NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:307.8k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Setelah Berpuasa

Laporan yang diberikan Jordan sesungguhnya tak memuaskan hati. Tapi segala penjelasan asistennya itu telah menunjukkan kerja keras dalam melakukan penyelidikan seperti yang diminta. Hanya saja hasilnya masih abu-abu. Seperti ada tabir yang sulit ditembus. Hal ini semakin mencuatkan kecurigaan Diaz.

"Jo, emang apa yang bikin sulit? Tumben lo ngasih laporan kentang gini," ujar Diaz yang beralih dari duduk tegak menjadi menyandarkan punggung pada bantal sofa.

"Waktunya mesti ditambah, Bos. Dua hari tidak cukup. Itu tandanya ada something sama orang ini."

"Maksud lo dia bukan orang biasa?"

"Ada indikasi demikian, Bos. Minta tambahan waktu seminggu lagi. Hari kerja, Bos. Libur akhir tahun jangan dihitung ya. Hehehe."

"Hm, oke. Kali ini gue ber...." Diaz tak melanjutkan kalimatnya karena tatapan dan fokusnya mendadak terkunci pada perempuan cantik dalam balutan lingerie warna merah yang muncul dari pintu walk in closet. Melangkah slow motion sambil mengikat rambut yang awalnya tergerai. Mata Diaz sampai lupa berkedip meski yang ditatap tampak santai memainkan rambut. Benar-benar menggoda imin.

"Ber apa, Bos? Nggak jelas saya."

Kepala Diaz bergerak mengikuti langkah gemulai perempuannya itu yang menuju dispenser air. Mendadak jakunnya naik turun dan meneguk ludah melihat Tya sedikit membungkuk saat mengisi air dengan posisi membelakanginya. Kain merah itu membakar gairah. Bokong mulus yang menerawang di balik kain merah itu yang membuat icibos meronta-ronta.

"Bos. Halo..."

Diaz barulah mengedip setelah matanya terasa perih. Pandangannya masih tak luput dari memperhatikan gerak gerik Tya yang kini memutar badan dengan tangan kanan memegang gelas. Cahaya terang ruang kamar melukiskan dengan jelas visual sang bidadari yang mengedipkan mata lalu berjalan menuju ranjang dan duduk di tepian sambil bersilang kaki.

"Bos, masih hidup?"

"Eh, maksudnya masih on kan?"

Ada yang meronta-ronta tetapi bukan kucing dalam karung. Badannya mulai meriang karena tersulut gairah. Diaz baru sadar masih tersambung dengan Jordan setelah mendengar suara asistennya itu. Sambungan telepon diputus begitu saja dan ponsel dilempar ke samping kirinya.

Ya ampun! Deg-degan banget. Aku sudah membangunkan harimau lapar. Joko, help!

Tya memutar-mutar gelas sekadar untuk mengalihkan rasa gugup begitu sudut matanya melihat Diaz beranjak dari sofa. Ia sadar sudah iseng menggoda Diaz karena tidak ada keg. Tetapi begitu pancingannya nyangkut malah jantungnya berdebar kencang.

"Sayang...sengaja ya menggoda, hm?" Diaz menatap Tya dengan pandangan memuja dan berkabut gairah.

Tya hanya tersenyum sambil mengubah posisi duduk dengan merapatkan kaki. Tatapan Diaz membuat kulitnya merinding.

Diaz berjongkok di hadapan sepasang paha mulus yang menantang. Bibirnya menyapu mulai dari ujung sampai pangkal. Bergantian paha kiri dan kanan. Desahan Tya yang terdengar berulang semakin memecut gairahnya.

"Udah ah, Bey. Geli." Tya menahan kepala Diaz yang hendak bergerak lagi menyapukan bibir.

Diaz mengambil gelas yang dipegang Tya. Menyimpannya di table lamp. Kemudian meraih tangan Tya untuk berdiri berhadapan. Sekali lagi matanya memindai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu pandangannya menetap di dada. "My sexy wife. Aku suka. Hanya aku yang boleh melihatnya ya, sayang."

Tya mengangguk. "Iya, Abey. Meskipun aku dekat dengan Joko, dia cuma lihat aku tanpa jilbab aja tidak lebih dari itu."

Dalam gairah yang mulai semaput, Diaz tertawa. Bukannya jawaban romantis, malah jawaban yang absurd. Dengan gemas, Diaz melahap bibir ranum yang tersaji di depan wajahnya.

Lutut Tya mulai melemah oleh tindakan Diaz yang mencumbui hingga turun ke leher. Dengan sigap suaminya itu menahan pinggang lalu menggendong tanpa beban seolah ringan. Dengan sangat hati-hati menurunkan tubuhnya di ranjang.

"Bey, stop dulu. Dengarkan dulu." Tya menangkup kedua sisi wajah Diaz yang mulai merambah ke dada.

