NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:723
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah yang Kembali Bertemu

Sore itu, seperti hari-hari sebelumnya, Vita kembali menjemputku untuk berangkat bersama menuju sekolah. Matahari mulai bergerak perlahan ke arah barat, memancarkan cahaya keemasan yang menyelinap di sela-sela pepohonan di sepanjang jalan. Angin sore bertiup lembut, membawa udara yang tidak terlalu panas sehingga perjalanan menuju sekolah terasa lebih nyaman. Biasanya aku dan Vita akan mengobrol tanpa henti sepanjang perjalanan, membahas pelajaran di kelas atau sekadar menertawakan hal-hal kecil yang kami alami di sekolah. Namun, sore itu suasananya terasa sedikit berbeda.

Entah mengapa, sejak melangkahkan kaki keluar dari rumah, pikiranku terus dipenuhi oleh sosok Kenan. Perkenalan singkat kami sehari sebelumnya masih teringat begitu jelas di dalam benakku. Senyum tipis yang sempat ia berikan ketika mengulurkan tangan untuk berkenalan terus muncul tanpa diminta. Aku berkali-kali mencoba mengalihkan pikiran dengan membahas hal lain bersama Vita, tetapi bayangan itu tetap saja kembali memenuhi kepalaku.

Mungkin karena itulah sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam. Vita yang berjalan di sampingku beberapa kali melirik ke arahku sambil tersenyum kecil. Sepertinya ia menyadari perubahan sikapku, tetapi ia memilih tidak banyak bertanya. Kami tetap berjalan berdampingan hingga akhirnya tiba di halaman sekolah yang sore itu sudah mulai dipenuhi oleh siswa-siswi yang akan mengikuti latihan tari.

Suasana sekolah terlihat lebih ramai dibanding biasanya. Dari berbagai arah terdengar suara tawa para siswa yang sedang berkumpul bersama pasangan latihan masing-masing. Sebagian masih bercanda di bawah pohon, sebagian lagi sudah berdiri di lapangan sambil menunggu guru memberikan aba-aba untuk memulai latihan. Aku dan Vita memilih duduk di bawah sebuah pohon rindang yang berada tidak jauh dari lapangan. Dari tempat itu kami dapat melihat hampir seluruh halaman sekolah, termasuk gerbang utama yang menjadi jalan masuk para siswa.

Aku meletakkan tas di sampingku, lalu tanpa sadar kembali mengarahkan pandangan ke arah gerbang. Rasanya ada seseorang yang sedang kutunggu.

Beberapa siswa terus berdatangan silih berganti. Ada yang datang sambil berlari karena takut terlambat, ada pula yang berjalan santai bersama teman-temannya. Namun, di antara sekian banyak wajah yang kulihat, sosok Kenan belum juga tampak.

Semakin lama waktu berlalu, rasa tenang yang semula kurasakan perlahan berubah menjadi kegelisahan. Aku kembali melirik ke arah gerbang, berharap kali ini dapat melihatnya muncul dari kejauhan. Sayangnya, harapan itu kembali pupus ketika yang datang justru rombongan siswa lain yang sama sekali bukan orang yang kucari.

Di sampingku, Vita yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresiku akhirnya tersenyum kecil sebelum berkata, "Kamu dari tadi melihat ke gerbang terus. Lagi menunggu seseorang, ya?"

Aku sedikit tersipu mendengar godaannya, tetapi tidak mencoba mengelak.

"Kenan kok belum datang, ya?" tanyaku pelan. "Jangan-jangan dia tidak jadi ikut latihan."

Vita mengikuti arah pandanganku, kemudian menggeleng pelan sambil tetap tersenyum.

"Latihannya juga belum mulai. Mungkin dia masih di jalan. Jangan langsung berpikir yang macam-macam."

Aku menarik napas panjang. Berusaha mempercayai ucapan Vita memang mudah, tetapi menghilangkan rasa khawatir di dalam hati ternyata jauh lebih sulit.

