Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Cemburu
"Ayuna, kau baik-baik saja?" tanya Mila dan teman-teman Ayuna yang lain. Mereka bertanya-tanya, ada apa dengan Ayuna yang sering dipanggil ke ruangan CEO, padahal Ayuna tidak pernah melakukan kesalahan, bahkan dia bisa dikatakan karyawan yang baik dan juga cekatan.
"Em..., aku nggak papa," jawab Ayuna dengan senyuman paksa. Ia pikir tak seharusnya membongkar keburukan bosnya. Selama bosnya masih bisa menjaga batasannya ia tak akan mempermasalahnya.
Meskipun begitu Mila dan teman-temannya tak yakin dengan jawaban Ayuna. Ia yakin Ayuna tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa kau yakin tidak apa-apa, Ayuna?" Dia berbisik dengan mendekatkan diri padanya.
Ayuna menggeleng perlahan. "Aku tidak apa-apa kok, beneran," cicitnya. Dia menarik napas dan menghenyakkan panggulnya di kursi kerjanya. "Sudahlah..., lebih baik kita fokus kerja lagi. Tiga hari lagi kita bakalan ambil bonus, dan kita bisa makan bareng seperti biasanya."
Ayuna dan teman-temannya memang sering menghabiskan waktu bersama saat gajian. Bukannya foya-foya, tapi dia hanya ingin menghargai teman-temannya yang memiliki kepedulian terhadapnya.
"Hore," cicit mereka dengan bertepuk tangan. "Kita ditraktir lagi nih?"
"Iya, semoga saja bonusnya lekas keluar, aku janji bakalan traktir makan siang buat kalian."
"Hm... oke, ditunggu traktirannya ya?"
Brak!!
Obrolan mereka berhenti ketika seorang wanita tiba-tiba datang dan menghempaskan tumpukan berkas di atas meja Ayuna dengan membantingnya lumayan keras. Ayuna dan yang lainnya terkejut bukan main. Soraya, sekertaris utama di perusahaan Kusuma Group itu memberikan tatapan sengit terhadap Ayuna. Dia juga mengomel sembari membanting tumpukan berkas.
"Kamu itu datang ke sini tujuannya apa? Kalau jam kerja harusnya kerja dengan baik, bukannya mengobrol!"
Ayuna menundukkan wajahnya. "M—maaf Bu Soraya," ucapnya lirih.
"Maaf! Maaf!" Dia mendengus dengan tatapan sengit. "Lagian ngapain kamu datang ke ruangan CEO. Kamu itu cuma pegawai biasa! Nggak ada urusan sama CEO! Jangan buat malu dirimu sendiri Ayuna, kecuali kalau kau memang wanita murahan!"
Deg,,
Ayuna melebarkan matanya. "Bu!" Tentu Ayuna tak terima dianggap sebagai wanita murahan. Dia memiliki hak untuk membela diri, meskipun harus membantah atasan. "Saya berada di ruangan CEO karena permintaan pak Erlangga! Mana berani saya seluduran masuk ke sana tanpa diminta olehnya."
Sebelumnya Ayuna tidak pernah berurusan dengan Soraya. Entah kenapa wanita itu tiba-tiba datang dan memasang wajah jutek padanya, seolah-olah ia merebut kekasihnya.
"Memangnya hal penting apa yang kalian bahas? Kalau nggak ada hal penting sebaiknya tolak saja, nggak perlu kamu datang menemuinya. Lagi pula pegawai rendahan macam kamu mana pantas deket-deket dengan pak Erlangga! Harusnya kamu tahu diri! Nggak usah ngarep bisa dapetin perhatian bos!"
Ayuna berdecak. "Ck, anda ini ngomong apa sih Bu!" Ayuna merasa Soraya sudah sangat keterlaluan. Dari situ ia tahu wanita itu memiliki perasaan terhadap atasannya, dan dia tengah cemburu. "Sebelumnya saya tidak pernah berurusan dengan anda. Kenapa anda seolah-olah menganggap saya ini musuh anda. Kalau anda berpikir saya ada perasaan sama pak Erlangga itu salah besar. Diantara kami tidak memiliki hubungan khusus."
Soraya terkekeh. "Benarkah? Tapi orang sepertimu tidak bisa dipegang ucapannya. Aku tahu betul, wanita miskin sepertimu selalu mencari mangsa untuk bertahan hidup. Apalagi sekarang bos kita masih muda dan masih lajang, sangatlah tidak mungkin kalau kau tak menyukainya."
