Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Raya, ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah bikin kaget satu rumah?" ucap mama Sinta yang kini baru saja tiba di depan pintu kamar Lilian.
"Iya, aku sangat lelah, semalaman mengerjakan pekerjaan kantor, aku bahkan baru saja tidur pukul empat dini hari, aku masih sangat mengantuk," ucap Alen sambil mengucek-ngucek matanya yang terasa perih, dia bahkan belum sepenuhnya menyadari situasi saat ini.
"Ma, kak, lihatlah, Lilian kabur dan membawa pergi semua barang-barang nya," ucap Raya dengan suatu yang sedikit getar.
"Apa? Apa kau bercanda!?" ucap Alen seketika membuka lebar-lebar matanya dan melihat seisi kamar.
"Astaga tidak mungkin," ucap Bu Sinta yang kemudian melihat ke dalam kamar tersebut.
Tapi kenyataan kini ada di depan mata, kamar yang dulunya penuh dengan foto-foto pernikahan Alen dan Lilian kini menjadi sebuah ruangan kosong, yang terlihat hanya sebuah dinding putih.
Alen sedikit gemetar, ia tidak percaya kalau kamar mereka kini sekosong itu, ia berjalan cepat masuk ke dalam kamar melewati Raya dan ibunya, ia melihat sekeliling, dinding kosong itu membuat rasa sakit yang terasa menjalar di hati Alen.
"Tidak, tidak mungkin, Lilian tidak mungkin pergi meninggalkan aku," ucap Alen yang kemudian berlari cepat menuju lemari pakaian, dengan tangan gemetar ia segera membuka lemari pakaian tersebut.
Namun yang tersisa hanya pakainya saja, di dalam kamar itu satu pun tidak ada barang milik Lilian lagi.
"Dimana? Dimana koper Lilian, di mana foto pernikahan, di mana semua itu? Di mana barang-barang miliknya?" ucap Alen yang saat ini tampak seperti orang gila.
"Bu, sepertinya Lilian benar-benar pergi meninggalkan keluarga ini," ucap Raya dengan wajah yang tampak sedikit gelisah.
"Benar-benar bertingkah, apa yang dia lakukan sampai-sampai bernai meninggalkan rumah ini?" ucap Bu Sinta dengan nada suara tinggi.
Alen segera menghampiri ibunya, dia tampak sangat ketakutan karena kepergian Lilian dari rumah tersebut.
"Bu, Lilian tidak punya siapa-siapa, dia tidak punya keluarga, pergi dari rumah ini itu artinya dia akan Luntang Lantung di jalan, kenapa Lilian mengambil keputusan sperti ini," ucap Alen sambil memegang tangan ibunya.
"Semua ini gara-gara aku, andai saja aku tidak datang ke rumah ini mungkin Lilian tidak akan pernah pergi, aku benar-benar merusak kebahagiaan keluarga ini," ucap Tasya yang saat ini menghampiri kerumunan tersebut.
"Huh! Sudah lah, jangan pedulikan dia lagi, kak Alen kau jangan khawatir, bukan kah kita semua tau kalau dia itu tidak punya keluarga alias yatim piatu? Kalau pun dia kabur, dia tidak akan pergi lama, palingan beberapa hari dia akan kembali lagi, dia tidak punya uang dan tidak punya koneksi, dia tidak akan mampu bertahan selama itu di luar, ini hanya trik licik nya untuk mengelabui kita semua dan menarik perhatian kak Alen agar kak Alen mengusir Tasya," ucap Raya panjang lebar.
"Masuk akal, apa yang di katakan Raya sangat masuk akal, ibu percaya kalau ini hanya lah sebuah trik yang di mainkan Lilian, Alen kau jangan sampai tertipu, bukan kah dia selalu saja menentang kehadiran Tasya di rumah ini? Ibu rasa itulah alasan nya," ucap Bu Sinta lagi.
