NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku melihatnya!

Sesampainya di depan rumah Bu Ratmini, Pak Nanang berhenti tepat di bawah rumah panggung itu.

Hujan memang sudah tidak sederas tadi, tetapi gerimis masih turun membasahi malam.

Tubuh Pak Nanang basah kuyup dari kepala sampai kaki. Air hujan menetes dari ujung rambut, lengan baju, hingga celana yang melekat di kulitnya. Napasnya juga masih sedikit terengah karena berjalan cukup jauh dari kebun.

Di pinggangnya masih terselip sebilah parang yang biasa dia bawa saat bekerja.

Pak Nanang mendongak ke arah rumah yang tampak remang-remang diterangi lampu solar dari dalam.

"Assalamualaikum..." Panggilnya.

Suara itu tenggelam oleh suara rintik hujan yang membasahi atap seng.

Tidak ada jawaban.

Pak Nanang kembali berdeham lalu memanggil lebih keras.

"Assalamualaikum..."

Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah.

Pintu rumah panggung itu terbuka perlahan.

Bu Ratmini muncul di ambang pintu dengan wajah heran.

Begitu melihat siapa yang datang, dahinya langsung berkerut.

"Pakde Nanang?" Katanya bingung.

Pandangannya turun ke pakaian Pak Nanang yang basah kuyup.

"Ada apa malam-malam begini, Pakde?"

Pak Nanang yang sejak tadi merasa lega karena akhirnya sampai di tujuan langsung tersenyum.

"Aku mengantar Sekar."

Kalimat itu membuat wajah Bu Ratmini berubah seketika.

Mata wanita itu membesar.

"Sekar?" Ulangnya.

"Iya."

Bu Ratmini turun satu anak tangga sambil terus menatap Pak Nanang.

"Di mana Sekar?" Tanya sudah merasa gembira karena akan melihat anak gadis yang di rindukannya itu.

Namun, tidak ada Sekar disana. Yang ada hanya Pak Nanang yang berdiri sendiri.

Pak Nanang justru terlihat heran.

"Lho, Ratmini jangan bercanda."

"Bercanda apa, Pakde?" Tanya Bu Ratmini semakin bingung.

"Ya jelas-jelas Sekar ada di sini."

Bu Ratmini menatap ke sekitar rumah.

"Di mana?"

Pak Nanang tersenyum kecil lalu menoleh ke sampingnya.

"Ini lho, Sekar."

Tangannya terangkat menunjuk ke arah gadis yang sepanjang perjalanan berjalan di sampingnya.

Namun kalimat itu mendadak terhenti.

Senyumnya membeku.

Matanya membelalak.

Karena tempat yang dia tunjuk ternyata kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Pak Nanang berkedip beberapa kali.

Lalu menoleh ke kanan, kemudian ke kiri.

Tetap tidak ada siapa-siapa, hanya ada jalan tanah yang basah.

Senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Wajahnya berubah pucat.

"Eh..."

Dia kembali melihat ke tempat yang tadi dia yakini ditempati Sekar.

Kosong.

Pak Nanang mulai merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Tadi dia di sini." Gumamnya pelan.

Bu Ratmini yang melihat perubahan wajah pria itu mulai merasa tidak nyaman.

"Pakde Nanang?" Panggilnya hati-hati.

Namun Pak Nanang tidak langsung menjawab.

Matanya menyapu seluruh halaman rumah.

Lalu dia melangkah beberapa langkah ke depan.

"Sekar!" Panggilnya keras.

Tidak ada jawaban.

"Sekar!"

Suara itu menggema di tengah malam, tetapi tidak ada balasan sedikit pun.

Pak Nanang mulai terlihat panik. Dadanya naik turun lebih cepat.

"Sekar! Jangan main-main!"

Tetap tidak ada suara.

Yang terdengar hanya desir angin dan rintik hujan gerimis.

Pak Nanang menoleh ke arah Bu Ratmini dengan wajah pucat.

Karena beberapa saat yang lalu ia benar-benar yakin berjalan bersama Sekar.

Mereka bahkan berbicara sepanjang perjalanan. Meskipun, sebenarnya hanya dia yang bicara dan Sekar hanya mendengarkannya saja.

Dia masih mengingat dengan jelas suara gadis itu yang lirih mengeluh kedinginan.

Masih ingat bagaimana Sekar berjalan perlahan di sampingnya sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Bahkan beberapa kali dia sempat menoleh dan melihat wajah gadis itu dengan jelas.

Namun sekarang gadis itu menghilang begitu saja.

Tak lama kemudian, suara percakapan di depan rumah membuat Pakde Banyu keluar dari dalam rumah bersama Dila.

Keduanya tampak heran melihat keributan kecil yang terjadi di bawah rumah.

"Ada apa ini?" Tanya Pakde Banyu.

