Demi rasa cinta yang besar, seorang perempuan menyembunyikan kebenaran. Baginya kebenaran tidak ada gunanya tanpa kepercayaan.
Rasa cinta yang memudar seiring dengan kepercayaannya kepada perempuan itu, ia berusaha mencari kebenaran untuk ibundanya, tetapi ia justru terjebak dalam cinta yang lain.
Sedangkan dia memegang kunci kebenaran yang di sembunyikan perempuan tersebut, dan juga kepercayaan yang di berikan tapi ia juga terjebak dalam cinta yang salah.
Akankah mereka berhasil mencari kebenaran?
Apakah perempuan itu mendapat kepercayaan?
Apakah dia dapat terbebas dari cinta yang salah?
Penasaran? langsung baca yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
Sejak duduk di meja makan, Jira memperhatikan Crystal yang tampak gelisah. Ingin rasanya Jira membuang semua pikiran buruk tapi makin lama dia makin salah menduga. Kegelisahan Crystal disalahartikan sebagai kecemburuan karena Jira akan menikah dengan Arsa.
"Crys, kamu sakit?" tanya Arsa heran karena Crystal menyeka keringat di dahinya.
"Nggak, cuma capek," jawab Cystal gugup.
"Istirahat kalau capek," kata Arsa lagi, tak menyadari bahwa calon istrinya merasa jengah.
Crystal ingin menjawab tapi suara ramah Andini menyela. Wanita itu meminta maaf karena terlambat datang. Arsa melirik kesal karena ibunya menolak dijemput dengan alasan ingin pergi arisan dahulu.
"Crys, ini hadiah buatmu, selamat ya dapat banyak medali!" Andini menyerahkan paperbag yang diterima Crystal dengan tangan gemetar. "Makasih, Tante."
"Kamu ini cocok loh jadi brand ambassador minuman kesehatan HealtyNutri. Cantik, sehat!" seru Andini riang membuat Alvano tertawa bangga. Tapi baik Jira maupun Crystal terdiam. Crystal gemetar ketakutan sementara Jira merasa tersindir karena dia membawa gen thalassemia.
"Hari ini saya datang untuk mewakili Arsa melamar Jira. Saya rasa sudah waktunya mereka menikah," kata Andini.
"Ya, saya juga setuju. Nggak sabar nimang cucu!" Alvano tertawa.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Andini.
"Kami mau bertunangan dulu," kata Jira mengagetkan Arsa tapi pria itu mencoba tenang.
"Kenapa?" tanya Andini heran, "bukankah lebih baik langsung menikah?"
"Menurutku lebih baik bertunangan dulu," kata Crystal memberi suara yang mengejutkan. Jira langsung menatapnya tajam, kecurigaannya semakin membesar.
"Oh ya, apa alasannya?" tanya Alvano santai.
Crystal semakin gemetar dan Jira juga Arsa melihatnya. "Aku mau pernikahan kami tahun depan, jadi sebelumnya bertunangan dulu. Kamu nggak keberatan, kan?" tanya Jira pada Arsa.
"Nggak, apa pun kemauanmu." Jawaban Arsa terasa datar di telinga Jira tapi dia berusaha tenang membahas pertunangan yang akhirnya diputuskan akan digelar minggu depan.
Setelah obrolan selesai, Crystal lebih dulu pamit. Perasaan gelisah membawa Crystal ke taman belakang. Dia ingin segera memberitahu Jira tapi tak mungkin bila ada Arsa.
Arsa yang merasa Jira bersikap aneh justru mencari Crystal untuk meluapkan perasaannya.
"Kamu sakit atau gimana?" tanya Arsa mengejutkan Crystal yang langsung bergeser memberi jarak. Arsa mengernyit, tak biasanya Crystal menjaga jarak. Teringat kecemasan Crystal dan keanehan Jira, Arsa menyangka Crystal kembali menjadi korban intimidasi Jira.
"Kamu diapain Jira?" tanya Arsa.
"Hah, diapain?" Crystal balik bertanya tapi justru membuat Arsa curiga.
"Dia kumat nyakitin kamu?"
"Kok Kak Arsa ngomong gitu?" Crystal malah marah. "Kak Jira nggak jahatin aku!"
Arsa menghela napas, sangkalan Crystal malah membuatnya yakin Jira menekan Crystal. Perlahan dia meraih bahu Crystal lalu mencengkramnya. "Jira memang nggak jahat, aku tahu. Tapi terkadang dia nggak sengaja jahatin orang lain. Kalau ada yang mengganjal, bilang aja sama aku."
Crystal mengendikkan bahu agar terlepas dari tangan Arsa.
"Masa calon istri dibilang jahat!" omel Crystal hingga Arsa tertawa. "Memang Jira suka jahatin kamu, kan? Dulu kamu sering nangis diam-diam dicuekin Jira."
Crystal tiba-tiba tersenyum malu lalu menanyakan hal yang mengusik hatinya. "Apa yang bikin Kakak jatuh cinta sama Kak Jira? Kakak bilang dia jahat."
