Takdir tak akan berubah jika kau tak ingin merubahnya, berjuanglah untuk mendapatkan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Rutinitas Fay seperti biasa dia akan datang ke bengkel untuk mengecek kondisi mobilnya di waktu senggangnya.
Sekarang Ia sedang duduk di bangku tempat para pengunjung di cafenya.
Dia sedang berfikir sambil bertopang dagu, dia merasa heran dengan dirinya akhir-akhir ini.
Padahal sudah beberapa hari juga dia tak berkomunikasi dengan Pradipa, kelaki pujaannya itu, dan Pradipa pun tak datang ke cafenya, dulu dia akan sangat galau, merindukan lelaki itu, sekarang seperti sudah menerima saja. Toh dia berfikir pradipa sudah memberitahunya bahwa dia akan sangat jarang memberi kabar atau pun datang ke sini karena kesibukannya.
Ivy dan Myla pun datang menepuk bahunya dan duduk di seberangnya.
"Mikirin bang Dipa—" tebak Myla "Apa Ren!" Ivy melanjutkan.
"Apaan sih!" elaknya.
"Gih sono ambil minun apa pesen!" bujuknya ke sahabatnya.
Ivy pun bangkit segera masuk ke arah meja pelayanan, sedang Myla memilih duduk saja menunggu sahabatnya itu membawakan minuman.
"Mikirin spa sih?" tanya Myla serius.
"Gw bingung sama diri gw sendiri, biasanya gw galau kalo bang Dipa ngga ngasih kabar tapi sekarang kok biasa aja ya?" dia pun mencurahkan isi hatinya ke sahabatnya itu.
Myla pun mengeryit di fikirnya apa sahabatnya itu juga menyukai Ren, dia berusaha mengenyahkan fikirannya.
"Apa lu dah buka hati buat orang lain?" tanyanya memastikan.
"Bukan gitu—" belum sempat Fay menjawab, pintu cafe terbuka dan seorang lelaki yang tadi mereka bicarakan muncul. Pradipa melambai ke arahnya.
"Gw kesana dulu ya" segera beranjak menghampiri lelaki yang masih mendominasi hatinya itu.
Myla bernafas lega, dia berfikir mungkin Fay hanya memikirkan mobilnya saja, mungkin takut ketahuan oleh ayahnya.
Ivy pun kembali ke meja mereka, tak lupa membawa minuman untuk sahabatnya itu.
"Gw kira dah ngga ada lope-lope di matanya" melirik sahabatnya yang memilih duduk bergabung dengan lelaki idamannya itu.
.
.
"Bang dipa....bang jimmy apa kabar?" tanya Fay.
"Baik..." jawab mereka kompak.
"Masih sibuk ya?"
"Udah ngga terlalu sih! tinggal bagian lainnya giliran sibuk" Dipa memberitahu.
"Wah bisa dong kalian kesini besok!" harapnya.
"Emang ada apa Fay?" Jimmy yang sekarang bertanya.
"Ada live music bang!" dengan semangat menggebu gebu.
"Wih ada kemajuan nih!" masih Jimmy yang bertanya dengan rasa penasaran.
"Band dari mana?" Dipa menyela.
"Temen kampus aja sih bang"
"Oh...." Ucap Dipa, Fay merasa kecewa karena Dipa seperti tak tertarik dengan idenya itu.
"Ngga janji ya tapi abang usahain deh, klo ngga lembur juga!" kecewa sudah dirinya, mendengar jawaban Dipa, tapi Fay tetap berusaha tersenyum seolah itu tak jadi masalah.
Dipa dan Jimmy pun pamit kembali ke kantor, Fay pun berbalik dan duduk kembali bersama sahabatnya.
"Tadi perasaan banyak lope-lope di atas kepala lu, napa sekarang jadi awan hitam dah!" seloroh Ivy.
Myla pun langsung memelototinya. Dia segera mengusap punggung Fay, mencoba menyemangati.
" Dia kayaknya ngga bakal bisa dateng besok!" memberi tahu para sahabatnya kenapa ia bersedih.
" Ya udah sih! besok juga rame sama gerombolannya si Ren" ucap Ivy.
.
.
.
Keesokan harinya.....
Fay sudah datang ke bengkel sendiri dengan menggunakan taksi, dia memperhatikan bengkel yang masih sepi.
Dia pun mengetuk kediaman pemilik bengkel.
Tak lama pemilik bengkel pun membuka pintu "Eh Fay...ayo duduk" ucap Om Tisna.
Fay mengangguk dan menuruti Om Tisna, duduk di bangku tunggu di depan bengkel.
"Mo nengok mobil?" tanya Om Tisna.
"Iya om apa ada yang harus di beli lagi?"
"sementara sih belum, tapi ngga bisa om kerjain sekarang, soalnya sparepart yang om perlu belum ada jadi nunggu yang itu dulu ya!" jelas Om Tisna.
"Oh iya.... kata pegawai toko nanti di hubungi, ya udah ngga papa kok om." jawabnya.
"Ren belum dateng om?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke arah depan bengkel.
