NovelToon NovelToon
Tiga Ketukan

Tiga Ketukan

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Tamat
Popularitas:146k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ahra

Tok ... tok ... tok ...

Apa yang akan kalian lakukan jika ada yang mengetuk pintu utama rumah kalian malam-malam? Membiarkannya atau beranjak untuk membukanya. Saranku lebih baik kalian acuhkan saja daripada membukanya. Aku tidak mau kejadian yang kualami terjadi pada kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan

Gadis itu menangis tertahan. Air matanya tak berhenti keluar. Ia benar-benar merasa sedih saat itu. Ia tidur menyamping dia atas ranjang rumah sakit dengan merengkup lutut.

"Paman ...." isak Mia.

Mia terus saja menangis. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun.

"Paman masih hidup kan, aku tahu itu," ucap Mia yakin pada dirinya sendiri.

Mia semakin meringkuk dalam. Tangisnya semakin keras, meski ia berusaha untuk meredamnya dengan menutup mulut, suara tangis masih terdengar. Air matanya terus saja mengalir tanpa henti.

Ia kembali mengingat kenangannya dengan Tuan Dika. Saat ia dianggap dan diperlakukan seperti putri sendiri.

---

**Mia dan Ahra menatap ke atas langit yang sedang turun hujan di balkon lantai dua. Menghirup aroma tanah basah yabg tercium dan dinginnya udara. Dalam keheningan, Ahra tiba-tiba saja tertawa.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Mia merasa heran.

"Aku hanya ingat apa yang dikatakan guru kita di kelas tadi," jawab Ahra di sela tawanya.

"Yang mana?" Mia mencoba mengingat-ingat perkataan yang dimaksud Ahra.

"Jika ada pelangi, itu berarti ada bidadari yang turun untuk mandi di sungai," jelas Ahra tanpa beban.

"Kau tahu kan, kalau dia hanya berbohong," timpal Mia.

"Iya sih," ujar Ahra setuju. "Tapi ... bagaimana jika benar?" Ahra malah terlihat antusias dengan pemikirannya.

"Ya ampun, Ahra ... sejak kapan hayalanmu jadi tak masuk di akal seperti itu?" ejek Mia sambil menggeleng-geleng kepala tak percaya.

"Aku kan hanya mengira-ngira," gumam Ahra. "Lagipula jika memang ada bidadari yang turun bagaimana."

"Aah, sudahlah hentikan," pinta Mia merasa kesal sambil melototi Ahra.

"Ais, kau ini," rengek Ahra merasa terintimidasi.

"Aku bilang berhenti! Ya, berhenti!"

TAK!

Mia langsung menyentil kening Ahra dengan keras sampai ada berbekas.

"Aa! Kau!"

Mia berlari menghindari kejaran Ahra sambil tertawa mengejek.

"Hei, ke mari kau!" teriak Ahra dengan wajah merah karena kesal.

"Ayo tangkap aku, jika bisa," ledek Mia sambil terus berlari. Ia berlari ke arah Tuan Dika yang sedang duduk di sofa sambil membaca koran. "Paman!"

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Tuan Dika merasa pusing karena melihat mereka berdua berlari memutarinya.

"Ayah, keningku disentil olehnya," rengek Ahra sambil mengusap-usap keningnya yang terlihat merah. "Ini lihat, pasti ada bekas nya," tunjuk nya tepat di hadapan Tuan Dika.

"Itu karena hayalanmu terlalu tinggi!" sarkas Mia.

"Memang apa hayalan Ahra, Mia?" tanya Tuan Dika sedikit penasaran.

"Dia bilang, jika ada pelangi maka ada bidadari yang turun dari langit," jelas Mia dengan nada mengejek.

TAK!

Tuan Dika malah menyentil kening Ahra juga. "Aa! Kenapa ayah juga melakukannya?"

"Mia benar, hayalanmu terlalu tinggi," seru Tuan Dika.

Wajah Ahra langsung memerah karena kesal. Matanya melotot menatap Tuan Dika dan Mia yang sedang tertawa mengejeknya.

"Aaa, aku akan menggigit kalian," ujar Ahra langsung berlari ke arah mereka berdua.

Tuan Dika dan Mia langsung melarikan diri dari kejaran Ahra. Mereka terus berlari sambil tertawa. Mia merasa bahagia saat itu. Tuan Dika memperlakukan dirinya seperti keluarganya.

Malamnya Nyonya Tiara merayakan pesta barbeque. Mereka menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Selagi Tuan Dika dan Nyonya Tiara membakar barbeque, Mia dan Ahra tidur telentang di atas rumput halaman rumah Ahra sambil menatap langit.

"Ooh, malam ini banyak bintang," gumam Ahra.

"Itu berarti besok akan cerah," ujar Mia.

"Siapa bilang?" tanyanya penasaran.

"Guru Geografi," jawab Mia.

Mia memejamkan matanya sambil menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya perlahan.

"Benarkah? Aku tidak pernah dengar itu," ujar Ahra dengan wajah tak percaya.

"Makanya, pikiranmu itu isi dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan hayalan," ejek Mia masih dengan memejamkan mata.

"Ais, jangan mulai lagi," kesal Ahra sambil mengerucutkan bibirnya.

"Iya, iya ...." Mia hanya mengangguk-angguk.

"Mia," panggil Ahra pelan.

"Hhm ...."

"Aku senang bisa mengenalmu," ungkap Ahra yang berhasil membuat Mia menatap ke arahnya.

"Tumben kamu bicara begitu," Mia merasa aneh dengan sikap Ahra malam itu. "Biasanya kau selalu mengumpat padaku," lanjutnya lalu kembali memejamkan mata.

