Cerita ini hanya kehaluan author.
Kehilangan suami dan harus menikah dengan adik iparnya harus Khairunnisa jalani.
Kebahagiaan yang baru Abian Maulana dan Khairunnisa rasakan harus terusik karena satu persatu misteri kematian Andreas Rafasya terungkap.
Maaf banyak typo bertebaran, tahap revisi 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa dia?
Setelah semua pekerjaan selesai ,Bian pulang lebih awal karena rasa kangen kepada keluarga kecilnya, Bian membereskan ruangan dan menyimpan berkas penting setelah itu bian mengunci ruangan khususnya.
Bian berjalan dengan senyum merekah di wajahnya membayangkan sang istri menyambutnya pulang dengan senyum manis.
Bian melajukan mobil kesayangannya membelah ramainya jalanan ibukota, sampai di depan pagar rumah nya bian membunyikan klakson mobilnya, muncullah Pak Ujang membuka pagar sambil menunduk.
"Terimakasih Pak," kata Bian tersenyum menyerahkan sebungkus martabak buat Pak Ujang.
"Terimakasih Pak, lumayan buat teman ngopi" kata Pak Ujang berbinar.
"Iya sama-sama pak jangan lupa di makan," jawab Bian.
Setelah mobil bian memasuki halaman depan menuju garasi, setelah itu Bian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mencari keberadaan sang istri.
Bian menyusuri setiap ruangan ternyata rumah sepi.
'Mungkin Raka tidur,' batin Bian.
Langkahnya terhenti melihat sang istri sibuk di dapur, bian melihat jam tangannya.
'Ternyata baru jam emat sore, mungkin aku terlalu cepat pulang,' batin Bian sambil tersenyum sendiri membayangkan reaksi Nisa.
Bian menaruh sebungkus martabak dan tas kerja nya di meja makan, Bian mengendap-endap menghampiri Nisa, Bian melingkarkan tangannya di perut Nisa dan membisikkan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu cintaku," bisik Bian.
Sedangkan Nisa kaget mendapati Bian yang sudah memeluknya, Nisa menghentikan memotong sayur dan mencubit tangan Bian.
"Mas Bian, ngagetin aja sih," kata Nisa sebal mengerucutkan bibirnya.
"Jawab dulu sayang salam nya," kata bian gemas melihat Nisa
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu,"
"Maaf ," sesal Nisa cengengesan.
"Wah lagi masak makanan kesukaan suami tercinta ya?" kata Bian menggoda sang istri.
"PD nya suamiku," jawab Nisa.
"Semua ini kan makanan kesukaanku," kata Bian lagi.
"Iya'in aja deh," jawab Nisa pura-pura pasrah.
"ihhh mas mandi dulu sana bau," ejek Nisa mendorong tubuh bian keluar dapur
"Wangi kok," elak Bian mencium aroma tubuhnya.
"Coba cium wangi kan," bujuk Bian menarik Nisa untuk mencium bajunya.
"Ish Mas Bian jorok," protes Nisa kesal ulah Bian.
"Ha ha ha ha," Bian tertawa sambil berlari pergi.
Bian suka melihat wajah sang istri yang marah terlihat mengemaskan.
Akhirnya Bian menuju kamar mandi dan menunaikan kewajibannya.
Sedangkan Nisa selesai memasak dan menata di meja makan, Nisa melihat Martabak Telur dan Martabak Manis kesukaannya.
"Pasti Mas Bian yang membelikan nya,"
Nisa mengambil piring menaruh martabak di meja makan.
"Nisa menemui Raka yang sudah wangi di gendong mama Rini.
" Wah anak bunda sudah wangi, terimakasih ma," kata Nisa sambil mencium gemas sang putra
Tepat pada saat itu muncul Bian dengan keadaan segar.
"Biar Aku saja yang gendong ma," pinta Bian meraih Raka untuk di gendong.
"Sayang tolong bawa martabak tadi ke ruang keluarga, mas mau ajak Raka main di sana," Titah Bian tanpa menoleh ke arah Nisa dan fokus ke Raka sambil mencium gemas.
"Iya mas," jawab Nisa sedangkan Mama Rini hanya geleng-geleng melihat putranya kalau sedang bersama Raka.
