Sekuel SUAMIKU BERWAJAH CACAT
Novel ini, menceritakan kisah cinta segitiga. Jadi bijaklah, dalam membaca.
Haris Wilson, anak pertama dari pasangan Henri Wilson, dan Rania Cullen, tidak menyangkah hidupnya akan berakhir menikahi anak dari pelayannya sendiri Bibi Ana.
Apalagi saat itu, Haris Wilson mempunyai seorang kekasih yang begitu dicintainya, yaitu seorang supermodel, bernama Kenny.
Haris menentang keras perjodohan ini, karena
dia sudah mempunyai kekasih, dan yang membuat dia sangat menolak perjodohan ini adalah, anak dari pelayannya itu, adalah seorang gadis cacat.
Tapi Haris tak dapat menolak, karena ayahnya Henri Wilson mengancam, kalau dia tidak menikahi Vivian, maka jabatannya sebagai seorang CEO diperusahaan, akan dicabut.
Karena tidak ingin kehilangan jabatannya, dia menyetujui pernikahan ini, tapi dengan membuat kesepakatan pernikahan kontrak, yang dia buat bersama Vivian.
Tapi itulah cinta bisa tumbuh kapan saja, Harispun tak dapat menolak pesona Vivian, saat mendapati gadis itu sudah bisa berjalan, ditambah lagi dengan kelembutan, dan perhatian dari wanita itu, membuat ia terjebak dengan permainan yang dia ciptakan sendiri, hingga membuat ia harus memilih Vivian, sigadis cacat, atau Kenny wanita yang begitu dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.19.Mencari kerja.
Dia sempat terdiam sesaat, sepertinya ada yang dipirkan oleh wanita cantik itu. Dia menoleh kebelakang, dan lama memandang rumah mewah itu. Menghembuskan nafas dalam, dan merasa lelah dengan hatinya.
"Aku istrinya, tapi aku seperti simpanannya saja. Aku istri seorang pengusaha, tapi mau bepergianpun aku harus naik taksi, sementara wanita yang berstatus hanya kekasihnya, dia membelikan mobil." Dan terdiam sesaat.
Kenapa juga aku memikirkan dia?! aku harus belajar mandiri, agar saat kami bercerai nanti, aku sudah terbiasa dengan keadaan ini." Gumamnya.
Memutuskan untuk berjalan kaki menuju halte bis, yang letaknya tidak jauh dari kediaman Haris Wilson.
Setelah menunggu beberapa menit, bus yang ditunggu, akhirnya datang juga.
Senyum terus terpancar dari wajah gadis itu, walaupun berebut tempat duduk, dan berdesakan dengan penumpang lainnya, tapi dia terlihat begitu bahagia.
"Ternyata sangat menyenangkan, bisa melakukan sesuatu tanpa ada hambatan." Gumamnya, dengan terus memancarkan senyuman diwajahnya.Setelah bus tersebut melaju selama beberapa menit, kini berhentilah disebuah halte. Vivian langsung beranjak dari duduknya, saat sudah tiba ditempat yang dia tujuh.
Raut wajahnya terlihat gelisah, karena harus mulai dari tempat mana untuk mencari kerja.
"Aku cuman lulusan SMA, palingan aku hanya bisa melamar direstorant, kalaupun diperusahaan, mungkinkah aku hanya jadi cleaning service."
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Vivian memutuskan untuk melangkah menacari kerja.
"Kapan yaa..? aku jadi orang kaya" Tersenyum, dan larut dalam pikirannya sendiri.
Sendainya saja aku jadi orang kaya, aku akan menyuruh si Haris menjadi sopir pribadiku, dan Kenny, jadi pelayan pribadiku." Gumamnya sembari tertawa kecil, karena merasa lucu dengan pikirannya yang menurutnya begitu konyol.
Melangkah, dan terus melangkah. Dan akhirnya, tatapan matanya menangkap sebuah restorant mewah.
"Aku akan mencoba, melamar disini direstorant itu." Gumamnya, dengan berjalan masuk kedalam restorant mewah itu.
Vivian masuk kedalam restorant, dan dia begitu mengagumi kemewahan tempat itu.
Saat sedang mengedarkan pandangannya menyapu seisi ruangan, Vivian sedikit terkejut saat ada seseorang yang menyapanya.
"Selamat siang Nona' ada yang bisa kami bantu?" Tanya salahsatu, pelayan restorant.
"Maaf, aku datang untuk melamar pekerjaan, apakah disini masih membutuhkan karyawan?"
"Maaf Nona, disini tidak sedang membutuhkan karyawan. Mungkin Nona, bisa melamar ditempat lain."
Raut wajahnya berubah sendu, saat mendengar ucapan pelayan itu.
"Jadi disini sedang tidak membutuhkan karyawan, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Vivian, dengan berlalu keluar dari restorant mewah itu.
Menghembuskan nafas dalam, dengan raut wajah yang terlihat tidak bersemangat,melanjutkan langkahnya.
"Aku harus melamar kemana lagi yaa?!" Gumamnya, dengan bertanya pada sendiri.
Berjalan, dan terus berjalan,dibawah terik sinar matahari.
Dan tatapan matanya menangkap sebuah kedai, dan memutuskan untuk masuk kedalam.
Saat membuka pintu, Vivian mendapati suasana yang tidak begitu bersahabat. Banyak pengunjung yang sedang meminum alkohol.
"Aku tidak perduli dengan tempatnya, yang aku tau, aku ingin mendapatkan pekerjaan." Gumamnya, dengan melangkah menghampiri seorang pria.
" Selamat siang Tuan." Sapanya ramah.
Saat berbalik, pria bertubuh tinggi itu begitu terpesona, dengan kecantikan Vivian.
"Selamat siang Nona." Jawabnya, dengan tersenyum.
"Tuan, apakah disini masih membutuhkan karyawan?"
"Anda sedang mencari pekerjaan, Nona?!"
"Iya Tuan, saya sedang mencari kerja."
"Kalau begitu, mari saya antarkan anda, pada manajer saya."
"Baik Tuan." Jawab Vivian, dengan melangkahkan kaki mengikuti pria itu.
Mengetuk pintu, dan membukanya, saat terdengar suara seseorang dari dalam.
"Selamat siang Tuan, saya mengantarkan Nona ini, karena dia sedang mencari pekerjaan."Serunya, pada seorang pria bertubuh tambun.
"Nona, sedang mencari pekerjaan?" Tanya pria bertubuh tambun itu, dengan tatapan mata menatap Vivian dari atas, hingga bawah yang membuat gadis itu sedikit risih.
"I..iya Tuan." Jawabnya, gugup.
"Fernando, kau bisa tinggalkan kami berdua?""
"Baik Tuan."
Setelah kepergian anakbuahnya, tatapan matanya beralih menatap intens gadis itu.
"Sebelumnya, apakah kamu sudah perna bekerja?" Tanyanya, sekedar berbasa-basi.
"Belum Tuan."
"Kalau begitu, mulai hari ini kamu bisa bekerja ditempat ini."
"Benarkah Tuan? saya diterima kerja dikedai ini?" Tanyanya, seolah tak percaya.
"Iya Nona, karena anda sangat cantik." Jawabnya tersenyum, dengan bangun dari duduknya menghampiri Vivian.
"Bagaimana, sebelum kamu memulai pekerjaan?kita bersenang-senang dulu."
"Maksud anda, apa Tuan?" Tanya Vivian, dengan mulai menggeser duduknya, saat lelaki paruh baya itu semakin merapatkan duduknya, karena dia sama sekali belum mengerti maksud pria itu.
"Masa" kamu tidak tau maksud saya Nona?" Dengan ingin memeluk Vivian, tapi gadis itu langsung berlari kearah pintu.
Pria paruhbaya itu menarik tangan Vivian, dan melemparkan gadis itu kursi panjang.
"Lepaskan saya Tuan..., lepaskan saya..." Teriaknya, saat pria paruhbaya itu menindinya.
