Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Ingin Memilikimu Sendiri!!
*
*
Mata bulat dengan bulu lentik itu mengerjap perlahan. Menyesuaikan cahaya temaram dari lampu tidur di sisi ranjang. Sofia mengumpulkan kesadarannya dalam keremangan kamar hotel nomor 11 di lantai 11 tersebut.
Dengkuran halus terdengar dekat di telinga Sofia. Hembusan napas hangat menyapu kulit lehernya. Perlahan Sofia menoleh. Satria tengah terlelap dengan wajah polos yang tersuruk di ceruk lehernya. Dada pria itu menempel rapat di punggungnya. Sedang sebelah tangan nya terlipat di bawah kepala Sofia sementara tangan yang satunya lagi melingkar di perut perempuan itu.
Sofia bergerak perlahan, rasa ingin buang air kecil memaksanya untuk bangun. Perlahan dia melepaskan tangan besar Satria dari perutnya. Namun yang terjadi, pria itu malah menggeliat semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Sofia. Semakin berusaha melepaskan diri, maka semakin erat pula pelukan pria itu ditubuhnya. Yang akhirnya membuat Sofia dengan terpaksa membangunkan pria yang sedang memeluknya tersebut.
"Pih, ..." sambil mengusap lengan yang menempel di perutnya. Satria bergeming.
"Papi ..." panggilnya lagi, kali ini agak keras.
"Hmmm ... " Satria menggumam, tapi masih mengeratkan pelukannya.
"Fia mau ke kamar mandi dulu." ucapnya, berusaha melepaskan tangan Satria.
"Mau apa?" Satria dengan suara serak dan sedikit menggumam.
"Mau pipis."
Satria terdiam, masih belum melepaskan tangannya dari tubuh dipelukannya.
"Papi!!" Sofia sedikit kesal.
Satria mendengus kasar seraya melepaskan tangannya dari tubuh perempuan itu.
Sofia pun bangkit, melihat sekeliling, pakaiannya teronggok di sudut jauh dari ranjang setelah Satria melemparkan nya sebelum pergumulan panas mereka berlangsung beberapa jam yang lalu. Perempuan itu mendengus pelan.
Diraihnya kemeja putih milik Satria yang tersampir di ujung ranjang. Memakainya dengan asal supaya dia tak berjalan telanjang ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan urusannya, Sofia kembali ketempat tidur dan mendapati Satria yang kini malah terjaga dibawah selimut yang hanya menutupi tubuhnya dari pinggang kebawah sementara bagian perut keatas terbuka dengan jelas.
Sofia kembali menelan ludah, rasa haus tiba-tiba menyerangnya.
"Papi kenapa malah bangun?" tanyanya, ragu-ragu.
"Kamu yang membuat saya bangun." Satria melirik perempuan yang tengah berdiri di tepi ranjang dalam balutan kemeja kedodoran miliknya. Lampu tidur temaram di pinggir ranjang memantulkan siluet tubuh Sofia dibalik kemeja itu. Jakunnya bergerak naik turun, dadanya kembali bergemuruh.
Tangannya bergerak memberi isyarat agar Sofia mendekat. Perempuan itu menurut. Naik keatas ranjang dan merangkak menghampiri papi nya yang berbaring telanjang dibawah selimut.
Satria bangkit dan duduk bersandar ke kepala ranjang, menarik Sofia hingga perempuan itu naik keatas tubuhnya.
Jangan lagi!! Gumam Sofia dalam hati.
Dadanya berdebar kencang ketika Satria melingkarkan kedua tangan besarnya di pinggang, memeluknya dengan erat. Pria itu merapatkan wajahnya di dada Sofia yang benda di dalamnya tengah berdegup kencang.
Satria terkekeh merasakan debaran keras dari dada perempuan cantik di pangkuannya. "Jantung kamu tidak apa-apa?" ucapnya, masih menempelkan kepalanya di dada Sofia.
"Kalau papi gini terus, nggak tahu deh." ucap Sofia, asal.
Satria melepaskan pelukannya dari pinggang Sofia, meraih kedua tangan lunglai perempuan itu hingga melingkar di pundaknya. Pria itu mendongakkan wajahnya, menatap wajah polos Sofia yang tak bermake up. Dengan rambut hitamnya yang agak berantakan.
"Bisakah, saya memiliki kamu sendirian?" ucapnya, suara baritonnya mengalun lembut. Mata elangnya menatap sayu.
"Papi, ..."
"Saya ingin memiliki kamu sendirian, Sofia." katanya lagi.
Sofia menatap lekat kedalam mata tajam yang kini memandangnya dengan tatapan yang, ... entah apa maknanya. Lembut, penuh cinta, penuh harap, atau menginginkannya?
"Saya tidak mau berbagi dengan orang lain. Pikiran saya kacau kalau mengingat kamu sering menerima pekerjaan seperti ini dengan laki-laki selain saya." kembali, Satria merapatkan wajahnya di dada Sofia yang diam membeku mencerna kata-kata dari pria 40 tahun itu.
Sesaat kemudian pria itu melepaskan kedua tangannya dari pinggang ramping Sofia. Bergerak kesamping tanpa menurunkan Sofia yang terduduk membeku di pangkuannya. Meraih sesuatu diatas nakas. Seperti selembar kertas. Oh tidak, dua lembar kertas kini ada dalam genggaman Satria.
"Ini surat kontrak kita," memperlihatkannya kepada Sofia.
"Ini punya kamu, dan satu lagi, ..." membuka kertas lainnya, "punya saya." kemudian, ...
SREETT!!
Satria merobek dua kertas kontrak tersebut, membuat Sofia terhenyak, membulatkan kedua bola matanya.
"Papi?!" perempuan itu terpekik menatap nanar dua kertas kontrak yang tengah dirobek Satria hingga menjadi serpihan-serpihan kecil, yang kemudian dilemparkannya ke sembarang arah hingga berserakan di lantai.
"Saya tidak menerima penolakan. Saya ingin memiliki kamu sendirian, Sofia.!!" ucapnya lagi.
"Tapi, ... " Sofia hendak protes.
"Kenapa? Kamu tidak mau?" raut wajah Satria berubah. Matanya menatap tajam membuat Sofia merinding ketakutan.
"Bukan begitu, pih." Sofia menggeleng pelan.
"Lantas?"
"Kontrak Fia masih sisa satu tahun lagi."
jelasnya.
"Berapa orang?" Satria menyelidik, walaupun sebenarnya dia sudah mengetahui perihal kontrak yang mengikat Fia nya tersebut.
"Ti-tiga, pih." jawab Sofia, terbata. Takut dengan reaksi yang akan ditimbulkan dari jawabannya.
Satria menghela napasnya pelan. Kedua tangannya kembali melingkar di pinggang Sofia.
"Saya akan urus semuanya, yang penting kamu jawab iya."
"Tapi ini nggak segampang itu, pih."
"Apanya?"
"Memutuskan kontrak nggak segampang itu, apalagi kalau Fia yang memutuskan. Fia bisa dituntut kejalur hukum."
Satria terkekeh, melepaskan pelukannya, kemudian kembali menyandarkan punggung kokohnya di kepala ranjang. Melipat kedua tangannya di belakang kepala.
"Kalau pihak pengontrak seperti papi, bisa dengan mudah memutuskan secara sepihak. Kalau pihak yang dikontrak seperti Fia, nggak mungkin bisa pih. Nanti Fia yang dituntut. Fia nggak mau." mulai merengek.
Satria masih mendengarkan penjelasan dari perempuan itu. Dengan senyum mengejek dari bibirnya.
"Kamu tidak tahu kan sedang bersama siapa? saya bahkan bisa melakukan apapun yang saya kehendaki kepada orang-orang disekitar kamu."
"Memangnya papi ini siapa sih?" Sofia menyipitkan matanya ke arah Satria yang masih dengan senyuman mengejeknya.
Satria bangkit, melipat kedua tangannya di dada. Mendekatkan wajahnya kepada Sofia.
"Kamu tidak akan percaya kalau saya membuka jati diri sekarang." katanya, dengan berbisik.
