NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:450
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kembali ke Masa SMA

Hujan deras mengguyur jalanan kota Surabaya sore itu, memantulkan cahaya lampu jalan yang berwarna kekuningan ke aspal yang basah dan licin. Di dalam sebuah taksi yang melaju pelan, duduklah seorang pria berusia 34 tahun. Namanya adalah Dika Pratama. Wajahnya terlihat lelah, ada guratan-guratan halus di sudut matanya yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya yang penuh liku. Di tangannya, ia memegang erat sebuah ponsel layar datar yang menampilkan berita olahraga terkini: “Timnas Indonesia Melaju ke Babak Semifinal Piala Dunia 2026”.

Dika tersenyum tipis, namun senyum itu terasa getir dan pahit. Ia merasa bangga sebagai warga negara, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa sakit yang tak pernah benar-benar hilang selama belasan tahun terakhir. Rasa itu bernama penyesalan.

"Pak, mau berhenti di mana lagi ya? Tadi bapak bilang mau ke alamat lama?" tanya sopir taksi memecah lamunan Dika. Suaranya agak keras karena tertutup suara hujan dan suara mesin kendaraan.

Dika mengangguk pelan, menatap keluar jendela kaca yang berkabut. "Iya, Pak. Ke kompleks perumahan lama saya di sebelah timur SMA Merdeka. Rumah nomor tujuh di ujung jalan."

"Sekian tahun yang lalu saya tinggal di sana," tambah Dika pelan, lebih berbicara pada dirinya sendiri daripada menjawab sopir.

Dika adalah seorang pekerja kantoran biasa. Ia bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan swasta. Hidupnya mapan, cukup untuk makan dan menabung, namun sangat jauh dari apa yang pernah ia impikan saat masih muda. Dulu, saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, Dika memiliki bakat luar biasa dalam sepak bola. Temannya sering bilang, kakinya ajaib, pandai mengatur tempo permainan, punya visi yang jauh ke depan, dan tendangan bebasnya sulit dihentikan kiper manapun.

Namun, karena ketidakpercayaan diri, rasa malas, terlalu sering bermain-main, dan salah mengambil keputusan, ia melepaskan semua kesempatan emas itu. Ia memilih jalan yang mudah: mengikuti arus teman-temannya yang lebih suka nongkrong, pacaran, dan menganggap sepak bola hanya sekadar hobi biasa. Akibatnya, beasiswa akademik yang didapatnya membuat ia melupakan lapangan hijau, dan bakatnya yang seharusnya bisa bersinar, perlahan meredup hingga hilang ditelan waktu.

Sekarang, di usia 34 tahun, saat melihat sepak bola Indonesia berkembang pesat dan pemain-pemain muda berusia 20-an tahun berlari di panggung dunia, dada Dika terasa sesak. Andai saja... andai saja aku lebih serius dulu. Andai aku tidak menyia-nyiakan waktu muda.

Tiba-tiba, suara petir menyambar sangat keras, membuat langit seolah terbelah dua. Cahaya kilat yang menyilaukan masuk ke dalam taksi, menerangi seluruh kabin kendaraan itu. Saat itulah, mobil di depan mereka tiba-tiba mengerem mendadak. Sopir taksi berteriak kaget, memutar setir ke kiri sekuat tenaga untuk menghindar, namun jalanan yang licin membuat kendaraan itu kehilangan kendali.

"Bapak pegang kencang!" teriak sopir itu.

Dika hanya sempat menutup matanya dan merasakan tubuhnya terlempar ke depan, kepalanya menghantam sesuatu yang keras. Bunyi benturan besi yang mengerikan terdengar, lalu semuanya menjadi gelap. Sunyi. Hanya ada kegelapan total yang menyelimuti kesadarannya.

 

Saat Dika perlahan membuka matanya, ia merasa kepalanya berdenyut hebat, namun udara yang ia hirup terasa jauh lebih segar dan bersih dibandingkan udara kota yang biasanya penuh polusi. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela.

Ini bukan rumah sakit. Dan ini bukan taksi tadi malam.

Dika mendudukkan dirinya secara perlahan. Ia melihat sekeliling ruangan. Dinding kamarnya berwarna biru muda yang agak kusam, ada papan tulis putih kecil yang menempel di dinding penuh dengan tulisan-tulisan jadul, serta rak buku kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Di sudut ruangan, ada tas sekolah berwarna biru tua dengan logo SMA Merdeka yang tercetak tegas di bagian depannya. Di atas meja belajar, tumpukan buku-buku tebal bersampul putih dan biru terlihat rapi, lengkap dengan buku tulis dan pena pulpen merek lama yang sudah jarang ia lihat di pasaran sekarang.

