HAI... Readers nya LeoRa_
Author cuma mau kasih tau kalo novel yang ini bakal di buat ulang dan tentunya perlu waktu.
Semoga, perbaikan kali ini menarik perhatian kalian... aku tunggu dukungannya...
Mengetahui fakta bahwa ia lahir di luar nikah akibat perbuatan jahat ayah biologisnya yang dengan tega menghancurkan masa depan wanita yang dicintainya -ibu- membuatnya bertekat untuk membalaskan rasa sakit ibunya tersebut dengan caranya sendiri.
Terlebih ketika dia tahu bahwa skenario yang Tuhan ciptakan begitu menarik, membuatnya bersedia mengambil peran yang sudah di siapkan untuknya.
Peran yang mengizinkannya untuk memegang kendali penuh atas hidupnya.
Seperti ketika keluarga ayah biologisnya memaksa untuk menggantikan nama keluarga di belakang namanya. Dengan lantang dan tegas ia menekankan.
"I AM SHIENOLL DALLETRA!!!"
😊ini karya pertamaku, semoga kalian suka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeoRa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IASD-18
"Mama!"
Seruan panggilan dari suara imut itu mengalihkan atensi semua yang ada di sana. Sherina yang melihat kedatangan putranya pun segera menghampiri pangeran kecilnya dan berjongkok di depannya seraya menarik Shienoll ke dalam pelukannya.
Tetesan air mata Sherina yang jatuh ke baju Shienoll membuat bocah tampan itu tahu bahwa ibunya tengah menangis tapi bukan tangis kesedihan dilihat dari saat ibunya menghampiri nya dengan senyuman.
Efendy, Naomi, Sandy, dan Youshi tertegun sejenak lantaran melihat Shienoll yang wajahnya tak dapat di tipu lagi bila benar dia putra pria yang masuk dalam daftar hitam mereka.
"Meski masih kecil, tidak di ragukan lagi. Di putra pemuda itu!" -batin Efendy menggeram tertahan.
Bagaimana tidak?! Dia juga tahu seperti apa ceritanya sampai putri angkat kesayangannya menjadi menderita. Tangannya terkepal menyalurkan emosi yang tertahan selama ini.
Tak jauh berbeda dengan Sandy dan Youshi. Wajah itu, wajah pria itu. Wajah datar dan angkuh itu. Wajah yang selalu menampilkan kesombongan hanya karena ia dari keluarga yang amat berpengaruh. Juga wajah yang telah menghancurkan hidup adik angkat kesayangan mereka. Dan wajah itu sekarang melekat sempurna pada keponakan mereka.
"Sial! Kenapa mirip sekali?! Aku sangat benci wajah itu!" -batin Youshi berseru marah sampai ia harus memalingkan wajahnya ke arah lain dengan tangan terkepal kuat menahan gejolak emosi yang tiba-tiba muncul. Sekarang ia bingung harus apa. Wajah itu sudah membuatnya benci mendarah daging dan sekarang keponakannya memiliki wajah yang sama, meskipun itu wajar karena pria bejat itu adalah ayah biologisnya tapi tetap saja ia tak pernah bisa menahan amarah tiap kali wajah itu muncul di hadapannya.
"Heh! Cetakan yang sempurna! Kuharap tidak dengan sifatnya!" -batin Sandy berharap. Tak ada yang bisa ia lakukan bila sudah seperti ini, sekalipun ia membenci ayah biologis Shienoll tapi ia masih mampu memendamnya dan bersikap wajar, karena ia cukup dewasa dalam menyikapi segala sesuatu.
Tidak seperti adiknya yang selalu merah padam bila sudah ada yang menyebut nama pria itu atau bahkan tanpa sengaja mereka bertatap muka secara langsung lantaran mereka masih tinggal di kota yang sama. Jadi, kemungkinan bertemunya besar meski hal itu amat tak di inginkan Youshi.
Sedang untuk Efendy dan Naomi, meski mereka juga memendam perasaan marah pada pria itu. Tapi, mereka memilih acuh bila tanpa sengaja bertemu. Seolah-olah tidak saling mengenal. Walaupun tak di pungkiri ingin rasanya memberi pria itu pelajaran.