Arsa menatap langit lalu tersenyum. "Hm apa ya ... Aku cinta dia apa adanya. Jira itu walaupun dingin tapi menghangatkan. Walaupun kelihatannya menjauh tapi sebenarnya dekat. Sesuai namanya, Jira itu berkilau."
Crystal tebengong. "Itu deskripsi manusia atau bulan?"
Arsa terkekeh. "Memang buatku Jira kayak bulan. Kalau nggak ada Jira, malamku bakal gelap."
"Kakak cinta banget ya sama Kak Jira?" tanya Crystal.
"Banget! Aku nggak bisa bayangin hidup tanpa kakak kamu yang nyebelin itu!"
"Nyebelin tapi dikangenin, aneh!" sungut Crystal.
"Kamu tuh nggak ngerti, anak kecil!" Arsa mengacak rambut Crystal hingga gadis itu menjerit kesal. "Makanya dewasa dikit, belajar jatuh cinta!" ejek Arsa sambil tertawa.
"Aku tahu kok rasanya jatuh cinta." Crystal menjawab.
"Hah? Kamu pernah jatuh cinta? Sama siapa?" selidik Arsa. Karena Crystal tak menjawab, Arsa terus mengganggunya. "Ceritain dong, Crys. Kamu jatuh cinta sama siapa? Udah pacaran?"
"Nggak pacaran."
"Kenapa? Kamu ditolak? Atau dia nggak tahu perasaanmu? Butuh bantuanku?"
Crystal tertawa lalu mendorong Arsa yang terus menempel karena penasaran.
"Kamu pasti bohong. Pasti itu bukan jatuh cinta. Dasar anak kecil!"
"Cinta. Aku yakin ini cinta walau tadinya aku nggak yakin. Aku nggak butuh dia tahu, aku cuma mau dia hidup bahagia."
Arsa tertegun sejenak tapi kemudian tertawa. "Kamu habis nonton drama atau gimana?"
Tapi Crystal tak tertawa, dia hanya tersenyum kecil. "Aku cinta banget sama dia walaupun dia nggak pernah tahu."
"Siapa sih, Crys? Kamu nih bikin penasaran aja!" Arsa makin menempel. "Aku tahu nggak siapa orangnya? Pernah ketemu aku nggak?"
"Pernah."
"Jangan-jangan teman sekolah kamu dulu!" Arsa mulai menebak teman-teman SMA yang pernah dekat dengan Crystal tapi gadis itu menggeleng tiap kali sebuah nama disebut.
"Rahasia!" Crystal tertawa lalu berdiri.
"Kalau cinta udah lama pasti paling nggak kamu punya fotonya, kamu bohong, kan?"
"Punya. Aku simpan di tempat terdalam, tempat rahasia di kamarku."
"Apa itu tempat terdalam? Tempat nyimpan baju dalam?"
"Kok Kakak tahu?" Crystal menganga.
Arsa kemudian terpingkal lalu merangkul Crystal. "Aku kasih tahu rahasia ya, kalian tuh biar beda ibu tapi tetap aja saudara. Jira juga suka nyimpan barang penting di laci baju dalam!"
Crystal terbengong sesaat tapi kemudian dia ikut tertawa. Tawanya baru berhenti ketika dia melihat Jira berdiri menatap tajam.
"Kak, aku ke kamar dulu." Crystal melepas rangkulan Arsa lalu mendekati Jira.
"Kak, aku mau ngomong." Crystal berusaha memberitahu soal Andini tapi Jira membentaknya. "Masuk ke dalam! Aku perlu bicara sama calon suamiku!"
Crystal berjengit, Arsa memelotot kaget.
"Ji, nggak harus bentak, kan?" tanya Arsa kaget.
"Masuk, Crys!" Jira memerintah dan Crystal segera berlari ke dalam rumah.
"Ji, Crystal itu udah dewasa, bukan anak-anak yang bisa kamu atur."
"Kalau kamu tahu Crystal sudah dewasa, harusnya kamu tahu cara bersikap, kan?" tanya Jira meluapkan kekesalannya.
"Maksudmu apa?" tanya Arsa bingung.
"Crystal bukan anak-anak, nggak seharusnya kamu nyentuh dia sembarangan!"
Bagai bom waktu, kalimat Jira membuat suasana meledak.
"Kamu kenapa sih, Ji? Kamu nggak cemburu sama Crystal, kan?"
"Kalau aku bilang cemburu, kamu mau berhenti memperhatikan Crystal?" tanya Jira tajam.
"Astaga, demi Tuhan, dia adikmu, Jira!" Arsa memekik.
"Hanya karena dia adikku, apa nggak mungkin kamu punya rasa untuk dia?"
"Ji, ya ampun, kamu ... kamu keterlaluan!" Arsa menjambak rambutnya frustrasi.
Jira yang tersadar bahwa tindakannya keterlaluan berusaha memperbaiki situasi.
