NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tim bertahan

"Ayo, Yun! Bilang aja."

Suara Melody terdengar dari bangku depan. Dengan posisi duduk yang terbalik—menopang dagunya dengan sandaran kursi. Menatap gadis berkacamata itu yang masih tetap diam.

"Kamu kan tadi ngomong sendiri," lanjut Melody sambil membenarkan posisi kakinya diantara sela bangku.

"Masa sekarang malah diem?"

Angel ikut menyahut. Tubuhnya berbalik setengah.

"Kalau salah, nggak bakal diketawain kok. Kita juga penasaran apa maksud kamu."

Yuna menggigit bibir bawahnya sembari memalingkan wajah ke jendela.

Lalu beralih ke meja.

Ke papan tulis.

Kemudian kembali ke pemandangan diluar jendela.

Mencoba bersikap seolah semua suara itu tidak ada.

Baginya, lebih baik membiarkan mereka menganggap celetukannya tadi sebagai angin lalu.

Namun rupanya teman-temannya belum mau menyerah.

"Yuna..."

"Yun..."

"Say—"

"Woi kacamata—"

"Ssst!"

Hingga—

Grep!

"Huh?"

Yuna mendadak terkejut ketika kepalanya ditarik ke samping. Sebuah telapak tangan yang cukup lebar mendekap kepalanya. Lalu dengan seenaknya memalingkan wajah gadis itu ke arah depan.

"Kalo diajak ngobrol itu jangan cuek-cuek, Yun," ucap Andito sembari menempelkan kedua telapak tangannya pada pipi Yuna.

Setelah tertoleh dengan paksa, Yuna buru-buru memejamkan mata rapat-rapat. Mencoba membisu, dan menghindar dari tatapan belasan teman-temannya yang kini sedang menatapnya bersamaan.

Andito terkekeh puas. Kedua telapak tangannya masih menahan pipi Yuna, seolah takut gadis itu kembali memalingkan wajah.

"Ngomong dulu," bisiknya sedikit lebih dekat.

Yuna terus mengatupkan bibir rapat-rapat. Jelas ia tak ingin mencoba ikut campur urusan ini.

Andito menghela napas kasar.

Yuna pun berpikir bahwa Andito akan segera melepaskannya.

Tapi ternyata?

Pluk!

"Eh?"

Cowok itu malah melepas kacamata bulat yang bertengger di wajah Yuna.

Yuna berkedip sekali.

Dua kali.

Tersadar akan pandangannya yang kini telah buram. Alisnya terangkat, pandangan matanya ikut membulat.

Yuna pun buru-buru meraih kacamatanya yang kini Andito angkat tinggi-tinggi. Namun dengan perbedaan tinggi badan yang cukup jauh, Yuna bahkan harus sedikit mengangkat tubuhnya untuk mencoba meraih kacamata tersebut.

Andito mengangkat kacamata semakin tinggi. Bahkan tubuhnya sampai membentuk busur ke arah belakang.

Meskipun beberapa kali lengannya tersentuh oleh jemari mungil Yuna hingga membuat jantungnya terus berdebar tak karuan, tapi menurutnya, hanya itu satu-satunya cara agar gadis itu mau sepenuhnya untuk berbicara.

"Balikin, Dito!" desahnya kesal. Tangannya terus terjulur untuk meraih kacamata yang begitu sulit untuk digapai dari tangan Andito.

"Gue di sini buat belain elu tau. Makanya ngomong dulu, Yun!" ujar Andito di sela mempertahankan kacamata bulatnya.

Yuna akhirnya menyerah. Lalu mendudukkan tubuhnya dengan kasar.

Tatapannya berpindah dari kacamata.

Ke wajah Andito.

Kemudian kembali ke kacamata.

Ekspresinya berubah menjadi kesal.

"Benar-benar keras kepala."

Andito yang melihat teman sebangkunya menyerah itu pun sedikit mencondongkan tubuhnya lebih dekat.

"Makanya ngomong dulu. Nggak bakal diketawain kok."

Yuna menghela napas panjang. Benar-benar panjang.

Ia tahu percuma.

Kalau terus diam, Andito mungkin akan terus mengganggunya sampai pelajaran berikutnya.

Akhirnya bahunya turun. Pipinya menggembung cemberut. Tangannya terlipat di depan dada.

"Oke..."

Andito tersenyum puas. Kemudian ia pun menyerahkan kembali kacamata Yuna.

Yuna segera memasangnya. Membenarkan posisi gagangnya. Kemudian menarik napas dalam-dalam.

Sekali.

Dua kali.

Tatapannya berubah. Tidak lagi menghindar. Matanya justru menajam ke arah papan tulis. Ke arah sepuluh nama masih terpampang di sana.

Angga memperhatikannya dengan saksama.

Melody ikut memajukan tubuh

Rachel juga ikut membuka tutup spidol, seolah bersiap untuk mencatat sesuatu.

Yuna membuka suara.

"Disclaimer dulu..."

Beberapa alis siswa terangkat.

"Eee maksudku. Ini cuma pendapatku..."

