Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.
Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.
Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.
Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
POV Mahesa sebelum membawa Nadira keluar dari kolam
Mahesa menatap Nadira yang perlahan mulai menyandarkan kepalanya di pinggir kolam. Bayangan tentang ucapan bi Siti masih berputar di pikirannya. Di satu sisi ia percaya jika Nadira hanya di jebak karena Nadira tidak mungkin berani menyentuh barang barang di rumah ini, tapi di sisi lain Mahesa sangat benci karena Nadira telah memakai piyama kesayangan Nayla. Amarah Mahesa tak bisa terbendung saat melihatnya. Bayangan wajah Nayla benar benar ia lihat dari Nadira saat memakai piyama itu.
Mahesa menghela nafas kasar, tatapan putus asa Nadira kembali menghantuinya. Tangisan gadis itu, tatapan memohon darinya untuk di percaya semuanya terekam jelas di dalam pikiran Mahesa. Nadira benar benar menjadi orang yang menarik perhatiannya.
Mahesa mengusap wajahnya dengan kasar, ia teringat dengan ucapan bi Siti kalau ibunya telah menyuruh pelayan muda itu untuk memberikan piyama pada Nadira. Mahesa bangkit dari duduknya dan bergegas ke ruang kerjanya.
Sesampainya di ruang kerja, Mahesa mulai membuka laptopnya dan mengecek CCTV. Di sana ia melihat sang ibu sedang mengendap endap masuk ke dalam kamarnya dan membuka lemari pakaian milik Nayla. Di sana Mahesa melihat ibunya mengambil piyama kesayangan Nayla dan keluar dari kamar juga dengan mengendap endap.
Lalu Mahesa melihat seorang pelayan muda berjalan ke arah kamar Keano dengan piyama ditangannya. Mahesa melihat Nadira mengambil piyama itu, terlihat Nadira sedikit ragu untuk menerimanya, tapi setelah itu Nadira tersenyum.
Mahesa mengepalkan tangannya dan menutup laptop dengan kasar, ternyata ibunya dalang di balik semua ini. Mahesa sangat frustasi dengan kejadian ini.
Dengan berlari cepat Mahesa menyusul Nadira yang ada di dalam kolam. Ia berharap Nadira masih sadarkan diri. Saat sudah di tepi kolam, Mahesa malah melihat Arya sedang memegang tangan Nadira yang sepertinya sudah pingsan. Mahesa menatap marah pada Arya, entah mengapa ia tidak terima jika Arya sedekat itu dengan Nadira.
***
Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Selfi datang ke kediaman Adiprana untuk memeriksa keadaan Nadira. Ia kemudian mulai memberikan beberapa obat untuk menghangatkan tubuh Nadira. Untungnya keadaan Nadira masih baik baik saja dan tidak terlalu parah.
Nadira diselimuti dan suhu kamar nya di buat agak panas.
Mahesa duduk di sofa yang ada di kamarnya sambil menatap wajah Nadira yang mulai terlihat merah. keringat juga mulai keluar dari dahinya.
Entah mengapa Mahesa merasa sesuatu yang aneh dalam hatinya. Wajah Nadira benar benar menarik perhatiannya hingga ia sangat lama menatap wajah wanita itu.
" Tuan, biarkan Nadira istirahat malam ini, besok pagi keadaannya sudah membaik." ujar serli. Kemudian ia pamit pulang setelah selesai melakukan tindakan pada Nadira.
Kini menyisakan Mahesa dan Nadira di dalam kamar. Mahesa memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas sofa, tapi karena badannya terlalu tinggi dan besar membuatnya tidak nyaman berbaring di atas sana.
Mahesa tak punya pilihan, ia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di samping Nadira. Hembusan nafas Nadira dapat Mahesa rasakan. Mahesa menutup matanya, kemudian ia berbalik membelakangi Nadira.
Malam itu, Mahesa benar benar tak bisa tidur dengan tenang. Ada kekhawatiran dan juga sesuatu yang tak ia mengerti melanda pikirannya. Hingga akhirnya ia benar benar tertidur dengan perasaan campur aduk.
Di sisi lain, Arya sedang menatap kolam yang ada di samping kamarnya. Ia tak bisa tidur karena mengkhawatirkan wanita yang Mahesa gendong keluar dari kolam. Wanita asing itu membuatnya kepikiran.