"Kalau dia cuma bercanda bagaimana?" gumamku lirih. "Kemarin dia bilang mau jadi pasangan tarianku, tapi kalau ternyata dia tidak datang berarti aku tidak bisa ikut latihan."

Vita menepuk pelan bahuku, berusaha menenangkan perasaanku.

"Kenapa sudah menyimpulkan begitu? Tunggu saja dulu. Bisa saja dia terlambat."

Aku hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab lagi. Dalam hati aku terus berharap Vita benar.

Tidak lama kemudian, suara mikrofon terdengar menggema dari tengah lapangan, membuat seluruh siswa yang masih duduk atau berbincang segera mengalihkan perhatian ke arah guru.

"Baik, anak-anak," suara guru terdengar jelas memenuhi halaman sekolah. "Semua peserta latihan segera berkumpul di lapangan. Latihan akan segera dimulai."

Mendengar pengumuman itu, para siswa langsung bergegas menuju posisi masing-masing. Lapangan yang semula dipenuhi kelompok-kelompok kecil perlahan berubah menjadi barisan pasangan yang berdiri rapi sesuai arahan guru.

Aku dan Vita ikut berdiri, tetapi kakiku belum juga melangkah ke lapangan. Pandanganku masih terpaku ke arah gerbang sekolah dengan harapan yang mulai menipis.

Kenan belum juga datang.

Rasa kecewa mulai menyusup perlahan ke dalam hati. Tanpa pasangan, aku tidak mungkin ikut latihan. Akhirnya aku memilih tetap berada di pinggir lapangan bersama beberapa siswa lain yang juga belum memiliki pasangan. Dari tempatku berdiri, aku hanya bisa menyaksikan teman-teman yang mulai mengikuti setiap gerakan yang diperagakan oleh pelatih di depan.

Gerakan pertama selesai.

Disusul gerakan kedua.

Kemudian gerakan berikutnya.

Waktu terus berjalan, sementara sosok yang kutunggu masih belum juga terlihat.

Aku kembali mengembuskan napas pelan. Kali ini aku benar-benar mulai berpikir bahwa mungkin Kenan memang tidak akan datang.

Namun, tepat ketika pikiranku hampir menyerah, mataku menangkap sebuah sosok yang berlari tergesa-gesa dari arah gerbang belakang sekolah. Langkahnya begitu cepat hingga beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan. Napasnya tampak memburu, seolah ia berusaha mengejar waktu agar tidak tertinggal terlalu jauh.

Karena jaraknya masih cukup jauh, aku sedikit menyipitkan mata untuk memastikan siapa orang itu.

Semakin lama ia semakin mendekat.

Dan ketika wajahnya mulai terlihat jelas, senyum yang sejak tadi menghilang perlahan kembali menghiasi wajahku.

Ternyata benar...

Kenan datang.

...***...

Kenan terus berlari hingga akhirnya berhenti tepat beberapa langkah di depanku. Dadanya naik turun karena napasnya masih belum beraturan, sementara butiran keringat tampak membasahi pelipisnya akibat berlari cukup jauh. Ia sempat menundukkan kepala beberapa saat untuk mengatur napas sebelum akhirnya mengangkat wajah dan menatapku dengan raut penuh rasa bersalah.

"Maaf, ya, aku terlambat," ucapnya pelan sambil masih berusaha mengembuskan napas yang tersisa. "Aku benar-benar hampir lupa kalau sore ini ada latihan."

Melihat keadaannya yang masih terengah-engah, rasa kecewa yang sempat memenuhi hatiku perlahan menghilang begitu saja. Sejak beberapa menit lalu aku terus membayangkan berbagai kemungkinan buruk, bahkan sempat berpikir bahwa ia hanya bercanda ketika mengatakan bersedia menjadi pasangan tarianku. Ternyata semua dugaanku salah. Ia benar-benar datang, bahkan terlihat berusaha sekuat tenaga agar tidak terlambat.

"Tidak apa-apa," jawabku sambil tersenyum kecil. "Tadi aku kira kamu tidak jadi datang."

Kenan mengusap pelan keningnya dengan punggung tangan, lalu tertawa kecil karena merasa bersalah.