Akhirnya Nisa membawa martabak dan kopi keruangan keluarga, Nisa melihat Raka bermain bersama Bian sedangkan Mama Rini sedang asyik menonton acara kesukaannya.
Raka yang sudah bisa tengkurap menambah gemas Bian tak henti-hentinya Bian menggelitik Raka sehingga Raka tertawa.
"Mas jangan di gelitik terus nanti kalau malam nangis," omel Nisa.
"Hehe maaf sayang mas tidak tau," kata Bian.
Tak terasa sudah waktunya sholat bian mengajak Nisa dan Mama berjamaah sedangkan Raka di jaga Bik Mirna.
Setelah mereka selesai sholat, keluarga kecil itu menuju meja makan untuk makan malam bersama, Raka sudah tertidur pulas karena kelelahan.
Nisa memutuskan pergi ke kamar, Bian menuju ruang kerja nya dan Mama Rini menonton bersama Bik Mirna.
Waktu bergulir cepat menunjukkan pukul sepuluh malam, Bian keluar dari ruang kerja melihat keadaan rumah sudah sepi Bian menuju kamar di lihatnya Raka dan Nisa tertidur pulas, Bian ikut berbaring di samping Raka.
keesokan harinya.
Hari ini hari libur.
Bian merencanakan mau mengajak Raka dan Nisa jalan-jalan ke wahana bermain, Bian ingin menikmati liburan bersama keluarga kecilnya.
Bian dan Raka sudah bersiap mereka berdua terlihat tampan, Bian mengendong raka sambil menunggu Nisa, sedang Mama tidak ikut karena ada arisan di rumah temannya.
Nisa menghampiri Bian, melihat sang istri yang begitu cantik membuat Bian tak berkedip memandang Nisa,
Nisa yang di pandang bian menjadi salah tingkah.
"Ayo mas kita berangkat," ajak Nisa tersenyum menyodorkan tangannya untuk mengendong Raka.
"E eh iya," jawab Bian salah tingkah.
Nisa, Raka dan Bian masuk kedalam mobil menuju pusat perbelanjaan terlebih dahulu untuk membeli keperluan Raka dan rumah.
Sepuluh menit berlalu akhirnya mobil memasuki area parkir pusat perbelanjaan.
Bian menurunkan kereta dorong Raka.
keluarga kecil itu masuk ke pusat perbelanjaan.
Banyak orang yang kagum melihat ke arah mereka, Nisa , Bian dan Raka bagaikan keluarga kecil yang sempurna cantik dan tampan sungguh iri bagi yang melihatnya.
"Mas aku boleh ambil yang ini," cicit Nisa ragu.
"Iya, ambil semuanya juga boleh, apapun buat sayangku," jawab Bian merayu Nisa.
"Masih pagi Mas sudah gombal aja," kata Nisa heran dengan sikap suami.
"Kemana perginya Mas Bian yang dingin dan irit bicara?" tanya Nisa sedangkan yang di tanya hanya garuk-garuk kepala seolah binggung.
"Gak tau sayang, kalau dekat sama kamu bawaannya mau merayu terus," jawab Bian cengengesan.
"Ayo mas kita ke sana cari kebutuhan Raka," ajak Nisa menuju tempat kebutuhan bayi.
Bian mengekor istrinya sambil mendorong belanjaannya, selama menuju area khusus kebutuhan bayi , Bian di buat jengkel karena istrinya menjadi pusat perhatian kaum laki-laki.
"Sayang pake maskernya, banyak virus" Titah Bian dan Nisa menurut saja memakai masker.
Bian tersenyum merasa puas tidak ada yang bisa melihat wajah cantik istrinya, sungguh bian tidak mau berbagi kecantikan istrinya dengan yang lain.
Mata lentik itu menyusuri area bayi mencari semua kebutuhan Raka.
satu jam lamanya mereka selesai mencari semua yang di perlukan, bian mengajak mencari tempat makan dan minum karena mereka lelah.
Nisa sedang menikmati makanan sedangkan bian mengendong raka
"Assalamualaikum ini benar Nisa kan, Apa kabar?" Sapa seseorang pria, sehingga membuat Nisa dan Bian menoleh.
Nisa melihat dengan seksama memastikan siapa yang memanggilnya.
"Aa Reyhan kan," tanya Nisa dan pria itu pun tersenyum mengangguk.