"Hari ini dia libur, nanti juga dateng buat cek mesin, kan nanti malam mo tanding dia!" Om Tisna pun menjelaskan.
Fay fikir ini kesempatan bagus untuk mencari tahu tentang Ren dan para sahabatnya, walau dia berfikir sebenarnya kenapa juga dia harus kepo dengan mereka.
"Ren beneran joki balap liar ya om?"
"Iya....jangan kuatir mereka anak-anak baik kok!" selanya langsung.
"Iya om aku ngga berfikir ke sana kok!" malu ternyata jalan fikirannya mudah sekali di tebak.
"Nuna itu keponakan om" memberi tahu, dan itu sedikit membuat Fay terkejut, pantas saja gadis itu sering di sini, fikir Fay.
"Kenapa mereka ngga nyari kerjaan lain aja om?"
"Taksa itu driver ojek online, klo Liam masih kuliah, Nuna penganggura 'sambil tertawa menyebutkan pekerjaan keponakannya itu' klo Ren ya itu, selain kerja disini dia juga joki balap liar." jelasnya panjang lebar.
"Tapi mereka semua ngga pernah berbuat yang aneh-aneh kok!" lanjutnya.
Fay pun tersenyum mendengar jawaban dari Om Tisna, dia bersyukur bahwa tebakannya benar, Ren dan kawan-kawannya adalah orang-orang baik, meskipun pengecualian untuk Nuna, karena Fay dan para sahabatnya merasa Nuna tak menyukai mereka ntah karena apa mereka sendiri pun tak tahu.
Fay pun pamit berdiri, dia berencana kerumah Ren "Ya udah om aku pamit ke rumah Ren dulu ya."
"Kamu mau naik apa kesana?" tanya Om Tisna.
"Jalan kaki aja, kan deket kalo lewat gank-gank sini om" jelasnya.
"Ya udah ati-ati ya!" pesan Om Tisna.
Fay pun mengangguk dan mulai berjalan, sebenarnya jarak dari bengkel ke rumah Ren tak terlalu dekat juga, tapi Fay tetap melangkahkan kakinya, lagi pula di sana daerah ramai fikirnya.
Saat baru beberapa keluar langkah keluar dari bengkel, dari seseorang pengendara motor yang berhenti di samping dirinya, Fay pun berhenti, orang itu pun lantas membuka helmnya.
"Fay mo kemana?" tanya Saka yang baru kembali dari pasar.
"Eh bang Saka—" sapanya.
"Mau kerumah abang" lanjutnya.
"Oh ya udah ayo naik, jauh loh klo jalan mah!"
"Makasih bang" Fay pun segera naik kemotor Saka.
Sampai di warung Ren, ada ibunya dan Ren yang sedang duduk di meja kasir, Ren baru selesai makan.
Ren pun memperhatikan Fay dan Saka yang baru turun, entah kenapa itu membuatnya tak suka.
"Nak Fay" sapa ibu Ren.
"Gw ketemu tadi di jalan, dia jalan sendirian mo kesini!" ucap Saka memberitahu, sambil menepuk pundak adiknya.
"Thanks..."
Fay pun datang menghampiri mereka dan bersalaman dengan ibu, Fay duduk di sebelah Ren saat lelaki itu mengambilkan kursi untuk dirinya.
"Ayo nak mau makan apa?" tawar sang ibu kepada gadis di hadapannya ini.
"Ngga usah bu, aku udah makan kok"
"Ya udah ibu bikinin es teh ya"
Fay pun hanya mengangguk. Dia beralih menatap Ren, Ren yang tau Fay memandang ke arahnya pun bertanya "tadi kebengkel?"
"Iya..." jawab Fay.
"Mobil lu belum bisa di kerjain lagi, spearpartnya kan belom ada" jelasnya.
"iya tadi Om Tisna udah ngasih tau" jawabnya langsung.
"Loh mobil nak Fay kenapa?" tanya Ibu yang sambil meletakan minuman ke hadapannya.
"Ringsek dikit bu" jawabnya jujur
"Ya ampun....tapi nak Fay ngga papa kan?" Fay pun menggeleng sambil menyeruput es teh manis yang di sediakan ibu Ren.
"Oh jadi mobil yang ada di depan bengkel Om Tisna mobil kamu Fay?" tanya Saka saat meletakan piring yang sudah kering ke tempatnya.
"Iya bang."
Mereka pun berbincang-bincang, Fay merasa sangat nyaman di sana, menurutnya keluarga Ren, adalah keluarga yang sangat hangat.
Fay pun pamit dia harus segera kembali ke cafenya karena Band pengisi music cafenya akan segera datang.
Ren pun masuk mengambil helm Saka dan menghampiri Fay "yuk" ajaknya.
Fay pun tak menolak saat Ren memakaikannya helm dan hendak mengantarnya pulang itu.
Entah mengapa dia sekarang menikmati berkendara dengan motor, semilir angin yang menerbangkan rambutnya, dia sangat nyaman membonceng Ren, tak pelak dia tak menolak ajakan lelaki itu.
.
.
...****************...
-YOU'RE MINE, SERRA
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti