Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Batas Aman & Cemburu
Setelah puas menjalani serangkaian agenda studi banding, anak-anak SMK diarahkan ke lobi kafetaria yang seketika menjelma menjadi lautan manusia penuh sesak.
Berbekal selembar voucher gratis dari sekolah, mereka berbaris rapi di depan deretan stand foodcourt sambil sesekali mencuri pandang ke arah para mahasiswa berpakaian bebas yang menanggapi "invasi" berseragam itu dengan senyum maklum.
"Gue nggak nyangka kakak lo jadi pembimbing studi banding kita, Nuh," ujar Sifa di sela-selanya mengunyah bakso. "Kakak lo itu keren tauk. Cerdas banget kalau udah bicara di depan umum. Tapi kalau lagi diam ... Beehh aslinya sangar juga kayak lo. Tipe-tipe orang yang takut dideketin, tapi sebenarnya hati ini pengin banget cari perhatian, bla bla bla ..."
"Tapi dia galak," potong Nuha telak, enggan sahabatnya terlalu memuja sang kakak.
"Siapa yang kamu sebut galak, hm?"
Suara berat yang tiba-tiba menginterupsi itu disusul dengan sensasi dingin minuman kaleng yang mendadak ditempelkan ke pipi Nuha.
"Uwa!!"
Nuha terjengkit kaget dari kursinya.
Mata Sifa mendadak berbinar terlope-lope. Fani pun tak jauh berbeda, ia ikut salah tingkah saking terpesona oleh aura karismatik pria dewasa di hadapan mereka.
Apalagi, Muha tidak datang sendiri. Di sebelahnya berdiri seorang sahabatnya. Yuki Akasia, pria berkacamata bulat yang sekilas tampak culun namun sebenarnya sangat menawan. Kehadiran cowok berkacamata itu bahkan sukses membuat pipi Asa bersemu merah tanpa permisi.
Keriuhan di meja Nuha tak pelak mencuri perhatian komplotan Dilan yang berada di seberang ruangan. Sebuah sudut premium yang tenang, teduh, dan dihiasi deretan kursi busa panjang berornamen tanaman hijau artifisial.
Di sana, sepasang netra Naru seolah terkunci. Ia tidak pernah benar-benar melepaskan pandangannya dari Nuha.
Sungguh sebuah ironi yang rumit. Setiap kali Nuha balas menatap ke arahnya, Naru akan buru-buru memasang ekspresi dingin, datar, dan tak acuh demi menjaga jarak aman. Namun, begitu Nuha memalingkan muka, tatapan dingin itu seketika melunak, menjelma menjadi sorot fokus yang begitu intens dan protektif.
Dan disaat bersama Dilan, Naru harus tetap bersikap dingin dan tak tersentuh agar tak satu pun orang mencurigai bahwa ia menyimpan ketertarikan, apalagi perasaan khusus, terhadap Nuha. Fokus utamanya saat ini adalah menghancurkan Dilan dan menghentikan segala tingkah gilanya.
Di sebelahnya, Dilan menyeringai sinis sembari menatap ke arah meja Nuha. "Jadi, itu kakaknya?" gumamnya, mengingat kembali balasan SMS bernada ancaman yang sempat ia terima tempo hari.
"Nikmati saja dulu kebahagiaan kalian, kuartet Multimedia. Tapi sekarang, target gue cuma satu. Gue harus bisa naklukin si cewek culun itu. Cuma karena lo nolak gue kemarin, bukan berarti gue bakal nyerah gitu saja, sekalipun gue gagal jadi ketua OSIS."
Mendengar ambisi picik itu, jemari Naru di sisi paha mengepal erat. "Lo jangan pernah coba-coba, Dilan," batin Naru memperingatkan dengan dingin.
"Kesempatan kedua yang diberikan pihak sekolah untukmu itu semata-mata karena aku yang memintanya. Jika lo masih bermain licik, apalagi sampai berani menyentuh Nuhaku, gue sendiri yang akan menghancurkan seluruh hidup lo."
Ia mencoba memperingatkan Dilan dengan nada ramah, "Sebaiknya lo fokus memperbaiki diri dulu, deh. Kalau lo kembali bikin gara-gara dengan menyerang cewek lemah, gue nggak yakin reputasi lo yang sudah sekarat itu bisa diselamatkan lagi."
"Cih, gue tahu apa yang gue lakuin," sahut Dilan defensif, tipikal pembelaan dari seseorang yang selalu merasa superior dan tak tersentuh hukum.
Pembicaraan mereka terputus begitu saja saat beberapa siswi dari jurusan lain datang mengerubungi meja. Namun, alih-alih membagi perhatian, rombongan siswi itu mengabaikan Dilan dan langsung memedulikan Naru. Penolakan secara tidak langsung itu seketika memantik api cemburu yang membakar ego Dilan.
"Kamu siswa baru itu ya yang lagi dibicarain banyak orang. Boleh nggak kami pinjam catatanmu tentang kegiatan hari ini? Aku tadi terlalu fokus mengambil gambar, nih," ujar salah satu siswi dari kelas TKJ2 dengan nada manja yang kentara.
"Oh iya, boleh minta foto bareng nggak?" timpal siswi yang lain penuh harap. "Kami dari anak-anak Multimedia suka banget sama kamu. Kamu bener-bener asli dari Jepang?"
Naru memang bukan tipikal orang dingin yang cuek. Ia justru mengulas senyum tipis, tapi sebuah keramahan palsu yang dirancang khusus untuk mengalihkan situasi sekaligus merendah.