"Silahkan duduk Aa," kata Nisa
Tetapi Reyhan enggan untuk duduk
Reyhan memandang nisa dengan tatapan mendamba, Rey melihat seorang di samping Nisa dengan heran, karena setau Rey kalau suami Nisa baru saja meninggal.
'Siapa yang bersama Nisa?' Batin Rey.
Bian tau tatapan Rey kepada Nisa, karena Bian juga seorang laki-laki dan arti tatapan itu adalah tatapan kagum mencintai , melihat Bian menjadi cemburu.
'Siapa dia kenapa Nisa memanggil nya Aa , tampan tinggi,' batin Bian ingin mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya.
Nisa memandang Rey dan bian bergantian seakan tau pikiran ke dua laki-laki di depannya Nisa memperkenalkan Bian.
"Kenalkan mas ini, Aa Reyhan," kata Nisa memperkenalkan Reyhan kepada Bian.
"Dan Aa Reyhan ini teman kuliah Nisa dulu Mas," jelas Nisa memberitahu.
"Reyhan ," balas Rey menjabat tangan Bian
"A kenalkan ini Mas Bian suami Nisa?" kata Nisa menunjuk ke arah Rey.
Bian merasa puas dengan sikap Nisa yang mengenalkannya sebagai suami, sambil tersenyum puas Bian berkenalan dengan Rey.
Jdeeer Rey kaget
"Kenalkan saya Bian SUAMI Nisa," kata Bian mengulurkan tangan Rey untuk membalas Rey dengan menekankan kata Suami di setiap katanya.
"Su-suami?" Rey kaget karena setau Rey Nisa janda.
"Nisa bukannya suami kamu sudah meninggal karena kecelakaan?" tanya Rey masih belum menerima kenyataan ini.
"Mas Andre memang meninggal karena kecelakaan dan Mas Bian Adik dari Mas Andreas Rafasya," kata Nisa menjelaskan.
"Kami menikah beberapa bulan yang lalu dan ini anak saya dan mas Andre namanya Raka," jawab Nisa lagi dan menunjuk ke arah Raka
Sedangkan bian hanya duduk sebagai pendengar yang baik
Setelah mendengar semua penjelasan Nisa, Rey mencoba tersenyum meskipun sakit karena Rey gagal untuk kedua kalinya menggapai cinta Nisa, gagal sebelum berjuang.
'Kenapa harus keduluan lagi, mungkin Nisa bukan jodohku,' batin Rey.
Kemarin setelah mengetahui suami Nisa meninggal Rey sedih meskipun ada sedikit senang karena orang yang dia cintai tidak ada yang memiliki lg tetapi Rey menahan diri untuk mendekati Nisa takut Nisa masih berduka.
"Selamat semoga langgeng."
"Aku pamit karena ada janji, Nisa kalau ada waktu kita bertemu lagi," kata Rey pura-pura melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Terimakasih atas doanya," jawab bian.
Rey tersenyum getir.
"Sampai bertemu lagi Rey," kata Nisa
"Insyaallah," jawab Rey berlalu pergi meninggalkan bian dan Nisa.
Bian tau apa yang di rasakan Rey , senyum Rey menandakan luka.
Nisa penasaran kenapa wajah Rey terlihat muram,
Sebelum Nisa bertanya Bian menyela omongan Nisa.
"Ayo cepat habiskan makanan dan minumannya sayang setelah itu kita cari area bermain buat Raka," perintah Bian dan di angguki Nisa.
Nisa makan sambil memberikan sebotol susu kepada Raka.
Dirasa semua sudah selesai dan tidak ada yang tertinggal, bian mengajak Nisa ke area bermain anak
Mereka bergandengan tangan layaknya keluarga bahagian.
bersambung.
PADAHAL TEMANNYA SAMA, YAITU JEFRI
KLO HENDRI MLEPASKN TASYA, DN MNRIMA CALISTA, BETAPA HNCURNYA TASYA, YG SDH MO DRI BIAN, GAGAL PULA DGN HENDRI YG TLH BRJUANG UNTUK DPTKN TASYA
TRNYATA BAHAYA MSH BLM SIRNA DARI RMH TGG NISA & BIAN,, DN ERICK JUGA JGN DIREMEHKN..
SEMOGA REYHAN DIHUKUM BERAT, KRN DALANG PEMBUNUHAN DN PENCULIKAN