Berbeda dengan Namika yang memang punya peluang besar untuk bertemu lantaran kekasihnya adalah sahabat pria itu. Tapi, bukan Namika namanya bila ia tak secara langsung memberikan tatapan permusuhan pada pria itu. Bahkan tak jarang ia juga melontarkan kata-kata yang mampu membuat pria itu di telan kebisuan.
Sayangnya, mereka tak sadar bila saat ini tengah menjadi objek pengamatan bagi Shienoll. Bocah itu dapat merasakan satu hal yang sama dari ke empat orang dewasa di depannya. Sebuah perasaan benci dalam kadar yang berbeda-beda. Tapi, eksistensi nya hanya terpaku pada Youshi.
Dirasanya pemuda yang di yakininya sebagai pamannya yang adalah kakak dari bibi Mika-nya memiliki rasa benci yang teramat sangat. Shienoll melihatnya sejak ia menunjukkan ekspresi terkejut di wajahnya saat melihat dirinya, di susul dengan tangan yang di kepal seraya urat-urat yang bangun menonjol di sertai wajah yang memerah seolah menahan sesuatu yang ingin keluar hingga tak lama setelahnya, pamannya itu memalingkan wajahnya dan tak ingin melihat dirinya lagi.
Bila orang lain yang melihatnya, mungkin akan salah paham dan berpikir bahwa ia tengah di benci saat ini. Tapi, Shienoll tahu segala yang di tunjukkan pamannya tanpa ia sadari bukan murni di tujukan untuk dirinya. Semacam ada sesuatu dalam dirinya yang mampu membuat pamannya itu bereaksi seperti itu.
"Apa yang membuatnya seperti itu?!" -batin Shienoll bertanya-tanya.
Damian yang di sebelahnya hanya bisa menghela nafas kemudian melirik Shienoll. Dapat ia lihat bocah kecil itu tengah memandang bingung ke arah kumpulan orang dewasa di depannya. Tapi, ia seakan ragu itu sungguh wajah bingung. Secara, ia telah mengetahui kalau keponakannya ini memiliki sisi lain yang mampu membungkam siapapun yang melihatnya. Jadi, ia yakin kalau saat ini Shienoll hanya memasang wajah lain agar terlihat pantas untuk ukuran bocah yang berumur 6 tahun.
"Kau benar-benar sulit untuk di tebak, Noll!" -batinnya.
______________________
Kini semua orang sudah berkumpul di lantai atas ruko milik Sherina. Agak sempit memang mengingat para pria yang hadir memiliki postur tubuh yang tinggi besar nan gagah, alhasil mereka harus pintar menempatkan posisi mereka agar nyaman.
Dengan tersenyum Sherina membuka suara. "Perkenalkan semua. Ini putra tercintaku. Shienoll Dalletra!" ucapnya kepada keluarga Jou. Beralih ke putranya. "Noll, kenalkan. Mereka semua adalah keluarga besar bibi Mika. Ayo..." sambungnya seraya menyuruh Shienoll menghampiri mereka untuk berkenalan.
Shienoll mendekati sepasang paruh baya, yakni orang tua Namika.
"Halo, kakek! Halo, nenek!" Efendy dan Naomi yang mendengarnya langsung tersenyum haru, merasa senang dengan panggilan dari bocah kecil yang mereka akui sebagai cucu mereka.
"Halo, tampan! Kenalkan nama nenek ini Naomi dan ini kakek Efendy namanya." balas Naomi sembari mengelus surai hitam Shienoll yang tersenyum polos.
"Nenek sama kakek bisa memanggil ku Noll. Seperti mama memanggilku." ujarnya senang.
"Oh begitu. Tentu. Nenek akan memanggilmu 'Noll' sesuai keinginan mu." mencubit pipinya gemas.
Berjalan mendekati Sandy dan Youshi.
"Halo, paman-paman aku Shienoll."
"Halo, Noll. Aku akan memanggilmu dengan nama itu, kau tak keberatankan?" Shienoll menggeleng tanda tak apa. "Kalau begitu kenalkan nama paman Sandy. Dan ini adik paman. Kau bisa memanggilnya paman Youshi." menoleh menatap Youshi yang tampak sekali ia amat sangat berjuang agar tidak lepas kendali di hadapan keponakannya, karena bagaimanapun bocah di depannya ini tak tahu apa-apa.
