Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Hari pun mengalir begitu saja. Begitu cepatnya hingga tak terasa lusa adalah hari penentuan dari masing-masing perusahaan. Mereka akan mengerahkan performanya dengan sekuat tenaga. Apalagi, proyek kali ini sangatlah menguntungkan bagi siapapun yang berhasil mendapatkannya.
Ini tak berlaku bagi Raka. Karena baginya, kekalahan putrinya yang ia nantikan. Sungguh aneh, namun itulah kenyataannya.
Selama hampir dua minggu ini, Diandra disibukkan dengan persiapannya untuk memenangkan tender kali ini. Meski baru sedikit pengalaman yang ia dapatkan, ia tetap optimis. Diandra juga tak bisa meremehkan lawannya kali ini. Dua perusahaan itu yang akan menghambatnya untuk memenangkan tender kali ini.
Pergi pagi, pulang petang. Itulah yang setiap harinya Diandra lakukan. Hingga Jiana tak segan memarahi Raka karena terlalu membebani putri mereka. Walaupun sebenarnya Diandra tak masalah tentang ini.
Hari semakin sore. Senja mulai menampakkan diri disudut kota Jakarta itu. Diandra masih menatap layar komputernya untuk mengecek kembali proposal dan berkas lainnya. Ia tidak ingin ada masalah nantinya.
"Nona, apakah Anda menginginkan sesuatu? Anda sedari tadi belum makan. Anda ingin makan apa?" tanya Jean. Diandra melirik Jean sekilas. Ia tersenyum tipis sambil terfokus kembali ke arah layar komputernya.
"Apa saja Jean, aku tidak masalah," balas Diandra. Jean mengangguk lalu segera melangkah keluar dari ruangan Diandra. Ia mencarikan makanan untuk Diandra.
Diandra merenggangkan tubuhnya sejenak kala merasakan punggungnya hampir patah. Seharian duduk di depan komputernya membuat tubuhnya kaku. Ia melirik jam tangannya. Pantas saja, ini sudah pukul 17.30 dan ia masih berada di kantornya.
"Nona, Anda makanlah dulu," ujar Jean yang baru saja tiba di ruangan Diandra. Ia meletakkan makanan tersebut di meja. Diandra beralih duduk di sofa. Ia mulai membuka makanan tersebut.
"Terima kasih Jean. Kau yang selalu perhatian padaku," goda Diandra. Jean hanya tersenyum malu-malu.
Diandra mulai menyantap makanan tersebut dengan begitu lahap. Seolah ia tidak makan dalam jangka waktu yang lama.
Selepas makan, Diandra istirahat sejenak. Ia mengambil ponselnya lalu membuka media sosialnya untuk melepas penatnya.
Cukup lama Diandra asik dengan ponselnya, akhirnya ia tertidur di sana. Diandra kelelahan karena tenaganya ia kerahkan untuk proyek ini. Jean menatap Diandra dengan kasihan. Melihat Diandra yang begitu kerja keras membuat Jean senang namun juga sedih.
Jean tak berani membangunkan Diandra. Ia memilih untuk mengemasi barang-barang Diandra.
"Apakah aku mengganggu?" ucap Rizal yang tiba-tiba datang ke ruangan Diandra. Ia sengaja mengunjungi Diandra untuk melihat keadaan Diandra.
"Tuan Rizal. Nona sedang istirahat," ucap Jean dengan nada pelan karena takut membangunkan Diandra. Rizal tersenyum. Ia mengisyaratkan Jean untuk meninggalkan mereka berdua.
"Aku janji tidak akan mengganggu tidurnya. Aku hanya ingin bersamanya sebentar saja," ucap Rizal sambil melangkah mendekati Diandra. Ia duduk di samping Diandra.
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Jean. Ia memberikan waktu untuk mereka berdua.
Rizal menatap Diandra yang dengan pulasnya tertidur di sofa. Rizal tersenyum tipis. Ia membelai rambut Diandra dengan lembut. Sentuhan itu membuat Diandra menggeliat kecil. Namun ia tak membuka matanya dan tetap melanjutkan tidurnya.
"Kenapa begitu memaksakan diri?" gumam Rizal. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada Diandra.
Perlahan Diandra membuka matanya. Ia menggeliat kecil hingga tanpa sadar kakinya menendang Rizal. Diandra belum menyadari adanya Rizal yang begitu memperhatikannya.
