NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Alya tidak langsung pulang.

Ia berdiri di belakang gedung laboratorium sekolah, menatap foto makam ibunya sampai layar ponsel meredup. Suara siswa pulang, deru mobil, dan tawa dari lapangan basket terdengar jauh. Di dadanya ada sesuatu yang dingin dan berat.

Selama sebelas tahun sejak kembali hidup, ia menyiapkan diri menghadapi keluarga Wiratama, Dinda, Kevin, dan semua orang yang dulu membuat hidupnya hancur. Namun tentang ibunya, ia hanya punya potongan kalimat dari kehidupan lalu.

Ibumu mati bukan karena kamu.

Dinda yang mengatakannya sebelum Alya dibunuh.

Saat itu Alya sudah terlalu lemah untuk bertanya.

Sekarang seseorang mengirim foto makam Nadira dan menyuruhnya bertanya pada Baskara.

Berarti orang itu tahu sesuatu.

Atau ingin membuatnya kehilangan kendali.

Rafi datang dari arah gerbang belakang. "Aku dapat lokasi pengirim."

Alya mengangkat wajah.

"Ponsel sekali pakai lagi. Aktif sebentar di sekitar TPU Jeruk Purut, lalu mati. Orang yang menaruh bunga tidak terlihat jelas di kamera makam. Topi, masker, jaket."

"Tinggi?"

"Sekitar seratus tujuh puluh lima. Laki-laki."

"Bukan Kevin."

"Bukan. Kevin lebih tinggi."

Alya menyimpan ponsel. "Berarti ada orang lain."

"Kamu mau ke makam?"

"Tidak sekarang."

Jika ia pergi sekarang, ia hanya mengikuti tali yang dilempar seseorang. Ia harus tahu siapa yang memegang ujungnya.

Di rumah, suasana jauh lebih sunyi daripada biasanya. Maya tidak turun. Dinda juga tidak. Baskara berada di ruang kerja. Raka belum pulang dari kantor.

Alya langsung menuju ruang kerja.

Baskara tampak tidak terkejut saat ia masuk tanpa mengetuk. Ia duduk di belakang meja, memegang foto lama. Begitu melihat Alya, ia memasukkan foto itu ke laci.

"Kamu tidak diajari mengetuk?"

"Bagaimana Mama mati?"

Wajah Baskara berubah.

"Kita sudah membahas ini."

"Belum. Papa hanya menyuruhku tidak menggali."

"Karena tidak ada yang perlu digali."

Alya meletakkan ponsel di meja, memperlihatkan foto makam Nadira dengan bunga hitam.

Baskara menatap foto itu. Wajahnya pucat.

"Siapa yang mengirim ini?"

"Papa yang harusnya memberi tahu aku."

Baskara berdiri dan berjalan ke jendela. Untuk beberapa detik, ia hanya memandang halaman gelap.

"Ibumu meninggal setelah melahirkanmu."

"Karena pendarahan?"

"Ya."

"Hanya itu?"

Baskara tidak menjawab.

Alya berkata pelan, "Papa membuangku karena percaya aku penyebab kematian Mama. Kalau ternyata ada penyebab lain dan Papa tetap membuangku, apa Papa pernah merasa bersalah?"

Baskara mencengkeram tirai.

"Kamu tidak tahu apa-apa."

"Maka beri tahu."

"Nadira terlalu keras kepala." Suara Baskara rendah. "Dia baru melahirkan, tapi masih memikirkan dokumen, saham, yayasan, orang-orang yang tidak jelas. Dia tidak mau mendengar dokter. Dia tidak mau mendengar aku."

"Orang-orang yang tidak jelas?"

Baskara menyadari ia terlalu banyak bicara.

Alya mendekat. "Siapa?"

"Keluar."

"Tidak."

Baskara berbalik. "Alya, jangan memaksa."

"Papa takut pada siapa?"

Kalimat itu tepat mengenai luka.

Baskara menatapnya dengan mata merah. "Aku tidak takut."

"Kalau begitu sebut namanya."

Sebelum Baskara menjawab, pintu terbuka. Maya berdiri di sana, wajahnya pucat tetapi suaranya tetap lembut.

"Alya, cukup. Ayahmu lelah."

Alya menoleh. "Tante tahu?"

Maya terdiam.

Detik itu cukup.

Alya tersenyum tanpa kehangatan. "Tentu saja Tante tahu."

Maya masuk dan menutup pintu. "Kamu sedang dipermainkan orang. Ada yang ingin membuatmu membenci keluarga."

"Aku tidak butuh bantuan orang lain untuk itu."

Maya menggenggam tangan. "Nadira punya banyak rahasia. Tidak semua yang terlihat baik benar-benar baik."

Baskara membentak, "Maya!"

Alya menatap keduanya bergantian. "Rahasia apa?"

Maya tampak menyesal, tetapi tidak sepenuhnya. Seolah ia memang ingin menanam racun, hanya pura-pura tidak sengaja.

"Tanya Eyangmu," kata Maya. "Dia pasti tahu lebih banyak daripada kami."

