Reza seorang mahasiswa baru di sebuah Universitas ternama di Kota Malang, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Alvionita sang dosen yang dikiranya mahasiswi baru seperti dirinya.
"Aku masih gak percaya kalau kamu adalah dosen disini!" teriak Reza usai mata kuliah Rekam Medis berakhir.
Alvionita yang baru saja keluar dari ruang mengajar menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara.
"Buktinya aku tadi menyampaikan mata kuliah didepan kelas dan telah melakukan perkenalan didepan semua orang disana" tunjuk Alvionita dengan dagunya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Berhasilkah hubungan antara mahasiswa baru dan dosen muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 19 - Hukuman untuk Vio
Reza meletakkan kembali ponselnya. Dia berjalan menuju balkon kamarnya di villa itu. Udara malam ini cukup dingin, sedingin hatinya.
Reza menyandarkan lengannya ke pagar balkon sembari menatap keindahan malam alun-alun Batu dari Villa nya. Reza cukup kecewa, mengapa cinta pertamanya serumit ini? Apakah Vio memang bukanlah untuknya?
Reza mengambil ponselnya, mengetikkan sebuah pesan.
"Kita bertemu di alun-alun Batu tiga hari lagi."
Reza lalu mengirimkan pesan itu kepada Vio Tak lama ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Vio, namun ia abaikan. Dia sengaja tak menjawab panggilan itu supaya pikiran dan hatinya bisa lebih cepat tertata lagi.
Reza teringat pada Mamanya, dia terlalu berharap banyak pada perjodohan antara Vio dan dirinya. Namun apa mau dikata, perasaannya hanya bertepuk sebelah saja, tak menghasilkan bunyi apa-apa.
Reza hanya berharap Mamanya tak sampai kecewa dengan Vio. Biar dia saja yang menanggung kesalahannya.
Reza berjalan keluar kamarnya. Dilihatnya sang kakak masih asyik menonton acara televisi.
"Kak, aku mau meminta pendapat. Bolehkah?"
"Tumben? Biasanya si jenius ini paling jago menyelesaikan masalah" canda Fariz.
"Gak ada kaitannya lah. Kamu lebih pengalaman kayaknya kalo urusan ini" ujar Reza sembari mendudukkan dirinya di sofa disebelah Fariz.
"Tentang Vio, kan?" tebak Fariz yang dijawab anggukan oleh Reza.
"Aku yakin apapun keputusan yang kamu ambil adalah yang terbaik. Jadi, lakukanlah sesuai rencana mu" dukung Fariz.
***
Pagi ini Reza sudah Rapi dengan pakaian casual nya. Kebetulan hari ini ada jadwal mata kuliah yang diisi oleh Vio. Reza tak lagi ingin menghindar. Dia sudah menata dengan rapi hatinya yang semalam porak poranda meski tak bisa sempurna seperti sedia kala.
Usai memarkirkan kendaraannya, Reza berjalan melewati koridor menuju kelasnya. Dan kebetulan sekali Reza bertemu dengan Vio yang baru saja keluar dari ruang dosen.
Vio tampak canggung dan merasa bersalah. Dia tak berani menatap ke arah Reza. Sementara Reza berlalu begitu saja, mengabaikan wanita yang pernah mengisi salah satu ruang di hatinya.
Reza tiba di kelas lebih dahulu. Setelah duduk di bangkunya, Vio pun memasuki ruangan. Materi kuliah pun dimulai.
Reza memperhatikan dengan seksama apa yang Vio ajarkan di depan sana. Vio yang mendapati Reza melihatnya dengan tatapan layaknya guru dan murid, justru murung.
Berulang kali Vio salah menjelaskan materi karena saking gugupnya.
Karena sedari awal mengajar Vio tampak gelisah, kelas berakhir lebih awal.
"Tidak bisakah kita membicarakan tentang 'kita' sekarang?" pinta Vio.
Belum Reza menjawab, seseorang menghampiri mereka.
"Reza, ayo makan siang bareng di kantin" ujar Dian.
Karena tak ingin berlama-lama dengan Vio, Reza berjalan keluar bersama dengan Dian yang merangkul lengan tangannya.
Reza melirik dengan ekor matanya ke arah Vio. Perubahan raut wajah yang semakin muram jelas terlihat olehnya. Apakah kini Vio menyesal?
Reza dan Dian telah berjalan cukup jauh dari kelas tadi. Reza menepis tangan Dian yang sedari tadi menggandeng lengannya."
"Jangan lagi kamu menghampiriku di kelas seperti tadi. Takkan ada lain kali" ancam Reza.
Dian menganggap ancaman Reza seperti angin lalu. Dian benar-benar mengabaikan ancaman dari Reza.
"Suatu hari nanti kamu pasti akan mencariku, Rez" ujar Vio tak lama setelah Reza mulai menjauh.
Reza berjalan menuju parkiran mobilnya. Ternyata Vio mengejarnya hingga ke tempat parkir. Vio menghalangi Reza untuk pergi.