"Ini... kamar saya yang lama?" gumam Dika, suaranya parau dan bingung.

Ia meraba wajah dan tubuhnya sendiri. Tangannya terasa halus, tidak ada kerutan atau kasar akibat pekerjaan kantoran. Ia langsung melompat turun dari kasur dan berlari menuju cermin besar yang tergantung di pintu lemari.

Di pantulan cermin itu, bukan wajah pria berusia 34 tahun yang lelah dan mulai beruban yang dilihatnya. Yang menatap balik adalah wajah seorang remaja laki-laki berusia 16 atau 17 tahun, kulit bersih, rambut hitam lurus sedikit acak-acakan karena baru bangun tidur, dan mata yang berbinar penuh energi. Tubuhnya masih ramping, berotot namun masih dalam masa pertumbuhan—tubuh SMA-nya yang dulu.

Dika gemetar hebat. Ia menoleh ke arah kalender tua yang tergantung di dekat pintu. Angka-angka di sana membuat napasnya tertahan.

Mei 2010

Tanggalnya tepat di angka 31 Mei, sama seperti hari kejadian kecelakaan itu, tapi bedanya... sekarang adalah tahun 2010! Bukan 2026, melainkan 16 tahun yang lalu!

"DIKA! AYO BANGUN, NANTI KETERLAMBAT KE SEKOLAH! KAMU KAN HARI INI ADA PERTANDINGAN UJI COBA ANTAR KELAS, LHO!"

Suara ibu memecah keheningan dari balik pintu kamar, suara yang sangat ia rindukan selama ini. Suara yang di tahun 2026 lalu sudah mulai terdengar lemah karena usia, namun sekarang terdengar lantang, tegas, dan penuh semangat.

Pintu kamar terbuka sedikit, muncul wajah ibunya, Bu Siti, yang masih terlihat sangat muda, wajahnya cerah tanpa banyak kerutan seperti saat ia tua nanti. Ibu menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum ramah namun tetap tegas.

"Kamu ini ya, kalau disuruh bangun susah sekali. Katanya mau jadi pemain bola hebat? Masa pemain bola bangunnya siang begini? Ayo mandi, sarapan sudah disiapkan di meja," kata Ibu sambil menutup pintu kembali, namun masih terdengar gumamannya di luar, "Dasar anak muda, banyak mimpi tapi malas bergerak."

Dika masih terpaku di depan cermin. Air mata mulai menggenang di matanya. Ini bukan mimpi. Rasanya terlalu nyata. Bau masakan ibu yang menguar dari dapur, sinar matahari pagi yang hangat, suara tetangga yang lewat di depan pagar rumah, semuanya persis seperti ingatan masa lalunya.

"Aku... kembali?" bisik Dika, tangannya menyentuh dadanya yang berdegup kencang, "Aku kembali ke masa SMA? Ke tahun 2010?"

Tiba-tiba rasa penyesalan yang selama ini menghantuinya berubah menjadi sesuatu yang lain. Ada rasa panas yang menjalar dari dada ke seluruh tubuhnya, rasa semangat yang meluap-luap. Jika ini benar-benar nyata, jika ia diberi kesempatan kedua untuk hidup di masa lalu, maka ia tidak akan menyia-nyiakannya lagi.

Tujuan hidupnya sudah tertanam kuat sejak lama, namun dulu ia tidak punya keberanian dan visi untuk mengejarnya. Sekarang, dengan pengalaman hidup 16 tahun ke depan yang ada di kepalanya, dengan pengetahuan tentang bagaimana sepak bola berkembang, siapa saja bakat-bakat hebat yang akan muncul, dan apa saja kesalahan taktis maupun teknis yang sering dilakukan pemain Indonesia... Dika punya senjata paling ampuh.

Ia tidak hanya ingin bermain sepak bola. Ia ingin menjadi pemain sepak bola terbaik di dunia. Ia ingin mengangkat nama Indonesia di kancah internasional, mengenakan seragam timnas dengan bangga, dan mengubah sejarah sepak bola negaranya.

Dika mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Senyum lebar penuh tekad mengembang di bibirnya.

