang yang Icha tebak adalah Veno, kekasih dari Acha itu pun mengajaknya untuk berlari entah kemana. “Eoh. Kita mau kemana?!” panik Icha berusaha menahan langkah. Sesekali ia melirik ke arah belakang, mencari keberadaan Acha.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Sya.” kerling Veno menoleh sebentar tanpa melepas tautan tangan mereka.
Sya?! Jadi Veno mengira jika aku adalah mbak Acha?! “Ck. Tapi aku bukan—”
Kali ini, Veno menghentikan ayunan kaki mereka. Ia pun menatap Icha lekat penuh permohonan, membuat gadis itu seketika kesulitan bernapas. “Sekali ini saja, hm? Aku benar-benar ingin menunjukkan sesuatu padamu.”
Merasa tak tega melihat wajah memelas Veno, pada akhirnya Icha pun mengangguk tak yakin. “Sekali ini saja. Ku rasa tak masalah jika menjadi mbak Acha, lagi.” batinnya.
.
.
.
Nyatanya keputusan Icha tadi, kini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Setelah menunjukkan pemandangan sunset di laut bagian lain, Veno membawanya melihat pelepasan lentera. Tak di sangka hujan pun turun dengan lebat membuat keduanya terpaksa berteduh di sebuah penginapan terdekat.
Karna cuaca dingin yang menusuk kulit, Veno pun memesan beberapa botol minuman kaleng beralkohol rendah untuk menghangatkan tubuh mereka. Namun karna kebablasan, Veno berakhir mabuk dan berakhir dengan menyerang Icha yang di kiranya sang kekasih itu.
.
.
.
Semalaman, Icha tidak tidur karna terus menatap wajah tampan Veno yang terlelap dengan posisi memiring. Matanya berembun, “Ku harap kau selalu bahagia, mas.” sendu Icha pilu mengelus sejenak permukaan wajah Veno, lalu menjauhkan tangan, dan segera beranjak memungut pakaian mereka.
“Ssttt.. Ah.” ringisnya ketika mendapati bagian bawah tubuhnya yang terasa nyilu.
Menarik nafas panjang dengan mata terpejam, Icha pun memilih tetap melanjutkan kegiatannya sembari menahan rasa sakit di bawah sana. Ia tak ingin Veno tahu dan merasa bersalah ketika bangun nanti. Biarlah kejadian ini hanya dirinya saja yang tahu.
.
.
.
“Aku mencarimu ketika bangun tadi.” serak Veno yang memeluk Icha dari belakang.
Mereka kini berada di tepi laut dengan pemandangan serta aroma khas yang menakjubkan. Icha memang sengaja tak kembali ke penginapan setelah membereskan semua kekacauan semalam.
Tersenyum tipis, tangan Icha terangkat untuk membelai punggung tangan Veno yang berada di perutnya. “Aku tak ingin melewatkan sunrise, mas.” katanya membuat Veno mencibik.
“Kau kan bisa membangunkanku untuk melihatnya bersama, sayang.”
“Tidurmu lelap. Aku tak tega.” kata Icha lagi.
Mengecup bahu Icha singkat, Veno pun mengangguk membenarkan. “Aku bermimpi aneh semalam.” cerita Veno membuat Icha sedikit tersentak.
“Mimpi?!”
“Eoh.” angguk Veno, “Mimpi yang membuatku ingin segera melamarmu, sayang.” kerling Veno membuat wajah Icha memanas.
“Kau mencintaiku?!”
Veno mengangguk lagi, “Sangat. Sejak pandangan pertama saat kau menolongku dulu.” senyumnya.
Mata Icha berkaca-kaca, ia membalikkan badan menghadap Veno. Tepat saat di mana matahari terbit, satu kecupan ringan bersarang di bibir Pria itu. “Kalau begitu, aku juga akan mencintaimu.” senyum Icha membuat Veno terpaku untuk beberapa saat.
“Itu harus! Kau kan calon Ibu dari anak-anak ku~”
***
ceritanya suka banget.
singkat padat jelas dan yg pastinya keren.hehe
kalo boleh tau, othor pindah lapak kah?
btw makasih banyak ya thor.
sukses dan sehat selalu ya thor 💗💗💗💗💗
tp kok belum banyak yang baca..
padahal debesss banget
tak terasa air mata mengalir....
cinta Aisyah begitu besar dan tulus untuk veno...
meskipun akhir nya icha tdk bs melawan penyakitnya...
tp di akhir hayat nya bs mendapatkan kebahagiaan..
icha bs bahagia thor...
dokter spesialis kanker...
wah,,jangan2 nnti icha jadi pasien nya...