Nama Eyang membuat Alya membeku.

Baskara berkata, "Jangan bawa Bu Laras."

Maya tersenyum pahit. "Kenapa? Bukankah selama ini semua orang menganggap dia paling suci?"

Alya melangkah mendekat. "Hati-hati kalau menyebut Eyang."

Maya menatapnya. "Lihat? Kamu selalu begitu. Kamu percaya penuh pada orang yang membesarkanmu, tapi kamu tidak pernah berpikir kenapa dia membawamu jauh dari Jakarta."

Rafi muncul di pintu, matanya dingin. "Alya."

Ada sesuatu.

Alya langsung menoleh.

"Telepon dari Kaliurang," kata Rafi.

Dada Alya menegang.

Ia keluar dari ruang kerja dan menerima ponsel. Suara dari seberang adalah tetangga Eyang, Bu Sulastri, panik.

"Alya, Eyangmu jatuh di teras. Sekarang dibawa ke klinik."

Dunia seperti berhenti sesaat.

"Sadar?"

"Sadar, tapi lemas. Katanya dadanya sesak."

Alya menutup mata. "Aku berangkat sekarang."

Baskara keluar dari ruang kerja. "Apa yang terjadi?"

"Eyang sakit."

Maya tampak terkejut, tetapi di wajahnya juga ada sesuatu yang Alya tidak suka.

Baskara berkata, "Kirim dokter. Kamu tidak perlu pergi malam-malam."

Alya menatapnya. "Eyang yang membesarkanku sedang sakit. Aku pergi."

"Besok ada rapat keluarga soal Santoso."

"Batalkan."

"Tidak bisa."

"Kalau begitu lakukan tanpa aku."

Baskara berkata keras, "Masalah Santoso belum selesai. Mereka menuntut kepastian. Kalau kamu pergi sekarang, mereka akan menganggap kamu lari."

Alya tertawa pelan. "Eyang sakit, dan Papa masih memikirkan Santoso."

Baskara terdiam.

Raka datang tepat saat itu, masih membawa tas kerja. "Aku antar."

"Tidak perlu. Mas urus kantor."

"Aku antar," ulang Raka. "Kantor bisa menunggu."

Alya ingin menolak, tetapi wajah Raka membuatnya berhenti. Ini bukan rasa bersalah kosong. Ini pilihan.

"Baik."

Mereka berangkat malam itu juga. Rafi mengemudi, Raka duduk depan, Alya di belakang dengan laptop terbuka. Sepanjang perjalanan, ia memeriksa laporan medis awal dari klinik. Tekanan darah Eyang turun, detak jantung tidak stabil, tetapi tidak ada tanda serangan jantung besar.

Ada kemungkinan obat.

Alya meminta tim Rafi mengambil sampel makanan, minuman, dan obat harian Eyang.

Raka menoleh. "Kamu curiga ada yang membuat Eyang sakit?"

"Aku tidak percaya kebetulan."

"Alya..."

"Orang yang mengirim foto Eyang, lalu foto makam Mama, tahu titik lemahku. Sekarang Eyang jatuh. Mas mau aku percaya ini kebetulan?"

Raka tidak bisa menjawab.

Mereka tiba di Kaliurang menjelang subuh. Klinik kecil itu dingin dan sepi. Eyang Laras berbaring di ranjang, wajahnya pucat tetapi matanya langsung terbuka saat Alya masuk.

"Kamu datang," bisiknya.

Alya menggenggam tangannya. "Eyang pikir aku tidak datang?"

Eyang tersenyum lemah. "Aku pikir kamu sedang sibuk membuat orang Jakarta menangis."

Hidung Alya panas.

Namun ia tidak menangis. Belum.

Ia memeriksa nadi Eyang, melihat mata, mencium aroma obat di gelas samping ranjang. Ada bau pahit yang tidak seharusnya ada.

"Siapa yang memberi Eyang minum terakhir?"

Bu Sulastri menjawab, "Ada orang dari Jakarta datang sore tadi. Katanya kiriman dari keluarga. Membawa vitamin."

Alya menatap Rafi.

Rafi langsung keluar.

Eyang menggenggam tangan Alya lebih kuat. "Jangan gegabah."

"Aku tidak gegabah."

"Wajahmu bilang sebaliknya."

Alya menunduk. "Eyang, Mama dulu... apa benar kematiannya bukan hanya karena melahirkanku?"

Eyang Laras terdiam.

Keheningan itu lebih mengerikan daripada jawaban apa pun.

Alya merasakan darahnya menjadi dingin.

Eyang menutup mata. "Belum waktunya."

"Kapan waktunya?"

"Saat kamu bisa membedakan antara membalas dendam dan mencari kebenaran."

Alya menggenggam tangan Eyang.

Di luar, azan subuh terdengar dari masjid kecil dekat klinik.

Dan untuk pertama kalinya sejak kembali hidup, Alya merasa masa lalu ibunya mungkin jauh lebih gelap daripada yang ia siapkan.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!