Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Begitu motor matic Sarah berhenti dengan sentakan kasar di depan pagar kayu kosannya, ia langsung mematikan mesin. Sarah membuka helmnya dengan gerakan menyentak, lalu berbalik dengan napas yang memburu. Kemarahan yang selama bertahun-tahun ini ia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya mendadak mendidih kembali, menuntut untuk dilepaskan.
Ardhana ikut menghentikan motor kopling merahnya tepat di belakang Sarah. Pria itu baru saja hendak membuka kaca helm hitamnya dan melempar senyum, namun urung begitu melihat sepasang mata Sarah yang sudah berkaca-kaca menahan luapan emosi yang begitu besar.
“Mau kamu apa sebenarnya, Ar?” tanya Sarah langsung, suaranya bergetar hebat menahan tangis yang siap pecah.
Ardhana tertegun. Ia perlahan turun dari motornya dan melangkah mendekat. “Sar, aku cuma mau—”
“Mau apa? Mau lurusin masalah?” potong Sarah cepat. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, menatap Ardhana dengan tatapan penuh luka dan kekecewaan yang mendalam. “Kamu tahu enggak? Sifat pemaksa kamu ini benar-benar bikin aku muak! Bertahun-tahun aku mencoba melupakan semuanya, kabur sejauh mungkin ke pelosok daerah ini cuma buat menata hati aku yang hancur. Tapi dengan gampangnya kamu datang lagi, sok akrab, dan bersikap seolah-olah di antara kita nggak pernah terjadi apa-apa!”
Ardhana terdiam, lidahnya mendadak kelu melihat air mata pertama Sarah akhirnya lolos membasahi pipi sang mantan senior. “Sar… maaf, aku tahu aku salah—”
“Kamu memang salah, Ardhana! Kamu salah besar!” jerit Sarah tertahan, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. “Kamu nggak akan pernah tahu rasanya jadi aku waktu itu. Kamu dengan egoisnya nembak aku padahal semua orang tahu kamu punya pacar yang cantik. Aku tolak kamu demi menjaga harga diri aku sebagai perempuan, demi menjaga perasaan pacar kamu juga!”
Napas Sarah semakin memburu, ingatan kelam hari itu kembali berputar di kepalanya bagaikan mimpi buruk.
“Tapi apa balasan yang aku terima beberapa hari setelah itu, huh? Pacar kamu tahu, dan gosip di komunitas diputarbalikkan begitu kejam! Aku dituduh sebagai senior kegatelan yang mencoba merebut pacar anak SMA! Aku dilabrak, dimaki-maki, dan dipermalukan di depan puluhan orang, Ar! Kamu juga tahu kalau anak-anak komunitas banyak juga yang kuliah di kampus yang sama denganku. Akhirnya apa? Namaku jelek bukan hanya di komunitas, tapi di kampus juga!”
Air mata Sarah kini mengalir semakin deras, menyuarakan rasa sakit yang begitu sakit dari masa lalunya.
“Dan yang paling bikin aku hancur, yang paling bikin aku trauma sampai sekarang… kamu ada di sana saat itu, Ardhana. Kamu berdiri nggak jauh dari tempat aku berdiri. Tapi kamu cuma diam! Kamu membeku kayak patung dan sama sekali nggak berbuat apa-apa buat membelaku! Kamu biarkan aku dihujat habis-habisan cuma karena kamu takut kehilangan pacar cantikmu itu, kan? Kamu pengecut!”
Hantaman kalimat terakhir Sarah bagaikan tamparan keras yang mendarat telat di wajah Ardhana. Pria tegap itu terpaku di tempatnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan rahang yang mengeras menahan penyesalan yang teramat dalam. Bahunya merosot, runtuh seketika di hadapan air mata wanita yang selama ini diam-diam selalu ia cari dan ia rindukan dalam doanya.
Kini, seluruh dinding pertahanan Sarah telah runtuh sepenuhnya di depan pagar kosan itu. Rasa sakit hati yang selama ini ia simpan rapat-rapat akhirnya tumpah tak bersisa, meninggalkan keheningan yang begitu mencekam di antara mereka berdua di bawah langit siang yang terik.
Dengan emosi yang tersisa, dan juga dada yang naik turun, Sarah dengan suara kecil kembali bersuara. “Terus… kamu mau apa lagi sekarang, Ardhana?”
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor