kisah ini menceritakan tentang Rehaan, putra konglomerat yang harus menjalani kehidupan sulitnya sejak ia masih kecil,
Rehaan harus kehilangan kedua orang tuanya sejak ia masih berusia 2th karena kejahatan Om dan Tante-Nya.
tidak cukup sampai disitu, hidup Rehaan semakin sulit sejak Nayla pengasuhnya diusir dari rumah Rehaan atas fitnahan oleh Om dan Tante-Nya,
Akankah Rehaan bisa berjuang sendiri menghadapi kejahatan Om dan Tante-Nya?"
ikuti Terus "Pesona pengasuhku" karena kisah ini juga akan diwarnai oleh kisah cinta Romantis antara Rehaan dan Nayla 😉
@Noor.hidayati 💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Sedih dan Bahagia
Rehaan menarik Tangan Nayla keluar dari perusahaan Oberoi.
"Rehaan, Apa yang kamu bicarakan? Masalahmu hanya kepada Orang tuaku," ucap Ravi yang mengejar Rehaan.
Rehaan menghentikan langkahnya dan semakin merasa kesal.
"Rehaan sejak kamu belum lahir, aku sudah sekolah di luar negeri,
Dan selama 10tahun aku baru pulang ke Jakarta, kemudian melanjutkan lagi pendidikan ku,
Dan kita hanya bertemu beberapa kali, setelah aku kembali dan menetap di Jakarta kamu meninggalkan rumah, Aku tidak mengerti apa masalahmu dengan orang tuaku,
Kamu tidak mengatakan apapun dan ibuku mengatakan jika kamu pergi atas kemauanmu sendiri," jelas Ravi.
"Seorang penjahat tidak akan pernah mengakui kejahatannya meskipun kepada putranya sendiri," ucap Rehaan lalu melanjutkan langkahnya.
"Rehaan tunggu, Penjahat? Apa kau mengatakan jika orang tuaku penjahat?
"Apa kau akan menjadi orang yang tidak tau balas Budi?" ucap Ravi yang sudah berdiri di depan Rehaan.
"Hegh.." Rehaan tersenyum miring.
"Balas Budi apa yang kamu bicarakan?" Rehaan melepas tangan Nayla dan mendorong Ravi hingga tubuh Ravi terdorong beberapa langkah.
"Rehaan," ucap Nayla khawatir.
"Rehaan apa kamu menjadi amnesia setelah kamu sukses!
Ibuku merawatmu sejak kamu lahir apa lagi setelah kedua orang tua mu tiada, ibuku lah yang mengurusmu dengan penuh kasih sayang, Ibukulah..." Ravi menghentikan ucapannya karna melihat Rehaan menertawakannya.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Ravi bingung.
"Seorang penipu sedang menipu putranya sendiri," ucap Rehaan tertawa sinis.
"Apa maksudmu? bicara dengan jelas?" Ravi semakin bingung mendengar kata-kata Rehaan.
"Lihatlah Bibi Nayla," Rehaan menunjuk Nayla dengan kelima jarinya.
Ravi melihat Nayla dengan kebingungannya.
"Sebelum aku lahir ibu dari bibi Nayla lah yang membantu ibuku,
Setelah aku lahir, ibu dari bibi Nayla juga yang merawatku selama satu Minggu,
Tapi karena perbuatan jahat orang tuamu ibu Neli harus mengalami cendra di kakinya hingga tak bisa lagi menjagaku, dan setelah itu bibi Nayla lah yang menjagaku, merawatku, melindungiku dari kejahatan kedua orang tuamu, hingga aku berusia 8 tahun,
Tapi karena kejahatan kedua orang tuamu juga, aku mengusir bibi Nayla keluar dari rumahku,
Lalu apa yang terjadi setelah itu? Apa kamu bisa menebaknya?" Rehaan menjeda ucapannya.
Ravi hanya terdiam bingung dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa lagi Ravi? Apa lagi jika bukan menguasai seluruh harta Harendra Wicaksono, Ayahku," ucap Rehaan kesal.
Ravi terlihat sangat kaget mendengarnya.
"Tidak cukup sampai disitu, bahkan orang tuamu juga mengusirku dari rumahku sendiri,
"Dan yang paling membuatku marah pada kalian adalah, Karena orang tuamu lah ayah dan ibuku tiada!" ucap Rehaan menggenggam kerah Ravi.
Ravi langsung terperangah mendengar perkataan Rehaan.
"Rehaan tenanglah, Rehaan lepaskan dia," ucap Nayla menengahi mereka.
Rehaan melepaskan Ravi dan menarik tangan Nayla kemudian meninggalkan Ravi dengan kesal.
