semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 19
Di taman belakang mansion. dua pasangan suami istri ini sedang terduduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di sana.
mereka berdua terduduk dengan keheningan. sudah berjam-jam lamanya mereka sedari tadi terdiam dengan pikiran masing-masing
hingga beberapa detik kemudian terdengar suara lirihan yang berhasil menghentikan keheningan sesaat.
"mas... aku mau nanya. dia, wanita tadi apakah?"
"iya benar. dia adalah istri pertamaku dan wanita yang paling aku cintai seumur hidupku" ucap Aryan menatap tegas ke arah Aluna.
Aluna yang mendengar ucapan Aryan tidak bisa lagi berkata-kata. dia tidak percaya, mengapa Aryan yang sebelumnya sudah mempunyai seorang istri malah mau menikah lagi dengannya? Ada apa ini sebenarnya?
apakah sebelumnya orang tuanya juga tidak mengetahui hal ini? dan malah langsung menjodohkannya dengan lelaki yang sudah beristri? atau kah mereka sudah tahu tentang hal ini? dan hanya Aluna saja yang tidak tahu kalau Aryan sudah menikah?
Ah! ini sungguh sangat memusingkan!
"Tapi kenapa, mas? kalo mas sudah menikah sebelumya, lalu kenapa mas malah mau menikah denganku!!" sentak Aluna dengan mata memerah
Aryan menatap tidak suka dengan nada bicara Aluna yang kelihatannya sangat tidak sopan kepada dirinya yang sekarang masih berstatus suaminya.
"Aluna turunkan nada bicaramu. aku ini adalah suamimu" tekan Aryan di setiap kalimatnya.
Aluna tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya terhadap suaminya. bagaimana bisa dia malah menikah dengan seorang pria yang ternyata selama ini sudah beristri.
pantas saja Aryan berperilaku kejam selama ini padanya, karena nyatanya Aryan sudah mempunyai istri.
"kenapa.... kenapa aku harus menikah dengan seorang pria yang ternyata sudah beristri mas? kenapa!!!" teriak Aluna dengan mata berkaca-kaca.
"aku bilang! turunkan nada bicaramu, Aluna!!" bentak Aryan dengan wajah bengisnya
"aku juga tidak akan mau menikahimu kalo saja aku tidak dipaksa oleh kedua orang tuaku, Aluna!!"
"dan asal kamu ingat, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi kalo kamu tidak langsung mengatakan iya kepada mereka!! dan lihat! inilah akibatnya, Aluna"
"aku juga tidak memaksamu waktu itu. bahkan aku sudah berusaha untuk menentang keras pernikahan ini. tapi apa? kau malah menyetujuinya kan"
seketika Aluna langsung terdiam. iya, dia ingat betul pada hari perjodohannya dengan Aryan.
sebenarnya waktu itu dia ingin sekali menolak perjodohan itu. tapi karena paksaan dari keluarganya dan ancaman dari kakaknya sendiri, membuat dirinya tidak punya pilihan lain selain menerima perjodohan itu
dia pikir dengan menerima perjodohan itu, maka dia tidak akan pernah mendapatkan siksaan dari keluarganya dan bisa hidup layaknya orang normal.
tapi apa yang dia dapatkan? ternyata kehidupannya di rumah suaminya tidak jauh lebih buruk dari apa yang dia rasakan di rumah keluarganya.
apakah kehadiranku sebenarnya memang tidak pernah diinginkan di keluarga manapun? kenapa aku selalu mendapatkan pedihnya hidup seperti ini Tuhan
"jadi jangan pernah seolah-olah kaulah yang paling tersakiti di sini, Aluna. karena nyatanya aku juga adalah korban dari semua ini. pernikahanku dengan Yeri hampir saja hancur kalo saja aku tidak mempertahankan pernikahan ini Aluna"
"jadi tolong, patuhi apapun yang aku perintahkan nanti. dan juga bersikap baiklah pada Yeri mulai dari sekarang, Aluna" ucap Aryan lalu bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Aluna yang berdiam diri di tempatnya
•
Tok. Tok. Tok.
"iya, sebentar"
ceklek
saat pintu kembali terbuka, betapa terkejutnya Aurel. ternyata yang berkunjung ke rumahnya kali ini adalah seorang wanita yang akhir-akhir ini tidak pernah lagi ada di rumahnya semenjak dia menikah dengan orang yang dijodohkan oleh orang tuanya.
siapa lagi kalau bukan Aluna sendiri.
dengan pakaian sederhana, Maya membengkak memerah, serta pandangan yang terlihat sayu.
