AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 Misi Selesai
Ting!
[Misi Darurat: SELESAI]
[Selamat! Anda mendapatkan sebuah sepeda motor]
[Silakan Klaim hadiah Anda sekarang juga]
Al mengerjapkan matanya berulang kali. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tidak melihat layar aneh ini.
Benar saja, mereka mengabaikannya. Sistem ini nyata, dan hanya miliknya.
"Waw... aku dapat hadiah motor?" bisik Al, suaranya bergetar antara tidak percaya dan gembira.
"Ini luar biasa sekali! Tapi... tunggu dulu. Bagaimana bisa aku mengambilnya? Apa motornya akan jatuh dari langit?" tanya Al dalam hati dengan nada kebingungan.
Bzzz...
Layar itu berkedip, berganti teks baru.
[Anda cukup pergi ke dealer motor terdekat, dan berikan kartu ini kepada petugas]
Wusss!
Sebuah kartu jatuh tepat ke telapak tangan kanannya.
Al membolak-balik benda tersebut berwarna hitam, Tidak ada nama bank, atau kartu seperti biasanya.
"Kartu apa ini sebenarnya? Apa ini semacam kartu ATM khusus? Atau kartu VIP?" tanya Al.
[Anda tidak perlu banyak tanya. Waktu klaim terbatas. Anda tinggal pergi ke sana sekarang dan akan ada orang yang sudah menunggu Anda. Cepat bergerak, atau hadiah hangus!]
"Eh? Hangus?!" Al panik. "Baiklah, baiklah! Dasar sistem tidak sabaran!" rutuknya kesal.
Al segera memasukkan kartu misterius itu ke saku celananya.
Lalu berjalan tergesa-gesa keluar dari area mal.
Ia menyusuri jalan raya yang padat di depannya. Benar saja, tepat di seberang jalan, sebuah gedung megah dengan logo sayap mengepak dan tulisan besar "APEX MOTOR CORP". Gedung itu adalah dealer motor paling mewah di kota ini.
Al menyeberang jalan dengan hati-hati,
Di halaman dealer yang luas, suasana tampak sangat tidak biasa.
Karpet merah tergelar dari pintu masuk hingga ke area parkir depan. Belasan karyawan berseragam kemeja rapi berbaris rapi.
Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas hitam yang sangat rapi.
"Aduh, sepertinya mereka sedang menunggu tamu agung," gumam Al, menghentikan langkahnya tepat di batas pagar tanaman halaman dealer.
"Apa aku yakin mau masuk ke sana? Bagaimana kalau aku diusir dan dikira gelandangan?" kata Al ragu.
Al akhirnya memberanikan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke halaman dealer yang super bersih itu.
Kehadiran Al langsung menarik perhatian.
Melihat Al yang tampak kebingungan dan celingukan di tengah keramaian, salah seorang karyawati muda dengan ramah memutuskan untuk mendekat.
"Permisi, ada yang bisa kami bantu, Dek? Maaf, area halaman depan ini sedang disterilkan sementara untuk menyambut tamu penting," tanya karyawati itu dengan sopan namun bernada halus mengusir.
Al meraba saku celananya. "Anu... Kak. Saya ke sini mau... ini, saya punya kartu ini," kata Al terbata-bata, sedikit gugup. Ia menyodorkan kartu hitam-emas itu.
Karyawati itu mengernyitkan dahi. "Kartu apa ini ya? Kami tidak sedang membuka pendaftaran kartu anggota..." Kalimatnya terhenti saat matanya menangkap lambang gravir kecil di sudut kartu. Wajahnya seketika memucat. "Eh? I-ini..."
"Ada apa, Siska? Kenapa malah mengobrol di depan?" Pria berjas hitam berjalan mendekat.
"Maaf, Pak Direktur! Pemuda ini... dia membawa kartu ini," kata Siska menyerahkan kartu itu dengan kedua tangannya kepada sang atasan.
Pria berjas hitam yang dipanggil Direktur itu menerima kartu tersebut dengan malas. Namun, begitu kulit jarinya menyentuh kartu dan melihat nomor seri yang tercetak timbul di bagian belakang, matanya langsung melotot lebar.
Ia menatap kartu itu, lalu menatap Al, lalu kembali menatap kartu itu seolah tidak percaya dengan apa yang dipegangnya.
"Astaga! Jadi Anda... Anda adalah tamu agung yang kami tunggu-tunggu!" seru bapak itu dengan nada suara naik membuat seluruh karyawan di halaman itu menoleh serentak dengan wajah syok.
Bapak itu langsung meraih tangan kanan Al dan menjabatnya dengan sangat erat. "Selamat! Luar biasa sekali! Anda adalah pemenang utama undian global tahun ini dari pusat! Anda berhak mendapatkan sebuah sepeda motor TP-Xw Limited Edition! Selamat, selamat sekali lagi, Tuan Muda!"
Deg!
Al membeku di tempatnya mendengarkan ucapan sang Direktur.
"Gila! Motor TP-Xw?!" teriak Al dalam hati.
"Itu 'kan motor hyper-sport yang baru rilis bulan lalu di Jenewa! Harganya 1 Milyar rupiah lebih di pasar Indonesia, dan cuma diproduksi 50 unit di seluruh dunia! Apa iya dealer motor ini mendadak jadi malaikat yang semurah hati ini memberikan motor super mahal begini? Nggak mungkin! Ini fix... ini pasti kerjaan sistem itu!"
Melihat Al yang hanya bengong dengan mulut sedikit menganga, Direktur dealer itu mengira sang pemenang masih syok karena terlalu bahagia.
"Tuan Muda? Anda tidak apa-apa?" tanya bapak itu.
"Mari, silakan masuk ke dalam ruangan VIP kami untuk memproses dokumen dan mengambil hadiah Anda. Motor Anda sudah kami siapkan di dalam studio penyerahan khusus," kata bapak tersebut.
"Ah... iya, Pak. Baik, terima kasih," jawab Al yang tersadar dari lamunannya.
"Siska! Siapkan minuman terbaik dan camilan premium ke ruang VIP sekarang juga! Jangan sampai Tuan Agung kita ini merasa tidak nyaman!" perintah sang Direktur dengan tegas kepada karyawati yang tadi menegur Al.
"Baik, Pak! Siap segera!" jawab Siska dengan membungkuk hormat.
Direktur itu kembali berbalik ke arah Al, mengulurkan tangannya memberi gestur mempersilakan jalan dengan tubuh yang agak membungkuk.
"Mari, silakan lewat sini, Tuan Muda. Suatu kehormatan besar bagi dealer kami bisa menyerahkan mahakarya ini langsung kepada Anda."
Al melangkah maju menapaki karpet merah menuju ke dalam.