Ravi masih terdiam mendengar semua ucapan Rehaan tentang kejahatan orang tuanya.
Ravi mengingat semua kata-kata Rehaan hingga membuat matanya berkaca-kaca
"Tuan Ravi, Rapat akan segera di mulai," ucap salah seorang OB.
Ravi mengusap air mata yang menetes di pipinya kemudian masuk ke dalam.
*****
Rehaan menyenderkan kepalanya di kursi mobilnya.
Ia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
"Rehaan...." Nayla memegang bahu Rehaan
"Bibi...." Rehaan Langsung menangis di pundak Nayla.
"Hatiku sakit sekali setiap mengingat masa laluku, aku ingin melepaskan masalaluku selamanya tapi masa lalu itu malah semakin mendekat," ucap Rehaan dengan Isak tangisnya.
"Kehidupan tidak bisa di pisahkan dari masa lalu Rehaan, tapi kita bisa membuat masa depan kita lebih indah daripada masa lalu, Kamu bilang ingin mengajakku ke tempat wisata dan kuliner, apa kamu berubah fikiran dan hanya ingin menangis dipundaku?" canda Nayla.
Rehaan langsung bangun dan mengusap air matanya dan merubahnya menjadi tawa.
"Ini lebih bagus," ucap Nayla menghapus air mata Rehaan dengan kedua ibu jarinya.
Rehaan menjadi terbawa perasaan mendapat sentuhan tangan lembut Nayla.
"Jika kamu menangis seperti ini bibi seperti melihat Rehaan kecil yang ada di hadapan bibi," ucap Nayla tersenyum.
Rehaan terseyum dan menundukkan wajahnya.
"Baiklah kita bersenang-senang sekarang?" Nayla mencoba membuat Rehaan bersemangat kembali.
"Ee... Yaa... Tentu..." ucap Rehaan menyalakan mobilnya.
******
Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di wahana permainan.
Mereka langsung menaiki berbagai macam wahana yg tersedia.
Tidak sedikit Rehaan terus mencuri-curi pandang ke arah Nayla.
Bahkan saat mereka menaiki roller coaster Rehaan sangat menikmati saat Nayla memegang lengannya dengan Erat.
Mereka turun dari roller coaster dan tertawa bersama dengan lepas.
Rehaan terdiam menatap Nayla yang tertawa lepas, tawanya benar-benar mumbuat dirinya terlihat jauh lebih cantik dimatanya.
Nayla terdiam saat menyadari Rehaan menatap dalam dirinya.
"Apa hatimu sudah merasa lega?" tanya Nayla mengalihkan pandangan Rehaan.
"Ee... ya, sedikit," jawab Rehaan dengan senyum sesaat.
"Harusnya kamu lebih kencang lagi triaknya biar hatimu merasa lega," ucap Nayla tertawa.
Rehaan tersenyum dan terus menatap Nayla yang sedang bicara tanpa henti, Rehaan tidak mendengar apa yang Nayla bicarakan karena fokus Rehaan hanya menatap Wajah cantik Nayla.
"Rehaan..." Nayla mengangetkan Rehaan dengan membunyikan jarinya tepat di wajah Rehaan.
"Ee... Ya bibi?" jawab Rehaan gugup.
"Bisa kita makan sekarang? Bibi merasa lapar sekali," Nayla memegangi perutnya.
"Oh ya tentu, Kita cari makan kesana," Rehaan menunjuk ke sebrang jalan.
"Sepertinya makan ayam geprek enak," ucap Nayla.
"Apa bibi masih suka pedas?"
"Mmmm," jawab Nayla tersenyum.
"Baiklah, apapun yang bibi inginkan," ucap Rehaan tersenyum.
Merekapun masuk ke rumah makan lesehan dan langsung memesan makanan yang Nayla inginkan, tidak menunggu waktu lama, pesananpun datang.
Nayla langsung menyantapnya dengan lahap hingga hidung dan dahinya dipenuhi dengan keringat karna rasa pedas yang ia rasakan.
Rehaan makan dengan sangat pelan karena baginya menatap Nayla jauh lebih sedap daripada Makanan yang sedang ia santap, dimatanya Nayla benar-benar terlihat semakin seksi dengan keringat yang bercucuran,
sedangkan Nayla terus melahapnya dan sesekali memberi isyarat dengan menaikan alis dan dagunya agar Rehaan cepat memakan makanannya.
Rehaan terseyum tipis, dalam hatinya hari ini dia sangat bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama pengasuh pujaannya.
"Aku harap ini bukan yang pertama dan terakhir bibi, Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan bibi," kata-kata itu hanya bisa Rehaan ucapkan dalam hatinya.
Bersambung.....