"siapa yang datang Aurel?" Karin mendekat ke arah Aurel yang sedari tadi berdiri di balik pintu tanpa mempersilahkan tamu yang berkunjung itu.
ketika Karin tepat berdiri di samping Aurel dan mengedarkan pandangannya, betapa terkejutnya Karin melihat seseorang yang berkunjung ke rumahnya adalah adik bungsunya, yaitu Aluna
"kau... kau sedang apa di sini?" tanya Karin dingin
"kakak, aku-"
"tutup cepat pintunya, Aurel. sebelum ibu melihat siapa yang sebenarnya datang ke sini. ibu juga pasti sangat tidak menyukai kalo ada sampah yang berada di rumah ini"
Aluna yang mendengar ucapan sang kakak seolah-olah mengatakan kalau dirinya adalah sebuah sampah yang sangat dilarang keras berada di rumah ini.
seolah ucapan kejam itu menusuk telak ke dalam hatinya. rasanya seperti ditusuk oleh ribuan jarum melihat penolakan dari sang kakak atas kehadirannya.
saat Aurel ingin menutup kembali pintunya, tiba-tiba ada sebuah tangan halus yang menghentikan pergerakannya itu.
"aku mohon kak. izinkan aku untuk masuk sebentar. A-aku hanya ingin menemui ibu dan ayah saja"
"ayah dan ibu tidak ada di sini. jadi pergilah" tekan Aurel di akhir kalimatnya
"aku mohon, kak. aku benar-benar ingin bertemu ayah dan ibu sebentar" Aluna terus memohon kepada kedua Kakaknya untuk diizinkan masuk. tapi Aurel masih saja bersikeras ingin menutup pintunya kembali.
"Akhhh! pergilah Aluna! ayah dan ibu tidak ada di sini!!" pekik Aurel kesal
Karin yang melihat Aurel sedikit kesusahan karena Aluna terus menahan pintunya agar tidak tertutup, akhirnya ikut turun tangan membantu sang adik.
Bruk!
"Akhh!"
Aurel membulatkan matanya melebar melihat ke arah Aluna yang sudah terduduk di atas tanah dengan pakaian yang sudah kotor karena debu.
"kak! kenapa malah mendorongnya!"
"kalo aku tidak melakukan hal itu, dia akan terus menjadi Aurel! udah, ayo cepat masuk dan tutup pintunya!"
Aurel pun segera menutup pintunya dan menguncinya dari dalam agar Aluna tidak bisa lagi masuk sama sekali.
Aluna yang melihat pintunya sudah tertutup, berusaha untuk bangun dari duduknya dan berlari menghampiri pintu. lalu mengetuk-ngetuk pintu itu Dengan keras.
sedangkan di dalam.
"bagaimana ini, kak? Aluna terus memohon kepada kita agar mau diizinkan masuk" tanya Aurel kepada Karin yang sudah terduduk di sofa dengan bermain ponsel, seolah kejadian tadi itu tidak pernah terjadi sama sekali.
"kak aku-"
"cukup! Aurel!! aku sekarang sedang tidak ingin berdebat sama sekali" ujar Karin menatap Aurel tajam.
"tapi kak-"
"masuk ke kamarmu sekarang. dan biarkan saja perempuan itu berdiri di sana. nanti dia juga akan pergi kalo kita tetap tidak mengizinkan dia masuk" ujar Karin lalu berlalu menuju kamarnya
Aurel menatap sendu ke arah punggung kakaknya yang mulai menjauh. dia sebenarnya ingin membawa Aluna masuk. karena selama dia tidak ada di rumah ini, rasanya rumah ini sungguh sangat sunyi dan sepi.
tidak ada canda tawa Aluna. tidak ada Aluna yang selalu bersikap lembut kepada mereka, walau mereka sering bersikap kasar padanya. bahkan Aurel sangat rindu dengan masak-masakan Aluna yang setiap hari selalu ada
dan entah kenapa, semenjak kepergian Aluna rumah ini terasa begitu sunyi dan tidak berpenghuni yang seolah juga ikut merasakan sedihnya kepergian Aluna waktu itu.
tapi pas dia datang tadi, hati Aurel seakan, begitu hidup yang selama ini terisi dengan kekosongan, tapi setelah melihatnya, kekosongan itu dapat diisi dengan berbagai kehidupan.
tapi melihat reaksi sang kakak tadi, dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah dari kakaknya. mau melawan? mana mungkin berani dengan kakaknya itu.
dengan perasaan berat hati, Aurel pun mulai berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan sang adik yang terus-terusan menangis di balik pintu, sembari terus meminta untuk diizinkan masuk.
maaf kalo gak nyambung dan typo bertebaran 😁 jangan lupa di like sama komen ya❤️