"Aaah, maaf ... sepertinya saya orangnya terlalu pemalu," sahut Naru pelan. "Saya justru harus banyak belajar dari Dilan supaya bisa luwes berteman dengan kalian."
Sebuah taktik yang cerdas. Naru sengaja melempar umpan itu semata-mata untuk memompa kembali ego Dilan yang sempat mengempis. Mendengar namanya disebut, Dilan langsung mengangkat dagunya tinggi-tinggi, merasa di atas angin.
Namun, reaksi para siswi itu justru di luar dugaan. Mereka spontan memasang ekspresi ilfil.
"Hoek! Males banget," cibir salah satu dari mereka tanpa menyaring ucapan. "Sekarang dia itu sudah jadi cowok sampah di satu sekolahan kita, kamu tahu nggak? Pesonanya sudah digeser total sama kamu, Mas Naru. Ayolah, foto dong, boleh ya?"
Dilan mengepalkan tangan, geram setengah mati oleh drama di depannya. Harga dirinya benar-benar sudah hancur lebur layaknya lumpur kotor. Naru menyadari pergolakan emosi itu. Membumbungkan nama Dilan agar kembali menjadi cowok populer sebenarnya sama sekali tidak menguntungkan baginya, namun ia butuh Dilan tetap merasa memegang kendali agar rencananya tidak berantakan.
"Kalian bersama Dilan saja, ya," ujar Naru tenang seraya meraih ponselnya. "Dia jauh lebih mengerti rangkaian kegiatan tadi daripada saya. Sepertinya saya harus menerima telepon penting dulu."
Naru beranjak dari kursinya, memberikan senyum perpisahan yang sopan sebelum melangkah menjauh.
Para siswi itu kompak cemberut kecewa. Namun, karena tidak mau kehilangan momentum di spot premium tersebut, mereka terpaksa memutar tubuh dan kembali menempel pada Dilan, yang kini berusaha keras menyembunyikan senyum masamnya.
Melihat drama di seberang ruangan, Nuha menggembungkan pipinya kesal. Sangat kesal. "Cowok brengsek. Aku nggak bakal jaim lagi sama kamu! Aku juga nggak sudi caper lagi!" Batinnya mengumpat begitu menggebu-gebu, hampir saja terlontar dari mulutnya. Dengan gusar, Nuha langsung melipat tangan di depan dada.
Seolah instingnya menangkap radar kekesalan gadis itu, Naru yang tak pernah lepas pandangan malah terkekeh geli di dalam hati melihat ekspresi menggemaskan tersebut.
"Bermain-main dengan anak sekolahan ternyata seasyik ini," batinnya tenang. "Tapi, tenang saja, Nuha. Hatiku tetap milikmu. Dilan sedang di bawah kendaliku kok. Kamu nggak perlu takut jika Dilan tidak dihukum sekolah, karena akulah yang bakal menghukumnya sendiri."
Asa yang menyadari gelagat aneh sahabatnya langsung mengernyit. "Lo kenapa, Nuh? Tiba-tiba cemberut begitu."
Sifa lebih dulu menimpali sembari menyeruput es tehnya. "Komplotan Dilan sepertinya punya anggota baru," sahutnya santai. Tentu saja, sebagai pusat informasi berjalan, tidak ada berita yang luput dari telinganya.
"Tapi dia kayaknya sama-sama sampah seperti cunguk itu. Oke, gue akui gue sempat terpesona. Tapi kalau dia sebrengsek Dilan, gue juga ogah. Ya kan, Nuha?"
"Dia nggak begitu!"
Nuha langsung membela tanpa aba-aba.
Sanggahan spontan itu sukses membuat ketiga sahabatnya tersentak kaget, sementara sepasang mata tajam kakaknya langsung menyipit menyelidik. Menyadari dirinya terlalu impulsif dan teringat fakta bahwa Naru memang sedang bersekongkol dengan Dilan, Nuha buru-buru meralat ucapannya dengan gugup.
"A-ah, maksudku ... iya, benar. Kita ... kita nggak usah terlibat lagi dengan mereka. Aku kecapekan sampe bolos satu minggu, hehe ... Hehe ..." Bohongnya, padahal itu juga karna Nuha terus mikirin Naru.
"Nah, gitu dong," sahut Sifa sambil menjentikkan jarinya setuju. Ia sendiri sudah malas berdrama dengan Dilan. Lagi pula, posisi Ketua OSIS kini sudah aman di tangannya. Kuasanya jauh lebih besar daripada sekadar menjadi penggemar fanatik yang mengemis perhatian.
Muha hanya diam mengamati. "Kakak senang kamu punya sahabat baik, Nuha. Tapi, Kakak sudah pernah berpesan untuk tidak menjalin hubungan terlalu erat dengan orang lain. Apalagi melibatkan perasaan, semoga kamu ingat itu," batinnya sendu.
Muha hanya tidak ingin adiknya kembali hancur. Kondisi Nuha yang nyaris pingsan tadi menjadi sinyal kuat bahwa ada sesuatu yang sedang membebani pikirannya. Ia tidak mau Nuha kembali terjatuh ke lubang kegelapan yang sama seperti saat mendiang ayah mereka berpulang.
Kala itu, Nuha benar-benar drop. Mengurung diri berminggu-minggu tanpa mau makan ataupun bicara. Nilai ujian SMP-nya jeblok drastis, bahkan ia sempat menolak lanjut sekolah. Beruntung, Muha mampu memotivasinya untuk bangkit, meskipun sisa trauma itu masih jelas terlihat saat tes pendaftaran sekolah lalu.
Next》Bab 21. Kapan-kapan lagi 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.