"Maksudnya?" kening Sofia berkerut.
Satria tersenyum. Mendekatkan wajahnya ke telinga perempuan itu.
"Saya, ... adalah orang yang mungkin dikirim Tuhan untuk menyelamatkan kamu. Tapi sayang Tuhan terlambat mempertemukan kita lagi." jawabnya, membuat tubuh Sofia merinding. Selain kata-katanya yang terdengar menakutkan, juga karena napasnya yang berhembus menerpa telinga perempuan itu.
"Papi sok misterius." Sofia menyentuh tengkuk Satria, menelusupkan jari-jarinya di rambut pria itu yang kini mulai memanjang.
Satria terkekeh. "Kamu akan terkejut kalau tahu siapa saya." katanya lagi, berbisik.
"Coba aja." Sofia menantang.
Satria menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Belum saatnya."
Sofia mendengus, hendak melepaskan tangannya dari rambut pria itu. Namun Satria segera menahannya.
"Lakukan lagi, saya suka." perintahnya.
Sofia mengernyit.
"Lakukan lagi, Sofia. Menyentuh kepala saya seperti tadi. Saya suka." katanya lagi, dengan mata sayu memohon.
Sofia mendesah pelan, kembali menelusupkan jari lentiknya di antara rambut hitam Satria. Meremasnya dengan lembut. Satria memejamkan matanya, kembali merapatkan wajahnya di dada perempuan itu.
"Terimakasih karena kita kembali bertemu." bisiknya yang samar ditangkap oleh telinga Sofia, membuat perempuan itu kembali mengernyit.
"Saya ingin kamu meninggalkan pekerjaan ini." katanya lagi, semakin membuat Sofia kebingungan.
Sofia menghela napasnya sangat dalam.
Bagaimana bisa dia melepaskan pekerjaan ini, sementara bebannya masih sangat besar. Perempuan itu mengingat kertas tagihan dari bank yang berjumlah 100 juta rupiah. Perjalanannya masih panjang.
"Tanggung jawab Fia besar, papi." bisik perempuan itu, sambil terus mengelus kepala pria yang tersuruk di dadanya.
"Saya yang akan menanggungnya." ucapan itu sontak membuat Sofia menghentikan kegiatannya. Menjauhkan wajahnya dari Satria. Menatap wajah pria itu dengan dua alis yang saling mengait.
"Asal kamu jawab iya, saya yang akan mebereskan semuanya buat kamu." ucap Satria lagi, meyakinkan.
Sofia meraup wajah di depannya, mengecup bibirnya dengan lembut.
"Papi bercanda." Sofia terkekeh.
"Saya serius." membalas kecupan Fianya.
"Kita lihat aja nanti. Fia akan pikirkan." jawab Sofia, disela cumbuan yang kembali memanas.
"Saya maunya sekarang."
"Fia butuh waktu, papi." Sofia yang napasnya mulai tersengal mendapat serangan bertubi-tubi dari papi nya.
"No, saya mau kamu sekarang, ... lagi." Satria menekan punggung Sofia hingga dada perempuan itu semakin merapat. Menenggelamkan wajahnya di belahan dada perempuan itu yang masih menyisakan aroma vanila musk yang sangat memabukkan. Mengecupnya dari lembut hingga keras dan kasar, meninggalkan bekas memerah yang Sofia yakini besok pagi akan berubah membiru.
Tangannya meremas bongkahan indah milik Sofia secara bergantian. Kembali membuat hasrat Sofia naik.
"Papi!!" desah Sofia, dengan napas yang semakin memburu, dadanya naik turun menahan hasrat yang mulai menggila.
Sementara Satria tersenyum penuh kemenangan, dia yakin sebentar lagi Fia nya akan segera menyerah dan menuruti keinginannya.
Sesuatu menyeruak di bawah sana, kembali membuat perempuan 28 tahun itu memekik. Kedua tangannya melingkar di leher Satria dengan posesif.
"Move, Sofia!!" bisik Satria di telinga Fia nya.
*
*
*
Otor ngumpet dulu ya...
like
koment
vote!!
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