Season 1
Pelangi adalah gadis cantik yang pernah mengalami kepahitan hidup karena perceraian orang tuanya.
Saat ia bertemu Bintang yang bernasib sama dan sering dijadikan bahan olok olok teman temannya karena perceraian kedua orangtuanya menumbuhkan simpati di hatinya.
Rasa simpati itu lambat laun berubah jadi sayang.
Bintang yang merasakan kasih sayang Pelangi berharap Pelangi bisa menjadi ibunya.
Akankah harapan Bintang terwujud?
Season 2
Bintang dan Pink kini telah dewasa. Bintang yang tumbuh besar bersama Pink, sangat menyayanginya.
Akankah Bintang tetap menganggap Pink sebagai adiknya ataukah perasaannya berubah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah tangkap
Mobil yang ditumpangi Langit dan keluarganya memasuki halaman rumahnya.
Setelah mobil berhenti, Bintang langsung keluar dan berlari ke kamarnya. Oma turun dengan dipapah Anggi.
Langit juga langsung menuju kamarnya.
"Anggi.. bantu Oma. Hibur Bintang, Oma yakin ia akan menurut padamu!" pinta Oma pada Anggi.
"Iya Oma. Pink ikut tante yuk!" ajak Anggi pada Pink.
Gadis kecil itu mengikuti Anggi. Ia menggandeng tangan Anggi.
"Assalamu'alaikum. Kak Bintang.. boleh nggak kami masuk?" Anggi mengucap salam.
Mendengar suara Anggi memanggil kak.. Bintang tahu pasti ada Pink. Ia tak ingin Pink melihatnya menangis. Cepat-cepat ia hapus airmatanya dan membuka pintu.
"Waalaikumsalam.. masuklah!" balasnya. Ia kembali duduk di ranjang nya.
"Kakak habis menangis? Kok matanya merah?" tanya Pink.
"Enggak.. kakak tadi tertidur..pas kalian datang kakak terbangun.. jadi merah matanya. " bohong Bintang.
"Bintang.. main yuk di luar.!" ajak Anggi
"Kasihan Pink lo.. . " Anggi tidak melanjutkan ucapannya. Namun Bintang tahu. Karena hari ini batal renang.. jadi kasihan Pink.
Bintang mengangguk dengan tidak bersemangat. Pink yang memang masih kecil itu tidak begitu memahami apa yang terjadi. Ia bersorak senang mengetahui kakaknya mau bermain dengan mereka.
Bertiga, mereka ke taman di samping rumah.
"Kupu-kupu." teriak Pink, ia langsung berlarian mengejar kupu-kupu.
Bintang dan Anggi duduk di bangku taman.
"Bintang sedih karena melihat mama tadi ya?" tanya Anggi hati hati.
Bintang menganggukkan kepalanya lemah.
"Kenapa mama lebih menyayangi orang lain daripada anaknya sendiri, Te?" tanya Bintang. Matanya mulai berkaca kaca.
"Boleh tante mengungkapkan pendapat tante? tapi Bintang janji jangan marah ya. Dengarkan apa yang tante sampaikan dengan sabar dan hati yang bersih!"
Bintang mengangguk.
"Sebelumnya tante minta maaf kalau apa yang akan tante sampaikan tidak sesuai dengan apa yang Bintang rasakan.
Kalau menurut tante, mama Bintang sangat menyayangi Bintang dan Pink. Buktinya tadi mama nyamperin Bintang dan Pink. Bahkan mama mau memeluk kalian. Tante bisa melihat betapa kangennya mama pada kalian. Mungkin mama punya kesulitannya sendiri sehingga harus mengambil keputusan yang melukai banyak orang. "Anggi menghentikan perkataannya. Ditatapnya Bintang. Anak itu diam seolah mencerna ucapan Anggi.
"Lagi pula beliau yang melahirkanmu Bintang. Nggak mungkin beliau tidak menyayangimu. Jika Bintang ingin tahu kenapa beliau meninggalkan kalian.. tanyakan padanya jika kalian bertemu. Cobalah untuk mengurangi marahmu Nak. " dengan lembut Anggi menasehati Bintang.
Bintang menatap Anggi. Anggi tersenyum tulus.
Bintang lalu memeluknya.
"Jadilah mamaku tante!" kembali permohonan itu keluar dari bibir Bintang.
"Pink juga mau kalau tante Anggi jadi mama Pink. " tiba tiba Pink ikut nimbrung.
Hati Anggi tergetar. Ia merasa sangat kasihan dengan kedua anak ini. Ia jadi ingat apa yang dulu ia alami. Tapi saat orang tuanya bercerai Anggi sudah duduk di bangku SMP. Tapi anak anak ini masih sangat kecil. Bintang masih 9 tahun dan Anggi masih 5 tahun. Di usia mereka seharusnya diliputi dengan kasih sayang orang tuanya. Rasa sayang kepada mereka mulai merekah dihatinya.
"Meski bukan mama kalian.. tante masih bisa menyayangi kalian layaknya seorang mama kok."
lalu Anggi menciumi mereka berdua dan menggelitik Pink lalu Bintang. Mereka berdua juga membalas. Akhirnya mereka tertawa lepas sambil kejar-kejaran saling menggelitik.
Di tempat lain.. di kamar Langit.
Oma masuk kamar. Dilihatnya Langit sedang memukuli samsak tinju yang ada di kamarnya Tangannya sudah mengalirkan darah.
