Demi melindungi cintanya, dia harus membuat sebuah keputusan yang sulit untuk di mengerti orang lain. Menyembunyikan pernikahannya dan tinggal terpisah dari istrinya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan itu selain dirinya, si gadis dan asisten pribadinya. Sangat tidak masuk akal memang, namun semua itu Kevin lakukan semata-mata hanya demi melindungi gadis tercintanya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Langit malam baru saja menghentikan tangisnya.
Halaman rumah berwarna putih itu masih dipenuhi tetesan-tetesan air pada setia pucuk rumputnya. Sementara tanah berwarna kecoklatan di bawah rumput hijau mengeluarkan aroma Petrichor yang sangat pekat hingga membumbung ke udara. Menciptakan kabut samar yang nyaris tak tertangkap oleh netra manusia.
Warna hitam yang pekat masih menyelubungi langit malam. Menyembunyikan bulan dan bintang di balik gulungan awan hitam. Membiaskan muram pada sebagian bumi yang baru saja ditinggalkan oleh hujan.
Hujan malam ini memang tidak menyisakan apa-apa, kecuali aroma petrichor yang terbawa angin dan menyapu ventilasi dan kemudian terhirup organ respirasi. Di balik jendela yang terbuka lebar, sepasang irisnya memandang langit dengan pandangan hampa.
"Sudah satu minggu, ya?" gadis itu bergumam lirih.
Derap langkah kaki seseorang yang datang menyita perhatiannya dari sang malam. "Sica, kenapa belum tidur?" tanya orang itu sambil menghampiri gadis tersebut yang pastinya adalah Jessica. "Merindukan suamimu, eh?" tebak Jae Eun 100% benar.
Jessica membuang muka seraya mendengus berat. "Mana ada. Untuk apa juga aku merindukan manusia tak berhati seperti dia. Membuang-buang waktu saja." Jae Eun terkekeh. Dia tau bila keponakan cantiknya itu sedang berbohong padanya. Jelas-jelas dia merindukan Kevin tapi tetap tidak mau mengakuinya.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu sebaiknya, Bibi, suruh saja tuan Zhang untuk pulang karna kau tidak mau bertemu dengannya." Tutur Jae Eun.
"Apa?" sontak Jessica menoleh dan sedikit memekik. Lagi-lagi Jae Eun terkekeh. "Dia ada di sini?" Jae Eun mengangguk.
"Ya, suamimu ada di sini dan sekarang sedang membersihkan tubuhnya di kamar tamu. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh air hujan jadi, Bibi, memintanya untuk langsung mandi." Ujar Jae Eun panjang lebar.
"Oh." Hanya itu respon dari Jessica. Jae Eun mendengus geli. Setidaknya dia sudah memberi taunya, Jessica mau menemuinya atau tidak itu semua terserah padanya.
"Bibi , keluar dulu." Jae Eun beranjak dan meninggalkan Jessica begitu saja.
Tak lama setelah kepergian Jae Eun. Pintu kamarnya kembali terbuka dan sosok Kevin yang hanya memakai singlet hitam dan celana hitamnya memasuki kamar itu. Tapi Jessica tidak begitu menghiraukannya karna dia berfikir itu adalah Jae Eun.
Helaan nafas panjang berkali-kali keluar dari sela-sela bibirnya. "Dasar, Kevin Zhang, menyebalkan. Selalu saja bersikap seenak hatinya. Setelah satu minggu menghilang tanpa kabar dan sekarang tiba-tiba datang. Awas saja dia, aku tidak akan memaafkannya dan tidak akan bicara lagi padanya." Gerutu Jessica. Bibirnya terus saja berkomat-kamit tidak jelas membuat geli sosok pria yang sedang menatapnya sambil bersandar pada tembok dan bersidekap dada.
"Hn."