Jarinya menunjuk daftar nama di papan.

"Pertama, aku bukannya berpendapat bahwa Galih dan Joshua buruk sebagai pemain."

Ia berhenti.

"Secara fisik, mereka mungkin cukup."

Angga mengangguk pelan.

"Tapi masalahnya bukan itu."

Yuna mengangkat tangannya ke bawah dagu. Lalu jarinya menunjuk daftar nama di papan tulis.

"Galih akan kuganti dengan Rachel."

"Hah?"

Rachel yang berdiri di depan kelas sontak menoleh.

"Diriku?"

Galih juga tidak kalah terkejut.

"Kok bisa?"

Sebelum semuanya salah paham, ia pun buru-buru menjelaskan.

"Aku memilih Rachel bukan karena dia paling cepat. Bukan juga karena dia paling kuat."

Yuna menyilangkan lengan kirinya di depan dada, menopang lengan kanannya yang terangkat. Telunjuknya menunjuk tegas ke arah Rachel, seolah ia sedang membangun batas agar pendapatnya tidak kembali dipatahkan oleh gangguan di sekitarnya.

"Tapi karena dia paling terbiasa memperhatikan keadaan sekitar."

Rachel mengerjap.

"Masa sih?"

"Benar. Semisalkan kalau ada yang ribut, kamu biasanya tahu siapa yang mulai."

"Kalau ada yang keluar kelas tanpa izin, kamu tahu."

"Bahkan... semisal ada pigura yang miring atau ada barang yang kurang sreg letak penempatannya, kamu biasanya yang paling pertama sadar."

Angga mulai tertarik. Kedua tangannya bertumpu pada meja di depannya sembari sedikit mencondongkan tubuhnya merasa antusias.

"Kenapa bisa gitu? Apa karena dia seksi keamanan juga ya dikelas ini?"

Yuna bergumam pelan. Seolah sedang mencari contoh yang paling mudah dipahami.

"Rachel seperti orang yang terbiasa membaca seluruh ruangan sekaligus."

Rachel memandang Yuna dengan tatapan menyelidik.

"Jadi..."

"Aku bakalan cocok jadi mata-mata nih?"

"Kurang lebih begitu.""

Rachel akhirnya menghela napas.

"Ya udah."

Ia mengambil penghapus. Kemudian menghapus nama GALIH dari papan. Lalu menuliskan namanya sendiri di tempat yang sama.

RACHEL

"Untuk selanjutnya..."

Yuna kembali menatap daftar nama. Beberapa siswa kembali menoleh memperhatikan.

"Jevan."

Jevan langsung menegakkan badan.

"Oke. Gue nih sekarang?"

Lengan kiri Yuna tetap menopang siku kanan yang terlipat di depan dada. Ia hanya menggerakkan telunjuknya sedikit, menunjuk ke arah papan tulis tanpa perlu menjulurkan tangannya.

"Aku akan memindahkan kamu dari posisi inti."

"Dengan..."

Kalimatnya menggantung.

Tatapannya bergerak ke seseorang yang sedang melukis di bangku sebelah Utara.

"Kadek."

Kadek yang sedari tadi tak memperhatikan karena masih mengerjakan komisnya pun langsung mengangkat wajah. Gerakan pensilnya berhenti di udara.

"Iya, iya. Saya nih? K-kenapa semua lihatin saya?" sahutnya sedikit kebingungan akan tatapan hampir seluruh kelas mengarah kepadanya.

Tetapi tatapan yang paling tajam, justru berasal dari gadis dengan rambut Bob dan kacamata bulat itu.

"Karena kamu seniman."

Kelas mendadak hening.

Kadek melirik ke arah lain.

Yuna pun langsung melanjutkan kalimatnya.

"Bentengan membutuhkan insting dan feeling."

Beberapa anak mulai mengernyitkan dahi.

Yuna melanjutkan.

"Persepsi terhadap ruang. Sudut pandang. Jarak antar pemain. Ketidaksinkronan gerakan."

Jarinya bergerak mengikuti beberapa nama di papan.

"Termasuk melihat sesuatu yang secara kasatmata terlihat normal, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan formasi."

Kadek kembali melirik ke arah Yuna. Seolah perlahan mulai memahami maksudnya.

"Sebagai seniman, kamu terbiasa memperhatikan bentuk, posisi, proporsi, dan hubungan antar objek."

Kadek terdiam.

"Itu sebabnya..."

Yuna menunjuk namanya.

"...aku ingin feeling seperti itu dipakai untuk membaca lapangan."

Angga mulai mengangguk pelan.

"Jadi Kadek bukan sekadar penjaga?"

Yuna menoleh ke arah Angga.

"Benar. Dia pengamat."

Kemudian jarinya berpindah kepada Rachel.

"Jadi, apabila dua kombinasi ini disatukan..."

Yuna menjawab tanpa ragu.

"Antara Rachel yang punya pandangan yang luas dan teliti."

Ia kemudian menunjuk Kadek.

"Dengan Kadek yang punya persepsi terhadap ketidaktepatan."