"Kali ini... kali ini aku tidak akan gagal, Bu," ucapnya lantang ke arah pintu kamar, matanya berkaca-kaca namun penuh api semangat, "Aku janji, kali ini aku akan membuat kalian semua bangga. Aku akan menebus semuanya."

Dika bergegas mengambil handuk dan baju ganti. Langkah kakinya ringan, seolah beban berat usia 34 tahun yang tadi memikulnya, lenyap seketika digantikan oleh harapan baru yang segar. Di dalam kepalanya, ribuan rencana mulai tersusun rapi. Mulai dari hari ini, hari terakhir bulan Mei tahun 2010, hidup Dika Pratama berubah total.

Saat ia melewati cermin sekali lagi sebelum keluar kamar, ia menatap pantulan dirinya dengan pandangan yang jauh lebih tajam dan dewasa dibandingkan remaja seusianya.

"Tunggu saja dunia... Aku datang."

 

Saat duduk di meja makan, suasana pagi itu terasa sangat hangat dan akrab. Ayahnya, Pak Rudi Pratama, sedang membaca koran pagi dengan kacamata baca yang melorot di ujung hidungnya. Ayah baru saja pensiun dari tentara beberapa tahun lalu, dan meski sudah tidak bertugas, wibawanya masih sangat terasa. Di samping ayah, ada adik perempuannya, Rina, yang saat itu masih berusia 12 tahun, sedang sibuk mengaduk susu cokelatnya dengan ceria.

"Pagi, Yah, Buk, Rin," sapa Dika dengan nada suara yang sangat lembut dan sopan, membuat seluruh anggota keluarga di meja makan menoleh serentak dengan tatapan heran.

Ibu berhenti mengaduk nasi goreng di piring Dika. Ia menatap anak sulungnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Lho, ada apa ini? Tumben sekali anak ibu ini pagi-pagi sudah ramah sekali? Biasanya kalau disapa cuma dijawab 'hm' saja sambil ngunyah," kata Ibu sambil terkekeh, lalu menyodorkan piring penuh nasi goreng spesial ke hadapan Dika.

Ayah mengangkat wajah dari koran, menatap Dika dengan tatapan tajam namun penuh kasih sayang. "Kamu sakit, Le? Atau mau minta uang jajan lebih banyak? Bilang saja, tidak usah pakai gombal-gombalan pagi begini."

Dika tertawa kecil, tawa yang tulus dan bahagia. Ia sangat merindukan momen sederhana seperti ini. Di masa depan, kesibukan membuat ia jarang sekali makan bersama keluarga seperti ini.

"Tidak apa-apa, Yah. Cuma... tadi pas bangun tidur aku merasa bersyukur sekali punya keluarga sehebat kita ini saja," jawab Dika sambil mengambil sendok, matanya berbinar.

Rina, adiknya yang ceria, langsung menyodorkan gelas susunya ke arah Dika. "Kakak aneh deh hari ini! Eh, Kak, nanti kalau Kakak main bola, boleh aku nonton ke sekolah? Katanya hari ini lawan kelas sebelah ya? Kalau Kakak menang, nanti beliin aku es krim ya!"

Dika mengusap kepala Rina dengan sayang. "Boleh, boleh banget. Bukan cuma beli es krim, kalau Kakak hebat nanti, Kakak belikan Rina rumah boneka sebesar rumah kita ini, ya."

Rina bertepuk tangan riang, sementara Ayah dan Ibu saling pandang dengan senyum bahagia namun sedikit bingung melihat perubahan sikap Dika yang drastis dalam semalam.

"Kamu ini ada-ada saja," kata Ayah sambil tersenyum tipis dan kembali ke korannya, namun nada bicaranya terdengar bangga, "Ingat ya, Dika. Boleh kamu suka main bola, asal pelajaranmu jangan sampai ketinggalan. Ayah tidak melarang hobimu, tapi masa depanmu tidak hanya ditentukan oleh sepatu bolamu saja. Pendidikan tetap nomor satu."

Dika mengangguk dengan sangat serius, menatap mata ayahnya lekat-lekat.

"Aku tahu, Yah. Dulu aku mungkin hanya dengar saja, tapi sekarang aku benar-benar paham maksud Ayah. Aku akan lakukan keduanya. Aku akan jaga nilai pelajaran, dan aku akan berjuang mati-matian di lapangan. Aku janji."