"Maaf sekali lagi. Aku hampir lupa jadwal latihan hari ini. Begitu ingat, aku langsung lari ke sekolah."

Aku menganggukkan kepala pelan. Entah mengapa, mendengar penjelasannya membuat hatiku terasa jauh lebih lega.

"Kamu masih kelihatan capek," kataku sambil memperhatikan wajahnya yang masih memerah. "Istirahat dulu saja sebentar."

Kenan menggeleng pelan dengan senyum yang masih sama.

"Nggak usah. Capeknya sudah hilang, kok. Lagi pula tariannya juga tidak terlalu berat."

Aku sebenarnya masih merasa khawatir, tetapi melihat raut wajahnya yang tetap bersemangat membuatku mengurungkan niat untuk memaksanya beristirahat. Kami pun berjalan berdampingan menuju lapangan tempat seluruh peserta latihan sudah lebih dulu membentuk barisan. Sesekali guru mengarahkan posisi para siswa agar setiap pasangan berdiri sesuai tempatnya masing-masing.

Aku mengikuti langkah Kenan dari belakang hingga akhirnya kami berdiri berdampingan bersama pasangan-pasangan lain. Sore itu angin bertiup cukup sejuk, membuat suasana latihan terasa nyaman. Musik pengiring kembali diputar, kemudian pelatih mulai memperagakan gerakan demi gerakan yang harus kami ikuti.

Gerakan tari yang diajarkan memang tidak terlalu sulit. Sebagian besar dilakukan dengan langkah-langkah sederhana yang mudah diikuti, tetapi beberapa bagian mengharuskan setiap pasangan saling mendekat dan menyesuaikan gerakan agar terlihat serasi.

Di situlah rasa gugupku kembali muncul.

Setiap kali gerakan mengharuskan kami berdiri saling berhadapan dalam jarak yang cukup dekat, aku selalu memilih menundukkan kepala. Tatapanku lebih sering tertuju ke lantai daripada menatap wajah Kenan. Aku merasa terlalu malu untuk menatap matanya secara langsung, apalagi kami baru saling mengenal sehari sebelumnya.

Aku dapat merasakan Kenan sesekali memperhatikanku, tetapi ia sama sekali tidak berusaha membuatku semakin canggung. Ia hanya mengikuti setiap gerakan dengan tenang sambil menyesuaikan langkahnya denganku. Sikapnya yang santai sedikit demi sedikit membuat rasa gugupku mulai berkurang, meskipun jantungku masih berdetak lebih cepat setiap kali wajah kami berada dalam jarak yang begitu dekat.

Latihan terus berlangsung. Beberapa rangkaian gerakan telah kami lakukan tanpa banyak berbicara. Suara musik memenuhi lapangan, bercampur dengan arahan guru yang sesekali membetulkan posisi para siswa. Di tengah suasana yang cukup tenang itu, saat kami kembali melakukan gerakan yang mengharuskan berdiri saling berhadapan, Kenan tiba-tiba memanggil namaku dengan suara yang sangat pelan.

"Hitas..."

Aku refleks mengangkat kepala.

"Iya?"

Ia terdiam beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan keberanian. Tatapannya terlihat berbeda dari sebelumnya. Wajahnya memang masih dihiasi senyum tipis, tetapi kali ini ada kesungguhan yang membuatku ikut merasa gugup.

Dengan suara yang lembut, hampir tenggelam oleh alunan musik yang masih terdengar dari depan, ia akhirnya berkata, "Kamu... mau jadi pacarku?"

Kalimat itu begitu sederhana, tetapi seketika membuat pikiranku kosong.

Aku benar-benar tidak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti itu.

Selama ini aku belum pernah mengalami kejadian serupa. Tidak pernah ada seorang laki-laki yang mengungkapkan perasaannya kepadaku, apalagi di tengah latihan tari seperti saat itu. Karena itulah aku hanya mampu memandangnya dengan wajah bingung tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Yang terlintas di dalam kepalaku hanyalah rasa heran bercampur gugup. Pertanyaan itu terus terngiang di telingaku, sementara pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan yang saling bertumpuk.