Oma berdiri diantara Langit dan samsak. Melihat mamanya, Langit menghentikan kegiatannya.
Langit duduk dengan kepala tertunduk di ranjangnya.
"Apa Embun masih mempengaruhimu, Nak?" Oma bertanya dengan halus dan lembut. Suaranya sarat akan rasa sedih. Ia sedih melihat keadaan putranya itu.
"Jika kau begini terus, kau tidak akan menemukan kebahagiaan, Nak. Lepaskan dan relakan!" Oma berbisik sambil menitikan air mata.
Langit menatap mamanya, diusapnya air mata itu.
"Maafkan Langit yang selalu membuat mama sedih. " kata Langit. " Embun sudah tidak mempengaruhi Langit, Ma. Langit hanya putus asa melihat anak-anak Langit terluka, Ma. Terutama Bintang. Langit takut akan berpengaruh pada kejiwaannya dan masa depannya, Ma. "
Oma tersenyum.. sedikit lega.
"Bagaimana dengan permintaan Bintang dan juga mama, Nak?"
"Langit akan coba, Ma. Langit akan coba memilih antar Anggi dan gurunya Bintang. Beri Langit waktu!" pinta Langit.
Oma ingin memberitahu kebenaran tentang Anggi tapi ia urungkan. Biar Langit berpikir dulu.
"Ya sudah.. mama ke kamar dulu mau istirahat. " Oma lalu keluar.
Langit berdiri menuju balkon kamarnya. Dari atas balkon ia melihat Anggi dan anak-anaknya bermain di taman. Ia melihat Bintang dan Pink tertawa lepas sambil kejar-kejaran dengan Anggi. Langit tersenyum.. lalu ia melangkah keluar dari kamarnya menuju taman.
"Tante kita main tutup mata yuk!" ajak Pink.
"Main tutup mata?" tanya Anggi.
"Iya.. tante tutup mata tante pake saputangan.. lalu cari kami. Kalau tante bisa menangkap dan menebak siapa kami.. tante menang. " jelas Bintang.
"Boleh.. siapa takut. " jawab Anggi. Anak anak tertawa mendengar jawaban Anggi.
Bintang menyerahkan sapu tangan yang selalu ia bawa kepada Anggi.
Anggi mengikat sapu tangan itu menutupi matanya.
Segera tangannya terarah mencari keberadaan Bintang dan Pink.
"Tante!" ia mendengat suara Bintang. Ia melangkah menuju Bintang.
"Hups kena" kata Anggi merasa memegang seseorang.
Kok tubuhnya kekar.. dan ini kok dadanya berotot.
Anggi terkesiap. Ia sadar yang dipegangnya bukan Bintang. Segera ia lepaskan ikatan sapu tangan yang menutupi matanya.
Ia kaget melihat Langit tegak berdiri di hadapannya.
Jadi yang tadi kurang raba adalah Langit. Sejak kapan ia ada disini.. dan anak anak
Anggi sangat malu.. mukanya memerah. Ia menatap anak-anak yang tertawa di belakang Langit.
Anggi menatap keki ke arah mereka.
"Aku ke paviliun dulu.. sudah hampir sholat dhuhur Mau siap siap" kata Anggi menutupi rasa malu. Ia segera berlari ke arah paviliun.
Sepeninggal Anggi. Langit dan kedua anaknya tertawa.. lalu melakukan tos.
Di paviliun..
"Aduh.. malunya malunya.. apa yang sudah aku lakukan? Anak-anak kenapa nggak bilang kalau ada Langit sih.. " Anggu mondar mandir sambil terus menggerutu sendiri karena malu. "Sudahlah mending aku mandi saja terus sholat. "
Di rumah utama.
Nampak Langit sudah berdandan rapi.
"Papa mau kembali ke Jakarta?" tanya Bintang.
"Iya Nak. Tadi om Tinoi telepon ada yang penting yang harus papa kerjakan. " jelas Langit.
Bintang dan Pink nampak cemberut.
"Jangan cemberut.. nanti kan kalau papa longgar bisa datang lagi kemari. " bujuk Langit.
"Kalau menunggu kamu ada waktu.. yang ada nggak akan ada waktu itu. Sempatinlah sering sering jenguk anak-anakmu. " kata Oma.
"Iya Ma. Langit usahakan. Papa berangkat dulu ya.. kalian jaga baik baik Oma dan jangan nakal!" pesan Langit kepada anak anaknya.
"Papa nggak pamit sama tante Anggi?" tanya Bintang.
Langit menatap anaknya. Alisnya mengerut. Lalu ia bertanya.
"Bintang suka sama tante Anggi?"
Bintang mengangguk.
"Lebih suka tante Anggi apa gurunya Bintang?" tanya Langit.
Oma ingin tertawa tapi ia tahan. Bintang juga.
"Dua-duanya." jawab Bintang.
Langit tersenyum sambil mengacak rambut Bintang.
"Papa berangkat. Sampaikan saja salam papa sama tante kesayanganmu itu!" kata Langit.
Ia lalu keluar. Sebelum naik mobil.. ia melihat ke arah paviliun berharap Anggi muncul. Namun yang ia cari tak kunjung keluar.
Ya iyalah.. Anggi sedang mandi terus sholat terus tidur.
Langit menghela nafas berat dan masuk ke mobil yang mengantarnya ke bandara.
mngkin Amelia anak temannya mama senja