NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:147k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Curiga

Sheerin yang bingung harus duduk dimana tidak beranjak sedikitpun dari posisinya, dia mencoba untuk kembali mengirimi Nindi pesan,berharap sekarang Nindi mau membalasnya, selang beberapa menit Nindi tak kunjung memberinya jawaban.

"Heh! Ngapain loe masih disitu? Pantat loe lagi bisulan, apa?" Levin berdiri untuk menghadapi Nindi palsu, masih bicara dengan nada seperti biasanya, membuat Sheerin yang sedang menunggu balasan dari Nindi lagi-lagi dibuat kaget dengan ucapan Levin yang mendadak itu.

"Ehh, nggak kok." Jawab Sheerin singkat, dia memang terbiasa mendapat perlakuan seperti ini dari ibu tirinya dan Clarissa, tapi dia tidak pernah balik membalas perbuatan mereka yang tidak mengenakkan itu, dia lebih memilih untuk mengalah demi untuk menghindari masalah yang lebih besar lagi.

"Udah sana loe pergi, ngapain masih disini? Oh, gue tau sekarang, pemikiran loe itu udah bisa kebaca, loe mau nguntitin gue kan, ngaku loe!" Ucap Levin. Hah, meskipun dia mencoba untuk tidak menghiraukan Nindi, tapi nyatanya dia tidak bisa melakukan itu. Nindi seperti memiliki magnet tersendiri yang membuat Levin seperti tertarik untuk mendekat ke arahnya. Untuk menutupi segala perasaanya, maka Levin sering marah-marah tidak jelas kepada Nindi, mungkin itu suatu tindakan protes kepada hatinya yang tidak sepemikiran dengan gengsinya. Aneh memang, tapi itu kenyataannya.

"Hah?" Sheerin hanya melongo saja saat Levin memarahinya. Dia tidak tau ada permasalahan apa laki-laki ini dengan Nindi dimasa lalu, tapi sekarang Sheerin yakin akan apa yang dikatakan Nindi, kalau laki-laki itu memang tengil.

"Kondisikan mata loe itu! Gue tau gue keren, tapi nggak usah segitunya juga liatin gue." Ucap Levin, sudut bibirnya tertarik keatas, membentuk sebuah sunggingan.

"Se... sepertinya ada kesalahpahaman disini, gu... gue nggak menguntit seperti apa yang loe pikirkan." Ucap Sheerin terbata, terlalu gugup melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan Levin. Sekilas dia melihat tatapannya yang mengejek, tapi dari sudut pandang lain, dia bisa melihat sebuah tatapan melecehkan yang terselubung.

Tanpa diduga, Levin perlahan mendekatkan wajahnya kearah Sheerin, merasa tidak tahan lagi melihat ketakutan diwajah Sheerin, dia ingin menggoda perempuan itu lebih jauh lagi. Meskipun Levin tidak tau ketakutan itu benar adanya atau dibuat-buat saja.

Wajah Sheerin semakin memucat saat wajah Levin sudah berada tepat di hadapannya, dia mengaku kalah, tidak sanggup menghadapi Levin, tatapan matanya yang sinis menunjukkan betapa besar kebencian yang dia miliki terhadap Nindi. Sheerin reflek memejamkan matanya, mencoba untuk menghindari tatapan misterius yang tidak bisa dia jabarkan bagaimana arti tatapannya.

Awalnya Levin memang hanya berniat menggoda si urakan itu, tapi kenapa semakin dekat, lama kelamaan Levin menatap wajah itu, dia jadi tidak bisa mengendalikan diri. Dilihat dari jarak sedekat ini, Nindi terlihat sangat cantik, tanpa sadar jantungnya sudah memompa darah melebihi batas kecepatan maksimum. Dan bibir itu, bibir yang gemetar, bibir yang biasanya banyak bicara, bicaranya sering ngelantur, kenapa tiba-tiba Levin jadi ingin memakan bibir itu?

"Woi, lagi ngapain kalian? Mesum kok ditempat umum sih? Nggak pada punya malu banget sih loe pada."