"Aku mohon, Rez. Kita perlu bicara" pinta Dian mengatupkan kedua tangannya di depan tubuhnya.
"Naiklah!" ujar Reza dingin.
Vio dan Reza kini berkendara menuju sebuah cafe yang tka jauh dari kampusnya.
"Aku minta maaf" ujar Vio memainkan jemarinya sembari menunduk.
"Bukan maksudku membohongimu apalagi mempermainkanmu seperti ini" lanjut Vio.
Reza hanya mendengarkan penjelasan Vio tanpa berkomentar. Dia seolah-olah cuek dengan masalahnya. Debar jantungnya sama sekali tak dapat ia kendalikan saat bersama dengan Vio. Reza merutuki dirinya sendiri yang kerap kali lemah dengan pesona Vio.
Karena Reza tak menanggapi perkataan Vio, Vio mengutarakn inti pembicaraannya kali ini.
"Tak bisakah kamu memberiku kesempatan, menungguku menyelesaikan studiku sebelum akhirnya menjalani kehidupan denganmu?"
Reza meletakkan minumannya. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Bisakah kamu menjamin kalau kamu tak akan mendua?" tanya Reza.
"Studimu bukan hanya hitungan hari atau bulan. Dua tahun, itu cukup lama untuk menunggu sebuah kepastian" Reza sedikit meninggikan suaranya, sehingga membiat Vio hampir menangis.
"Ada satu solusi yang sangat mudah" lanjut Reza.
Vio mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap Reza bersiap mendengar kelanjutan solusi untuk hubungan mereka.
"Menikahlah denganku bulan depan sebelum keberangkatanmu ke Taiwan" Ujar Reza enteng
"Maaf. Aku gak bisa" cicit Vio Lirih.
Reza hanya bisa tersenyum sinis. Sudah ia perhitungkan penolakan Vio saat ini.
"Persyaratan studiku ke Taiwan tidak mengizinkanku pergi dengan status menikah." Vio masih berusaha memberi alasan.
"Itu hanya alasanmu, Vio!"
"Aku sudah menanyakannya kepada pihak kampus, itu tak mempengaruhi beasiswamu. Aku kecewa denganmu Vio" lanjut Reza.
Kini Vio benar-benar menangis. Reza tak pernah sanggup melihat seorang wanita menangis.
"Jangan menangis. Ini adalah keputusanmu" ujar Reza kemudian berdiri meninggalkan Vio di salah satu bangku cafe itu.
***
Hubungan Reza dan Vio semakin hari semakin berjarak. Sudah hampir seminggu Reza tak pernah melihat keberadaan Vio. Justru Dian yang sangat rajin menghampirinya dengan tak tahu malu.
Saat Reza hendak pulang dari kuliah siang itu, seseorang mencengkeram bahunya. Memaksa Reza menoleh ke belakang dan mendapati sebuah bogeman dari pria lain.
"Bisa gak sih kamu gak membuat Vio menangis?!" bentak Reyhan sembari memegang kedua krah jaket Reza sebagai ancaman.
"Padahal aku udah ngerelain Vio denganmu, tapi apa?! Kamu justru membuatnya terpuruk. Kondisinya kini semakin memburuk" bentak Reyhan.
"Anggap itu hukuman untuk Vio. Dia sendiri yang membuat dirinya tersakiti" ujar Reza dengan entengnya.
Ucapan Reza malah memancing amarah Reyhan. Dia begitu marah karena sepupu yang dicintainya malah tersakiti hingga harus dirawat di rumah sakit.
Mereka berdua saling adu tinju di ruang terbuka kampus. Dian tiba-tiba melerai keduanya. Hingga tanpa sengaja sebuah pukulan dari Reyhan melayang ke arah Dian.
Adu jotos mereka berhenti ketika terdengar suara erangan kesakitan dari Dian.
Pukulan yang Reyhan layangkan cukup keras sehingga cukup membuat Dian terpelanting sedikit jauh.
Reza dan Reyhan menghampiri Dian. Mereka berdua sama-sama meminta maaf pada Dian karena terluka karena mereka.
Tanpa disangka Reyhan kemudian mengangkat tubuh Dian yang nyaris terjatuh karena pingsan.
Dengan sigap mereka membawa Dian ke klinik kampus agar mendapatkan pertolongan pertama. Semua itu salah mereka, sehingga tanpa sengaja membuat orang lain terluka..
bersambung...
pokoknya top banget deh ceritanya
lanjutkan biar tidak penasaran
ternyata masih ada juga y seorang dosen dengan umur segitu,,,,
cie Reza udah mulai jatuh cinta pada pandan tu😂😂😂
ya ampun thorrr keren banget ceritanya
makasih thor
😂😂😂
semangat teruus yaa 🥰
tinggal menikmati masa indahnya hidup berdua.
bertemu lagi dgn pengisi suara novel ini 😁😁
semoga suka dgn suara recehku yg ala kadarnya, hehehe.
Jangan lupa dengerin audiobooknya juga ya, dan dukung terus karyanya
terima kasih kpd kak Dhanz yg melanjutkan cerita ini.
terima kasih