Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Semburat senja terpancar indah di ufuk barat. Suara kicau burung beserta nyanyian alam begitu menggugah kalbu. Para penikmat senja mulai mengungkapkan rasa kekagumannya.
Sebentar lagi, cahaya di langit akan berganti sinar rembulan. Keindahan alam yang terpampang nyata menunjukkan betapa agungnya tuhan.
Namun......Ada berapa manusia yang memuja Tuhannya dengan menjalankan segala perintah mutlak dari Tuhannya?
Ada berapa manusia yang bersedia tunduk memuja keagungan Tuhannya?
Dan, ada berapa pula jumlah manusia yang membangkang akan titah tuhan yang maha agung?
Semua berbaur. Berbaur dalam menikmati pesona alam berkat keagungan tuhan.
Jelita.......
Dalam perjalanan kali ini, setelah senja berganti rembulan, Setelah ia memikirkan matang-matang tentang keputusannya.....
Jelita bersedia datang petang ini.
Bukan karna alasan Jelita mulai luluh akan keadaan tuan Nugraha yang katanya 'memprihatinkan'.
Namun karna lebih pada keinginan jelita dalam menilai seberapa menyedihkan keadaan pria renta yang masih mengaku sebagai papanya itu.
Entah mengapa, Radhi yang biasanya terkesan memaksa, kini hanya diam saja. Radhi tak memaksa ataupun memberi istrinya pengertian. Mungkin karna Radhi tak ingin mengacaukan suasana hati Lita.
Perlahan namun pasti, Jelita melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit. Membawa kakinya dengan langkah anggun, menyusuri lorong demi lorong dengan rasa sakit yang berusaha ia redam.
Meski sembilan tahun telah berlalu, entah mengapa rasa sakit itu masih bercokol kuat dalam hatinya. Bayangan akan ketidak Adilan yang Jelita dapatkan, senantiasa menari-nari indah dalam benak Jelita.
"Sayang, kau yakin?", Radhi memeluk istrinya dan merengkuhnya dengan berjuta rasa khawatir.
Radhi tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. Perlahan Jelita tersenyum tipis ke arah sang suami.
Mereka sudah terlanjur Sampai di rumah sakit, Jadi sudah tentu Lita yakin akan keputusannya.
"Aku yakin, mas. Aku janji aku dan bayi kita akan baik-baik saja", Tangan Lita perlahan menyusuri perut nya yang buncit. Tendangan lembut bayi yang masih dalam kandungan utu, mnghadirkan getaran-getaran bahagia yang sulit untuk Lita deskripsikan.
"Jangan mudah emosi. Ingat..... kontrol dirimu. Aku tak mau terjadi hal yang tak di inginkan pada dirimu. Saat ini, yang terpenting bagi ku adalah kesehatanmu dan bayi kita", Ucap Radhi penuh kelembutan.
Jelita bahagia.
Sangat bahagia. Mata indah dan bibir penuh itu, membuat Jelita selalu merindukan setiap saat. Aroma tubuhnya campuran antara mint dan vanila, membuat Lita senantiasa di Landa kerinduan tatkala suaminya bertugas di perusahaan Yusman.
"Terima kasih, mas. Terima kasih atas semua. Aku berharap, tuhan akan melimpahkan kebahagiaan ini sepanjang pernikahan dan sepanjang hidup kita. Jangan meninggalkan ku dan anak-anak. Karna kau adalah dunia bagi mereka", sambung Jelita.
"Tentu, sayang. Tentu".
Dan sampailah mereka di penghujung lorong. Sebuah ruangan VVIP tempat Yusman Nugroho di rawat.
Sejenak, Jelita mnarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menetralkan emosinya dan mengendalikan dirinya. Jelita tak mau membuat kekacauan seperti tempo hari saat berada di kediaman Yusman.
"Kau siap?" Tanya sang suami dengan sedikit khawatir. Namun, Lita hanya tersenyum dan mengangguk ringan. Tersenyum untuk meredam gejolak rasa khawatir dalam hati suami.
"Aku siap, mas. Buka lah pintunya.".
Pintu terbuka dengan bersuara kriet pelan.
Jelita dan Radhi terkesiap. Di dalam ruangan, ada banyak orang orang. Jelita memandang mereka semua dengan penuh tanya. Meski hatinya di Landa kebingungan yang luar biasa.
Di sana, Chandra duduk berdampingan dengan sang istri. Di sisi ranjang tempat Yusman berbaring, Sukma terkejut akan kehadiran Jelita. Matanya nampak sembab dan wajahnya terlihat kuyu.