Seketika Alen yang mendengar ucapan tersebut terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan ibu dan adiknya barusan.
"Kalian benar, Lilian pasti sedang pergi untuk menenangkan diri nya, biarkan saja dulu, aku yakin dia akan kembali, tapi kenapa dia harus membereskan semua barang-barang termasuk foto pernikahan? Seolah-olah dia tidak akan pernah datang lagi ke rumah ini," ucap Alen dengan kening yang mengerut.
"Bodoh, jika tidak seperti itu, bagaimana mungkin dia bisa membuat kita percaya kalau dia sudah pergi," ucap Bu Sinta lagi.
"Aku benar-benar merasa bersalah, Lilian sampai harus melakukan trik seperti ini untuk menarik perhatian kalian semua, aku khawatir bagaimana dia akan hidup di luar," ucap Tasya kembali bicara dengan kondisi penuh kesedihan.
"Tasya, jangan bicara seperti ini, aku mengenal Lilian sejak lama, dia sangat mencintai ku, kali ini mungkin rasa cemburunya terlalu besar makanya dia jadi seperti itu, apalagi semalam aku tidak sengaja menampar nya, tenang lah, dia pasti akan kembali beberapa hari lagi," ucap Alen yang saat itu sudah termakan ucapan ibu dan adik nya.
"Sudah, sebaiknya kita keluar dari sini sekarang, biarkan saja dia berkeliaran di luar semaunya, kalau lapar dia pasti akan kembali," ucap Bu Sinta yang kemudian menuntun Tasya meninggalkan tempat tersebut.
"Ayo kak, jangan di pikirkan lagi," ucap Raya yang kemudian juga ikut menarik Alen meninggalkan kamar Lilian.
Namun mereka tidak tau, kepergian Lilian adalah sebuah pertanda kalau sebentar lagi keluarga mereka akan runtuh dan rata akan tanah.
"Dia tidak akan pernah kembali, aku lah yang sebentar lagi akan menguasai rumah ini," batin Tasya yang merasa sangat senang dengan kepergian Lilian.
Sementara itu di sisi lain.
Jauh di negara tetangga ....
Drt... Drt... Drt...
Terdengar suara dering ponsel yang mengema, menandakan ada sebuah panggilan telepon masuk.
Seorang wanita cantik dengan jari jemari lentiknya meraih ponsel tersebut dan kemudian menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu.
Call on.
"Karin, kau dimana?" tanya seseorang di sebrang telpon.
"Hey, Yulia? Ada apa ini? Tiba-tiba menghubungi ku dan bertanya dimana aku berada, tentu saja aku di kantor papa ku," ucap Karin.
Yang baca dari awal tanpa skip pasti tau siapa dia orang ini.
"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan padamu, ini tentang Lilian," ucap Yulia di sebrang telpon.
"Maaf Yulia, aku tidak mau, kau sendiri tau aku sudah lama memutuskan hubungan dengan Lilian, lagipula sudah sangat lama aku hilang kontak dengan nya.
"Karin, Lilian bercerai," ucap Yulia singkat padat dan jelas.
Seketika Karin yang saat itu duduk santai segera berdiri dari duduknya.
"Apa?!" ucap nya tampak sangat kaget, tangan nya bahkan mengebrak meja.
"Ya, dia meminta ku mengurus surat perceraian dan mereka sudah bercerai, aku pikir kau tau, aku mohon pulang lah ke negara kita, Lilian pasti sangat membutuhkan mu," ucap Yulia yang memang sangat ingin Karin kembali karena sangat ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada Lilian.
"Yulia telpon nya aku tutup dulu, aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Karin. Ia kemudian segera mematikan telpon tersebut secara sepihak dan kemudian berjalan keluar dari ruang kerja nya.
Call off.
Langkah Karin bengi cepat, ia mengambil kunci mobil dan segera mengemudi, entah kemana tujuan nya saat ini author pun gak tau ya
****
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