"Jean, jam berapa sekarang?" tanya Diandra sambil mengucek kedua matanya. Ia beringsut untuk duduk.
"Jam sembilan. Kamu tidurnya nyenyak sekali," jawab Rizal lalu tersenyum.
Mendengar suara Rizal, Diandra langsung menoleh ke arahnya. Ia terkejut dengan adanya Rizal di sana. Diandra memundurkan dirinya.
"Zal? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Diandra yang masih terkejut.
"Papamu yang menyuruhku datang untuk menemanimu," jawab Rizal dengan santai. Diandra menghela napasnya. Ia sudah menduga jika Raka yang menyuruh Rizal untuk datang ke kantornya.
"Dilanjut besok saja. Kamu sudah lelah, istirahatlah. Ayo aku antar sampai rumah," ujar Rizal. Ia melepas jaketnya dan memakaikannya dibahu Diandra.
"Aku bisa pulang bersama John. Tidak perlu merepotkanmu Zal. Cukup!! tidak perlu lagi kamu menuruti perintah Papaku yang aneh seperti itu," ujar Diandra.
"Tapi aku senang melakukannya. Aku akan melakukannya demi wanita yang aku cintai," balas Rizal. Membuat Diandra refleks memukul lengan Rizal.
"Tidak perlu menggodaku Zal. Aku tidak akan tergoda, mengerti?" Diandra beranjak dari sana.
"Siapa yang sedang menggodamu? Kau tahu sendiri kebenaran tentang perasaanku Diandra," ucap Rizal. Diandra melirik Rizal sekilas. Ia tahu tentang perasaan Rizal padanya, tetapi ia tak pernah memiliki rasa yang sama terhadap Rizal. Diandra menganggap Rizal hanya sebagai sahabatnya dan juga kakak baginya.
"Sudahlah.. Ayo aku antar kamu pulang." Rizal menarik tangan Diandra dan membawanya keluar dari ruangan tersebut. Diandra mengikuti Rizal hingga mereka sampai di mobil. Selepas itu Rizal membuka pintu mobilnya agar Diandra bisa masuk ke dalam. Begitu pula dengannya.
*
"Terima kasih... Tidak mampir dulu?" tanya Diandra saat mereka sudah sampai di halaman kediaman Sanjaya.
"Tidak usah. Lain kali saja," ucap Rizal. Diandra mengangguk. Ia keluar dari mobil tersebut. Diandra melambaikan tangannya saat Rizal mulai melajukan mobilnya kembali.
Diandra melangkah masuk ke dalam rumahnya. Namun saat ia baru akan masuk ke dalam ponselnya berdering. Diandra membuka tasnya untuk mengambil ponselnya. Dan ternyata itu telepon dari Kanaya. Diandra tersenyum lalu segera mengangkatnya.
"Halo Nay," sapa Diandra.
"Kamu ke mana? Aku ke apartemenmu tapi kamu tidak ada?" tanya Kanaya. Diandra baru ingat jika ia belum memberitahu Kanaya soal perpindahan dirinya. Raka melarang Diandra untuk kembali ke apartemennya tersebut. Dan selama itu pula Diandra belum menghubungi Kanaya.
"Maaf Nay, aku sekarang tinggal di rumah. Aku lupa tidak memberitahumu," ucap Diandra merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Baguslah jika kamu akhirnya kembali ke rumah," ucap Kanaya lega.
Mereka berbincang cukup lama. Sampai kehadiran Jiana pun Diandra tak menyadarinya. Saat ini Diandra masih berada di terasnya.
"Sampai jumpa besok Nay," ucap Diandra lalu menutup sambungan teleponnya.
"Kenapa masih di luar sayang? Angin malam sangat dingin, kamu bisa sakit nanti," ujar Jiana. Ia mengusap bahu Diandra dengan lembut.
"Tadi Naya telepon Bun.. Bunda kok belum istirahat?" tanya Diandra.
"Kamu belum pulang. Bagaimana Bunda bisa istirahat dengan tenang, hmm?"
Diandra hanya tersenyum. Ia memeluk Jiana sekilas. Mereka masuk ke dalam rumah dan segera istirahat.
"Sayang, ingin Bunda buatkan apa?" tanya Jiana.
"Tidak usah Bunda... Bunda istirahat saja," balas Diandra.
"Baiklah sayang." Jiana membiarkan Diandra masuk ke kamarnya. Setelah memastikan Diandra masuk ke dalam kamarnya, ia kembali lagi ke kamarnya untuk beristirahat.