NovelToon NovelToon
Hidupku Kurebut Kembali

Hidupku Kurebut Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Rumah Tangga / Selingkuh / Kebangkitan pecundang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Sofia Grace

“Aku mencintaimu, Mey. Mari kita menikah.”

Mey seorang gadis yang terpaksa bekerja sebagai ladies companion alias LC di tempat karaoke demi membiayai kebutuhan hidupnya dan Liani, anaknya yang lahir di luar nikah. Ron mengentas Mey dari dunia hiburan malam, menjadikannya kekasih, dan kemudian melamarnya.

Sayang Ron tak bersedia menerima Liani dan meminta Mey tetap menitipkannya di panti asuhan. Pria itu berjanji takkan melarang Mey menemui anaknya dan memakai uang Ron untuk membiayai kebutuhannya. Gadis itu setuju. Dia mempercayakan Liani pada Bu Widya, pengelola panti.

Setelah menikah, karir Ron melejit dari sales biasa hingga menjadi distributor sepatu ternama. Dia dan Mey dikaruniai dua anak bernama Cyll dan Sam. Mey menjadi nyonya sosialita dengan hidup gemerlap hingga kemudian syok berat mengetahui kebobrokan perilaku suaminya.

Apa yang dilakukan Mey selanjutnya? Akankah dia mempertahankan pernikahannya? Lalu bagaimana hubungannya dengan Liani?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofia Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Tante Ika

Muka Ron memerah. Perasaannya campur-aduk antara malu dan gengsi. Malu ketahuan selingkuh, tapi gengsi menunjukkan penyesalan. Suasana menjadi hening selama beberapa saat. Pria itu berupaya menguasai perasaannya.

Tak lama kemudian dia menghembuskan napas dan berkata, “Saya akui telah mengkhianati kepercayaan Mey. Tapi poinnya sekarang bukan itu, Bu Widya. Kita harus menyelamatkan Mey. Anak-anak berkali-kali menanyakan keberadaan mamanya. Saya bilang Mey kecelakaan dan masuk rumah sakit. Kata dokter dia harus banyak istirahat, jadi tidak bisa menerima pengunjung.”

Bu Widya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang. “Sekarang kamu ngerti kan, Ron, betapa beratnya tugas Mey sebagai seorang ibu. Selain mengurusmu dan anak-anak, dia juga harus menyempatkan diri mengunjungi Liani di panti asuhan. Ibu heran kenapa kamu tidak mau membuka pintu buat Liani. Bagaimanapun juga kamu telah menikahi ibunya, Ron. Kenapa tak mau menerima anak kandungnya juga?”

Ron tersentak. Tak diduganya pertanyaan itu akan muncul dari mulut Bu Widya. Pria itu tertegun beberapa saat lamanya. Setelah mampu menguasari diri, Ron berkata, “Saya ini bukan pecinta anak kecil, Bu Widya. Tujuan saya menikahi Mey adalah untuk membentuk keluarga sendiri. Saya kuatir tidak bisa adil dalam membagi kasih sayang antara anak kandung sendiri dengan anak bawaan dari istri saya. Daripada sikap saya nanti berat sebelah dan menyakiti hati banyak pihak, lebih baik sejak awal saya tidak bersinggungan dengan anak bawaan istri saya.”

Bu Widya tak menyerah. “Tapi sepintar-pintarnya rahasia ini disimpan, suatu saat akan ketahuan, Ron. Liani akan bertambah besar. Daya pikirnya semakin berkembang. Sampai kapan Mey mampu membohongi anak itu?”

“Soal itu saya tidak mau ikut campur, Bu Widya,” tampik Ron tegas. “Dari awal melamar Mey, saya sudah mengungkapkan tidak bisa menerima kehadiran anaknya. Saya tidak pernah memaksa Mey menyetujui hal itu. Dia sendiri yang dengan sukarela menerima kesepakatan itu. Jadi kalau dari awal Mey mempermasalahkannya, maka pernikahan kami takkan pernah terjadi. Cyll dan Sam tak mungkin lahir. Takkan terjadi kecelakaan yang memakan korban jiwa dan kita tak mungkin bicara berdua seperti ini sekarang!”