"Diam kamu..?!" Ucapnya dengan nada tinggi, sembari berusaha untuk mencium Vivian.
Rasa takut semakin menyelimuti dirinya, hingga tatapan matanya beralih kearah vas bunga, dan memukul tengkuk pria itu.
"Praak..." Yang membuat laki-laki paruhbaya itu, langsung pingsan seketika.
Menghembuskan nafas lega, dan dengan rasa takut yang masih menyelimuti, gadis itu segera menyambar tasnya, dan berlalu keluar dari restorant itu.
******
Saat melangkahkan kaki, Vivian terus meneteskan airmatanya, meratapi hal buruk yang hampir saja menimpanya.
"Kenapa aku begitu bodoh?! sebenarnya aku harus mengerti maksud mereka apa." Gumamnya dengan terus melangkah, dengan airmata terus mengalir membasahi pipinya.
Saat sedang melangkah, tiba-tiba Vivian merasa kakinya begitu sakit.
"Aduuhh..." Rintinya, dan dengan langkah tertati-tati, dia menghampiri sebuah toko, dan duduk menselonjorkan kakinya didepan toko kecil itu.
"Kenapa aku sampai lupa? kalau kata Dokter Ketty, kakiku belum sepenuhnya pulih." Gumamnya, sembari memijit-mijit kakinya.
Cuaca kota London yang begitu panas, tak menyurutkan niatnya untuk menikmati keindahan kota itu disiang hari. Terus melajukan mobil mewahnya, dengan raut wajah yang terlihat begitu bahagia.Senyuman itu tiba-tiba menyurut, saat tak sengaja dia menangkap seorang gadis yang sedang duduk didepan toko, dengan meringis kesakitan.
"Vivian.." Gumam Daren, dengan langsung menepikan mobilnya.
Membuka pintu, dan berjalan menghampiri gadis itu.
"Vivian." Panggilnya, dengan tatapan iba pada gadis itu.
Mendongakkan kepala, sembari mengusap airmatanya.
"Daren..!" Dengan airmata sudah menetes.
Mensejajarkan duduknya dengan gadis itu, dan berbicara.
"Ayo bangun." Dengan memegang tangan Vivian, untuk membantuhnya bangun.
Vivian bangun dari duduknya, dengan sedikit menahan sakit.
Daren memapah Vivian, melangkah menuju kendaraan roda empatnya.
"Kamu kenapa menangis,Vivian? terus dimana Haris?!"
"Tuan Haris sedang bersama kekasihnya Daren, dan tadi aku nyaris diperkosa, saat diberada disebuah kedai." Jawabnya dengan airmata sudah membasahi pipinya, saat mengingat kejadian tadi.
"Apa?! kamu nyaris diperkosa.?!" Tanya Daren, seolah tak percaya.
"Iya." Jawabnya, sembari menundukkan kepalanya.
Daren mengusap kasar wajahnya, seperti masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Mau sampai kapan kamu bertahan dengan pernikahan ini?! dia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya, tapi liat kamu disini?!" Tanyanya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan itu.
"Aku baik-baik saja Daren? aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku hanya ingin mencari pekerjaan, sebab aku tidak mau menggantungkan hidupku, dengannya."
Menghembuskan nafas dalam, mencoba untuk memahami keadaan Vivian saat ini.
"Kamu sudah makan?!" Tanyanya, tiba-tiba.
"Sudah." Jawabnya berbohong, tapi seketika terdengar suara perutnya, yang membuat lelaki tampan itu tertawa kecil.
"Jangan menertawakan aku, Daren?!" Ucapnya, dengan mimik cemberut.
"Yasudah, ayo kita kerestorant. Kebetulan aku juga belum makan siang."
aasyeiikk ... bakal makin posesif aja bos nya si james 😁👍🏻
bisaan ni author pilih visual nya
posesif tanda cinta .. ouw ouw oooo
sudah jelas vivian berstatus kan istri "sah"
kenny dasaarrr
gemesss gau thor aaaaa mantaff👍🏻🤣