"Ha.. hai... Noll..." sapanya sulit. Shienoll menyadari hal itu, tapi ia memilih pura-pura tidak tahu. Hanya senyum polos yang bisa ia tampilkan.
"Halo, paman Youshi!" kemudian kembali berjalan ke tempat ia duduk sebelumnya yaitu di samping ibunya.
Sesi perkenalan pun selesai, segera Namika mengambil alih perhatian semua yang ada di sana.
"Oke, perhatian semua. Semua tentu tahu hari apa hari ini bukan?" yang lain hanya mengangguk. "Seperti yang kita tahu, ini adalah hari ulang tahun pangeran tampannya Sherina. Shienoll Dalletra." ucapnya riang. "Jadi, seperti yang sudah kita rencanakan jauh-jauh hari. Kami keluarga besar Jou menyempatkan waktu untuk hadir sekaligus merayakan syukuran atas di temukannya saudariku yang cantik dan tangguh ini dengan bonus adanya bocah kecil nan tampan yang telah hadir mengisi kekosongan seorang Sherina. Kesini Noll..." jelasnya lalu meminta Shienoll mendekat dan di turuti.
"Dan ini dia tokoh utama hari ini." tersenyum lembut pada keponakannya. "Seperti janjiku di bandara waktu itu. Kini aku membawa orang-orang yang berarti di hidup ibumu, Sherina. Dan dengan begini itu artinya juga aku telah membawakan keluarga untuk mu, bukan?" Shienoll mengangguk seraya menampilkan seutas senyum manisnya.
"Bibi benar. Karena itu, terima kasih banyak, bibi Mika. Noll senang, ternyata Noll dan mama tidak sendiri. Iyakan mama?!" menoleh kepada ibunya yang masih tersenyum haru di tempatnya duduk. Sherina mengangguk membenarkan.
Mendengar kalimat tersebut keluarga Jou terenyuh sedih membayangkan seperti apa sulitnya selama ini hidup mereka hingga merasa sendiri dan tak memiliki siapapun di sekitarnya.
Youshi pun turut terenyuh pedih namun tetap tak membuat kebencian pada pria yang adalah ayah biologisnya Shienoll surut. Saat ini saja ia tengah berusaha mati-matian agar tidak mencekik Shienoll lantaran memiliki wajah yang mengopy sempurna tanpa celah wajah pria itu.
Tapi, perasaan terenyuh itu tak berlaku untuk Damian setelah tahu bocah seperti apa Shienoll itu membuatnya sulit untuk menunjukkan sikap. Seperti saat ini, jujur ia tak mengerti harus apa. Ikut terharu? Tapi tak bisa, karena ragu apakah yang bocah itu katakan sungguhan atau hanya topeng belaka. Ingin tak percaya pun sulit. Jadilah, ia diam karena sudah kebingungan.
"Noll, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?!" -batin Damian tak mengerti.
Setelahnya mereka pun mulai bercengkrama tentang banyak hal. Bila ada yang bertanya bagaimana dengan ulang tahunnya, maka jawabannya adalah inilah ulang tahunnya.
Lagipula Shienoll sudah pernah mengatakan soal ia yang tak ingin hari ulang tahunnya di rayakan dalam bentuk pesta. Shienoll hanya ingin seperti sekarang ini, berkumpul dan mengobrol ria sambil menyantap makan yang telah di sediakan tanpa perlu repot-repot menyediakan kue dan lilin serta nyanyian selamat ulang tahun kemudian berakhir tepuk tangan yang menurutnya menyebalkan dan kurang kerjaan.
_______________________
Senja menyapa saat matahari mulai menyingsing ke ufuk barat menciptakan cahaya jingga yang indah. Dua orang pria yang sedang duduk bersebelahan di depan ruko tampak saling melepas rindu. Siapa lagi kalau bukan Damian dan Sandy.
Usai acara makan bersama siang tadi dan di lanjut dengan bercerita sekaligus memberikan kado ulang tahun untuk Shienoll dan ungkapan nasehat untuk bocah tersebut, sekarang di sinilah mereka.