Bu Ratmini menoleh ke arah kakaknya.

"Pakde Nanang bilang, tadi dia mengantar Sekar ke sini."

Pakde Banyu langsung terdiam.

"Mengantar Sekar?" Ulangnya pelan.

Bu Ratmini mengangguk.

"Tapi sekarang Sekarnya nda ada."

Pakde Banyu mengernyit lalu menatap Pak Nanang.

Pak Nanang yang masih terlihat kebingungan segera berkata,

"Sungguh, Banyu. Aku tadi bersama Sekar."

"Aku ketemu dia di jalan setapak dekat kebun jagungku."

"Dia berdiri di tengah hujan deras."

Dila dan Pakde Banyu saling berpandangan.

"Aku bahkan bicara sama dia." Lanjut Pak Nanang.

"Aku antar dia sampai ke sini karena sedari tadi dia bilang dia dingin."

Pak Nanang mengusap wajahnya yang basah.

Tangannya sedikit gemetar.

"Demi Allah, aku nda bohong." Suara pria itu mulai bergetar.

"Aku berani sumpah, kalau tadi aku benar-benar bersama Sekar."

Melihat Pak Nanang yang semakin panik dan tubuhnya menggigil karena kedinginan, Bu Ratmini akhirnya merasa kasihan.

"Sudah, Pakde. Naik saja dulu."

"Iya, Pakde," sahut Pakde Banyu.

"Masuk dulu. Kita bicara di dalam."

Pak Nanang tampak ragu.

"Tapi Sekar..."

"Nanti kita pikirkan." kata Pakde Banyu menenangkan.

Bu Ratmini lalu menoleh kepada Dila.

"Dila, ambilkan handuk sama sarung untuk Pakde Nanang."

"Iya, Bu."

Dila segera berlari masuk ke dalam rumah.

Sementara itu, Pak Nanang perlahan menaiki tangga rumah panggung tersebut.

Tubuhnya masih menggigil karena dingin.

Tak lama kemudian, Dila kembali dari dalam rumah sambil membawa sebuah handuk dan sarung.

"Ini Mbah." Katanya sambil menyerahkan keduanya kepada Pak Nanang.

"Terima kasih, Nduk." jawab Pak Nanang.

Pria tua itu lalu mengeringkan rambut dan wajahnya dengan handuk.

Melihat pakaian Pak Nanang yang masih basah kuyup, Bu Ratmini merasa tidak enak hati.

"Pakde Nanang, pakai saja sarung itu dulu." Katanya.

"Nanti masuk angin kalau tetap pakai baju basah begitu."

Pak Nanang sempat menolak.

"Ndak usah repot-repot, Ratmi."

"Ndak apa-apa, Pakde. Dipakai saja."

Pakde Banyu ikut mengangguk.

"Iya, Pakde. Badan panjenengan sudah menggigil begitu."

Akhirnya Pak Nanang mengangguk pelan.

Bu Ratmini memang cukup mengenal pria tua itu.

Sejak dulu, Pak Nanang dikenal sebagai orang yang baik dan sopan.

Meski usianya sudah menginjak tujuh puluh tahun, dia masih rajin pergi ke kebun hampir setiap hari.

Bu Ratmini bahkan teringat bagaimana anak-anak Pak Nanang sering mengomel karena kebiasaan itu.

Mereka berkali-kali meminta ayah mereka untuk beristirahat di rumah saja. Namun Pak Nanang selalu menolak.

Katanya, selama tubuhnya masih kuat bergerak, dia tidak betah hanya duduk diam menunggu waktu berlalu.

Karena itulah hampir setiap hari warga masih melihat pria tua itu berjalan ke kebun dengan cangkul atau parang di pinggangnya.

Setelah tubuhnya agak kering dan sarung sudah dikenakan, Pak Nanang kembali duduk.

Namun pikirannya masih belum tenang. Wajahnya terlihat kebingungan.

Sesekali dia menoleh ke arah pintu rumah.

Seolah masih berharap Sekar tiba-tiba muncul dari luar dan membuktikan bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi.

1
Yulia Lia
akhirnya Sekar di temukan ,tapi sudah menjadi mayat😭😭😭
Mega Arum
typo Thor... kalimat Nda...sebaiknya tidak, msl tdk mungkin...
Nurr Tika
itu arwah sekar
Mega Arum
menarik
Rini Yunita
q curiga kl wulan adalah pelakunya
Nurr Tika
sedihnya smpe sini
Siti Yatmi
duh ..Thor .betapa hancur hati seorang ibu .tiap hari berharap anaknya pulang, tapi malah mayat yg ditemukan, ga sanggup deh, bayangin nya ..
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
Siti Yatmi
jgn2 Sekar itu..ya Tuhan ...
Wiwit
lanjut thor
Nurr Tika
bnr kah itu mayat sekar
Riska Salahudin
pasti sekar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!