Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.
Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.
Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.
Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Suasana ruang istirahat yang tadinya hangat seketika membeku. Pengumuman itu menggema melalui pengeras suara, singkat dan otoriter, namun bagiku, suaranya terdengar seperti lonceng kematian yang diringi bunyi detak jam yang semakin mendekati batas waktu tiga hari yang diberikan Aurora.
Dokter Akhtar yang duduk di sampingku menghela napas panjang, tampak antusias dengan rencana perluasan rumah sakit tersebut. " Ini kesempatan besar bagi kita semua, bukan? Standar internasional berarti fasilitas yang lebih canggih dan kesempatan untuk menangani kasus yang lebih kompleks," ucapnya dengan mata yang berbinar penuh semangat.
Namun, aku tidak bisa ikut merasakan antusiasme itu. Tanganku yang memegang cangkir kopi mulai terasa dingin.
Pemilik saham tertinggi.
Di dunia medis, aku tahu bahwa suntikan dana besar selalu datang dari para konglomerat atau perusahaan besar yang bergerak di balik layar. Dan entah kenapa, instingku yang sudah tumpul karena trauma namun tetap waspada langsung berteriak. Mengapa sekarang? Mengapa harus di kota tempat aku bersembunyi?
" Kamu tidak terlihat bersemangat," Akhtar menyadari perubahan raut wajahku. Ia menatapku dengan tatapan menyelidik yang lembut. " Apakah kamu keberatan dengan adanya peninjauan ini ? "
Aku mencoba menata napas, mengabaikan debaran jantung yang mulai terasa sakit di dada. " Tidak, aku hanya... lelah, mungkin. Ini akan menjadi hari yang sibuk nantinya, bukan ? "
Aku tidak berani menoleh ke arah jendela yang menghadap ke area parkir depan. Aku merasa seolah-olah ada mata yang sedang menatap ke arah gedung rumah sakit ini, mata yang telah lama mencariku. Jika pemilik saham itu datang, dan salah satunya adalah Abhi atau seseorang yang bekerja untuknya maka persembunyian selama tiga tahun ini akan berakhir dalam hitungan detik.
Waktu tiga hari yang diberikan Aurora kini terasa lebih seperti tiga detik.
Pengumuman itu terasa seperti jerat yang perlahan mengencang di leherku. " Wajib hadir." Dua kata itu bukan sekadar instruksi profesional bagi seseorang yang sedang bersembunyi di balik identitas baru, itu adalah perintah untuk melangkah masuk ke dalam jebakan.
" Jangan khawatir," suara Akhtar memecah lamunanku. Dia meremas bahuku dengan ringan, mencoba memberi dukungan. " Mereka hanya ingin melihat efektivitas pelayanan kita. Kamu bekerja di departemen tersibuk, jadi tentu saja mereka ingin melihat langsung kinerja tim kalian. Itu apresiasi, bukan ancaman."
Akhtar mengatakannya dengan ketulusan yang membuatku semakin sesak. Dia tidak tahu bahwa di balik jas putih dan nama yang kubawa ini, ada nyawa yang sedang dipertaruhkan. Ruang bersalin tempat di mana aku menghabiskan sebagian besar waktuku kini terasa seperti panggung utama yang akan disorot oleh lampu-lampu tajam para investor itu.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku bolak-balik di kamar, menatap tumpukan pakaian yang kusiapkan untuk besok. Setiap kali aku memejamkan mata, aku membayangkan wajah Abhi muncul di antara kerumunan petinggi rumah sakit, menatapku dengan seringai kemenangan karena aku terjebak dalam jaring yang dia bentangkan sendiri.
Satu hari berlalu.
Besok adalah hari kedua sejak Aurora pergi, dan besok pula adalah hari di mana aku harus berdiri di depan mereka yang memegang kuasa atas tempat ini. Aku mencoba merangkai skenario di kepalaku Bagaimana jika aku pura-pura sakit? Bagaimana jika aku mengajukan cuti mendadak? Namun, aku tahu itu justru akan memancing kecurigaan. Jika aku menghilang sekarang, itu sama saja dengan menyatakan diriku bersalah.
Aku berjalan menuju cermin, menatap bayangan diriku sendiri. Aku bukan lagi wanita yang ketakutan di kamar tidur tiga tahun lalu. Aku adalah seorang dokter. Tapi saat aku melihat pantulan mataku yang menyimpan sisa-sisa trauma, aku sadar betapa rapuhnya topeng yang kupakai.
Jika besok mereka datang, dan salah satu dari mereka adalah dia... apakah aku harus lari saat itu juga, atau aku harus menunggu sampai Aurora kembali?
Kecemasan itu menghantamku begitu hebat hingga aku jatuh terduduk di lantai kamar yang dingin. Ponselku tergeletak bisu di atas meja. Belum ada pesan, belum ada kabar dari Aurora. Hanya sisa waktu satu hari yang tersisa, dan besok, aku harus berjalan langsung ke mulut harimau.