Ini adalah kisah tentang Zahira dan Arsha. Mereka adalah teman sejak SD hingga mereka SMA. Anehnya, mereka selalu saja satu kelas.
Arsha, idola sekolah yang selalu bersikap seenaknya sendiri pada Zahira. Namun, dia juga begitu perhatian. Apakah Arsha jatuh cinta secara diam-diam pada Zahira? lalu, apakah perhatian Arsha membuat Zahira pun memiliki perasaan yang sama?
Bagaimana sikap Zahira saat mengetahui masa lalu keluarganya dengan keluarga Arsha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BILANOUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 19
Waktu terasa begitu cepat, beda dengan saat pertama kali aku ditinggal Arsha. Rasanya sangat lambat dan begitu menyedihkan. Kali ini, aku menjalani waktu dengan bahagia dan penuh semangat, sampai aku lupa akan waktu dan tau-tau udah ada di acara perpisahan aja.
Antara sedih dan bahagia sebenarnya. Sedih karena masa-masa paling indah dalam hidup akan berakhir, bahagianya adalah kami semua lulus dalam ujian. Aku pun mendapat tawaran kuliah dengan beasiswa penuh dari universitas di ibu kota. Itu artinya aku akan pergi ke kota tempat Arhsa tinggal. Seluas-luasnya Jakarta, masih Indonesian. Aku pasti akan bertemu dengan Arsha nanti.
Setelah sibuk berfoto dan bersukacita merayakan kelulusan kami, aku pun pamit dan berpisah dengan mereka.
"Nanti kita kumpul ya kalau weekend."
"Kabarin aja di grup, Nov."
"Oke, Rey."
"Gue pamit, mau anterin Unyil dulu."
"Hati-hati, Qa. Itu Zahira pake kebaya, susah."
"Gue bawa motor kecil, Cindy."
"Duuuh, pengertian banget jadi abang. Aku jadi pengen, deh, punya kakak cowok," ujar Cindy. Maklum, dia pertama dari tiga bersaudara.
"Pamit, ya, gengs." Aku melambaikan tangan pada mereka semua.
"Ribet banget, ya, jadi cewek," ujar Abqa setelah melirik kakiku yang melangkah pendek karena sempitnya kain yang aku pakai.
"Gue pegel jalan kaya gini," dumelnya. Tanpa melirik ke arahku sama sekali.
"Kamu jangan nyebrang, deh. Kelamaan. Udah kek nenek-nenek. Tunggu sini, aku ambil motor dulu."
Abqa menyebrang untuk mengambil motor, sementara aku menunggu di depan gerbang sekolah.
Saat menunggu, ponselku berbunyi. Ternyata Arsha menelpon.
"Iya, Beb. Kenapa?"
"Udah selesai acaranya?"
"Udah. Ini aku mau pulang sama Abqa."
"Jangankan Alif, aku aja cemburu sama Abqa."
"Ngomong apa, sih? terus, kamu mau minta putus juga sama aku gara-gara cemburu sama Abqa?"
"Ye nggak lah. Enak aja. Memangnya kalau aku putusin, kamu mau jadian sama dia?"
"Kalau Abqa nya nembak, kenapa harus ditolak? dia juga ganteng, tinggi, dan gak jauh beda lah sama kamu."
"Centil!"
"Ih, apanya yang centil. Nih, tanya aja sama orangnya, kalau aku diputusin sama kamu, dia mau gak jadi pengganti?" aku cekikikan sambil menyerahkan ponsel sama Abqa.
Dia mengeraskan suaranya. "Apa, nyuk!"
"Jagain cewek gue. Awas aja kalau sampai kenapa-kenapa."
"Gue yang jagain itu artinya gue dong pacar dia."
"Mulut itu! kondisikan. Mampus entar."
"Bodo!"
Abqa menutup pembicaraan mereka dan mengembalikan ponselnya padaku.
"Ayo, kita pulang. Atau mau ke KUA sekalian."
"Boleh, boleh. Pakaian kita udah cocok kan, buat nikah?"
Kami pun tertawa.
Sepanjang perjalanan, aku dan Abqa mengobral banyak. Kadang, kami berdua tertawa untuk hal yang sebenarnya sepele dan mungkin tidak lucu bagi orang lain.
Abqa memang sahabat Arsha yang selalu bisa diandalkan. Dia bahkan menjagaku dengan sungguh-sungguh karena amanat dari Arhsa.
"Mampir?" tanyaku saat kami sudah sampai di depan rumah.
"Nanti aja. Aku harus segera pulang. Salam buat Ibu."
"Iya. Makasih, ya, Qa."
"Hmm." Dia memakai helmnya.
"Qa, kamu rencana kuliah di mana?" Pertanyaan yang membuat Abqa mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Belum tau. Mungkin di Bandung atau di Semarang. Belum pasti."
"Oh, begitu."
"Aku tidak akan seperti Arsha. Sebelum berangkat, aku pasti bilang dulu."
"Eh?"
"Jangan terlalu sedih untuk yang belum terjadi. Apa kamu mau, aku nemenin kamu terus?"
"Ha ha ha. Mana boleh begitu. Kamu itu harus melanjutkannya hidup, Qa. Mana bisa nemenin aku terus."
"Bisa. Jika kamu minta, aku pasti lakuin."
