Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19 Numpang gabung?
Langkah kaki Angel terdengar mendekat dan langsung berhenti di samping kursi Lylac. Bau parfumnya yang manis menyengat langsung tercium. Ini merusak ketenangan di pojok perpustakaan.
Angel melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap tajam, bergantian melihat Evan dan Lylac yang duduk hadap-hadapan. "Aku cari ke kelas ternyata kamu di sini, Evan. Dan... satu meja sama dia?" tanya Angel sengaja pakai nada menyindir.
Riri langsung kaku di tempat duduknya, sementara Nuno menaruh pulpennya. Cowok ini mencoba tersenyum ramah. Dia berusaha mencairkan suasana biar petugas perpus tidak menegur mereka. "Eh, Angel. Kita lagi ngerjain tugas sosiologi. Kebetulan tempat lain penuh, jadi numpang gabung di sini."
Angel gak peduli sama omongan Nuno. Pandangannya masih tertuju sinis ke Lylac yang bahkan gak mendongak sama sekali. "Numpang gabung atau sengaja cari kesempatan?" sindir Angel halus tapi nusuk. Itu untuk Lylac.
Mika yang sejak tadi melayang di depan wajah Lylac langsung menegakkan tubuh. Hantu cantik itu melesat ke belakang punggung Angel, terus berkacak pinggang sambil mengejek Angel. "Ih, sirik aja si lampir! Datang-datang langsung ngerusak pemandangan!" gerutu Mika berisik di telinga Lylac.
"Kamu ngapain?" tegur Evan tenang. Mendengar Angel menyerang Lylac.
Lylac menghela napas pendek dalam hati. Dia gak peduli sama tuduhan Angel, toh bukan dia yang minta Evan buat duduk di sana. Lagian, males banget harus adu mulut di tempat umum begini. Cuma buang-buang energi yang harusnya dia simpan buat kerja nanti malam.
"Aku cariin kamu. Mau kerjain tugas sosiologi bareng," jawab Angel langsung dengan nada bersahabat. Berbeda ketika melihat Lylac tadi.
"Kita kan enggak satu kelompok," kata Evan.
Mata Angel melirik Lylac. "Dia juga enggak." Terang-terangan Angel menunjuk Lylac.
"Dia sudah ada sejak tadi disini sebelum aku datang. Aku yang numpang. Kalau kamu kan sengaja cariin aku, buat apa? Bukan satu kelompok juga." Evan tetap memperlakukan Angel baik karena mereka teman dari kecil.
Angel menghela napas. Dia diam meredam amarahnya.
Dengan gerakan yang sangat tenang, Lylac menutup bindernya. Tanpa banyak kata dia membereskan peralatannya.
"Ayo, Ri kembali ke kelas. Sepertinya kita sudah selesai," ucap Lylac datar. Suaranya terdengar datar dan biasa saja. Seperti tidak terpengaruh sama sekali oleh tatapan galak Angel.
Evan mendongak. Melihat Lylac dengan lama. Dia paham kalau cewek ini terganggu.
Riri mengerjap, lalu dengan cepat ikut membereskan barang-barangnya. "Ah... iya, yuk, Ly. Kebetulan catatanku juga sudah lengkap."
Tindakan Lylac yang langsung beres-beres membuat Angel melongo. Wajah cewek itu berubah agak merah karena merasa dikacangin total di depan Nuno dan Evan.
Sebelum Angel sempat ngomong apa-apa lagi, Lylac sudah melangkah melewatinya begitu saja.
Bola mata Evan bergerak lurus. Melihat punggung Lylac yang berjalan menjauh meninggalkan perpustakaan dengan santai. Cowok cool itu tersenyum tipis sekilas. Merasa cewek itu benar-benar unik karena sama sekali tidak mempan untuk digertak.
Angel mengembuskan napas panjang dengan anggun. Lalu duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Lylac. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan senyum tipis yang dipaksakan. Berusaha mengontrol emosinya agar tetap terlihat elegan.
"Van, aku tuh cuma khawatir sama kamu," ucap Angel dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut. Seolah dia adalah pihak yang paling terluka. "Reputasi kamu bisa jelek kalau anak-anak lain lihat kamu satu meja sama cewek aneh kayak dia. Kamu tahu sendiri kan gosip tentang Lylac di sekolah?"
