Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perayaan Dendam
Dalam rangka acara ulang tahun perusahaan, Ferdian menyelenggarakan pesta yang akan digelar di rumah utama. Tentu saja rekan sejawat, beberapa tamu politikus, dan selebritis akan hadir di acara tersebut. Widitama sudah diwanti-wanti untuk mengosongkan jadwal agar bisa hadir. Ferdian berencana akan memperkenalkannya ke para tamu terhormat nanti.
Ia tahu awalnya Rakha yang akan mendapatkan hal seperti itu. Namun, pasti sekarang Ferdian sudah tak mau lagi peduli pada putra keduanya. Bahkan tak terdengar lagi Ferdian membahas-bahas hal itu.
Sementara itu Edgar ditugaskan oleh Widitama untuk memantau pergerakan Rakha di Bali. Anehnya, Widitama juga tak melihat Sasti merasa panik atas apa yang terjadi. Hal ini memicu sedikit rasa penasaran. Apa yang sedang wanita ular itu rencanakan?
"Pak Widi," panggil seorang stylist assistant.
Widitama yang sedang duduk di sofa langsung mengalihkan tatap dari majalah di tangannya. Sepasang mata pria itu langsung disapa oleh pemandangan; di mana Amaia memakai gaun off shoulder panjang membentuk lekuk tubuh. Itu gaun ketiga yang Amaia coba.
Hari ini Widitama memanggil fashion stylist yang bekerja sama dengan hari style dan makeup untuk mengurus Amaia. Nanti malam, dia akan membawa istrinya ke acara pesta. Tentu saja Widitama akan memperkenalkan wanita itu kepada semua orang. Bahwa sekarang Amaia adalah miliknya.
"Oke. Pakai yang itu saja," kata Widitama seraya beranjak.
"Nah, eyke juga bilang apa? Ini cocok buat istri you." Nino, fashion stylist yang sudah sudah lama dikenal Widitama langsung ikut berkomentar. Pria flamboyan itu terkekeh melihat Widitama yang mengamati Amaia. "Gimana? Belum aja istri lo dirias, Widi. Nanti makin terpesona deh lo."
"Jangan berisik, Nino. Kalau sudah kelar, keluar sebentar, Amaia. Saya ingin bicara." Widitama melirik istrinya.
Pria itu berjalan keluar dari ruang pas. Beberapa saat berikutnya, terlihat Amaia menyusul Widitama ke ruangan kerjanya. Duduk di sofa depan meja kerja Widitama, Amaia berusaha terlihat tenang. Tak seperti hari yang telah lewat. Saat dirinya memprotes banyak hal.
Entah sekecewa apa Amaia, Widitama tak begitu tahu. Namun, melihat Amaia tetap ingin balas dendam, Widitama yakin, gadis itu pasti sangat kecewa.
Ia ingat kata-kata Amaia kemarin saat di ruang bawah tanah ketika mereka menyusun rencana. "Aku nggak tau sebanyak apa kebenaran lain yang masih belum aku ketahui, tapi niatku nggak akan berubah. Mas Widi, bantu aku. Aku akan menunjukkan pada mereka, kalau aku nggak sebodoh yang mereka kira."
"Jadi, mau bicara apa? Rencana kita sudah dibicarakan kemarin. Termasuk tentang pesta ini. Aku cuma harus berada di dekat kamu dan diperkenalkan sebagai istrimu, kan?" Amaia akhirnya bersuara.
Tapi Widitama belum kujung menjawab. Ia terlalu fokus pada gadis itu.
"Apa pun rencana kamu, aku akan ikut," kata Amaia lagi.
"Saya lupa tanya satu hal. Malam itu saat kita berciuman, ada Denara di sana. Apa yang terjadi?"
Pertanyaan Widitama membuat Amaia terkesiap. "Maksud kamu?"
"Jangan berusaha menyembunyikan sesuatu dan katakan! Saya akan memberitahu kamu beberapa hal, jadi mari kita saling jujur," katanya.
Perempuan itu tampak berpikir. Bibirnya digigit pelan, kedua tangannya saling meremas. Helaan napas pendek terdengar.
Widitama bangkit dari kursi kerjanya dan duduk tepat di samping Amaia. "Apa dia mengancam kamu?"
"Nggak cuma itu. Dia menuduh, memukul, dan berkata kasar padaku. Selama ini aku selalu menahan diri atas sikapnya. Aku menghargai dia sebagai saudaranya Kak Rakha dan kamu, tapi semakin ke sini, dia semakin nggak menyukaiku. Apalagi sejak ...." Amaia melirik Widitama. "Sejak kami kembali."
"Ah, merepotkan."
"Kamu sadar kan kalau dia suka sama kamu, Mas? Karena dia anggap kamu bukan saudara angkat, tapi lebih dari itu. Dasar gila! Aneh! Menjijikkan. Padahal kalian saudara kandung," cetus Amaia setengah jengkel. "Aku nggak pernah terima dengan sikapnya selama ini."
"Lalu, apa rencanamu?"
Amaia melirik Widitama. "Aku ngga tau, tapi mungkin kamu bisa bantu aku."
"Sekarang kamu bisa juga minta bantuan. Ingatkan saya kalau kamu yang meminta saya untuk nggak ikut campur." Widitama terkekeh. "Tapi yah, itu dulu. Sekarang karena kita berada di kapal yang sama, akan saya bantu. Malam ini kita rayakan dendam itu. Perayaan itu pertanda bahwa rencana kita sudah dimulai."
Ucapan Widitama membuat Amaia mengangguk mantap. Meski sempat melihat sorof takut di mata Amaia, tapi Widitama langsung mendapati semangat gadis itu berkobar.