Astaga!

Levin cepat-cepat menjauhkan wajahnya dari Sheerin, Sheerin tersadar saat suara tidak asing itu berteriak, dia membuka mata, mendapati Vena sedang berdecak di hadapannya. Dia terlihat gelagapan, begitupun dengan Levin, keduanya seperti seorang maling yang kedapatan sedang mencuri. Wajah mereka sudah merah menyala menahan rasa malu.

"Oh, jadi sekarang si urakan sama si tengil udah baikan ya? Jadi, kapan kita akan merayakan hari baik kalian ini?" Vena merangkul Sheerin sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda.

"Loe ngomong apa sih Ven?" Tanya Sheerin kebingungan.

"Siapa juga yang mau baikan sama dia? Dia itu orangnya nggak bisa dibaik-baikin." Ucap Levin.

"Ah masa? Terus tadi itu apa?" Vena semakin curiga saja.

"Nggak ada apa-apa kok Ven." Ucap Sheerin mengelak.

"Dan loe, kenapa loe jadi lembek gini sih?" Tanya Vena yang baru menyadari intonasi bicara Nindi jadi lebih lembut.

"Emm, ahh, itu." Sheerin terlihat semakin mencurigakan.

"Nah, kan loe aja ngerasa kalau dia ini aneh, pake acara pake kaya ginian lagi. Ayo cepat balikin dia ke wujud aslinya!" Ucap Levin sambil menunjukkan jepitan pita, mencoba untuk keluar dari obrolan yang memojokkannya. Menjadikan Nindi sebagai kambing hitam.

Sheerin berpikir harapannya sudah sirna menjadi seorang aktris profesional, dia tidak bisa memerankan karakter Nindi yang keras kepala dan ceplas-ceplos dalam bicara. Sehingga wajar saja kalau sekarang dirinya mulai dicurigai.

Vena melirik kearah Sheerin sebentar, lalu kemudian kembali berkata.

"Ya, wajar aja dia pake gituan, diakan kan cewek, kalau loe yang pake itu baru namanya aneh." Ucap Vena, itu juga yang akan dikatakan Nindi kalau seandainya Nindilah yang berada disana sekarang.

Sheerin tidak percaya Vena akan membelanya seperti itu, ingin rasanya dia melompat kearah Vena dan menghadiahinya ciuman bertubi-tubi. Vena memang sahabat ter-the best. Melihat Vena, Sheerin jadi teringat akan Lea, bagaimana hari-hari yang akan Lea lalui tanpa ada Sheerin, Sheerin jadi sangat merindukan Lea.

"Dia itu bukan cewek biasa, dia kan cewek jadi-jadian, cewek preman, cewe urakan. Nggak ada pantes-pantes nya dibilang cewe." Levin tidak mau kalah, keluarlah semua julukan yang sering dia sebut untuk Nindi.

Deg!

Sheerin lagi-lagi dibuat melongo, sebegitu bencinya kah laki-laki itu terhadap Nindi, sampai dia menghina Nindi habis-habisan seperti itu. Meskipun Sheerin tidak tau seberapa nakalnya kelakuan Nindi, tapi dia merasakan sakit di hatinya ketika Nindi dihina, hatinya ikut tercabik oleh setiap kata yang keluar dari mulut Levin. Mungkin itu yang disebut ikatan batin.

"Udah yuk Ven, kita duduk aja!" Mencoba untuk menghindar, tidak ingin mendengar lagi hinaan yang akan membuat hatinya semakin nyeri. Wajahnya terlihat sedih.

Sheerin mendorong Vena agar masuk kedalam barisan bangku, mencoba mengorek dimana bangku Nindi berada, meninggalkan Levin yang masih berteriak-teriak meminta pertanggung jawaban atas perdebatan yang belum selesai.

"Mau kemana loe? Loe belum balas kata-kata gue."

"Baperan banget sih loe sekarang!"

Sebenarnya itu hanya kata-kata pancingan agar Nindi mau beradu mulut dengannya, tapi sepertinya Nindi benar-benar tidak berminat untuk bertengkar, dia terlihat tidak bersemangat ketika Levin memarahinya.