Tangan Ayuna mengepal. Suasana ruangan itu menjadi panas oleh perdebatan mereka. Selama ini mereka bekerja dengan baik tanpa ada masalah besar, kini sehari setelah kedatangan pimpinan baru banyak hal yang terjadi.
"Saya cukup tahu diri Bu, saya ini rakyat jelata, dan nggak mungkin pak Erlangga menyukai saya!"
Ayuna bangkit dari tempat duduknya, namun Mila langsung menarik tangan Ayuna untuk menjauhkannya dari Soraya. Dia tidak ingin suasana semakin kacau dengan pertengkaran mereka.
"Ayuna, stop! Jangan ditanggapi," cicit Mila.
"Tapi dia sudah ngrendahin aku, Mila," bantah Ayuna.
"Iya, aku tahu itu, tapi jangan sampai kamu mendapatkan masalah. Ingat Ayuna, kamu memiliki tanggung jawab besar untuk merawat anak-anakmu. Kalau sampai kamu dipecat, apa jadinya? Bagaimana kamu bisa menghidupi si kembar?"
Ayuna diam dengan mengatupkan bibirnya. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Jika sampai ia dipecat karena membuat ulah dengan sekertaris yang termasuk atasannya, apalah jadinya, tentu akan berdampak buruk terhadap kehidupannya.
"Sebaiknya kau jauhi pak Erlangga," peringat Soraya. "Tugasmu hanya mendesain. Kerjakan tugasmu dengan baik, jangan sampai membuat perusahaan rugi dengan kinerjamu yang acak-acakan." Sebelum memutuskan untuk pergi kembali Soraya memberikan peringatan padanya. "Kalau sampai saya masih melihatmu seliweran di ruangan CEO, maka jangan salahkan saya jika harus mengambil tindakan. Saya bahkan bisa menghemaskanmu dengan mudah." Dengan arogannya wanita itu langsung melenggang pergi.
Ayuna menarik napas dan kembali duduk di kursinya. Dia tidak tahu di mana letak kesalahannya. Bahkan ia tidak akan datang menemui bos jika tidak ada panggilan. Sepertinya Soraya sudah salah paham terhadapnya.
"Kok jadi gini sih," gumam Ayuna.
Mila mendekat dengan menarik kursinya. "Sebenarnya ada apa sih, Ayuna? Coba kamu cerita sama aku."
Ayuna menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Aku harus cerita apa?"
"Ya cerita mengenai hubunganmu dengan pak Erlangga," cicit Mila.
Ayuna mendengus. "Jadi kamu juga berpikir kalau aku memiliki hubungan khusus dengan pak Erlangga, begitu?"
Mila melambaikan tangannya. Ia tak sadar ucapannya sudah menyinggung perasaan Ayuna. "Em..., bukannya aku menuduhmu memiliki hubungan khusus dengan pak Erlangga, aku hanya bingung kenapa Bu Soraya tiba-tiba menuduhmu memiliki hubungan dengan pak Erlangga. Bukankah sebelumnya diantara kalian tidak pernah memiliki urusan?"
Ayuna menarik napasnya. "Itu hanya pemikiran dia saja," cicitnya. "Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba marah dan menuduhku begitu buruk. Seolah-olah aku ini sudah merebut kekasihnya."
"Hm..., iya. Aku juga mikir kayak gitu. Aneh aja tiba-tiba datang dan marah-marah nggak jelas. Atau jangan-jangan dia naksir sama pak Erlangga."
Ayuna mengedikkan bahunya. "Entahlah. Hanya karena permasalahan sepele saja dia sampai bersikap seperti orang bodoh. Padahal aku datang ke ruangan CEO karena permintaan pak Erlangga, bukan karena keinginanku sendiri."
"Sabar Ayuna," nasehat teman-temannya. "Bu Soraya kayaknya lagi depresi, kebanyakan pekerjaan, jadinya dia tidak bisa mengendalikan emosinya, dan kamu yang jadi sasarannya."
Ayuna tersenyum paksa. "Sudahlah. Mau dia depresi, mau dia cemburu itu nggak ada urusannya denganku," cicitnya berusaha untuk terlihat baik-baik saja. "Dari awal tujuanku bekerja di sini untuk memenuhi kebutuhan hidupku, bukan untuk cari perhatian laki-laki, apalagi pimpinan," cicitnya tegas. "Aku sudah memiliki anak, jika aku hanya mengejar kesenanganku, lantas bagaimana dengan nasib anak-anakku? Bagiku tidak ada yang lebih penting daripada mereka. Mereka alasanku untuk tetap hidup, jadi kalian juga jangan berpikir aku berada di sini karena ingin cari perhatian para lelaki."
Mila menepuk pundaknya. "Aku percaya sama kamu."