"Apa maksudnya?"

"Kenapa dia tiba-tiba mengatakan itu?"

"Haruskah aku menjawab sekarang?"

Aku benar-benar tidak mengerti.

Melihat aku hanya terdiam, Kenan tidak mengulang pertanyaannya dan juga tidak memaksaku memberikan jawaban. Ia kembali mengikuti gerakan tari seperti biasa, seolah memahami bahwa aku membutuhkan waktu untuk mencerna apa yang baru saja diucapkannya.

Sikapnya yang tetap tenang justru membuatku semakin bingung. Sepanjang sisa latihan, aku berusaha mengikuti setiap gerakan yang diperagakan pelatih, tetapi pikiranku tidak lagi sepenuhnya berada di lapangan. Kalimat yang baru saja diucapkan Kenan terus berputar di dalam benakku, membuatku beberapa kali kehilangan fokus hingga harus kembali menyesuaikan gerakan setelah melihat teman-teman di sekelilingku.

...***...

Latihan sore itu akhirnya berakhir ketika guru memberikan aba-aba agar seluruh peserta menghentikan gerakan mereka. Musik yang sejak tadi mengiringi latihan perlahan dimatikan, kemudian para siswa mulai membubarkan barisan masing-masing. Sebagian memilih duduk di bawah pohon untuk beristirahat, sebagian lagi langsung menghampiri teman-temannya sambil membahas gerakan yang baru saja dipelajari. Suasana lapangan yang semula dipenuhi irama musik kini berubah menjadi riuh oleh suara percakapan para siswa yang saling bercanda setelah menyelesaikan latihan.

Aku melangkah perlahan menuju teras sekolah bersama Vita. Tubuhku memang sedikit lelah, tetapi kelelahan itu sama sekali tidak terasa dibandingkan dengan kebingungan yang memenuhi pikiranku. Kalimat yang diucapkan Kenan beberapa saat lalu terus terngiang di dalam benakku, seolah tidak mau menghilang begitu saja.

"Kamu mau jadi pacarku?"

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagiku terasa begitu asing. Selama ini aku belum pernah mendengar seorang laki-laki mengucapkan kata-kata seperti itu kepadaku. Aku bahkan belum benar-benar memahami bagaimana seharusnya menanggapi pertanyaan tersebut. Karena itulah, saat Kenan menanyakannya tadi, aku hanya mampu terdiam tanpa memberikan jawaban apa pun.

Sambil duduk di teras sekolah, aku sesekali mengalihkan pandangan ke arah lapangan. Di antara keramaian siswa yang mulai bersiap pulang, mataku kembali menemukan sosok Kenan. Ia sedang berbincang dengan beberapa temannya, tetapi beberapa kali aku menyadari bahwa pandangannya mengarah ke tempatku berada. Setiap kali tanpa sengaja tatapan kami bertemu, ia hanya memberikan senyum tipis yang sama seperti sebelumnya, sedangkan aku buru-buru mengalihkan pandangan karena masih merasa sangat malu.

Yang membuatku semakin bingung, Kenan sama sekali tidak kembali menanyakan jawaban atas pertanyaannya tadi. Ia juga tidak memaksaku untuk segera memberikan kepastian. Sikapnya tetap tenang, seolah ia memahami bahwa aku membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya. Justru sikap seperti itulah yang membuat pikiranku semakin dipenuhi berbagai pertanyaan.

Tidak lama kemudian, guru mengumumkan bahwa latihan telah selesai dan seluruh siswa dipersilakan pulang. Aku, Vita, dan Kenan ternyata berjalan ke arah yang sama sehingga kami pulang bersama meninggalkan sekolah. Perjalanan yang biasanya terasa ramai oleh obrolan antara aku dan Vita sore itu justru berlangsung jauh lebih tenang. Aku lebih banyak diam sambil memperhatikan jalan di depan, sedangkan Vita sesekali mengobrol ringan dengan Kenan mengenai latihan yang baru saja selesai.