Levin merasa sikap Nindi berubah, ini bukan Nindi yang dia kenal sebelumnya. Bahkan kemarin waktu Nindi kena lemparan bola Voli darinya dan merasakan kesakitan, perempuan itu masih saja sempat memarahi dirinya. Tapi sekarang, tidak ada lagi kemarahan di wajahnya, justru yang ada hanya kesedihan.

Dan akhirnya Vena mengikuti Sheerin, dia berjalan menuju barisan paling belakang, Sheerin mengikutinya karena yakin kalau Nindi sebangku dengan Vena.

Sheerin duduk dengan tenang, mencoba untuk melupakan setiap perkataan Levin yang begitu menusuk ke dalam hati.

'Hah, pantesan aja dia nggak lulus tahun lalu, ternyata duduknya aja dipojokan gini. Gimana mau masuk ke otak pelajaran yang disampaikan. Gue yakin banget nih kalau dia sengaja milih bangku paling belakang biar nggak terjamah sama guru, dasar pemikiran anak pemalas.' Sheerin membatin, berdecak keheranan memikirkan Nindi.

Meskipun baru sekali Sheerin bertemu dengan Nindi, tapi entah kenapa rasanya dia seperti telah mengenal Nindi sejak lama, dia merasa berempati dengan segala sesuatu yang terjadi didalam hidup Nindi, dia sangat peduli terhadap perempuan yang mirip dengannya itu.

Padahal, kan Nindi adalah orang asing yang baru ditemuinya. Sheerin menghembuskan nafas berat, kemudian membenamkan wajahnya diatas tangan yang dia lipat diatas meja. Memejamkan mata sejenak untuk menjernihkan pikirannya.

"Jangan bilang sekarang loe udah jadi bucinnya dia." Perkataan Vena membuat Sheerin terperangah, spontan dia kembali menegakkan kepalanya.

Meskipun Vena membela Sheerin di hadapan Levin tadi, itu bukan berarti dia tidak menaruh rasa curiga terhadap Nindi palsu.

"Hah? Maksud loe apa?" Tanya Sheerin bingung.

"Loe sengaja kan berpenampilan kaya gini buat menarik perhatian dia? Gue tau cinta itu gila, membuat yang nggak mungkin jadi mungkin. Contoh nya aja kaya loe ini." Ucap Vena.

Sheerin tidak bisa berkata-kata, bahkan dia juga tidak tau bagaimana perasaan Nindi terhadap laki-laki itu, apa benar Nindi menyukai Levin, dan menyembunyikan perasaannya dibalik pertengkaran mereka? Sepertinya Sheerin harus menemui Nindi secara diam-diam sepulang sekolah nanti untuk meluruskan kesalahpahaman ini.

Lama Sheerin terdiam memikirkan kalimat yang tepat untuk mengelak.

"Nggak Ven, sekarang gue lagi fokus belajar buat UN, gue nggak mau memikirkan hal yang lain-lain." Jawab Sheerin kemudian.

"Hah? Seriusan loe belajar?"

Vena terus menginterogasi Sheerin, menanyai ini itu, meskipun dengan alasan yang tidak masuk akal Sheerin berhasil menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Vena dengan baik.

Guru pun datang, memberi soal latihan yang kemungkinan besar akan ada didalam ujian nasional nantinya. Dan membagikan kartu kepesertaan ujian nasional yang akan dilaksanakan hari senin besok.

Sheerin mampu menguasai semua soal latihan, semua pelajaran ini sangat mudah baginya, bahkan tahun lalu dia lulus SMA dengan hasil yang memuaskan. Semua murid, bahkan guru yang mengajar dibuat tidak percaya saat Nindi si bodoh adalah murid pertama yang mampu menyelesaikan tugas itu dan jawabannya pun benar semua, Sheerin mendapat nilai 100.

"Nindi, loe kok nggak bilang-bilang sih kalau loe udah beres, tau gitu gue nyontek dulu tadi." Ucap Vena memajukan bibirnya karena merasa kecolongan.