"Omo?" Jessica terlonjak kaget mendengar deheman yang begitu khas masuk dan berkaur di dalam telinganya. Sontak dia menoleh dan terkejut setengah mati saat mendapati Kevin berada dikamarnya. "Kevin Zhang, sejak kapan kau berdiri di sana?" tanya Jessica memastikan.
Kevin beranjak dari posisinya dan menghampiri Jessica. "Sejak kau mulai menggerutu dan menghujaniku dengan sumpah serapahmu."
"A-apa? Selama itu?Tapi kenapa aku tidak menyadari kedatanganmu?"
"Itu karna kau terlalu larut dalam duniamu sendiri." Kemudian Kevin menarik pinggang ramping Jessica hingga jatuh ke dalam pelukkannya. "Aku merindukanmu." Ucap Kevin sambil mengunci sepasang mutiara jernih Jessica.
"Tapi aku tidak." Gadis itu membuang muka dan menghindari tatapan Kevin.
"Benarkah? Aku fikir kau merindukanku juga," Kevin kecewa, hanya berpura-pura lebih tepatnya. "Sepertinya tidak ada gunanya aku datang kemari karna ternyata kau tidak merindukanku sama sekali. Sebaiknya istirahat saja, aku akan pulang." Kevin melepaskan pelukkannya dan meninggalkan Jessica begitu saja.
Brugg.... "Dasar, Kevin Zhang, bodoh. benar-benar bodoh. Mana mungkin aku tidak merindukanmu. Jika aku memang tidak merindukanmu, mana mungkin setiap detik aku selalu memikirkanmu. Aku benar-benar frustasi karna kau tidak ada kabar sama sekali dan ponselmu tidak bisa di hubungi." Ujar Jessica panjang lebar. Suaranya terdengar parau.
Kevin melepaskan pelukkan Jessica lalu berbalik dan merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukkannya.
"Maaf, sudah membuatmu cemas. Sebuah insiden menimpaku saat aku berada di Inggris. Mobilku mengalami kecelakaan dan selama dua hari aku tidak sadarkan diri." Jelas Kevin penuh sesal.
Sontak Jessica melepaskan pelukkan Kevin. "Kau mengalami kecelakaan?" Kevin mengangguk. Kemudian Jessica menyibak sebagian poni Kevin dan mendapati luka yang masih basah tepat di atas alis kirinya. "Inikah lukanya?" lagi-lagi Kevin mengangguk. "Duduklah, aku akan membantu mengobati dan membalut lukanya." Jessica membawa Kevin untuk duduk di tempat tidurnya.
Kemudian dia meminta Kevin untuk menunggu sebentar dan tak berselang lama Jessica kembali dengan sebuah kotak P3K.
Dan sepanjang Jessica mengobati lukanya. Tak sedetik pun Kevin mengalihkan tatapannya dari sang dara. Kevin tersenyum kecil melihat wajah serius Jessica.
"Bagaimana dengan Tao dan Lay? Apa mereka berdua merepotkanmu?" tanya Kevin. Jessica mengangkat wajahnya dan mengangguk.
"Sangat. Apalagi panda mesum itu. Hampir setiap hari dia membuatku kesal setengah mati. Sedangkan si pikun itu selalu saja menghilang dan menyelinap ke atas atap. Aku tidak tau apa yang dia lakukan di sana. Dan hampir setiap malam aku mendengar desahan-desahan mengerikan dari kamar mereka berdua." Tutur Jessica.
Kevin mendengus berat. Mereka berdua memang tidak pernah berubah. Selalu saja berulah dan membuat orang lain merinding karna kebiasaannya tersebut.
Dan setelah hampir lima menit, akhirnya Jessica menyelesaikan pekerjaannya dan sebuah perban membebat kening Kevin dengan sangat rapi.
"Sebaiknya kau istirahat. Kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Malam ini kau boleh tidur di sini, aku akan membereskan ini dulu." Kemudian Jessica beranjak dari hadapan Kevin dan meninggalkan pria itu begitu saja.