Nuno yang sejak tadi menyimak langsung paham situasi. Dia tahu betul tabiat Angel yang suka mengontrol, dan dia tidak ingin terjebak di dalam drama sepasang teman masa kecil ini. Dengan tenang, Nuno memasukkan buku sosiologinya ke dalam tas.
"EVan, aku duluan ya. Mau ke toilet sebentar sekalian balik ke kelas," pamit Nuno.
"Bareng. Angel sudah tidak ada urusan lagi denganku," kata Evan mengejutkan. Nuno mengangguk. "Lain kali enggak usah cari aku kalau hanya mau ngerjain anak lain."
Angel tertegun. Dia tidak menduga kalau Evan menyalahkannya.
"Tapi aku peduli sama kamu, Van! Dari dulu kan kita selalu ..."
Kringgg!
Bel penanda jam pelajaran berikutnya berbunyi nyaring, memotong kalimat Angel seketika dan menaikkan tensi di antara mereka.
Evan tidak berniat melanjutkan obrolan yang melelahkan ini. Tanpa sepatah kata pun, dia langsung menutup bukunya dengan cepat, berdiri, dan menyampirkan tasnya ke bahu. "Bel udah bunyi. Balik kelas, gih. Aku duluan," ucap Evan pendek, lalu melangkah lebar meninggalkan perpustakaan menuju kelas.
Angel yang ditinggal sendirian mendengus sebal. Napasnya memburu menahan kesal. Matanya menatap tajam ke arah pintu keluar, dan di dalam kepalanya, rasa geramnya kepada Lylac kini sudah benar-benar memuncak.
***
Di koridor sebelum bel bunyi.
Riri langsung memegangi dadanya dan mengembuskan napas lega yang amat panjang. Bahunya yang tadinya tegang seketika merosot.
"Sumpah, Ly. Tadi itu beneran menegangkan banget," seru Riri setengah berbisik sambil menyamakan langkah kakinya dengan Lylac di koridor. "Aku udah mikir bakal ada perang dunia ketiga di perpus. Tapi kamu hebat banget, kok bisa sih sesantai itu nyuekin Angel? Mental kamu baja banget!"
Lylac melirik Riri sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan dengan ekspresi lempengnya yang biasa. "Gak ada gunanya diladeni, Ri. Cuma buang-buang waktu," jawab Lylac santai. "Lagian materi kita udah lengkap. Mending cepat balik kelas biar bisa beres-beres. Aku gak mau pulang telat karena nanti malam harus kerja."
"Iya sih, bener juga. Tapi tetep aja aku merinding lihat tatapan Angel tadi," gumam Riri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di sebelah kiri Lylac, Mika melayang naik-turun dengan heboh. Rambut hantu cantik itu berkibar-kibar di udara karena saking semangatnya. Dia terus mengekor sambil menatap Lylac dengan mata berbinar-binar penuh kegemasan.
"Kyaaa! Lylac! Kamu denger sendiri kan tadi?!" pekik Mika histeris. Meskipun suaranya Mika hanya bergema di kepala Lylac. "Evan tadi belain kamu di depan Angel! Dia bilang kamu udah di sana duluan dan dia yang numpang duduk! Ih, meleleh gak sih? Cowok se-cool Evan loh yang ngomong begitu!"
Lylac pura-pura tuli. Dia terus berjalan menyusuri koridor yang mulai sepi karena anak-anak lain sudah masuk ke kelas masing-masing.
"Ih, Ly! Merespons kek sedikit! Kamu mah beneran kayak batu ya!" gerutu Mika sambil melipat tangan di dada, lalu melayang telungkup di udara tepat di samping wajah Lylac. "Padahal Evan itu kelihatan tulus banget tahu pas belain kamu. Dia bahkan berani tegas sama pawangnya demi cewek unik kayak kamu. Ah, aku yang hantu aja baper, masa kamu enggak?"
Lylac hanya mendeham sangat tipis. Hampir tidak terdengar. Membuat Mika mengerucutkan bibirnya sebal karena lagi-lagi dikacangin total. Bagi Lylac, pembelaan Evan atau kemarahan Angel sama sekali gak penting untuk dipikirkan. Yang ada di otaknya saat ini cuma bagaimana caranya agar shift kerjanya nanti malam berjalan lancar tanpa hambatan.