"Ya kenapa nggak nyontek aja tadi." Jawab Sheerin.

"Gue kira loe cuma lagi corat-coret nggak jelas aja. Mana contekan nya, gue pinjem?" Vena mencari-cari dibalik buku yang mungkin Sheerin menyembunyikan nya disana.

"Nggak ada Ven, gue nggak nyontek." Sheerin menyingkirkan tangan Vena yang berkeliaran.

"Hah? Seriusan?" Vena tidak percaya.

Begitu juga dengan Levin, si murid paling pintar dikelas itu, dia tidak percaya Nindi mampu mengerjakan semua soal tidak kurang dari 30 menit, padahal dia saja baru menyelesaikan sebagian dari tugas itu, kecurigaannya terhadap Nindi semakin menjadi-jadi.

'Pasti dia liat contekan.'

***

Sheerin dan mama Anya memasuki kantor urusan agama, baru saja melangkahkan kaki, mereka sudah disambut oleh seorang pria paruh baya, bukan Luis, Nindi merasa asing dengan pria itu.

"Sheerin, bagaimana keadaan kamu, nak? Om sangat mengkhawatirkan kamu." Pria itu memegang bahu Nindi, terlihat dengan jelas kekhawatiran di kedua bola matanya.

Om? Mungkinkah dia pamannya.Sheerin? Lalu apa yang harus dikhawatirkan dari Sheerin? Dia sehat walafiat meskipun kemarin sempat dia serempet.

"Aku baik kok om." Ucap Nindi sambil tersenyum, mengatakan lewat senyumannya kalau Om tidak perlu mencemaskan sesuatu yang tidak perlu dicemaskan.

"Syukurlah kalau begitu, om tidak bisa tidur semalaman saat Anya mengatakan semuanya tentang kamu. Om bersedia menikahkan kamu, demi kebaikan kamu dan bayi yang ada didalam kandungan mu ini."

What? Bayi? Apalagi yang direncanakan mama Anya sebenarnya? Kenapa dia memfitnah Sheerin sekejam itu? Atau jangan-jangan Sheerin memang sedang hamil, begitu? Dan dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang bukan ayah anaknya? Jadi disini siapa penjahat sebenarnya?

Berasumsi seperti itu membuat Nindi jadi pusing.

"Hueek." Perutnya kembali mual, mungkin efek mabuk AC masih dia rasakan, dia menutupi mulutnya dengan tangan, berlari meninggalkan mama Anya dengan Om Arya untuk mencari toilet.

Mama Anya menatap kepergian Nindi puas, sepertinya situasi sangat berpihak kepadanya, Sheerin sakit diwaktu yang tepat saat Om Arya membahas soal kehamilan Sheerin yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Lukman kalau mengetahui keadaan Sheerin seperti ini, apalagi Sheerin adalah satu-satunya anaknya yang masih tersisa." Ucap Om Arya penuh kesedihan.

Mama Anya menepuk pundaknya memberi dukungan.

"Kamu tenang saja Arya, aku yang akan bicara pelan-pelan kepada mas Lukman setelah keadaannya lebih baik." Ucap mama Anya sambil tersenyum palsu.

"Lukman beruntung mendapatkan pengganti Fira seperti kamu Anya, kamu bisa menyelesaikan masalah sebesar ini sendirian." Ucap Om Arya.

"Kalau mas Lukman sampai tau, aku takut dia akan terkena serangan jantung mendadak. Jadi aku mohon, jangan dulu beritahu dia. Tunggu saat yang tepat."

"Oh ya, bagaimana kabar mbak Dina (istri om Arya) dan si kecil Juna (anak om Arya)?"

"Tidak ada harapan lagi Anya, Dina sudah membawa Juna pergi meninggalkan aku, sampai sekarang mereka tidak pernah ada kabarnya." Om Arya terlihat sedih.

"Kamu yang sabar Arya, sudah saatnya kamu memulai hidup baru. Mungkin Dina hanya jodoh sesaat mu."

__________________

Bersambung...

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!