Arabella Elisa Jodie, gadis tomboy dengan segudang keahlian, pandai beladiri dan menyukai kebebasan. Memiliki beberapa sahabat pria yang sudah akrab dengannya sejak bertahun lamanya.
Bagaimana bila tiba-tiba Ara harus terpaksa menjadi seorang istri?
Istri dari tuan muda tampan yang sejak kecil sudah memiliki kehidupan berkelas.
"Apa dia wanita?" (Dilano Danuarta)
"Dia terlalu mulus untuk ukuran seorang pria matang." (Ara)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status Baru
Ara masih mematung di kursi pelaminan setelah semua tamu pulang dan hanya tersisa beberapa orang saja di dalam ballroom. Ara masih belum beranjak dari kursi kayu dengan ukiran warna emas tempat ia menyambut tamu yang datang ke acara pernikahannya tadi.
Lano sudah lebih dulu kembali ke kamar hotel. Laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya beberapa jam lalu itu pergi tanpa menghiraukan istrinya yang masih berusaha keras menerima kenyataan pahit yang baru saja dialaminya. Karena sebenarnya Ara memang belum siap menikah.
Keempat sahabatnya yang sedari tadi sudah tidak sabar menunggu penjelasannya akan kejadian yang mengejutkan ini, telah siap melayangkan berbagai pertanyaan padanya.
Ara berdiri. Menarik gaun pengantin kedua untuk acara sore hari yang lebar di bagian bawahnya, hingga menumpuk di lutut gadis itu.
Menarik napas untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu membuangnya perlahan-lahan.
"Kalian bantu aku mencari wanita itu sampai dapat!" Ara berapi-api.
Sebelum ia ditodong dengan berbagai pertanyaan dari para sahabatnya. Ia lebih dulu mengeluarkan api kemarahan yang sejak tadi ia tahan.
"Tunggu-tunggu ... apa maksud kamu, Jod?" Bara sudah tidak sabar mendengar penjelasan Arabella.
"Gara-gara wanita itu kabur, makanya aku yang harus menggantikan dia hari ini, benar-benar wanita gila!"
Ara memegang hiasan kepalanya yang hendak terlepas karena tubuhnya mulai terasa lelah dan hilang keseimbangan begitu saja.
Apalagi sekarang ia sedang memakai gaun yang pas di bagian atas tubuhnya, membuat gadis yang biasa berpakaian longgar juga sering menggunakan celana jeans itu tidak begitu nyaman mengenakan gaun tersebut.
"Kalem Jod, kalem!" Galih membenarkan mahkota yang nampak miring di kepala Arabella dengan tangannya.
Setelah acara selesai, satu persatu keluarganya pamit untuk beristirahat. Hanya Ara yang belum mau kembali ke kamar karena sudah dikepung oleh para sahabat yang masih menolak percaya dengan status satu-satunya teman perempuan mereka yang sudah berganti sebagai seorang istri dari pria yang tidak diragukan lagi ketampanan dan kekayaannya.
"Pokoknya kalian harus bantu aku cari Gisela sampai ketemu, aku akan mencincang gadis itu!" Ara menghapus lipstik di bibir dengan punggung tangannya. Terasa lengket di bibir yang bisa dibilang jarang tersentuh benda berwarna cerah tersebut.
"Sudahlah, Jod. Bukannya bagus kalau sekarang kamu sudah punya suami? Kaya, tampan? Seharusnya kamu bangga Jodie." Baim mencoba menenangkan Ara.
Tanpa pikir panjang Ara menendang tulang kering Baim hingga laki-laki itu menjerit. "Menyebalkan! Kamu pikir ini semua atas kemauanku?" Ara menatap Baim tajam.
"Kalaupun kita berhasil menemukan perempuan itu, apa yang akan kita lakukan? Lagipula kalian sudah menikah dan pernikahan ini sah di mata hukum dan agama." Alex ikut memberi pendapat.
"Benar, Jod. Percuma saja kita menemukan Gisela." Galih menimpali.
"Tidak ada yang sia-sia, setidaknya gadis itu harus menerima pukulan mematikan dariku. Aku belum puas bila dia belum mendapatkan hukuman yang setimpal. Berani sekali dia menipuku, dan keluarga tuan muda." Ara masih belum bisa mengendalikan dirinya.
Bara mendekati Arabella. Seperti biasa, hanya dirinya yang selalu bisa menenangkan amarah gadis tomboy itu. "Kamu terlihat lelah, sebaiknya kamu istirahat saja dulu, besok kita bahas lagi masalah ini," ucap Bara pelan sembari mengusap punggung Ara.
Ara menatap manik mata Bara. Jelas sekali ketulusan pria itu pada Ara. Pria yang selalu menerima segala kekurangan dan kelebihan Ara selama mereka bersama. Tempat pelampiasan Ara bila ia sedang dalam kondisi tidak baik saja. "Bara ... aku, aku tidak ingin ini, Bara." Arabella langsung tersedu-sedu di depan Bara.