"Dia adikku tapi orang lain nggak bisa berpikiran selalu positif. Demi kebaikan Crystal, tolong perhatikan sikapmu ke dia, Sa."
Arsa terdiam karena menurutnya Jira berlebihan tapi dia tak ingin ribut sekarang. Demi menetralkan keadaan, Arsa akhirnya mendekat lalu mengenggam tangan Jira untuk menenangkannya.
"Sori aku kelewatan, aku nggak maksud bentak. Aku ikuti kata-katamu," kata Arsa mengalah walau dia masih memiliki ganjalan di hati.
**
"Kak, aku mau ngomong!" Crystal mengikuti Jira yang berjalan cepat ke lobi untuk pergi ke kantor.
"Ngomong aja sekarang," kata Jira tanpa menoleh.
"Nggak bisa di sini." Crystal secara tiba-tiba menarik lengan Jira.
"Hey, pagi-pagi ribut apa?" tegur Alvano geli. Crystal segera melepas tangannya dan tersenyum menatap Alvano yang berpamitan untuk pergi lebih dulu.
"Crys, aku ada rapat!" Jira mengingatkan saat mobil Alvano sudah pergi. Tanpa peduli protes Jira, Crystal menariknya lagi ke taman samping rumah agar pembicaraannya tak didengar para tukang kebun.
"Kak, jangan menikah sama Kak Arsa!"
Jira seketika membeku, tak menyangka Crystal berani mengutarakan isi hatinya.
"Kenapa?" tanya Jira dingin.
"Kak, aku dengar ...."
"Karena kamu suka Arsa?!" bentak Jira hingga Crysyal terkejut karena kaget.
"Kak?! Bukan. Aku ...."
"Jadi ini alasanmu menyimpan ikat rambut dari Arsa?"
"Ikat rambut?" Crystal membelalak kaget tapi Jira malah tertawa. "Kamu pikir aku bodoh?!" maki Jira.
"Kak, salah, aku bukan ...."
Jira tak mau repot mendengar ocehan Crystal, dengan satu tamparan dia menghentikan kalimat Crystal.
"Selama ini aku bersikap baik bukan untuk mendengar omong kosongmu! Mama membesarkan kamu bukan untuk ngikutin jejak ibu kandungmu jadi perempuan ******!"
"Kenapa bawa-bawa mamaku?!" Crystal tak terima hingga berani balas membentak Jira.
"Kenapa? Memang benar, kan? Kamu nggak tahu diuntung!" Jira semakin berang. Air mata Crystal mulai mengalir tapi dia berusaha kuat.
"Aku nggak pernah berniat merebut Kak Arsa! Aku cuma nggak mau Kakak dalam bahaya!" Crystal memekik.
Jira tak ingin lagi mendebat karena rasa bersalah mulai merayapinya kala melihat tangisan Crystal yang pipinya memerah tapi gadis itu kembali mengusiknya. Ditariknya kembali Jira hingga kesabaran wanita itu habis. Jira menghempaskan tangannya, membuat Crystal terjatuh.
"Crystal!"
Pekikan Arsa membuat keduanya menoleh. Arsa mendekat dan mencerca Jira yang menurutnya keterlaluan.
"Aku keterlaluan?! Tanyakan pada Crystal alasan aku menamparnya!" Jira merasa berang.
Crystal yang kebingungan tak menjawab melainkan melarikan diri ke dalam rumah.
"Jira ...."
"Stop, Sa! Kalau mau nyalahin aku, hentikan pertunangan dan pernikahan kita. Aku nggak bisa menikahi orang yang nggak memercayai aku!" kata Jira sambil berlalu.
Arsa yang ditinggalkan hanya bisa tertegun, dia merasa Jira semakin aneh.
**
Selama dua hari Crystal menjauhi Jira tapi di hari ketiga, dia memberanikan diri menemui Jira di kamar.
"Mau apa lagi?!" bentak Jira.
"Kak, aku dengar rencana jahat Tante Andini!" Crystal menjerit lalu secara terbata dia menceritakan semua yang dia dengar di rooftop kantor komite olahraga. Jira menganga, tak ingin memercayai tapi dia pun tahu hubungan antara Andini dan Mandala.
"Mereka mau celakai, Kakak!" Crystal mengingatkan. Jira terdiam, tak menyangka calon ibu mertuanya segila itu.
"Kak ...."
"Crys, aku nggak butuh khayalanmu!" kata Jira dingin membuat Crystal terpaku.
**Visual Crystal
Hayo pilih yang mana? Jira or Crystal
**
ga nyangka dia bakal pergi padahal yg berjuang sekuat tenaga adalah jira
kirain endingnga jira bakal bahagia padahal bahagianya hanya sementara
keren sih authornya memang ku akui ceritanya berat banget full masalah tapi itu yg jadi keseruan tersendiri gimana dia bisa menjalani semuanya dan bisa melindungi orang orang yg di sayangi