Diaz mendongak dengan posisi lutut berada di kedua sisi perut Tya. Mengungkung tanpa membebani. "Ada apa, Yang?"

"Aku masih trauma kejadian waktu itu. Pelan-pelan ya. Burungmu itu bukan burung pipit, tapi burung gagak. Jangan sampe masuk rumah sakit lagi. Mana lusa mau berangkat liburan. Jangan sampai batal liburan. Pelan-pelan ya, pak sopir." Pinta Tya dengan tatapan memelas.

Diaz tersenyum simpul lalu menggesekkan hidungnya ke hidung Tya. "Siap, sayang. Burung gagak akan menjelajah masuk ke gua pelan-pelan."

***

Meski waktu telah menunjukkan terbit fajar, Suri masih betah duduk berbalut mukena dengan tasbih digital terselip di jari telunjuk. Masih betah melantunkan dzikir dengan lirih serta mata terpejam. Meresapi dan memaknai hingga membuat hati dan pikiran tenang. Setenang kehidupannya sekarang setelah menyandang status janda.

Semalam begitu melihat Diaz pulang, Suri bisa menangkap adanya beban yang dibawa sang putra semata wayangnya. Tersirat lewat sorot mata. Seandainya bukan berkaitan dengan mantan suami, ia tentu akan bersedia menjadi pendengar yang baik, seperti biasanya. Tetapi karena sang anak pamit untuk ketemu ayahnya, ia terpaksa harus tega mengabaikan sesuai dengan ketegasan yang telah dibuatnya—tidak mau mendengar pembahasan tentang Hilman dan keluarga Selly.

Suri yakin, Tya bisa menjadi pendengar yang baik serta teman curhat yang menyenangkan untuk Diaz. Berulang kali ia melihat anak dan menantunya itu berbincang dengan asyik dan nyaman satu sama lain.

Aku belum packing buat besok.

Suri membuka mukenanya. Sebelum langkahnya sampai ke pintu walk in closet, ponsel yang sedang diisi daya terdengar berdering. Desah napasnya berembus kasar melihat nama mantan suami tertera di layar. Ia memilih mengabaikan dan melanjutkan tujuan mengemasi pakaian untuk liburan besok.

Sementara di kamar yang ada di lantai dua. Tya pun sedang menata pakaiannya dan pakaian Diaz serta barang pribadi lainnya ke dalam koper. Rambutnya yang setengah basah dibiarkan tergerai.

"Abey, cek ulang dulu apa yang kurang. Kalau punya aku udah," ujar Tya dengan posisi masih berjongkok di depan koper. Tak perlu menoleh karena Diaz sedang bersantai di sofa bed sambil membuka ponsel.

"Iya nanti. Ayang sini dulu."

Tya menghampiri Diaz yang tidur terlentang dengan satu kaki menjuntai ke lantai. "Mau apa?"

"Mau lagi." Diaz menarik tangan Tya hingga jatuh menimpa tubuhnya. Satu kaki yang menjuntai dipakai untuk mengunci tubuh Tya.

"Bey, semalam apa nggak kenyang? Dua kali lho." Tya menjawil kedua pipi Diaz yang wajahnya begitu cerah setelah setiap hari selalu memberengut setiap kali selesai bercumbu tanpa tuntas.

Hari ini 25 Desember. Diaz mulai menikmati libur panjang di rumah sebelum besok berangkat ke Banyuwangi mengikuti keinginan sang ibu yang ingin liburan ke pantai yang tenang.

"Itu kan malam. Sekarang pagi lapar lagi." Diaz mencium bibir Tya. Tubuh yang segar setelah mandi, energi yang terisi ulang, pikiran rileks karena hari libur, membuat libido meningkat dan mudah merespon rangsangan. Apalagi posisinya yang baru berbuka puasa, benar-benar terpancing ingin melakukan Lagi dan lagi.

"Di sini?"

"Di sini aja. Biar setiap sudut ada jejak percintaan kita." Diaz mengedipkan mata dengan ekspresi nakal.

"Menandai wilayah. Kayak kucing jantan."

Diaz terkekeh mendengar jawaban Tya.

Tya berpasrah mengikuti keinginan Diaz. Apalagi tubuhnya pun ikut merespon setiap kali suaminya itu memberikan sentuhan dengan lembut. Semalam Diaz telah membuktikan permainan tanpa menggebu-gebu seperti di Bandung waktu lalu. Slow but sure memberi kenikmatan satu sama lain. Dan pagi ini, sofa bed menjadi saksi bisu ibadah suami istri pengantin baru.

1
Nur aprilia adiah
duh si ibu lagi puber kedua tuh mas..ya ampun Diaz bucin Banget deh..
Nur aprilia adiah
mungkin pak Husein CEO yg tersembunyi 😄
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀👀👀👀👀👀👀
Hariana Jusman
pastinya karna nggak biasa kenapa tiba² nelpon pasti ada maunya tuh
Hariana Jusman
idih🫣🫣🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!