Bu Widya terbelalak, “Kamu...kamu, ah.... Benar kata Mey rupanya. Kamu ini keras hati sekali, Ron.”

“Terserah apa pendapat Ibu terhadap diri saya,” sahut Ron enteng. “Saya tidak pernah peduli bagaimana orang lain menilai diri saya. Yang penting bagi saya kalau orang sudah berjanji, maka harus ditepati. Siapapun itu. Keluarga sendiri maupun bukan.”

“Kalau begitu buat apa kita melanjutkan pembicaraan ini, Ron? Tak ada gunanya.”

Ron tersenyum sinis. Dia berdiri. “Sepertinya kita berdua tidak bisa bekerja sama demi memulihkan kondisi psikis Mey. Kalau begitu biar saya minta ibu saya datang ke Bandung untuk menemani Mey selama masa pemulihan.”

Bu Widya tak percaya pada pendengarannya. “Ibumu, Ron?”

“Ya. Ibu saya.”

“Bukankah ibumu dan Mey sudah lama tak bertemu?”

Ron mengangguk. “Betul, Bu Widya. Tapi saya tak punya opsi lain karena sudah jelas kita berdua beda frekuensi. Jadi lebih baik saya minta tolong ibu saya buat datang ke Bandung dan menemani Mey selama masa pemulihan.”

Bu Widya merasa gemas. Laki-laki ini aneh. Dia kan tahu Mey tidak cocok dengan Bu Yuna. Kok malah mau didekatkan? Sinting!

***

Bu Yuna gelisah. Dia tadi mendapat kabar dari Ron tentang musibah kecelakaan yang melibatkan istrinya. Pria itu meminta Bu Yuna untuk datang ke Bandung guna menemani Mey selama masa pemulihan. Perempuan berumur tujuh puluh enam tahun itu menyatakan keragu-keraguannya.

“Tapi apa yang bisa Ibu lakukan di sana, Ron?” tanya Bu Yuna bingung. “Kamu kan tahu Ibu tidak dekat dengan istrimu. Kami terakhir ketemu waktu Cyll masih bayi. Sejak itu Ibu tidak pernah ke Bandung lagi. Kalian juga tidak pernah berkunjung ke Surabaya. Paling kamu dan istrimu menelepon setahun sekali untuk mengucapkan selamat tahun baru. Ibu juga bertemu Cyll waktu masih bayi, sama Sam malah sama sekali tidak kenal. Apa kehadiran Ibu di sana nanti berguna buat istri dan anak-anakmu?”

Ron geram sekali mendengar alasan panjang-lebar yang dikemukakan ibunya. “Seandainya Ibu yang mengalami musibah di Surabaya terus aku dan Mey tidak mau datang berkunjung, bagaimana perasaan Ibu?”

“Ron, bukan maksud Ibu....”

“Aku tahu Ibu tak pernah peduli padaku, apalagi pada istri dan anak-anakku! Yang Ibu selalu pikirkan cuma Jim dan Yun. Mereka berdua yang selalu ada di hati Ibu, betapapun Ibu selalu disakiti. Jangan lupa, Bu. Selama ini siapa yang membiayai kehidupan Ibu? Bahkan waktu Jim masih hidup, dia tak mampu mengurus keluarganya sendiri! Selalu Ibu yang maju setiap kali dia dan Yun ada masalah. Lucunya lagi, Ibu selalu melibatkan aku! Aku terus yang dijadikan sapi perahan untuk membuat hidup kalian nyaman. Sekarang saat keluargaku mengalami musibah, Ibu malah beralasan ini-itu tak mau datang. Padahal semua biaya dan fasilitas kusiapkan. Ibu mau naik kereta, kubayarin. Ibu mau naik mobil, kusewakan. Seandainya yang berada dalam masalah sekarang ini anak kesayangan Ibu, si Jim, Ibu pasti tak berpikir dua kali untuk datang ke Bandung. Iya, kan?”

