Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Danis menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil. Kedua matanya terpejam rapat, tetapi pikirannya justru semakin kacau. "Ke mana kamu, Calista...?" bisiknya lirih.
Tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara mesin mobil dan hujan rintik yang mulai turun membasahi kaca.
Sore harinya...
Danis baru saja tiba di rumah. Begitu membuka pintu, suara Ratna langsung menyambutnya.
"Danis! Mama sudah menunggu dari tadi."
Danis melepaskan jasnya dengan wajah lelah. "Ada apa, Ma?" Ia menghela nafas.
Ratna langsung duduk di samping putranya. "Kamu harus menikahi Sari."
Danis menghentikan langkahnya. Tatapannya perlahan beralih kepada sang ibu. "Mama bilang apa?"
Ratna menghela napas panjang. "Sari memang salah. Tapi semua orang bisa berubah."
Danis tertawa hambar. "Berubah?"
"Iya. Sari sudah datang ke Mama. Dia menangis. Dia janji tidak akan mengulanginya lagi."
Danis mengusap wajahnya kasar. "Ma... cukup."
"Tidak!"
Ratna berdiri. "Mama tidak mau keluarga Arganta menjadi bahan pembicaraan orang. Kamu harus segera menikah lagi."
Danis menatap ibunya tanpa ekspresi. "Aku tidak akan menikahi Sari."
Ratna mulai kehilangan kesabaran. "Kenapa?!"
"Karena aku tidak mencintainya."
Kalimat itu membuat Ratna terpaku. "Lalu kamu mencintai Calista?" tanyanya tajam.
Danis terdiam.
Keheningan itu membuat Ratna semakin marah. "Kamu benar-benar sudah gila! Perempuan miskin itu sudah pergi! Untuk apa kamu terus mengingatnya?"
Danis mengepalkan tangan. "Ma..."
"Mama tidak peduli! Minggu depan Mama akan mempertemukan kalian lagi."
Danis menggeleng tegas. "Tidak akan."
Ratna membentak. "Danis!"
Namun Danis sudah melangkah pergi menuju kamarnya.
Brak!
Pintu kamar tertutup keras.
Ratna berdiri dengan napas memburu. "Anak itu benar-benar berubah...."
Di dalam kamar... Danis menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Dadanya terasa sesak. Ia mengambil ponsel. Membuka kontak. Tidak ada nama Calista. Ia mencoba mencari nomor lama perempuan itu melalui riwayat panggilan.
Kosong.
Nomornya sudah tidak aktif.
Danis menggenggam ponsel begitu erat. "Aku ini bodoh...."
Ia bahkan tidak pernah menyimpan nomor istrinya sendiri. Karena dulu ia merasa tidak membutuhkannya.
Kini... Saat ingin menghubungi... Ia sama sekali tidak bisa. Frustrasi memenuhi dadanya.
Brak!
Tinju Danis menghantam meja kecil di samping ranjang hingga sebuah bingkai foto keluarga terjatuh ke lantai. Napasnya memburu.
"Aku harus menemukanmu...."
Sementara itu...
Di sebuah pusat perbelanjaan mewah... Sari berjalan bergandengan tangan dengan seorang pria muda bernama Rio.
"Sayang, tenang saja."
Rio terkekeh. "Danis pasti luluh lagi."
Sari tersenyum sinis. "Kalau bukan karena uangnya, mana mungkin aku mau mengejarnya."
Rio merangkul pinggang Sari. "Kapan kita bisa menikmati uang keluarga Arganta?"
Sari tertawa kecil. "Tunggu saja. Aku masih punya Tante Ratna di pihakku."
Tanpa mereka sadari... Di lantai dua, seseorang sedang memperhatikan mereka.
Faas.
Sahabat Danis itu datang untuk membeli hadiah ulang tahun keponakannya. Namun langkahnya terhenti saat melihat Sari.
Keningnya langsung berkerut. "Dia lagi...?"
Faas bersembunyi di balik salah satu pilar.
Tak lama kemudian... Ia melihat sesuatu yang membuat wajahnya mengeras.
Rio mencium kening Sari.
Lalu... Sari balas memeluk pria itu dengan sangat mesra.
"Bentar lagi semuanya jadi milik kita," bisik Sari sambil tertawa.
Faas langsung mengeluarkan ponselnya.
Klik.
Klik.
Klik.
Beberapa foto berhasil ia ambil. Tak hanya itu. Ia juga sempat merekam video ketika Rio mencium pipi Sari, sementara perempuan itu tertawa tanpa sedikit pun berusaha menghindar.
Faas menggeleng pelan. "Ternyata benar... perempuan ini memang tidak pernah berubah."