" Siapa dia? kenapa kakak bisa semarah itu padaku?. Apa dia kekasih baru kakak?..." gumam Arya penasaran.
Rasanya Arya ingin sekali menanyakan semuanya pada Mahesa saat itu juga, tapi ia takut Mahesa akan semakin marah kalau ia datang hanya untuk menanyakan masalah pribadi kakaknya.
Arya membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia kembali menatap langit langit kamar. Wajah wanita asing di dalam kolam itu masih terngiang dalam pikirannya.
" Siapa wanita itu sebenarnya? Aku sangat penasaran." gumamnya.
***
Hari sudah pagi, Nadira terbangun dengan posisi sedang memeluk Mahesa. Matanya membulat sempurna saat menyadari posisinya. Mahesa masih memejamkan mata, pria itu juga tampak memeluk dirinya. Dan kenyataan jika mereka sedang berpelukan membuat Nadira mematung.
"Bagaimana ini bisa terjadi?." gumam Nadira dalam hati.
Ia kemudian teringat kejadian semalam dimana ia masih berendam di dalam kolam, tapi pagi ini ia malah tidur di dalam kamar Mahesa.
Nadira juga teringat jika ia hanya mengenakan dalaman, ia berusaha keluar dari pelukan Mahesa.
Setelah berusaha cukup keras, akhirnya Nadira berhasil melepaskan diri. Saat ia berdiri, ia menjatuhkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Namun saat menyadari jika ia sudah mengenakan baju membuat Nadira bernafas lega. Tapi di saat yang bersamaan ia kembali panik.
" Siapa yang mengganti pakaianku?" gumamnya dengan penuh kekhawatiran.
Di saat Nadira sedang curiga pada Mahesa, pria itu malah terbangun dan duduk sambil menatap ke arah Nadira dengan datar.
" Bi Siti yang telah mengganti pakaianmu, jangan khawatir!."
Mahesa berdiri dan berjalan ke arah Nadira dengan pelan. Wajah bantalnya benar benar membuatnya sangat tampan.
Mahesa memasukkan tangannya ke dalam saku celana tepat di hadapan Nadira, sementara itu Nadira kembali menunduk. Ia takut Mahesa akan kembali menghukumnya setelah kejadian semalam.
Tiba tiba Nadira berlutut di hadapan Mahesa dan memohon untuk dilepaskan.
" Tuan, saya tidak tahu apa apa tentang piyama itu, saya hanya menerimanya dari seorang pelayan." ujar Nadira sambil mengatupkan kedua tangannya.
Mahesa hanya diam, ia menatap Nadira yang berlutut di hadapannya.
" Tuan, jangan hukum saya..." ucap Nadira kembali memohon.
Mahesa menghela nafas berat, entah mengapa hatinya langsung luluh saat melihat Nadira memohon seperti itu. Tapi ia sadar bahwa Nadira hanya di jebak dan tak tahu apa apa.
" Pergilah! Urus Keano dengan baik." Mahesa berjalan ke arah kamar mandi dan menghilang di balik pintu. Mahesa telah masuk ke dalam kamar mandi.
Nadira mematung di tempatnya, Mahesa telah melepaskannya dari hukuman. Nadira bangkit dan mulai berjalan pelan keluar kamar. Namun sebelum benar benar keluar, Nadira menatap ke pintu kamar mandi sekali lintas.
Nadira menghela nafas berat, akhirnya ia keluar dari kamar Mahesa.
Namun di luar, ia malah bertemu dengan pria asing yang ia temui di kolam semalam. Pria itu tampak menatapnya dengan penuh kecurigaan.
Nadira tak mau membuat masalah lagi, ia memutuskan untuk segera pergi. Tapi pria asing itu malah mengikutinya masuk ke dalam kamar Keano.
Nadira merasakan tatapan mengintimidasi dari pria asing di hadapannya, saat ini mereka berdua berada di dalam kamar Keano.
Nadira meremas ujung bajunya, ia masih ingat jika pria di hadapannya adalah anggota keluarga Adiprana.
Perlahan pria asing itu semakin mendekati Nadira hingga jarak mereka cukup dekat. Nadira benar benar merasa takut.
" Siapa kamu sebenarnya?. Kenapa kamu bisa keluar dari kamar kakakku?"