WARNING!!! AREA 18+
follow Ig 👉 dindin_812
Malik Mahardika seorang asisten berumur dua puluh enam tahun. Mendapat tugas dari majikannya untuk menemui seorang Hacker. Namun, siapa sangka Malik malah jatuh cinta pada Hacker yang baru saja berumur lima belas tahun bernama Susan Linch.
Kata orang, cinta tidak memandang umur, waktu dan tempat. Begitulah yang dialami oleh pemuda itu.
"Ma, kamu tahu 'kan aku umur berapa? Bagaimana bisa kamu suka dengan gadis kecil seperti 'ku?" Susan hanya ingin tahu alasan sebenarnya.
"Memangnya kita harus memandang umur seseorang untuk suka dan menyayangi. Bagiku asal kamu menerima, maka tidak perduli kamu umur berapa. Bahkan jika disuruh nunggu kamu dewasa pun aku bersedia," jawab Malik yang benar-benar terdengar gila, sepertinya pemuda ini sudah terkena virus cinta akut yang tidak bisa diobati.
"Kalau begitu, aku beri kamu kesempatan. Jika kamu bisa menungguku lima tahun lagi, aku akan bersedia jadi kekasihmu," ucap Susan kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah lain karena malu menatap Malik.
penasaran? baca selengkapnya di sini saja.
Picture from pinterest editing by din din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Waktu tidak pas
"Teh!" Juan menawari pemuda itu, ia bahkan menuangkan sendiri teh dalam poci ke cangkir lalu menyodorkannya pada Malik.
"Terima kasih," ucap Malik menerima cangkir itu.
Juan memperhatikan Malik ketika pemuda itu menyesap teh yang ia berikan. Memang jika dilihat dengan seksama, pemuda itu benar-benar yang sudah menolong mereka delapan tahun yang lalu.
"Kau dan Susan, kalian menjalin hubungan?" tanya Juan kemudian untuk memastikan.
Mendengar pertanyaan Juan, membuat Malik hampir tersedak. Untung saja tidak sampai terjadi, kalau iya bukankah itu akan terlihat sangat konyol.
"Iya," jawab Malik tegas.
Juan mendesah pelan, ia menyandarkan punggungnya. Tentu saja Juan tetap bersikap tegas dan terlihat berwibawa di depan Malik meski dia setuju dengan hubungan itu.
"Siapa namamu?" tanya Juan kemudian, bak penyidik yang menginterogasi saksinya.
"Malik, Malik Mahardika," jawabnya singkat.
"Kau tidak ingat denganku?" tanya Juan lagi.
"Ingat, Anda pria tempo hari yang ban mobilnya kempes," jawab Malik yang hanya ingat kejadian itu.
Juan mengambil cangkir teh miliknya, menyesapnya perlahan dengan sedikit melirik pada pemuda yang duduk dengan begitu tenang di hadapannya itu.
"Waktu itu aku pernah bertanya, apa kita pernah bertemu sebelumnya, lalu kau menjawab tidak. Apa kau benar-benar lupa jika pernah bertemu kami?" tanya Juan kemudian seraya meletakkan cangkir yang ada di tangan ke atas meja.
"Kami?" Malik bertanya-tanya.
"Ya, kami. Aku, istriku juga Susan. Kau tidak ingat?" tanya Juan memastikan.
Malik menggeleng bingung, ia tidak ingat kapan pernah bertemu mereka secara bersamaan. Bertemu Susan maupun ayahnya pun secara terpisah dan sendiri-sendiri, bagaimana bisa Juan bertanya jika mereka pernah bertemu dengan dirinya secara bersamaan.
"Delapan tahun lalu, hujan badai, kecelakaan mobil," ucap Juan memberi petunjuk, tatapannya terus tertuju pada ekspresi wajah Malik.
Malik mencoba mengingat, mengaitkan semua petunjuk yang disebutkan. Pemuda itu pada akhirnya mengingat, ia menatap Juan, kedua telapak tangannya tampak mengepal di atas lutut.
-
-
Di sisi lain, Susan menatap bingung pada Livia yang terlihat begitu santai menata beberapa kue di piring. Tidak ada guratan emosi atau marah di wajah wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Mah,"
"Apa?"
"Mamah sama papah tahu kalau aku pacaran?" tanya Susan memberanikan diri.
"Iya, kenapa?" tanya Livia balik seraya menghadap dan menatap putrinya yang kebingungan.