"Hei ... dimana Jodi yang kami kenal? Kamu kuat dan keren, Jodie." Bara menepuk pelan pucuk kepala Arabella.
"Iya, Jod. Tenang saja, kita akan tetap menjadi sahabat walaupun kamu sudah menikah." Galih menguatkan hati Ara yang mulai rapuh.
"Masa pembalap cengeng?" Kelakar Baim.
"Pendekar sabuk hitam mana boleh lemah." Alex meninju lengan Ara dengan pelan.
"Kalian memang sahabat terbaik aku. Ayo peluk kayak Teletubbies." Ara merentangkan tangannya. Meminta pelukan balasan pada keempat teman lelakinya.
Namun suara deheman yang mendekat membuat mereka tidak jadi melakukan adegan tersebut.
"Sudah hampir malam, Ara. Sebaiknya kamu menyusul suami kamu ke kamar!"
Boy menghampiri Ara dan teman-temannya.
"Papa." Ara menoleh ke arah Boy.
"Kalian sebaiknya pulang juga!" titah Boy sembari menatap tajam satu-persatu teman lelaki putrinya.
"Iya, Om." Baim menjawab sembari menunduk.
Merekapun berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar ballroom setelah pamit pada Boy dan Ara.
Namun langkah keempat pria itu terhenti saat sebuah ucapan keluar dari bibir pria yang sangat mereka hormati.
"Terimakasih sudah menjadi teman anak saya. Saya tau kalian pasti menjaga Ara dengan baik di luar sana," ujar Boy pada keempat pria yang ia ketahui sudah bertahun-tahun berteman dengan sang putri.
Boy juga sudah mengetahui latar belakang dan seperti apa teman-teman anak gadisnya itu. Meskipun mereka sama-sama menyukai hal ekstrim dan selalu membawa Ara mengikuti setiap aktivitas mereka, tetapi Bara, Baim, Galih dan Alex begitu menjaga keselamatan anak gadisnya itu selama ini.
Mereka juga tempat pelampiasan amarah Arabella bila sang putri sedang berbeda pendapat dengannya.
"Iya, Om." Kali ini Bara yang menjawab. Laki-laki itu tampak berusaha baik-baik saja.
Walaupun semua teman-temannya tau bagaimana ekspresi terkejut yang tidak biasa diperlihatkan Bara saat ia mengetahui bahwa Ara yang menjadi pengantin perempuan tadinya.
Namun mereka kompak menguatkan pria itu untuk segera menerima kenyataan yang sebenarnya. Gadis yang diam-diam dia sukai ternyata sudah menjadi milik orang lain.
Mungkin mulai malam ini, tidak akan ada lagi ocehan Ara yang menurutnya sangat lucu ketika gadis itu mengoceh tak jelas. Tingkah keras kepala Ara yang menggemaskan di matanya dan masih banyak lagi momen indah saat mereka bersama yang harus ia kikis habis dalam ingatannya.
Ara menatap sedih kepergian keempat sahabatnya. Wajah berontak gadis itu kini berubah sendu.
"Butuh dada bidang papa?" Boy merentangkan kedua tangannya.
Ara mengangguk cepat. Melompat pada tubuh pria cinta pertamanya. Mengalungkan tangannya di leher pria yang masih memiliki kharisma tersendiri meski usianya tidak muda lagi.
"Ayo papa antar kamu ke kamar!" Boy tak melepas genggaman tangan ara hingga ia mengantar sang putri tepat di depan pintu kamar pengantin putrinya.
"Jadilah istri yang baik, meskipun kalian belum memiliki perasaan yang dalam, tapi hargailah pernikahan ini." Boy menatap dalam netra Arabella.
"Pap, bukankah seharusnya jatuh cinta dulu baru menikah?"
tanya Ara polos.
"Menikah dulu baru jatuh cinta, itu juga sangat menyenangkan, Ara." Bella tiba-tiba bergabung dengan suami dan putrinya.
Ara memeluk ibunya. "Ara pikir Mama sama Papa sudah pulang?"
"Papa sama Mama tidak mau kalah dengan kalian, kami juga akan bermalam di hotel malam ini." Bella merangkul tangan suaminya.
"Kalian memang selalu merasa seolah masih muda," ketus Arabella.
"Sudah-sudah, sebaiknya kamu bersihkan diri lalu istirahat di kamar. Lano pasti sudah menunggu." Bella mencubit pipi anak gadisnya sebelum meninggalkan Ara di depan kamar pasangan pengantin baru tersebut.
Ara menghela napas sebelum masuk ke dalam kamar. Tangannya tiba-tiba berkeringat ketika memandang cahaya temaram di dalam kamar.
Apa dia sudah tidur?
Mengitari pandangan ke seluruh ruangan.
***
Jeng ... jeng ... jeng
~Kemarin ada yang ngasih koin untuk si tomboy makasih ya^^.