Kebahagiaan yang belum lengkap akan membuat hidup terlihat hampa. Rasa cinta yang tumbuh akan membuat kehampaan ini sirna tak tersisa.
Salva yang awalnya merasa begitu hancur karena gagal dalam kisah percintaan, siapa sangka datang seorang dokter cinta untuk mengobati goresan luka dihatinya.
Akankah mereka bahagia dalam jalinan asmara dalam ikatan halal itu?
Mampukah Arya menutupi goresan luka dihati Salva?
IKUTI KISAH MEREKA!
Kisah ini sambung dari cerita, Goresan hati yang terluka. Sebelum membaca kisah ini lebih baik saudara semua baca dulu GHYT.
Terimakasih, dan jangan lupa follow me
Ig:@ara putri 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan
POV Salva
Aku sungguh terkejut saat pertama kali bertemu dengan mas Arya. Pria yang sudah aku tinggali begitu lama akhirnya kembali lagi keperluan ku.
Aku merasa sungguh berdosa, saat melihat kondisinya tidak baik-baik saja seperti harapan ku. Ia seakan berubah menjadi orang lain.
Kemana perginya pria tampan ku? Dia terlihat begitu menakutkan saat itu, rambut yang panjang wajah yang kusam dan pakaian yang terlihat tidak rapi. Jika orang tau dia seorang dokter mungkin tidak ada yang akan percaya, seorang dokter begitu urakan.
Beberapa bulan aku menahan diri, setiap hari yang aku lakukan hanya mencoba menghilangkan Truma yang ku alami, tapi tidak berhasil. Aku semakin mengingat kejadian itu, bagaimana aku ingin mengakhiri hidupku karena sudah tak kuat bertahan, bagaimana tangan kekar itu setiap hari mendarat di pipi ku untuk meninggalkan bekas bersama dengan luka yang tidak bisa aku lupakan. Ternyata mantan suamiku benar-benar meninggalkan luka yang besar, ia benar-benar berhasil dalam niatnya menikahi ku, menghancurkan ku seperti sumpahnya pada sang mantan kekasihnya, Naira.
Sudah hampir satu bulan aku kembali tinggal bersama suamiku setelah ia bisa menemukan persembunyian ku. Setelah banyak cara ia lakukan aku kembali bisa percaya bahwa dia tidak akan berbuat seperti yang dilakukan Kaivan kepadaku dahulu. Kami mulai saling melengkapi saling bercerita tanpa rasa cemas lagi, meskipun begitu mas Arya tidak pernah menyingung kepergian ku karena apa? sepertinya suamiku takut menyinggung perasaanku lagi.
Aku membelai wajah mas Arya yang tampak berubah. Lebih tirus, banyak ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar dagunya. Ia terlihat begitu menikmati sentuhan yang aku berikan, memejamkan matanya seolah meresapi setiap sentuhan yang aku lakukan.
"Kenapa bisa begini?" ucapku, "Rambut panjang, kumis yang juga ikut-ikutan, dan lihatlah wajahmu ... kau sangat jelek, mas." Aku mengoceh tentang penampilannya, bagiku sekarang semua yang ada pada mas Arya salah.
"Bagaimana kamu masih bisa bertanya? jika sedari dulu kamu tau jawabannya,"
Jawaban mas Ary sungguh menohok hatiku. Dia benar, ini semua terjadi karena keegoisan ku yang berpikir bisa bertahan sendiri.
"Bagaimana bisa begitu ... seharusnya kamu lebih memperhatikan diri, mas. Bagaimana jika aku kembali malah ketakutan melihatmu?"
"Bagaimana cara diriku baik-baik saja, sayang. Jika nyawanya telah pergi meninggalkan raga? Seharusnya kamu menyalahkan dia yang tidak peka itu." Aku terkekeh melihat mas Arya merengek. Aku sungguh terharu dengan kata-katanya.
Apa sebegitu besar cintamu padaku, mas? Kau bahkan menganggap diriku nyawamu, kau menganggap ku adalah kehidupanmu. Tapi aku? Aku malah memilih untuk egois, berpura-pura kuat padahal aku sangat butuh bahu mu untuk bersandar disaat kala sedih.
*****
Aku tersentak saat merasakan ada usapan lembut dipipiku, ahh ternyata aku sedang melamun mengingat masa lalu.
"Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah melamun?" tanya mas Arya.
"Gak apa-apa, Mas Arya mau berangkat?" tanyaku balik.
"Tidak ... Hari ini mas ada jadwal operasi agak siang, jadi lebih baik mas temenin kamu dirumah."
Aku tersenyum mendengar kata lembut Suamiku. Inilah yang aku suka dari mas Arya, ia memperlakukanku sangat istimewa. Meski ia tidak memberikan barang-barang yang mahal tapi ia selalu memberikan perhatian yang tidak pernah habis.
Aku tau suamiku ini tidak sekaya mantan suamiku yang dulu, tapi kalau urusan kasih sayang dan cinta aku rasa tidak akan ada pria yang bisa menandinginya, menurutku.
"Mas ... Salva boleh minta sesuatu gak?"
Mas Arya menganguk, "Apa?"
"Nanti setelah pulang kerja mas Arya beli mie instan ya," pintaku sambil bergelayut manja di lengan kekar mas Arya.
Aku langsung mendapat polotan dari pria yang tadi begitu lembut Langsung berubah garang.
"Gak boleh! Kamu lagi hamil, apalagi mie gak baik untuk lambung mu!"
Aku langsung cemberut, rasanya sangat kecewa karena saat ini aku sangat menginginkan makanan itu, apalagi bisa dikatakan aku tidak pernah memakannya lagi semenjak tamat kuliah.
"Ayolah, mas. Ini keinginan anak kita juga," rengek ku, "Setelah ini janji gak akan makan mie instan lagi,"
Mas Arya langsung berdecak. Pria ini paling ketat dalam kesehatan, bahkan hampir semua di apartemen mereka tidak ada makanan instan, karena sebagai dokter ia tau makanan itu mengandung pengawet yang bisa merusak kesehatan.
"Baiklah ... Hanya untuk kali ini saja!" Aku langsung mengangguk semangat.
Mas Arya mengacak rambutku dengan gemes. Jika aku tidak ngidam, Mungkin mas Arya tidak akan mengizinkannya, tapi sekarang tentu saja ia tidak ingin anak kami akan ileran nanti.
"Sekarang ayo kita kedapur, mas ingin memasak sesuatu yang sepesial untuk kalian." Aku langsung mengangguk semangat. Semenjak hamil aku tidak pernah memasak lagi, karena mas Arya tidak mengizinkan, seperti hari suaminya itulah yang akan memasak makanan mereka.
Suami paling perhatian, suami idaman setiap wanita 😍
******