Ayah mengerutkan kening sedikit, merasa ada kedewasaan yang berbeda dalam nada bicara anaknya pagi ini, namun ia hanya mengangguk puas. "Bagus kalau begitu. Makan yang banyak, tenaganya harus kuat kalau mau jadi pemain hebat."

Setelah sarapan yang terasa begitu hangat dan penuh canda itu, Dika berpamitan. Ia menggendong tas sekolahnya dan membawa tas olahraga berisi sepatu bola kesayangannya yang sudah agak usang. Saat ia melangkah keluar pagar rumah, udara pagi tahun 2010 menerpa wajahnya. Di jalanan, masih banyak motor bebek yang lewat, ponsel pintar belum mendominasi, dan suasana lingkungan terasa lebih tenang dan bersahabat dibandingkan masa depan yang penuh kesibukan.

Di ujung jalan, sudah terlihat sosok tinggi besar yang sedang berdiri sambil melambaikan tangan ke arahnya. Itu adalah Rio, sahabat karibnya sejak SD hingga lulus SMA. Rio adalah tipe teman yang setia kawan, agak ceroboh, lucu, dan selalu menjadi pendukung nomor satu Dika dalam hal apa pun, terutama sepak bola. Rio adalah bek tengah yang tangguh, badannya besar dan kuat, tapi hatinya lembut seperti kapas.

"Dika! Lama sekali sih ngumpet-ngumpet di dalam rumah! Ayo cepet, nanti kita diomeli Pak Budi lagi kalau telat! Dasar calon bintang lapangan yang bawa-bawa gaya!" seru Rio dengan suara menggelegar khas tenggorokannya yang agak serak.

Dika berlari kecil menghampiri sahabatnya itu. Hati Dika terasa meledak bahagia. Rio... sahabat yang di masa depan akan menjadi rekan bisnisnya dan orang yang selalu ada saat ia susah maupun senang. Melihat Rio muda yang masih segar dan penuh semangat seperti ini, membuat langkah Dika semakin mantap.

"Maaf, maaf! Tadi ngobrol sebentar sama Ayah sama Ibu," jawab Dika sambil menepuk bahu Rio keras-keras.

"Eh, eh, apaan nih? Tumben banget kamu lempar senyum lebar-lebar? Biasanya kalau mau tanding kamu itu selalu tegang, wajahnya masam kayak orang mau ditangkap polisi. Ada kabar gembira apa?" tanya Rio sambil berjalan beriringan dengan Dika menuju sekolah, menyenggol bahu temannya itu dengan bahunya sendiri.

Dika menatap Rio, menatap jalanan yang mulai ramai oleh siswa-siswa lain yang berangkat ke sekolah, lalu menatap langit biru yang cerah tanpa awan sedikit pun.

"Rio, sahabatku," ucap Dika dengan nada serius namun matanya berbinar nakal, "Kamu percaya nggak kalau mulai hari ini, hidup kita bakal berubah total? Kita nggak cuma bakal jadi juara antar kelas, antar sekolah, atau antar kota... tapi kita bakal pergi jauh banget. Sampai ke Eropa, Rio. Sampai ke Piala Dunia."

Rio tertawa terbahak-bahak sambil memukul punggung Dika. "Hahaha! Iya, iya! Gila ya kamu pagi-pagi sudah melamun setinggi langit! Tapi... ya sudahlah, aku ikut saja. Di mana ada kamu, di situ ada aku. Mau ke mana pun, aku temanin. Asal jangan kalau kalah terus ngambek kayak anak kecil ya!"

Dika ikut tertawa, tertawa lepas dan lega. Ia tahu Rio menganggapnya sedang bercanda atau berkhayal, tapi nanti... nanti Rio akan sadar bahwa apa yang dikatakan Dika bukanlah sekadar omong kosong remaja.

Mereka berdua terus berjalan menuju SMA Merdeka, tempat di mana segalanya bermula dulu, dan tempat di mana segalanya akan diperbaiki dan ditulis ulang sekarang. Di dalam hati Dika, satu tekad bulat telah tertanam kokoh: Kali ini aku tidak akan melepaskan bola itu, tidak akan melepaskan kesempatan itu, sampai namaku terukir dalam sejarah sepak bola dunia.

Perjalanan panjang menuju mimpi terbesarnya baru saja dimulai, kembali dari awal, kembali ke masa muda, dengan segudang pengalaman dan keinginan kuat untuk menebus semua penyesalan yang pernah ada.

 

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!