Arga dan Arka merupakan seorang anak kembar dari pasangan suami istri pemilik pondok pesantren Darussalam. Keluarga mereka berlatar belakangkan Anggara.
Walapun keduanya kembar tapi sifat keduanya jauh berbeda yang satu nakal bin jahil dan yang satu lagi pendiam.
Tapi disaat keduanya sudah dewasa ilmu agama yang dimiliki umi dan abinya menurun kepada kedua kembaran itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput umi, abi dan gus Arga
Seperti janji Dimas semalam jika dia akan mengantar gus Arka untuk menjemput abi Misbah, umi Rika dan gus Arga. Kini keduanya sudah berada di bandara untuk menunggu kedatangan ketiga orang penting untuk pondok pesantern Darussalam.
"Assalamualaikum." Sapa ketia orang tersebut yang sudah ditunggu-tunggu oleh gus Arka dan Dimas sekita 15 menit lalu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab keduanya
"Abi, umi sama Mas Arga gimana kabarnya." Ucap gus Arka basa basi.
"Sepertinya yang harus bertanya seperti itu kami kepada kamu Ar apa kabar itu kantung mata sudah berapa malam tidak tidur." Ejek gus Arga pada kembaraannya.
"Sial." Umpatnya...
"Sett.... ngomong apa barusan Ar." Tegur umi Rika sambil menatap gus Arka tajam.
"Gak umi, Arka gak ngomong apa-apa kok. Lebih baik kita sekarang pulang kerumah biar Abi, umi sama mas Arga bisa beristirahat." Elak gus Arka mengalihkan pertanyaan uminya tadi.
"Bilang aja kamu yang mau istirahat." Ejek gus Arga lagi.
"Iya emang pusakan, kembaran ku yang paling ganteng tapi cerewetnya melebih perempuan." Kesal gus Arka sambil dia memberikan penekanan pada kata 'Perempuan'
"Udah gak usah ribut ayok kita pulang." Ajak abi Misbah.
"Dimas bawakan barang umi ya."
"Baik Umi." Sahut Dimas sopan.
Setelahnya mereka semua pergi menuju mobil. gus Arka memang sengaja membawa Dimas untuk mengendarai mobil satunya lagi agar bisa membawa barang-barang yang keluarganya bawa dari Malang. Karena gus Arka sudah hafal dengan kebiasan uminya. Pasti membawa barang banyak sekali yang diberikan oleh umi Nita.
Sesamapinya di mobil umi Rika, abi Misbah dan gus Arka satu mobil. Sedangkan gus Arga menemanin Dimas di mobil satunya dengan membawa barang-barang mereka.
"Gimana acaranya umi disana apa lancar?" tanya gus Arka setelah menjalankan mobilnya.
"Allhamdulilah Ar lancar." Ujar umi Rika.
"Terus mbak Tia kapan mau main kesini?"
"Katanya sih pas nikahan kamu Ar." Jawab Umi lagi dan Arka hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Oh iya abi, umi Arka hampir lupa kalau lusa Arka akan wisuda." Ucap gus Arka pada umi dan abinya. Mumpung sekarang dia ingat, agar besok tidak keteteran untuk berisap-siap.
"Abi sama umi bisa datengkan?" tanya Arka penuh harapan.
"Pastilah Ar masa engak nantin umi ajak Nadira juga." Jawab umi antusias.
"Kalau abi gimana bisa gak?" tanya Arga kali ini pada abinya.
"Insya Allah lek doakan saja."
"Iya Abi makasih, Umi, Abi."
Sedangkan di dalam mobil lain gus Arga dan Dimas saling bertukar cerita selama mereka berpisah. Gus Arga menceritkan apa saja yang dia lakukan di Malang. Sedangkan Dimas menceritkan apa saja yang dia alami selama tidak ada gus Arga disana.
"Iya Mas, mas Arka sudah 2 hari ini kembali bertugas lagi di rumah sakit." Jelas Dimas pada Gus Arga.
"Pantas saja itu anak kurang tidur sudah ngurus pesantren sendiri. Ngurus Sekolah sendiri ditambah lagi sudah mulai bertugas kembali" Jawab gus Arga perihatin.
"Iya Mas bener walaupun dibantu santri putra juga tetap capek, tadi malam saja Mas Arka cuman ngisi pembelajaran ngaji hanya samapi jam 8 : 30" Jelas Putra lagi.
"Tapi sepertinya bukan cuman Arka yang kurang tidur tapi kamu juga." Imbuh gus Arga.
"Mau bagaimana lagi Mas kasian juga kalau Mas Arka ngurus semau sendiri. Itu juga sudah tugas kami ya walaupun, tiga malam ini kami semua kurang tidur oleh Mas Arka." Adu Dimas pada gus Arga dan hanya dijawab kekehan kecil oleh Gus Arga.
"Biasa namanya juga Arka hidupnya gak puas kalau gak nyusahin orang lain." Ucap gus Arga.
Kedua orang itu malam membicarkan gus Arga. Gus Arka sudah tahu pasti Dimas dan masnya itu akan membicarakan dirinya mau ada tau tidak ada dia juga Dimas dan gus Arga akan tetap membicarakan dia. Dan gus Arka sudah biasa tau betul dia seperti apa masnya itu. Apalagi kalau sudah bersama Dimas.
cuman sayang bahasa dan tulisannya belepotan
nulisnya lebih diteliti lagi yach thor /Good/ srmangat
subhanallah diucapkan ketika melihat atau mendengar musibah (hal negatif)
contoh ketika mendengar petir
saya tidak pandai berkata" intinya terima kasih
sebaiknya *MasyaAllah cantik banget kamu ning*
karena takjub melihat keindahan.