Untuk Youshi dari jam 4 sore tadi, ia sudah meminta izin Sherina agar di izinkan menumpang tidur di kamarnya. Karena tak mungkin tidur di kamar Shienoll lantaran kasurnya yang kecil, akhirnya Sherina memberikan kamarnya untuk di pakai sang kakak.
Risih? Canggung? Tak enakan? Semua perasaan seperti itu tak dia rasa Sherina. Baginya Keluarga Jou adalah keluarganya, itu artinya Youshi Jou adalah kakaknya. Dan juga ia kasihan melihat kakaknya yang sudah menahan kantuk sejak usai makan tadi karena tak tahu harus berkata apa. Jadilah sekarang pria itu tengah tertidur pulas di ranjang Sherina.
Sementara sepasang paruh baya itu masih asik menemani cucunya berbincang-bincang tentang banyak hal terutama apa yang di suka dan tidak di suka oleh pria kecil itu. Dan jawabannya sungguh menenangkan hati, karena hampir semuanya yang ada pada sifatnya Shienoll lebih banyak di turunkan dari ibunya. Sedikit dari ayahnya. Meskipun hal itu masih belum pasti sebab Shienoll masih bisa bertumbuh setiap tahunnya menjadi semakin dewasa.
Sedang untuk Sherina dan Namika. Mereka memilih berbelanja bahan makanan dan camilan. Karena, rencananya mereka semua akan menginap di ruko Sherina walaupun tadi ada sedikit perdebatan mengingat ruko Sherina tidak begitu besar. Lagipula tak enak untuk Sherina bila menyuruh mereka tidur bersama di lantai dengan beralaskan permadani miliknya. Secara keluarga Jou dan Damian adalah orang kaya yang patinya lebih nyaman tidur di kasur empuk kualitas terbaik dari pada tidur di lesehan yang keras.
Tapi, sayangnya. Semua setuju untuk menginap. Dengan Damian yang sebelumnya berpikir untuk menginap di hotel dekat ruko Sherina tapi tak jadi karena tak ingin kalah dari keluarga sahabatnya -Sandy- yaitu keluarga Jou.
Kembali ke kedua pria tampan di depan ruko Sherina.
"Aku tidak menduga kalau kau juga mengenal Sherina." kata Sandy tanpa memandang lawan bicaranya. Saat ini ia hanya memandang jalanan yang tampak ramai.
Damian tersenyum tipis mendengarnya. "Entahlah. Kurasa takdir."
"Sudah berapa lama?"
"6 tahun kurasa..." jawab Damian agak ragu dengan hitungannya.
"6 tahun?! Itu artinya sejak Shienoll lahir?!" tebak Sandy penasaran. Bagaimanapun ia tahu Damian tipikal orang yang dingin jadi tak mungkin bila kenal sembarang orang apalagi saat itu Sherina hanyalah orang biasa jauh berbeda dengan Damian.
"Hahaha... Kalau kau tahu, kau pasti terkejut."
"Benarkah? Kalau begitu beritahu aku? Aku tak ingin mati penasaran." Damian terkekeh mendengarnya.
"Aku tak tahu kalau kau punya jiwa penasaran seperti ini." dengan melirik sekilas Sandy.
"Begitulah. Bila berkaitan dengan adik angkat ku, Sherina. Aku tak pernah tidak penasaran." jelas Sandy singkat.
"Jadi begitu." sudut bibir Damian tertarik ke atas dengan tatapan menerawang. "Kalau kau sangat ingin tahu maka akan ku beritahu." jedanya, Sandy mendengar dengan sabar. "Aku adalah saksi lahirnya Shienoll!" lugasnya singkat, padat, dan jelas.
"Apa?!" Sandy langsung menoleh begitu kalimat itu usai di ucapkan. "Kau bercanda?!" masih tak percaya.
"Kelihatannya?!" Damian tak peduli sudha menjadi apa raut wajah sahabatnya sejak kuliah dulu.
"Ya Tuhan..." ucapnya terputus lantaran bingung ingin mengatakan apa lagi setelah mendengar ungkapan dari Damian.
lama tak muncul. Thor kembali nih. berusaha buat up lebih rutin. walau tak bisa di pastikan kapan tepatnya Thor bakal up. semoga kalain terhibur dengan cerita yang Thor punya.
lop yu gaessss
😘😘😘❤️❤️❤️
semangat thor buat up nya 💪💪