Ponsel Kevin tiba-tiba berdering. Alih-alih menerima panggilan itu, Kevin malah menolaknya. Dia terlalu malas. Kemudian Kevin membaringkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur Jessica, dan mencoba menutup matanya. Kepalanya sedikit pusing, dan dia ingin tidur lebih awal.
Beberapa menit kemudian Jessica datang dan ikut berbaring di samping Kevin. Kevin memeluknya, tidak sampai sepuluh menit keduanya sudah pergi ke alam mimpi.
🌹
🌹
🌹
"PANDA SIALAN, CEPAT JAUHKAN MENTIMUN ITU DARIKU."
Mata Kevin yang masih terasa berat terbuka dengan paksa setelah mendengar teriakkan nyaring Jessica yang begitu memekatkan telinganya. Penasaran apa yang terjadi. Kemudian Kevin menyibak selimut dari tubuhnya dan berjalan keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Nunna-ya. Kau ini benar-banar aneh, jelas-jelas mentimun ini sangat lezat tapi kenapa kau malah membencinya." Heran Tao. "Bagaimana kalau aku membantumu menyukainya mulai sekarang? Aku akan mengirisnya tipis-tipis dan kau bisa mencobanya." Usul Tao.
"Sekali tidak ya tidak. Jauhkan mentimun itu atau ku bunuh kau." Ancam Jessica sambil mengacungkan sebuah spatula pada Tao.
"Ayolah, Nunna-ya. Sekali saja." Paksa Tao.
"Tidak mau. Yakk! Pikun cepat bantu aku." Teriak Jessica pada Lay yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Sebentar, Nunna, tanggung tau." Balas Lay menimpali.
"Aarrkkhh! Kenapa Kevin harus memberiku bodyquard yang tidak berguna seperti kalian sih." Jessica menggeram frustasi. Yang satu jahilnya tidak ketulungan dan satu lagi selain pikun juga mesum akut.
Dan sementara itu. Kevin yang menyaksikan perdebatan Jessica dan Tao hanya bisa mendengus geli. Ternyata gadisnya itu tidak pernah berubah, masih tetap tidak menyukai dan membenci yang namanya mentimun.
Jae Eun menghampiri Kevin sambil membawa secangkir kopi. "Jangan terkejut apalagi heran, Tuan Zhang, pemandangan seperti ini selalu terjadi setiap pagi." Ucap Jae Eun.
"Hn."
"Kopi anda saya letakkan di sini. Silahkan selagi masih panas."
"Maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya permisi dulu." Jae Eun meninggalkan Kevin begitu saja. Dia masih memasak dan masakannya bisa hangus jika ditinggalkan terlalu lama.
Kevin mengabaikan kopinya dan menghampiri Jessica. "Hentikan, Tao." Suara dingin terlewat datar itu langsung menyapu telinga ketiganya. Buru-buru Lay menyembunyikan ponselnya sebelum terkena amukan oleh Kevin.
"Padahal aku sudah memperingatkannya, Boss. Tapi Panda ini masih tetap tidak mau mendengarkanku."
"Cih , dasar penjilat." Cibir Jessica. "Jelas-jelas kalian berdua itu sama saja dan tidak ada bedanya" Ujar Jessica. Lalu pandangannya bergulir pada Kevin. "Kau sudah bangun?" kemudian Jessica menghampiri Kevin. "Sebaiknya kau segera mandi dan setelah ini kita sarapan bersama. Bibi, hampir selesai memasaknya." Ujarnya yang kemudian di balas anggukan oleh Kevin.
Ting...! Sebuah pesan masuk ke ponsel Kevin. Pria itu merogoh saku celananya dan mendapati sebuah nomor asing tertera di sana. Penasaran apa isi pesan itu. Kevin langsung membuka dan membacanya.
Sudut bibirnya tertarik ke atas, seringai penuh kemenangan tersungging di bibir kissablenya.
"Jerry Zhang, inilah akibatnya jika kau berani bermain-manin denganku."
.
.
.
BERSAMBUNG.