"Ais, kau ini." Ahra merasa kesal dengan sikap Mia yang seperti itu padanya. Padahal tadi ia tulus mengatakannya.

"Aku juga," gumam Mia kemudian.

"Hm?"

"Aku senang bisa mengenalmu." Ahra tersenyum mendengarnya.

"Ahra, Mia, ayo ke mari! Barbeque nya sudah matang," panggil Nyonya Tiara tak jauh dari mereka berdua.

Mereka berdua langsung bangun dan segera berlari menghampiri. Sehabis menikmati barbeque mereka langsung menyalakan kembang api dan membuat lentera. Mereka benar-benar bahagia.**

---

Mia perlahan bangun dari tidurnya. Ia tak peduli dengan keadaannya saat itu. Ia malah mencabut selang infusan yang terpasang di punggung tangannya dan melupakan rasa perih yang ia rasakan. Menekan darah yang keluar dengan selimut yang sedang ia pakai.

Setelah dirasa sudah berhenti, ia lalu turun dari ranjang, mengambil jaket Nyonya Tiara yang tergeletak di atas sofa lalu memakainya. Perlahan ia keluar dari kamar inap dan segera menutup kepalanya dengan kupluk jaket.

Ia melewati lorong rumah sakit berjalan dengan cepat. Setelah sampai di lantai satu, ia segera mencari angkutan umum di depan gerbang rumah sakit. Ia menaiki taksi yang ia hentikan menuju rumah Ahra.

Saat di perjalanan, hujan pun turun perlahan yang semakin lama semakin deras.

"Nona, Nona membawa payung?" tanya supir taksi itu terdengar khawatir.

"Tidak," jawab Mia.

"Kalau begitu, pakai saja payung punya saya. Kebetulan saya membawanya." Supir itu menyodorkan payung ke arah Mia.

Mia langsung menerimanya karena merasa tidak enak dengan sikap supir itu yang sudah baik padanya.

"Terima kasih," ucap Mia.

"Tentu, Nona."

Supir itu memilih diam dan merasa tak enak jika harus mengajak Mia bicara. Dilihat dari ekspresi gadis itu terlihat seperti sedang tidak mau diganggu.

Mia melamun dengan mata yang menatap ke luar jendela yang penuh dengan rintik hujan. Terdengar suara petir yang sesekali saling bersahutan.

"Nona, kita sudah sampai," ujar supir taksi itu menghentikan laju mobilnya.

Mia melihat fokus ke luar jendela. Ternyata itu memang gerbang masuk komplek rumah Ahra. Ia mengambil sesuatu di dalam saku jaket yang dipakainya.

"Ini," ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke supir itu. "Tagih saja utangku ke nomor itu," jelasnya menjawab wajah bingung supir yang menatapnya dengan kening berkerut.

Supir itu masih tidak mengerti, mengedipkan mata berkali-kali dan masih menatap Mia dengan kening berkerut.

"Terima kasih, pak." Mia turun dari mobil dan segera membuka payung pemberian supir itu. Ia tak peduli dengan supir itu yang masih kebingungan.

Siapa yang tidak akan bingung, bukannya diberi uang, tapi malah diberi kartu nama seseorang. Ia bilang, jika ingin menagih ... minta saja pada nomor yang tertera.

Mengejar gadis itu pun percuma, ia sudah jauh dari pandangan supir itu. "Ada-ada saja!" ucapnya mengumpat lalu segera pergi dari sana.

Mia memasuki komplek perumahan Ahra. Ia hanya meminta supir tadi mengantarnya sampai depan gerbang. Meski ia merasakan sakit, ia tetap memaksakan dirinya untuk berjalan menuju rumah Ahra.

Tak lama, saat Mia sudah dekat dengan rumah Ahra, ia menghentikan jalannya. Menatap seseorang yang juga sedang menatap ke arahnya. Gadis itu berada 10 meter dari tempatnya.

"Ahra ...."

1
Liaa
Kenapa nama tokohnya pake nama sendiri?
Rania Puspa
serem amat dah gw byagin aj udh ngerii mkir lgi mau nerusin baca atw kgk ya 🤔
KMA
hhm
Rosananda
Awal cerita yang bikin deg-degan
bagus sekali ceritanya 👍
jihan
kisah nyata kah ini
jihan
waaahhh cerita horor raaaa....
seremmm weehh tp seruu
Michaaa Dimitrics
Wow this ending of this story is very amazing. Could you tell me will you make the sequel of your story? If yes may I follow your social m3dia or 3mail because I don't want to miss it.
[Bayu Pratama]
tuan Dika udah gk ada
ceritanya sangat seru
Rin
Hhm
ren rene
mati kabeh thor
Satriyo Agung Prawiro
Sadis y kak Ahra🤣, lanjutkan ka smgt👍🏼
🏡s⃝ᴿ🅰️nny ༄⃞⃟⚡PETIR
like
🏡s⃝ᴿ🅰️nny ༄⃞⃟⚡PETIR
ide ceritanya bagus
🏡s⃝ᴿ🅰️nny ༄⃞⃟⚡PETIR
lanjut ah...
🏡s⃝ᴿ🅰️nny ༄⃞⃟⚡PETIR
baru mulai udah sereeemmmm
Syahrul Abdul Jabbar
Serem gak tuh
REX
terbaik
Meliseis Dhemewa
Semangat, Kak Ahra! 💪💪💪
Ahrarara17: Semangat juga buat Kak Meliseis 🤗🤗💪💪💪
total 1 replies
Samsul
Awal yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!