Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C019: Bayangan Masa Lalu
...Selamat Baca...
Pagi itu, sinar matahari musim semi menembus tirai sutra kamar tidur utama di kediaman Alexander Sterling.
Namun, ketenangan pagi itu segera pecah oleh suara shutter kamera yang halus.
"Halo, semuanya! Selamat pagi!"
Suara ceria itu milik Liana. Dia baru saja membuka matanya, rambutnya masih berantakan khas bangun tidur, namun senyumnya sudah merekah lebar.
Di hadapannya, Leo, sang kameramen harian, sedang mengarahkan lensa kamera mirrorless-nya dengan stabil.
"Ini adalah hari pertama dari seri konten baruku: A Day in My Life with Princess Virlan," bisik Liana pada kamera, meski dia tahu Leo juga mendengarnya.
"Hari ini, aku akan mengajak kalian melihat keseharianku di studio baru, mulai dari bangun tidur sampai siap bekerja."
Liana melompat dari tempat tidur, mengenakan piyama sutra berwarna pastel. Dia berjalan menuju kamar mandi sambil tetap berbicara pada kamera yang dipegang Leo di belakangnya.
"Sekarang, waktu untuk perawatan pagi," kata Liana. Dia meletakkan kamera di atas meja rias di dalam kamar mandi, menghadap ke arah wastafel.
Di depan cermin, Liana mulai menggosok gigi. Wajahnya yang asli terlihat jelas di layar, namun saat video ini nanti diedit oleh Ryan,
Area wajahnya akan diberi efek blur atau sensor digital agar identitas aslinya tetap terlindungi. Setelah berkumur, dia membasuh wajahnya dengan air dingin.
"Segar sekali," gumamnya pada kamera. "Sekarang, aku akan mandi dulu. Kameranya akan dimatikan sebentar!"
Leo segera mematikan rekaman dan keluar dari kamar mandi, menutup pintu rapat-rapat.
Dua puluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka kembali. Kamera dinyalakan ulang. Liana muncul dengan mengenakan jubah handuk putih tebal yang mewah.
Di wajahnya, topeng kecantikan berbahan satin tipis dengan motif bunga anggrek hitam sudah terpasang rapi—tanda tangan dari identitas "Putri Bangsawan".
"Waktunya memilih baju!" seru Liana riang. Dia menunjuk ke arah lemari pakaian walk-in closet yang pintunya setengah terbuka.
"Tapi karena aku masih harus ganti baju di balik sana, biarkan Leo yang menemani kalian dulu, Leo, ambil alih!"
Liana menghilang ke balik sekat tinggi di dalam lemari tersebut. Leo, dengan sigap, memutar kamera menjauh dari sekat dan mulai berkeliling di area walk-in closet yang luas itu.
"Halo, teman-teman semua," sapa Leo dengan nada santai dan akrab, seolah-olah dia sedang mengobrol dengan sahabat lama.
"Jadi, Nona sedang bersiap-siap. Sambil menunggu, izinkan saya menunjukkan sedikit 'kerajaan kecil' Nona di sini."
Leo mengarahkan lensa ke deretan rak dan gantungan baju yang membentang luas. "Seperti yang bisa kalian lihat, ruangan ini sangat besar. Tapi perhatikan baik-baik... banyak sekali ruang kosong, kan?"
Kamera menyorot beberapa bagian rak yang masih polos tanpa pakaian.
"Nona sebenarnya baru saja pindah ke tempat tinggal baru ini bersama... eh, maksud saya, baru saja memulai babak baru hidupnya," lanjut Leo dengan senyuman nakal.
"Awalnya, Nona menolak keras ketika 'Pak Bos' menawarkan untuk membelikan seluruh isi lemari ini."
Leo tertawa kecil, mendekatkan kamera ke sebuah rak kosong.
"Bisa dibayangkan betapa sengitnya perdebatan mereka? Nona bilang, 'Aku tidak butuh banyak baju.' Dan Pak Bos menjawab, 'Ratuku tidak boleh memakai barang bekas pikiran orang lain.'"
"Akhirnya, setelah berdebat hampir satu jam, Pak Bos mengalah dengan syarat Nona harus memilih sendiri desainnya."
"Makanya, meski terlihat masih banyak ruang kosong, beberapa koleksi yang sudah ada di sini adalah pilihan pribadi Nona yang sangat spesial."
Leo melanjutkan perjalanannya, menunjukkan beberapa gaun elegan dan blazer chic yang sudah tersusun rapi.
"Ini bukan sekadar pakaian, teman-teman. Ini adalah simbol bahwa Nona sekarang memiliki kebebasan untuk memilih."
"Dulu, mungkin dia hanya menerima apa yang diberikan. Tapi sekarang? Setiap helai benang di sini dipilih dengan cinta dan kemandirian."
"Dan percayalah, sisa rak yang kosong ini akan segera terisi seiring dengan berkembangnya karier Nona sebagai Putri Bangsawan."
Sementara Leo asyik bercerita tentang chemistry "Pak Bos" dan Liana yang penuh drama namun manis, di balik sekat, Liana tersenyum mendengar celoteh kameramennya.
