Malam itu, semuanya berubah. Kegelapan yang seharusnya membaw kedamaian, justru menjadi saksi bisu atas kekerasan yang tak terkatakan.
Indira perempuan malang. Dia harus kehilangan kehormatannya yang di renggut paksa dari seseorang yang tidak di kenalinya. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami musibah itu, dia di usir sama tetangganya karena tidak mau nama baik lingkungannya tercoreng karena keberadaannya.
Angksa Bagaskara. Harus memilih antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau di coret dari hak waris keluarganya.
Simak ceritanya yu jangan sampai ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Tidak Bisa Menahannya
"Ap-a?" tanya Indira tergagap.
Debug!
Bruk!
"Akh!" teriak Indira saat dirinya hampir terjengkang.
Angkasa tergalak begitu puas sampai air mata keluar dari sudut matanya melihat sang istri hampir terjengkang ke belakang saat dirinya tanpa aba-aba melemparkan bantal ke arahnya, dia mengusap air matanya perutnya serasa keram karena terus menertawakan istrinya itu. Angkasa bangun dari pembaringannya dan duduk memperhatikan sang istri, sunggu baru kali ini dirinya bisa tertawa lepas hanya karena melihat kebodohan istrinya sendiri.
Indira mebulatkan matanya dia langsung menangkap bantalnya dan memeluknya erat untung saja dirinya bisa menahan bobot tubuhnya sendiri sehingga tidak membuatnya terjatuh, karena tanpa sepengetahuan dirinya suaminya itu melemparkan bantal ke arahnya begitu saja, sungguh Indira ingin sekali mencakar wajah menyebalkan suaminya yang suka berbuat seenaknya.
"Apa kau sudah tidak waras? Kenapa kau melemparkan bantal ini ke arahku? Kalau aku jatuh bagimana? Kau bener-bener laki-laki aneh!" ujar Indira memaki suaminya.
"Apa? Kalau bilang aku tidak waras?" tanyanya.
"Iya. Kau memang tidak waras! Apa kau tidak dengar apa yang barusan aku katakan?" sahut Indira raut wajahnya terlihat begitu kesal.
Mendengar ucapan sang istri membuat Angkasa meradang. Darahnya seakan mendidih di katakan tidak waras dari perempuan yang tidak selevel dengannya, Angkasa mengepalkan tangannya wajahnya merah padam rahangnya mengeras terlihat urat-urat lehernya menonjol, dengan langkah lebarnya Angkasa mendekati sang istri langsung mencekal tangannya.
Indira menatap benci laki-laki di depannya dia meringis kesakitan. Indira menjatuhkan bantal yang ada di dekapannya berusaha melepaskan tangan suaminya itu. Dia di tarik paksa dan di hempaskan ke ranjang dengan kasar.
Debug!
"Berani sekali perempuan rendahan sepertimu mengatai aku tidak waras!" ujar Angkasa naik ke atas ranjang menindih tubuh istrinya.
"Ma-u ap-a kam-u." ujar Indira tergagap.
"Memangnya mau apa lagi? Tentu saja memeberi pelajaran sama perempuan kurang ajar sepertimu!" jawab Angkasa tersenyum smirk.
"Tidak jangan!" seru Indira menggelengkan kepalanya.
Indira menggelengkan kepalanya dia bersingkut menjauhi suaminya kedua tangannya di gunakan untuk menahan tubuh sang suami agar menjauh darinya, matanya mencari-cari sesuatu yang bisa di gunakan untuk menyelamatkan dirinya dari kungkungan monster seperti suaminya itu. Indira menarik bantal guling dan melemparkan ke wajah suaminya tapi tidak membuatnya lepas.
Angkasa terkekeh-kekeh melihat perlawanan sang istri. Dia mulai membuka satu persatu kancing piamanya hingga terlepas dengan sempurna memperlihatkan dada bidangnya. Angkasa membuang piamanya ke sembarang arah dan bergantian menurunkan celananya, sedangkan tangan satu lagi dia gunakan menahan tangan sang istri yang terus memberontak. Angkasa tertawa menggelegar saat semuanya sudah terbuka hanya menyisakan celana boxernya saja.
Indira mulai ketakutan saat melihat tubuh suaminya sudah setengah telanjang, dia menggeleng hebat sekuat tenaga dia berusaha untuk kabur tapi tidak bisa. Tenaga suaminya itu bener-bener kuat sama sekali tidak memberinya cela untuk kabur.
"Kenapa hem? Bukankah ini seharusnya jadi malam pengantin kita? Sebagai seorang istri sudah seharusnya seorang istri berkewajiban melayani suami bukan? Sekarang ayo layani suamimu ini!" Angkasa mencium seruk leher sang istri.
"Tidak. Jangan lakukan ini padaku!" Indira memiringkan kepalanya menghindari ciuman suaminya.
Angkasa mendongakan kepalanya saat mendapatkan penolakan dari istrinya. Dia melihat air mata sang istri sudah mengalir deras bukannya kasian atau berhenti melakukannya, Angkasa justru semakin tertantang. Angkasa mulai menempelkan bibirnya di bibir sang istri berusaha memberi lumatan di sana, tapi Indira tidak membiarkannya dan itu semakin membuat dirinya semakin menggebu-gebu untuk melakukannya.