Susan terkesiap dengan jawaban sang mamah, ia lantas bertanya, "Sejak kapan? Pasti Rafa yang mengadu."
Livia mengulas senyumnya, kemudian mencubit kecil sisi wajah Susan. "Sudah lama. Awalnya memang Mamah tahu dari Rafa. Tapi, papahmu tahu lebih lama dari Mamah. Katanya dia tahu saat kamu dipeluk sama pemuda itu," jawab Livia yang membuat bola mata Susan membulat lebar.
"Hah! Astaga!"
"Hahahaha. Kenapa panik? Sudah ketahuan juga," ucap Livia sedikit terkekeh.
"Kalian nggak marah?" tanya Susan lirih.
"Ngapain? Ah ... sudahlah, sekarang bawa ini ke depan!" perintah Livia seraya memberikan nampan berisi piring kue ke tangan Susan.
Susan bertanya-tanya dalam hati, semudah itu orangtuanya setuju dengan hubungan antara dirinya dan Malik. Membuat hatinya penasaran dengan alasan kedua orangtuanya tidak marah.
-
-
"Hari berikutnya aku mencarimu, tapi tidak menemukanmu. Sekarang aku bersyukur karena-." Ucapan Juan terhenti tatkala Malik tiba-tiba saja berdiri.
"Maaf, Tuan. Sepertinya pertemuan ini tidak terjadi dengan waktu yang pas," ujar Malik membuat Juan sampai mendongakkan kepala keheranan.
"Ada apa? Aku ingin berterima kasih untuk hari itu," ungkap Juan.
"Tidak perlu! Maaf, saya permisi."
Malik langsung berjalan menuju pintu membuat Juan heran, apa ada yang salah dengan ucapannya.
Susan yang baru saja keluar dari dapur terkejut ketika melihat Malik yang izin undur diri. Ia bisa melihat guratan kekecewaan di wajah pemuda itu.
"Pah! Ada apa?" tanya Susan yang langsung meletakkan nampan di tangannya ke meja. "Papah nggak omong yang aneh-aneh, 'kan!" Susan menatap Juan yang sebenarnya juga bingung.
Tidak menunggu jawaban dari sang ayah, Susan memilih mengejar kekasihnya yang sudah berjalan cepat keluar dari rumahnya.
"Ma! Malik!" panggil Susan sedikit berteriak karena pemuda itu tidak menggubris panggilannya.
Sedikit berlari, Susan berhasil meraih tangan Malik yang sedang ingin membuka pintu mobil. Ia sedikit menarik tangan pemuda itu agar menjauh dari pintu mobil.
"Ada apa? Papahku mengatakan sesuatu?" tanya Susan menatap manik mata Malik, mencoba menyelami serta mencari tahu apa yang terjadi lewat tatapan pemuda itu.
Malik menatap lekat wajah Susan, kemudian ia sedikit mengedarkan pandangannya. Melipat bibirnya dalam-dalam, ada sesuatu yang ia tahan agar tidak meluap.
"Papahmu tidak mengatakan apa-apa, aku butuh waktu sendiri," ucapnya seraya membuka pintu mobil dan masuk begitu saja mengabaikan Susan yang sedang kebingungan.
"Ma! Jika ada sesuatu, kita bisa bicarakan ini bersama. Aku mohon, keluar dulu!" pinta Susan masih mencoba mengajak pemuda itu bicara dari luar mobil.
Malik mengabaikan ucapan Susan, pemuda itu memilih menyalakan mobilnya lantas melajukan dan meninggalkan Susan yang kebingungan dengan apa yang terjadi.
"San!" Livia memanggil putrinya.
Kelopak mata Susan sudah menggenang, ia tidak mengerti. Bukankah tadi pemuda itu bilang siap menghadapi orangtuanya, tapi kenapa sekarang seperti ini.
"Ada apa sih, Mah?" tanya Susan pada Livia yang masih menatapnya.
Livia menggeleng tidak tahu, membuat Susan jadi frustasi.
"Aghh ... aku benci kalian!" teriaknya seraya berlari masuk ke rumah, mengabaikan Juan maupun Livia yang memanggilnya.
Susan merasa jika Malik pergi begitu saja pasti karena perkataan ayahnya, jika tidak! Mana mungkin pemuda itu terlihat marah bercampur sedih, itu bisa ia lihat jelas dari cara Malik menatapnya tadi.
_
_
_
_
Terima kasih ya, buat like komennya.😗😗😗