Dia cepat-cepat mengenakan blazer biru navy dan rok pensil putih yang telah ia pilih. Setelah memastikan penampilannya rapi, Liana melangkah keluar dari balik sekat.
"Oke, Leo! Aku sudah siap!" seru Liana.
Leo segera memutar kamera kembali ke arah Liana. "Dan inilah dia, hasil akhirnya! Cantik sekali, Nona."
Liana tertawa, sedikit malu-malu. "Terima kasih, Leo. Kamu terlalu pandai bicara. Penonton pasti sudah bosan mendengar ceritamu tentang Pak Bos."
"Tidak mungkin bosan, Nona. Cerita cinta kalian adalah bahan bakar utama channel ini," balas Leo sambil mengedipkan mata pada lensa.
Liana menggelengkan kepala geli, lalu duduk di depan meja rias besar. Kali ini, dia melepas topengnya sejenak untuk sesi makeup.
Wajahnya yang asli kembali terekspos di depan lensa, namun kali ini bukan hanya Liana yang ada di frame.
Sebuah tangan besar dan kekar masuk ke dalam bingkai, memegang pengering rambut.
"Biarkan aku bantu," suara berat dan lembut itu terdengar. Itu Alexander.
Wajah Alexander juga tidak ditampilkan secara utuh; kamera difokuskan pada tangannya yang ahli menata rambut Liana,
Atau kadang hanya siluet tubuhnya dari belakang. Wajah Liana sendiri tetap diberi area kosong atau akan disensor di pasca-produksi karena dia sedang tidak memakai topeng.
Alexander dengan sabar mengeringkan rambut panjang Liana, lalu mengambil catokan rambut. Dengan gerakan hati-hati, ia meluruskan helai demi helai rambut istrinya.
"Kamu terlalu kaku, Pak Bos," goda Liana, tersenyum pada pantulan dirinya di cermin.
"Aku ingin sempurna untuk Ratuku," balas Alexander singkat.
Sementara Alexander menyelesaikan gaya rambut Liana menjadi sanggul rendah yang elegan, Liana mulai menerapkan makeup tipis.
Alexander kemudian mengambil sebuah kotak beludru kecil dari saku jasnya yang tergantung di kursi.
"Ini," kata Alexander, membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sepasang anting berlian berbentuk tetesan air yang sangat indah,
Serta kalung choker tipis dengan liontin kecil berbentuk huruf 'V' tersembunyi di balik batu permata.
"Perhiasan ini... bukan dari koleksi keluargamu, kan?" tanya Liana, matanya melebar.
"Tidak," jawab Alexander sambil memasangkan anting tersebut dengan lembut ke telinga Liana.
"Ini adalah warisan dari ibuku. Hanya sedikit orang yang tahu keberadaannya. Aku ingin kamu memakainya sebagai simbol bahwa kamu sekarang dilindungi oleh hartaku, namaku, dan cintaku."
"Bukan sebagai pembayaran utang, tapi sebagai ratu dari kerajaanku."
Liana merasa hangat menjalar di dadanya. Dia membalikkan badan, kini giliran dia yang membantu Alexander. Alexander mengenakan kemeja putih yang belum terkancing penuh.
Jari-jari Liana yang lentik dengan cekatan mengancingkan kemeja suaminya, merapikan kerah, dan melipat lengan bajunya hingga siku—gaya khas Alexander yang santai namun berwibawa.
Terakhir, dia mengikat dasi Alexander dengan simpul Windsor yang sempurna.
"Siap, Tuan Direktur?" tanya Liana, akhirnya memasang kembali topeng kecantikannya.
"Selalu siap, Nyonya Direktur," balas Alexander, mencium kening Liana di balik topeng tersebut.
Mereka berdua berjalan keluar dari kamar, diikuti oleh Leo yang merekam setiap langkah mereka. Mereka turun ke garasi, masuk ke mobil mewah, dan berangkat menuju pusat kota Auronia.
Mobil itu berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit megah di distrik bisnis utama. Dulu, gedung ini dikenal sebagai Sterling Enterprise Tower, simbol kekuasaan patriarch Theodore Sterling, ayah Alexander.
Namun, kini papan nama raksasa di depannya telah berubah. Huruf-huruf emas lama telah dilepas, digantikan oleh logo modern dan minimalis: VIRLAN ARTS.
Liana memandang gedung itu dengan bangga.
(Flashback Dimulai)
Narasi membawa kita mundur lima tahun ke belakang, ke sebuah rumah tua yang reyot di pinggiran kota. Suasana di sana jauh dari kemewahan.
Gerald, ayah Liana, duduk terpaku di lantai kayu yang berdebu. Matanya merah dan bengkak karena menangis. Di sekelilingnya, surat-surat tagihan utang berserakan.
Wajahnya yang seharusnya masih terlihat muda untuk usia paruh baya, kini tampak keriput dan kusam seperti pria tua yang putus asa.
"Liana..." bisiknya, suaranya serak. Dia menatap ke arah kamar anaknya yang pintunya terbuka lebar.