Ada jejak kepedihan dan luka di wajahnya. Namun, bukan Jelita namanya bila ia ikut bersimpati. Jelita hanya berjalan menuju ranjang pasien, dengan wajah yang begitu datar.
Di pandangnya lama wajah Yusman. Lita bersorak dalam hati.
Dulu.....
Wajah renta ini lah yang mengusir Jelita.
Wajah angkuh tak berperasaan yang membuat kekacauan penuh dalam hidup Lita.
Karenanya.... Lita kehilangan ibunya serta ayah biologis Arlan dan Ariana.
Sekedar mengingat saja membuat Jelita muak.
Tak jauh Chandra dan Dewi, sepasang paruh baya menatap Jelita penuh dengan penilaian. Namun, siapa sangka bahwa tatapan itu berakhir dengan kekaguman yang nyata.
Mereka pikir, Jelita lebih buruk dari menantu mereka, Dewi. Tidak. Jelita tak seburuk itu.
Lihatlah.....
Semua pasang mata menatap kagum dan penuh minat pada kemolekan tubuh Jelita. Meski perutnya membuncit, tidaklah mengurangi nilai kecantikan yang terpancar dari dalam tubuh Jelita.
Kecantikan yang sulit di jabarkan.
Bahkan Chandra sempat beberapa kali mempergunakan Jelita sebagai objek imajinasi liarnya.
"Bangunlah tuan Yusman yang terhormat.
Kau memanggilku dan mengharapkan kedatangan anak pembawa sial sepertiku, bukan? Tidak ingatkah malam dimana kau mengusirku? Kau menyebutku anak sial".
Hening. Radhi sudah tentu tak mampu berbuat apa-apa. Radhi sendiri telah menjadi saksi akan ketidak Adilan yang Jelita dan mendiang ibunya terima bertahun-tahun lalu.
"Ayo bangun..... lihatlah anak payah ni telah berdiri di sisi ranjang mu. kau ingin aku hadir, bukan?", ucap Jelita lagi.
Tak lama, Yusman membuka matanya perlahan. Sukma dengan setia duduk di sisi suaminya yang tak berdaya itu. Bayangan Jelita terlihat jelas di mata rentanya itu.
"Lita.... ma maaf.... maafkan pa pa....."
Suara Yusman terbata, namun lihatlah...... Seringai licik itu, muncul begitu saja di wajah Jelita.
"Aku datang tuan Yusman Nugraha. Kau mengharapkan dan kedatangan ku, bukan? Katakan apa yang bisa aku lakukan untuk seorang ayah biadab sepertimu?".
"Lita..... Hukumlah papamu ini dengan caramu, nak. Tapi papa mohon, jangan bawa serta ibu dan saudari tirimu. Mereka..... aku lah yang menyeret mereka ke rumah kita.Jika ada yang harus kau salahkan. Maka itu papa",
Suara itu terdengar bergetar kembali. Jelita jelas benci dengan situasi ini. Dirinya mendadak lemah bila berhadapan dengan tubuh ringkih Yusman.
"Bangun dan segeralah sembuh tuan Yusman Nugraha. Sungguh aku kehilangan minat bila harus berhadapan langsung dengan pria penyakitan sepertimu. Ayo bangun! Lawan aku dan tunjukkan keangkuhanmu yang dulu. Bila kamu melihatku sekarang sebagai wanita angkuh, maka semua itu cerminan dari dirimu di masa lalu".
"Aku rela....
Aku rela berjalan diatas hukuman mu, nak. Tapi papa mohon, jangan menyeret mama Sukma dan Dewi, adikmu".
"Sudah ku katakan aku tak ada kaitannya dengan siapapun yang bermarga Nugraha! Jangan memancing amarah ku tuan Nugraha. Sembilan tahun berlalu.... sembilan tahun pula lah yang merubah diriku menjadi wanita keji seperti ini. Wanita dengan keberanian luar biasa melawan papanya sendiri". Jelita berujar dengan tenang.
Namun, siapa sangka?
Siapa sangka semua merinding dengan apa yang Jelita katakan.
Dengan suara yang masih bergetar, Yusman menunjuk dia paruh baya yang duduk tak jauh darinya.
"Lihatlah.... Lihatlah dua orang tua itu. Mereka adalah kedua orang tua adik ipar mu. Tuan Reksa Adi Prama dan nyonya besar Ratna Adi Prama. Mereka berharap bisa berbincang sebentar denganmu".
Rasanya Jelita ingin melampiaskan kemarahannya saat ini juga.
"Bangsat"
Pekiknya dalam hati.
🍁🌺🍁