Bu Yuna tak mampu berkata-kata. Perempuan tua yang rambutnya semakin putih itu menjawab lirih, “Ya sudah, Ron. Ibu naik kereta api saja besok. Nanti Ibu minta Tante Ika menemani. Kamu transfer saja uangnya ke rekening Tante Ika buat bayar tiket kereta.”

Setelah pembicaraannya di telepon dengan Ron selesai, Bu Yuna menangis tersedu-sedu. Hatinya terluka karena Ron mengungkit-ungkit kesalahannya di masa lalu yang pilih kasih terhadap Jim, mendiang kakak Ron. “Ya Tuhan, aku tidak mengerti kenapa aku masih Kau biarkan hidup sampai sekarang. Anak kesayanganku sudah tiada, sementara anakku yang lain terasa bagai orang asing bagiku.”

***

Dua hari kemudian Bu Yuna dan Tante Ika, adiknya, tiba di Bandung. Mereka dijemput oleh Ron dan sopir di stasiun. Setelah berbasa-basi sejenak, Ron membawa ibu dan bibinya ke rumah. Sesampainya di sana pria itu memperkenalkan anak-anaknya. Cyll tampak ramah menyambut kedatangan oma-omanya, sebaliknya Sam justru kelihatan tegang seperti tidak percaya diri.

“Cucu-cucumu cantik dan cakep, Mbak,” puji Tante Ika begitu mereka tinggal berdua saja di dalam kamar. “Cyll kelihatan menonjol. Anak itu ramah dan pintar bicara. Kalo Sam mungkin karena masih kecil jadi kelihatan pendiam banget. Mungkin masih malu-malu kucing, ya.”

Bu Yuna mengangkat bahu. “Aku baru kali ini bertemu Sam. Jadi tidak tahu bagaimana karakternya.”

Tante Ika merasa prihatin. “Mereka itu keluargamu, Mbak. Sudah waktunya kalian tinggal satu atap. Jangan terpisah terus.”

Bu Yuna mendengus. “Aku ini sudah tua, Ka. Malas menyesuaikan diri dengan orang-orang dan lingkungan baru. Aku sudah tenang tinggal di Surabaya. Jalan-jalan setiap pagi di lingkungan rumah, siang hari membantumu mengurus toko di pasar, terus sesekali ikut kamu sekeluarga rekreasi. Itu semua sudah menjadi rutinitas hidup yang sangat kunikmati.”

“Tapi sampai kapan, Mbak?” potong Tante Ika. “Umurmu sudah tujuh puluh enam tahun. Aku sendiri tujuh puluh empat tahun. Seandainya aku yang dipanggil duluan oleh Yang Maha Kuasa, siapa yang menemanimu di Surabaya? Masa Mbak mengandalkan anak-anakku? Maaf ya, Mbak. Bukannya mereka ga mau mengurusmu. Tapi mereka sendiri juga punya keluarga yang harus diurus....”

Bu Yuna merasa tersinggung. “Aku ga pernah minta anak-anakmu mengurusku, Ika. Aku bisa mengurus diri sendiri. Atau kalau aku kelak sudah tua renta, ya sudah biar saja aku tinggal di panti jompo. Aku takkan merepotkanmu dan anak-anak.”

Tante Ika menatap tajam. “Mana bisa Mbak Yuna tinggal di panti jompo, tinggal satu atap dengan banyak orang. Apalagi kalau mereka tahu kelakuan Mbak Yuna.”

Bu Yuna mendelik. “Apa maksudmu, Ika? Memangnya kelakuanku seperti apa?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!