Kasurnya kosong. Bantalnya sudah tidak ada. Boneka-boneka kecil yang dulu sering dipeluk Liana sudah raib.
Dia menyesal. Sangat menyesal.
Tiga bulan lalu, demi melunasi utang judinya yang mencapai ratusan miliar, dia telah "menjual" putri semata wayangnya kepada Keluarga Sterling.
Awalnya, dia berpikir itu jalan keluar. Tapi begitu Liana pergi, kesunyian di rumah itu membunuhnya perlahan.
Rentenir datang hampir setiap hari, memukulinya, mengancam nyawanya. Gerald hanya bisa pasrah, berjanji akan membayar nanti, meski dia tahu itu mustahil.
Hingga seminggu setelah upacara pernikahan Liana dengan Alistair Sterling—sebuah pernikahan megah di mana Gerald bahkan tidak diizinkan hadir karena dianggap "aib"—sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan rumahnya.
Bukan Alistair yang turun. Tapi seorang pemuda tampan dengan aura dingin namun mata yang tajam: Azriel Lucan. Seorang kenalan Alexander, yang ditugaskan untuk mengirim bantuan secara diam-diam.
Azriel tidak berkata banyak. Dia hanya menyerahkan sebuah amplop tebal kepada teman Gerald yang berdiri gemetar di sampingnya.
"Isinya 50 juta Auronia," kata Azriel datar.
"Gunakan 30 juta Auronia untuk melunasi utang-utang kecilmu yang paling mendesak agar kau tidak dibunuh malam ini."
"Sisanya, gunakan untuk makan dan memperbaiki hidupmu. Jangan pernah hubungi Liana lagi. Biarkan dia hidup damai."
Gerald, yang saat itu bersembunyi di balik pintu, mendengar semua itu. Air matanya mengalir deras. Rasa malu, sakit hati, dan terima kasih bercampur menjadi satu.
Namun, bantuan itu tidak berhenti di situ. Setiap minggu uang sebesar 50 juta Auronia akan terus di kirimkan, dengan orang yang sama, yaitu Azriel.
Bahkan, sampai pada tiga tahun kemudian, ketika Gerald sudah mulai bangkit dengan membuka usaha warung kecil di sekitaan rumah lamanya di Auronia, sebuah paket besar datang. Isinya: 100 miliar Auronia dan sebuah surat.
Surat itu ditulis oleh Alexander. Isinya bukan ancaman, tapi laporan.
"Tuan Gerald Varella,"
"Liana baik-baik saja di tahun-tahun awal. Dia mencoba beradaptasi. Tapi seiring waktu, dia semakin menjauh."
"Matanya kehilangan cahaya. Dia tidak bahagia bersama Alistair. Gunakan uang ini untuk membangun usahamu dengan benar."
"Jadilah ayah yang kuat, agar suatu hari nanti jika Liana membutuhkan tempat pulang, ada tempat yang layak baginya."
Membaca surat itu, Gerald hancur. Dia menangis seharian. Dia menyadari bahwa putrinya menderita karena kesalahan fatalnya.
Dengan tekad baru, Gerald mengubah hidupnya. Dia menjual tanah dan rumah di Auronia, pindah ke negara asalnya, membuka usaha Entertainment.
Dia rajin olahraga, makan sehat, dan merawat dirinya. Perlahan, keriput di wajahnya memudar. Kulitnya kembali kencang.
Penampilannya kini terlihat segar, bahkan seperti pria berusia 20-an, meski usianya sudah kepala empat.
Usahanya berkembang pesat. Tapi setiap tahun, selalu ada kiriman uang dan surat dari Alexander.
Surat tahun ke-4: "Seraphina muncul. Alistair menikahinya. Liana semakin tersisih di rumahnya sendiri."
Surat tahun ke-5: "Seraphina hamil. Tuduhan palsu ditujukan pada Liana. Dan dilupakan suaminya sendiri."
Setiap kata dalam surat itu seperti pisau yang menusuk jantung Gerald. Rasa bersalah itu tidak pernah hilang.
Kini, sebagai duda yang hidup sendiri dengan kesuksesan materi, Gerald merasa lebih miskin daripada sebelumnya.
Karena hal termahal di dunia—senyuman tulus anaknya—telah hilang akibat keserakahannya.
"Maafkan Ayah, Nak..." isak Gerald dalam kesepian malam itu, menatap foto lama Liana yang tersimpan rapi di dompetnya.
"Ayah ingin bertemu kamu. Ayah ingin meminta maaf."
(Flashback Selesai)
Kembali ke masa kini, di lobi Virlan Arts.
Liana menarik napas dalam-dalam, menyesuaikan topengnya. Alexander menggandeng tangannya erat, memberikan kekuatan.
"Mari kita mulai syuting," kata Alexander.
Leo mengangkat kameranya. "Siap, Nona! Aksi!"
Liana tersenyum di balik topengnya, siap menyambut hari barunya, tanpa menyadari bahwa ribuan kilometer jauhnya,
Seorang ayah yang telah berubah total sedang berdoa agar mereka bisa bertemu kembali, secepatnya.