Tanpa menunggu lebih lama, ia segera mengirimkan foto dan video itu kepada Danis.
Di layar ponsel Danis muncul notifikasi.
Faas mengirim 5 foto dan 1 video.
Danis yang masih terduduk di tepi ranjang membuka pesan itu dengan wajah lesu.
Namun... Begitu melihat isi foto pertama... Tatapannya langsung berubah. Sari sedang berpelukan dengan pria yang sama.
Foto berikutnya...
Rio mencium pipi Sari.
Dan video terakhir memperlihatkan keduanya tertawa mesra sambil bergandengan tangan.
Beberapa detik kemudian, ponsel Danis berdering.
"Faas?"
"Sudah lihat?"
"Iya."
"Itu baru terjadi sekitar sepuluh menit yang lalu."
Danis mengembuskan napas panjang. Anehnya... Dadanya tidak lagi terasa sakit melihat Sari. Tidak ada cemburu. Tidak ada marah karena dikhianati. Yang muncul justru satu pemikiran.
"Untung aku tidak benar-benar menikahinya."
Dan di saat yang sama... Wajah Calista kembali memenuhi pikirannya. Perempuan yang selama ini ia sia-siakan. Perempuan yang selalu setia, tetapi tak pernah ia hargai.
Danis memejamkan mata. Air matanya akhirnya jatuh tanpa mampu ia tahan.
"Calista... Aku benar-benar ingin bertemu denganmu..." bisiknya penuh penyesalan.
*
Keesokan paginya...
Danis memutuskan tidak langsung pergi ke kantor. Ia meminta sopir mengemudikan mobil tanpa tujuan pasti, menyusuri jalan-jalan yang biasa dilewati Calista dahulu.
"Pak, kita ke mana?" tanya sopir.
"Jalan saja."
"Baik, Pak."
Mobil hitam itu melaju perlahan di tengah ramainya kota.
Danis menatap keluar jendela tanpa berkedip, berharap keajaiban terjadi.
Beberapa menit kemudian... Di sebuah persimpangan dekat halte bus... Jantung Danis mendadak berdegup kencang.
Di seberang jalan... Seorang perempuan berhijab krem sedang berdiri sambil membawa map berwarna biru.
Postur tubuhnya.
Cara berdirinya.
Bahkan bentuk hijabnya...
Sangat mirip dengan Calista.
"Berhenti!"
Sopir langsung menginjak rem.
"Ciiit..."
Mobil berhenti mendadak.
Danis buru-buru membuka pintu.
"Pak Danis!" seru sopir kaget.
Namun Danis sudah berlari menyeberangi jalan. "Calista!"
Perempuan itu tidak menoleh.
Danis mempercepat langkahnya. "Calista!"
Kali ini perempuan itu menoleh perlahan.
Danis langsung menghentikan langkahnya. Napasnya memburu. Harapan yang sejak tadi memenuhi dadanya... Seketika runtuh.
Perempuan itu bukan Calista.
Wajahnya berbeda.
Matanya berbeda.
Bahkan usianya tampak lebih muda.
Perempuan itu mengernyit bingung. "Maaf, Pak... Bapak memanggil saya?"
Danis terdiam beberapa detik. Rasa malu bercampur kecewa memenuhi dadanya. "Maaf... Saya salah orang."
Perempuan itu tersenyum kecil. "Tidak apa-apa."
Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya.
Sedangkan Danis masih berdiri mematung di trotoar. Tatapannya kosong mengikuti langkah perempuan itu hingga menghilang di balik keramaian.
Perlahan... Ia mengusap wajahnya.
"Sebegitu gilanya aku mencarimu..." gumamnya lirih.
Sopir segera menghampiri. "Pak... Bapak tidak apa-apa?"
Danis hanya menggeleng pelan. "Ayo kembali ke mobil."
Sementara itu... Di gedung PT Arga Pratama Group...
Calista sedang membawa beberapa dokumen menuju ruang arsip. Langkahnya tenang. Sesekali ia menyapa rekan kerja yang berpapasan.
"Selamat pagi, Kak."
"Pagi, Calista."
Dari lantai atas... Arga yang baru selesai rapat tanpa sengaja melihat Calista berjalan melewati koridor melalui dinding kaca.
Tanpa sadar... Tatapannya mengikuti perempuan itu hingga menghilang di tikungan lorong.
Dimas yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum tipis. "Pak..."
Arga langsung berdekhem pelan. "Ada apa?"
"Bapak tahu tidak?"
"Tahu apa?"
"Sepertinya... setiap kali Bu Calista lewat, Bapak selalu berhenti bekerja."
Arga langsung menoleh tajam. "Kamu banyak bicara."
Dimas tertawa kecil. "Maaf, Pak."