Arsha membuatku salah tingkah dengan tatapannya yang menindas. Ucapan dia tidak pernah ada yang main-main jika denganku.
Apa kali ini dia juga serius? benarkah? kenapa?
"Aku gak se egois itu, Qa. Meski berat, kita harus bisa menjalani hidup sendiri. Kalau kamu kuliah nanti, yang serius ya. Jangan kaya sekarang. Jangan berantem lagi jika bukan karena membela diri. Kuliah yang bener dan bekerja atas kemampuan diri sendiri. Meski pada akhirnya kamu berkerja di tempat ayah kamu, pastikan mereka bangga karena prestasi kamu."
"Lebih panjang dari yang kemarin."
"Ish, kamu mah!"
Dia tersenyum. "Kalau aku sukses karena diri sendiri, kamu bangga gak sama aku?"
"Pastilah. Aku akan sangat bangga sama kamu, Qa. Janji, ya sama aku. Kalau kita bertemu nanti, kamu harus udah jadi orang sukses karena kemampuan sendiri."
Abqa menatapku dalam-dalam.
"Kalau aku sukses, kamu mau apa?"
"Emmm, apa ya?" Aku mencoba berpikir memacari jawaban atas pertanyaan darinya.
"Temenin aku, mau?"
"Temenin apa?"
"Hidup."
"Hah?"
Aku bukan tidak mendengar apa yang dia katakan, telingaku masih sangat sehat dan berfungsi dengan baik.
Dia tertawa hambar. "Lupakan. Aku pulang, ya."
"Eh, iya. Hati-hati di jalan, Qa. Kabarin kalau udah sampe rumah."
"Sip!" Dia menunjukkan ibu jarinya padaku.
Dengan pikiran masih ke mana-mana, aku masuk ke dalam rumah. Ibu dan barang-barang yang biasanya dibawa, tidak ada. Itu artinya Ibu sedang berjualan. Rumah teras sangat sepi.
Setelah mengganti pakaian dan mencuci riasan wajah, aku membersihkan rumah. Ibu pasti belum sempat ngapa-ngapain tadi pagi.
Selesai membersihkan rumah, aku mengangkat pakaian yang sedang dijemur, melipatnya lalu kembali ke kamar untuk mengistirahatkan badan.
Bip.
Nada pesan masuk, berbunyi. Aku meraih ponsel yang sedari tadi tersimpan di atas bantal.
Ada chat masuk dari beberapa orang berbeda. Salah satunya Arsha dan Abqa.
[Lagi apa, Beb?] pesan dari Arsha, satu jam yang lalu.
[Maaf, aku baru selesai beresin rumah sepulang dari sekolah tadi.]
Setelah membalas pesan Arsha, aku membuka pesan dari Abqa.
[Aku udah nyampe.]
[Alhamdulilah.]
Baru saja aku mau membuka chat yang lain, chat dari Abqa datang.
[Lagi apa? kenapa baru balas?]
[Habis beresin rumah dulu. Maaf, ya, Qa.]
[Gak apa-apa, kok. Kamu memang harusnya begitu. Bantuin Ibu ngurusin rumah. Jadilah anak baik.]
[Iya, Qa. Kamu sendiri ngapain?]
[Nunggu balasan dari kamu sejak tadi]
Entah kenapa tapi aku merasa ada yang beda dari Abqa. Cara dia chat pun berbeda dari sebelumnya. Aku mencoba berpikir kalau ini hanya perasanku saja.
[Minggu depan aku ke Semarang. Sabtu siang aku jemput kamu, ya.]
[Mau ke mana?]
[Jalan-jalan sebentar. Nanti aku yang izin sama Ibu.]
Izin sama ibu? dari semua temen yang ngajak aku pergi, baru kali ini ada yang minta izin sama Ibu.
Aku tidak membalas chat dari Abqa dan memilih masuk ke chat grup warteg berkah. Ha ha ha. Ada-ada aja ulah Cindy, tuh.
Banyak chat yang sudah numpuk di sana. Cindy dan Novi berlomba-lomba mengirim berbagai foto kami saat acara tadi. Mataku berhenti pada chat yang ditulis Arhsa dan Abqa.
[Cantik banget pacar gue.] Arsha mengomentari fotoku yang kebetulan sedang sendiri. Cindy yang kirim.
[Masih pacar. Belum ada janur kuning.] Abqa membalas.
[Haha, ada yang cemburoy. Icikiwirrrr.] Rey berkomentar.
[Yuk, kita saksikan. Pada akhirnya, siapa yang akan berjodoh dengan Si Unyil.] Syamsul
[Woii, kalian apa-apaan, sih? Zahira itu cinta mati sama Arsha. Jangan ngerusuh, dong.] Novi
[Tau, nih! awas, ya. Grup ini harus aman terkendali. Perusuh, buang!] Cindy
[Galak bener kang warteg.] Abqa
Tidak ada balasan dari Arsha. Pun dengan chat japri dariku.
Aku coba mengirim chat lagi padanya tapi tetap sama. Tidak dia balas.
Beb, ada apa?
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
kok Dy buat nyesek sih Thor ending ny😭😭😭 pd hal pengen lht keunyuk an Zahira n abqa setelah punya baby.
tp yada lah Thor semangat ya Thor dengan karya2 baru ny. 👍👍👍
kok g Happy ending...