NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pasar malam mulai sepi.

Pedagang sate sudah membungkus arangnya. Gerobak bakso didorong pulang. Hanya sisa-sisa pengunjung yang masih berkeliaran, mencari tempat makan terakhir sebelum jalan gelap total. Lampu neon kuning di ujung lorong pasar berkedip pelan, seperti napas orang tua yang lelah.

Raka dan Laras berjalan di sisi paling luar keramaian. Jarak mereka dengan rumah gubuk masih dua kilometer, tapi langkah keduanya sama-sama hati-hati. Tas belanja di tangan Laras tidak lagi hanya berisi beras dan garam. Di dalamnya, terselip sebuah gulungan kertas tipis yang tadi diam-diam diambil dari balik tumpukan kain lap di warung Bu Siti. Bukan barang curian. Barang yang ditinggalkan.

Laras tidak bertanya kenapa Raka mengambilnya. Raka juga tidak menjelaskan. Mereka berdua tahu: benda itu terkait dengan simbol △404. Dan siapa pun yang meninggalkannya di sana, pasti sedang mengawasi.

"Kau yakin dia tidak mengikuti?" bisik Laras. Suaranya hampir tak terdengar di antara dengungan generator jarak jauh.

Raka tidak menjawab. Dia hanya menoleh ke belakang. Matanya menyapu setiap bayangan, setiap celah antara gerobak dan tembok. Tidak ada sosok wanita itu. Tapi udara di sekitarnya terasa... berbeda. Lebih dingin. Lebih berat. Seperti ada tekanan halus yang menempel di tengkuknya.

Dia mengangguk sekali. Singkat. Tegas.

Laras menerima isyarat itu. Dia tidak mendesak. Tidak meminta penjelasan panjang lebar. Cukup tahu bahwa Raka waspada, dan itu sudah cukup buatnya tenang.

Mereka berbelok ke gang sempit yang menghubungkan pasar dengan permukiman warga. Gang ini tidak diterangi lampu jalan. Hanya cahaya rembulan yang masuk lewat sela-sela atap genteng. Langkah kaki mereka nyaris tanpa suara. Latihan bertahun-tahun di hutan membuat gerakan mereka senyap, bahkan di atas tanah berkerikil.

Tiba-tiba, Raka berhenti.

Tangannya terangkat. Telunjuknya menunjuk ke arah sebuah warung kopi tutup di sudut gang. Pintunya setengah terbuka. Di dalamnya, tidak ada orang. Tapi di atas meja kayu yang penuh noda teh, terdapat sebuah cangkir. Masih mengepul. Uap putih tipis naik perlahan, membentuk pola yang samar-samar mirip segitiga.

△404.

Laras melihatnya. Matanya menyipit. Dia tidak mendekat. Tidak menyentuh. Hanya mengamati dari jarak tiga meter. Posturnya tegak. Napasnya teratur. Tidak ada tanda panik. Tidak ada rasa penasaran yang berlebihan. Hanya kewaspadaan murni.

Raka melangkah maju perlahan. Setiap ototnya siap bergerak. Tangannya tidak menyentuh sabuk. Tidak memegang senjata. Tapi seluruh indranya terbuka lebar. Dia merasakan getaran artefak di pinggulnya berubah. Dari tarikan pasif menjadi... resonansi. Halus. Stabil. Seperti dua garpu tala yang bergetar pada frekuensi sama.

Wanita itu pernah berada di sini. Baru saja. Mungkin kurang dari lima menit lalu.

Dan dia sengaja meninggalkan jejak ini. Bukan sebagai ancaman. Bukan sebagai tantangan. Tapi sebagai konfirmasi. Bahwa dia tahu Raka akan lewat. Bahwa dia tahu Raka akan melihat. Bahwa dia tahu Raka akan mengerti.

Raka menatap cangkir itu selama tiga detik. Lalu berbalik. Tanpa mengambilnya. Tanpa memeriksa isinya. Tanpa meninggalkan pesan balasan.

Dia hanya mengangguk lagi ke arah Laras. Kali ini, lebih lambat. Lebih berat.

Laras memahami. Dia tidak bertanya "apa artinya?". Tidak bilang "haruskah kita lari?". Tidak menunjukkan ketakutan atau kegembiraan. Dia hanya menyesuaikan langkahnya. Lebih rapat ke samping Raka. Tangan kanannya turun ke saku celana. Bukan untuk mengeluarkan senjata. Tapi untuk memastikan posisi tas belanja tetap aman. Tetap terkendali. Tetap siap digunakan sebagai alat jika diperlukan.

Mereka melanjutkan perjalanan. Keheningan di antara mereka bukan keheningan kosong. Itu adalah keheningan yang dipenuhi pemahaman. Dua orang yang telah bertarung bersama, bertahan hidup bersama, dan sekarang... menghadapi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Di belakang mereka, uap dari cangkir kopi perlahan menghilang. Lampu neon di ujung gang berkedip sekali. Lalu padam total.

Gelap menyelimuti gang itu. Tapi Raka dan Laras tidak berhenti. Tidak berlari. Tidak panik.

Mereka hanya berjalan. Lebih cepat. Lebih senyap. Lebih waspada.

Karena mereka tahu: wanita itu tidak mengejar.

Dia hanya menunggu.

Dan menunggu, bagi seseorang yang mengenal simbol △404, adalah bentuk kesabaran yang paling mematikan.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!