"Jangan senang dulu," kata Widitama seraya beranjak. "Saya dapat kabar dari Edgar, pagi ini Rakha meninggalkan Bali. Tanpa perempuan itu."
"Apa?" Amaia bangkit dari sofa dan mendekat. Semalam gadis itu juga memberitahu Widitama tentang telepon Rakha yang terhubung dan dijawab oleh seseorang yang berdomisili di Bali. "Maksud kamu, dia pergi lagi? Tapi ke mana?"
Tak ada jawaban selama sekian detik. Widitama menyipitkan mata. "Ke mana ya?" gumamnya.
"Mas Widi, aku serius."
"Saya nggak tau. Edgar belum memberi kabar." Ucapan enteng Widitama membuat Amaia terlihat kian resah. "Tenanglah. Kalau dia tiba-tiba muncul di hadapanmu, apa kamu akan goyah lagi?"
"Nggak," kata Amaia.
"Yah, kita lihat saja nanti." Widitama berucap seolah-olah tahu hal itu akan terjadi. "Dan ini aneh," katanya.
"Apa, Mas?"
"Kenapa Sasti diam saja? Kenapa dia nggak repot mencari anaknya? Orang-orang Edgar yang mengikuti Sasti dan Denara selama beberapa hari ini, sejak Rakha menghilang, melaporkan kepada saya, kalau mereka sama sekali nggak terlihat berusaha mencarinya."
"Apa dia merencakan sesuatu? Tante Sasti pasti tau di mana Kak Rakha, kan?"
"Ya, pasti. Terakhir kali, mereka mungkin sempat saling mengabari? Mungkin."
Tatapan Widitama beralih pada Amaia yang terlihat agak cemas. Gadis itu berjalan bolak-balik di depan meja kerja Widitama.
"Jangan cemas begitu. Apa yang kamu cemaskan? Sudah, tenang saja," tukas Widitama.
"Bagaimana kalau mereka merencanakan sesuatu?" tanya Amaia.
"Kamu nggak percaya saya?" Widitama mendekat. "Serahkan saja pada saya dan lebih kamu memikirkan nanti malam. Belajar mengatur ekspresi dan sikapmu karena nanti malam kamu kita benar-benar harus terlihat seperti pasangan romantis."
"Aku tau."
"Dan persiapkan dirimu." Widitama menunduk seraya berbisik, "banyak kebenaran lain yang belum kamu ketahui."
Kali ini Amaia membalasnya dengan senyuman tipis. "Aku nggak sabar untuk hal itu."
******
Malam ini acara pesta berlangsung. Beberapa tamu undangan sudah mulai berdatangan. Widitama sejak tadi diminta tak usah jauh-jauh dari sang ayah. Karena beberapa tamu penting mulai datang dan diperkenalkan kepada Widitama. Ada investor dari luar negeri dan Widitama menjabat tangan mereka dengan penuh akrab.
Saat perbincangan mereka mengalir ke arah urusan bisnis, Widitama menyimak setengah fokus. Matanya mencari-cari keberadaan Amaia yang izin ke kamar mandi. Dari kejauhan dilihatnya sang istri berjalan anggun mendekat. Senyum Widitama terlukis saat Amaia tersenyum padanya.
Namun, senyum itu hilang ketika di antara ratusan tamu serta pramusaji yang berlalu lalang, Widitama menemukan seseorang yang familiar. Pria pramusaji itu baru saja berkeliling membagikan minuman. Hanya dirinya yang memakai masker. Aneh.
"Mas," sapa Amaia.
"Oh, kamu sudah di sini, Amaia." Bukan Widitama, tapi Ferdian yang langsung menyambut.
Amaia menggandeng mesra lengan Widitama seperti apa yang diajarkan oleh Nino beberapa jam lalu ketika mereka mempersiapkan riasannya. Kini Amaia tampak berusaha mempraktikkan.
"Ini istri saya, Amaia Rembulan." Begitu kata Widitama memperkenalkannya pada tamu-tamu penting sang ayah.
Obrolan demi obrolan mengalir bersama suara musik klasik yang lembut. Dalam keramaian itu, Widitama sesekali mencari keberadaan pramusaji tadi. Sementara Amaia ikut tetawa pelan saat para orang borjuis itu melontarkan candaan.
"Sebentar, kami mau menyapa tamu yang lain dulu," kata Widitama untuk membebaskan diri dari orang-orang itu dan Ferdian.
Setelah dipersilakan oleh ayahnya, pria berjas hitam itu membawa Amaia menjauh. Agak jauh dari ruang utama. Tentu saja Amaia terkejut oleh tindakan Widitama.
"Ada apa?" tanya Amaia.
"Sebentar lagi kita akan mendapat kejutan."
"Nggak usah bertele-tele, Mas. Langsung aja maksud kamu apa?"
Widitama melirik Sasti yang sejak tadi tengah sibuk menyambut ibu-ibu sosialita; istri dari para pejabat yang hadir, selebritas, dan beberapa istri rekan kerja Ferdian. Sementara di satu sisi, Denara berada di dekat ibunya. Sesekali pula mencuri pandang pada Amaia dan Widitama sejak tadi. Tentu saja dengan sorot mata kebencian yang ditujukan pada Amaia.
"Mas?" tegur Amaia, "ada apa, sih?"
Belum sempat Widitama menjawab, terdengar suara langkah kaki mendekat dari belakang mereka. Keduanya kompak menoleh ke sumber suara. Seorang pramusaji pria muncul dari balik pintu ruangan kecil di dekat area utama yang terhubung dengan dapur. Pria itu membuka masker dan melotot kaget saat sepasang matanya berserobok dengan mata Amaia dan Widitama.
"Kak Rakha," ucap Amaia yang tak kalah kaget.