Rachel dan Kadek saling pandang.

"Kita bakalan punya vision yang tak pernah dimiliki oleh kelas lain."

Kadek tersenyum kecil.

"Nggak nyangka saya bisa sepenting itu disini, Yun."

Yuna mengangguk. Lalu berkata mantab.

"Kamu penting. Tapi kamu belum menyadarinya."

Kadek yang mendengar pernyataan itu, tanpa sadar bibirnya merekah. Matanya berbinar bangga.

Namun sebelum menyambung ke topik lain, Angga depan kelas yang ada di depan kelas tiba-tiba menyahut.

"Tapi..."

Yuna menoleh.

"Penglihatan doang masih belum cukup, Yun."

"Berarti kita butuh defender," jawab Yuna tepat.

Yuna memeriksa nama-nama yang masih belum memiliki bagian. Kemudian tertuju ke barisan yang ada di nomor 5,6,7.

"Rio."

"Michel."

"Dan..."

"Jevan."

Ketiganya langsung saling pandang.

"Kenapa kami?" tanya Rio.

Yuna menjawab tenang.

"Chemistry kalian sebagai sahabat bangku keramat cukup solid. Dan mungkin..."

"Hanya dengan sekali tatapan mata pun kalian pasti tahu harus bertindak bagaimana."

Michel dan Rio akhirnya saling pandang.

Kemudian,

"Jadilah benteng pertama selagi pemantau area sedang bekerja..."

"Selagi Jevan dengan tubuh tinggi dan kaki jenjangnya, melindungi keseluruhan base dengan bantuan penglihatan dari Rachel dan juga Kadek."

Ketiganya mengerjap hampir bersamaan.

Namun Yuna buru-buru melanjutkan.

"Jadi kalau ada pemain lawan yang berhasil melewati lini depan..."

"Rio dan Michel yang akan bertugas menahan atau mengecoh. Sedangkan Jevan yang akan menjadi penjaga terakhir bagi base."

Andito tertawa kecil.

"Rio sama Michel jadi satpam benteng tuh," sindirnya sembari melirik sinis.

"Eh, jangan ngomong kayak gue tukang parkir, Anjir," protes Rio tak terima.

Namun Andito malah mencebikkan mulutnya tak peduli.

Yuna tidak memperdulikannya. Matanya justru kembali menyapu papan tulis.

Angga.

Andito.

Rio.

Michel.

Rendy.

Rachel.

Kadek.

Jevan.

Joshua.

Ega.

Namun kali ini, daftar itu tidak lagi terlihat seperti sekumpulan nama acak yang dipasrahkan untuk sekedar bertanding. Namun kini sepenuhnya sudah mulai berubah menjadi garis-garis.

Benteng.

Jalur pertahanan.

Pengamat.

Penjaga.

Dan ruang kosong yang masih belum terisi.

"Dan setelah ini..."

Beberapa siswa kembali melirik.

"Kita pikirkan juga untuk komposisi tim penyerangnya."

1
Arni Arlinawati pratiwi
gak gitu juga thor.. 😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
ya allah.. lucu banget, mana kebayang lagi mereka kayak gimna pindah nya.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
bener lagi kayak bicara sama ai.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi
ya ya.. masih menjadi murid SLTA sederajat keseharian mah masih sama.. tumpukan tugas sisa pembelajaran dari guru setiap hari.. adalah makanan sehari hari mereka yang masih sekula, biasa.. /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
cepet nya udah 1 bulan aja nak.. masa masih canggung canggungan sama temen sekelas, gak kan.. 💪
My_Lucia
wihhh ... ternyata paket komplit.. 🤭
My_Lucia
tuh kannn .. ganteng banget tau dia ini /Shy/
My_Lucia
widihh Angga cowok tampan dan berprestasi ini jago olahraga ga ya 🤭
My_Lucia
mau di analisis lagi Bae dia mah 🤣
sebelumnya lebar lapangan
My_Lucia
cowok tengil begini biasanya jadi idola di sekolah sih 🤭
M. T🌻
ihhh baca ini jadi kangen sekolah🤭
kenzi moretti
dito udh terbayang-bayang yuna/Chuckle/
kenzi moretti
duh blak-blakan sekali perkataanmu😌
kenzi moretti
coba lagi besok dito/Chuckle/
kenzi moretti
seseorang ada yg berkata "haremnya yuna nambah"/Sweat/
Moon.: tenang kak. si @Europa. fujoshi udah ku blokir kok dari sini./Smile/
total 1 replies
Europa.
yudi???
Moon.: biarin wlee
total 3 replies
Europa.
ini yuna kalau ngomong nusuk+nyakitin banget, yuda sama najwa aja dulu pernah kena keknya🗿
Europa.: tidak ada yg lolos dari pedang yuna
total 2 replies
Europa.
alasan mau ngerjain sosi inimah, aslinya pengen disamping yuna
Europa.
ughh, sakitnyee
Europa.
wahhh, ini my kisahnya yunaa, akhirnya muncul
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!