Aku hanya mendengarkan percakapan mereka tanpa banyak ikut berbicara. Sesekali aku mencuri pandang ke arah Kenan, tetapi setiap kali ia menoleh ke arahku, aku kembali menundukkan kepala karena rasa malu yang belum juga hilang. Di dalam hati aku terus memikirkan pertanyaan yang tadi diucapkannya, mencoba memahami apa yang sebenarnya ia maksud dan bagaimana seharusnya aku bersikap.

Setelah berjalan cukup lama, kami tiba di sebuah persimpangan jalan yang menjadi tempat tujuan kami mulai berbeda. Kenan menghentikan langkahnya lebih dulu, kemudian menoleh ke arah kami dengan senyum ramah.

"Aku lewat sini dulu, ya. Aku tinggal di rumah Reno," ucapnya sambil menunjuk jalan kecil di sebelah kanan.

Aku dan Vita hampir bersamaan menganggukkan kepala.

"Oh, iya. Hati-hati, ya."

Kenan kembali tersenyum, lalu melambaikan tangan kecil sebelum melanjutkan langkahnya memasuki jalan tersebut. Aku memperhatikan punggungnya yang perlahan semakin jauh hingga akhirnya menghilang di balik deretan rumah.

Begitu Kenan tidak lagi terlihat, rasa penasaranku kembali muncul. Aku segera menoleh ke arah Vita yang masih berjalan di sampingku.

"Vit," panggilku pelan, "Reno yang dia maksud itu... jangan-jangan Reno yang berteman dengan Ucaluna?"

Vita menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil.

"Iya, benar. Tadi aku sempat mencari tahu. Ternyata Kenan masih keluarganya Reno. Sebenarnya rumahnya di Larasmara, tetapi sekarang dia tinggal di rumah Reno supaya lebih dekat dengan sekolah."

Aku mengangguk pelan mendengar penjelasan itu. Baru saat itulah rasa penasaranku mengenai Kenan sedikit demi sedikit mulai terjawab.

"Oh... begitu," gumamku lirih. "Baru tahu aku."

Percakapan kami pun berlanjut dengan obrolan ringan hingga akhirnya kami tiba di depan rumahku. Seperti biasa, Vita menghentikan langkahnya sambil tersenyum kepadaku.

"Besok ketemu lagi, ya."

"Iya. Hati-hati di jalan."

Setelah berpamitan, Vita melanjutkan perjalanan pulang, sedangkan aku masuk ke dalam rumah.

Malam itu, setelah menyelesaikan semua kegiatanku dan berbaring di atas tempat tidur, pikiranku kembali dipenuhi oleh kejadian yang berlangsung sepanjang sore. Bayangan Kenan yang datang terlambat sambil berlari, latihan tari yang kami lakukan bersama, hingga pertanyaan yang diucapkannya dengan suara pelan terus berputar tanpa henti di dalam benakku.

Aku membalikkan badan sambil memeluk bantal, berusaha memejamkan mata, tetapi rasa kantuk tak kunjung datang.

"Sebenarnya... aku harus menjawab apa?" batinku pelan.

Aku benar-benar tidak tahu. Selama ini aku belum pernah mendengar kata-kata seperti itu. Tidak pernah ada yang mengajarkanku bagaimana harus menjawab pertanyaan semacam itu. Karena itulah aku hanya bisa diam ketika Kenan mengungkapkannya.

Semakin lama kupikirkan, semakin bingung pula perasaanku. Pada akhirnya aku hanya mengembuskan napas panjang sambil mencoba menenangkan diri.

"Sudahlah," gumamku dalam hati. "Kalau memang belum tahu harus menjawab apa, lebih baik tidak usah dijawab dulu."

Dengan pikiran itu, aku akhirnya memejamkan mata. Perlahan rasa kantuk mulai datang, meskipun jauh di dalam hati aku masih menyimpan satu pertanyaan yang belum juga menemukan jawaban. Aku sama sekali tidak menyadari bahwa sore itu telah menjadi awal dari kisah yang perlahan akan mengubah banyak hal dalam perjalanan hidupku.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!