Indira menangis sesegukan dia mengunci bibirnya rapat-rapat tidak membiarkan suaminya itu melahap bibirnya. Air matanya semakin mengalir deras akankah dia mengalami pelecehan untuk yang kedua kalinya dari orang yang sama? Sunggu dirinya merasa jadi perempuan yang bernasib menyedihkan hidupnya cuma ada penderitaan saja. Indira merasa takdir sangat tidak adil padanya pikirnya
Karena Indira tidak kunjung membuka bibirnya memberikan ruang untuk durinya akhirnya Angkasa menggigit kuat bibir istrinya. Dan ya kini bibir Indira terbuka akibat gigitannya, Angkasa tidak membuang kesempatan dia mulai melumat habis bibir manis istrinya tidak membiarkan istrinya lolos. Angkasa mulai menarik hijab sang istri dengan paksa dan mulai menciumi leher jenjang istrinya tampa ada yang terlewat dan meninggalkan jejak merah di sana.
Tangis indira semakin pecah tubuhnya bergetar saat suaminya itu berhasil membuka hijabnya. Memang sebagai istri sudah sepantasnya dia melayani suaminya tapi tidak dengan cara seperti sekarang. Dirinya mau melayani sang suami atas kemauannya atas dasar suka sama suka.
"Pergi dari sini!" teriak Angkasa tiba-tiba mengguncang tubuh istrinya sampai berpindah posisi dia berdiri berdiri membelakangi istrinya.
Brak!!!
Angkasa masuk kedalam kamar mandi membanting pintunya keras! Dia berdiri di depan cermin mengusap wajahnya kasar niatnya hanya ingin mengerjain istrinya saja tapi entah kenapa dirinya jadi ingin bener-bener melakukannya? Angkasa menjambak rambutnya kasar dia mengadakan tangannya di bawa keran dan membasahi wajahnya. Melihat istrinya menangis seperti tadi membuatnya tidak tega.
Cetak!
Enggak lama Angkasa keluar dari kamar mandi dia melihat istrinya meringkuk di sofa dengan kain tipis menempel di tubuhnya. Angkasa menghela nafas berat dia mematikan lampu kamarnya dan bergegas keluar, malam ini Angkasa tidak berniat tidur di kamar bersama istrinya atau dia tidak akan bisa menahannya lagi.
Indira membalikan tubuhnya saat mendengar suara pintu di banting tangisnya kembali pecah saat suaminya itu pergi meninggalkannya.
"Sebenarnya apa maumu?" ucap Indira suaranya terdengar bergetar.
*****
Di balkon kamarnya Candra duduk dengan di temani secangkir kopi menikmati malam yang begitu cerah dengan pemandangan gedung-gedung tinggi terlihat pancaran lampu sebagai penerang, langit malam memperlihatkan sinarnya dengan bintang-bintang dan bulan yang terlihat begitu indah untuk di lihat.
Berkali-kali Candra menghela nafas berat seperti ada sesuatu yang lagi di pikirkan, bayangan Freya bercanda bareng laki-laki lain masih melintas di ingatanya dan sekarang sepertinya ada orang lain yang tertarik sama gadis itu. Candra meneguk kopi dan menarunya di meja.
"Nak," panggil tuan Malik yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Candra.
"Ayah, sejak kapan ayah ada di sini?" tanyanya.
"Sudah lama ayah ada di sini, Nak, ngeliatin kamu melamun, apa ada yang kamu pikirkan? Ceritakan saja sama ayah." sahut tuan Malik, menepuk pundak putranya ikut duduk di sebelah Candra.
"Tidak ada, Yah, aku lagi enggak memikirkan apapun," jawabnya.
"Baiklah, em.. menurutmu gimana dengan, Anin?" tanyanya.
Candra mengerutkan dahinya bingung dia melihat ayahnya lagi tersenyum ke arahnya. Jujur Candra tidak tau maksud dari pertanyaan ayahnya, kenapa tiba-tiba jadi menanyakan Anin padanya? Dirinya juga tidak tau Anin yang di maksud ayahnya apakah Anin temen kampus Freya atau Anin yang lain batinnya.
"Anin? Anin, siapa yah?" Candra balik bertanya.
"Aninda, putri, tuan Kenzo dan Nyonya Hani, temen kampus, Nona muda." jawab tuan Malik.
"Mana aku tau yah," ujar Candra terdengar malas moodnya tiba-tiba buruk.
"Nak, besok malam tuan Kenzo, ngundang kita makan malam di rumahnya persiapkan dirimu ya jangan bikin ayah malu," ucap tuan Malik menepuk lengan putranya sebelum akhirnya beliau berlalu pergi meninggalkan putranya yang terlihat kaget.
"Aku tidak mau, Yah!" Candra menolak permintaan sang ayah tapi, Tuan Malik tidak menanggapinya.
Argh!
Candra memukul pagar balkon dia tidak habis pikir sama permintaan sang ayah, kenapa harus menerima ajakan keluarga tuan Kenzo buat makan malam di rumahnya. Anin memikirkan soal gadis itu saja tidak pernah apa yang mereka rencanakan batin Candra bertanya-tanya..
****
Bersambung.....