NovelToon NovelToon
Behind The Boss

Behind The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma hajid

Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.

Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.

Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Rangga

"Menikahlah denganku!!" serunya. Langkah Kiran terhenti, begitu pun Ari. Rahang pria itu mengeras.

"Mari kita lupakan semuanya. Aku akan menerimamu apa adanya." ucapnya sembari menatap Kiran yang membelakanginya dengan penuh pengharapan.

"Aku akan berhenti bekerja di perusahaan itu. Aku juga tidak peduli dengan kesucianmu. Asalkan di hatimu masih ada aku, itu semua sudah cukup bagiku. Aku tidak butuh yang lain." ucap Rangga memberi penegasan pada kata-katanya.

Kiran menghela nafas pelan. Tangan Ari mengepal. Baru saja ia ingin berbalik dan menghujani pria yang membuatnya muak itu dengan bogeman, memutuskan untuk menahannya, mendengar suara Kiran yang menjawabnya dengan tegas.

"Masalahnya aku sendiri juga ragu, jika di hatiku masih ada namamu." jawab Kiran tanpa menoleh. Kemudian ingin meneruskan langkahnya diikuti Ari yang menahan senyumnya.

"Biarkan aku menjelaskan padamu! Setelah ini jika kau pergi maka aku tidak akan mencegahmu!" seru Rangga.

Kiran menghentikan langkahnya. Terdiam beberapa saat. Berusaha menimbang sesuatu. Sejujurnya ia sudah malas mendengarkan penjelasan apa pun dari Rangga. Namun ia khawatir, jika ia tidak membiarkan pria itu menjelaskan, kedepannya akan terjadi lagi kejadian serupa seperti yang dialaminya. Bisa saja pria itu kembali menculiknya hanya untuk mendengarkan penjelasannya.

"Apalagi yang ingin kau jelaskan?" tanyanya dingin, tanpa melirik ke belakang.

Ari merasa jengah sekarang. Ini semua membuatnya muak. Melihat Kiran yang sepertinya masih mendengarkan pria itu membuatnya tidak sabar.

"Tidak usah didengarkan lagi, Kiran. Semua ini hanya membuang-buang waktu."

Kiran bergeming. Menatap mata Ari dengan sorot mata yang mengatakan agar Ari diam dan membiarkannya. Pria itu menghela nafas kasar.

Rangga tidak ingin membuang kesempatan. Pria itu mulai bercerita.

"Ayah Sesil sakit. Sakit yang lumayan parah. Permintaan ayahnya hanya ingin setidaknya melihat kekasih putri semata wayangnya itu sebelum ia meninggal. Ia merasa tidak tenang jika belum melihatnya.

Sesil merasa bingung makanya dia memintaku hanya untuk menjadi kekasih sementara di depan ayahnya. Dengan imbalan kenaikan jabatan.

Pada awalnya aku sempat menolak. Namun melihat air matanya, aku pun akhirnya mengiyakan. Di satu sisi, aku bisa mengeluarkan gadis itu dari kesulitan. Kedua, aku pikir ada baiknya bagiku, dengan kenaikan jabatan maka berbanding lurus dengan kenaikan gaji. Tentunya semakin mempercepat aku mengumpulkan uang untuk melamarmu.

Di luar dugaan, ternyata Ayah Sesil sangat menyukaiku. Beliau selalu mendesak agar aku segera menikahi Sesil. Tentu saja aku keberatan. Maka dengan segera aku memutuskan untuk mengakhiri kisah pacar-pacaran kami agar tidak terlalu jauh nantinya. Aku juga merasa bersalah padamu, meski kuakui, tidak ada yang berubah pada hubungan kami.

Malangnya, Sesil tidak terima. Gadis itu mencoba bunuh diri dengan menerjunkan dirinya ke sungai di bawah jembatan yang ada di kota itu. Aku begitu panik hingga langsung menolongnya dengan segera. Kemudian aku membawanya ke kamarku untuk membersihkan diri. Karena tak mungkin aku membawa Sesil ke rumah neneknya yang ada di kota itu. Pada waktu itu, Sesil menginap di rumah neneknya. Selanjutnya kau melihat kami."

Kiran menarik nafas pelan. Semuanya sekarang menjadi terang. Pertanyaan yang bergelayut sejak ia meninggalkan kota itu sudah terbuka sebahagian. Meski hatinya tidak lagi merasa begitu sakit sekarang. Setidaknya memang pada dasarnya, Rangga tidak pernah mengkhianatinya.

Namun, ia menyadari tidak akan mungkin lagi bagi mereka untuk bersama. Kilas wajah Mama Ari membayanginya. Bagimana jika ia menolak? Bisa jadi penyakit jantung Tante itu akan kambuh.

Begitu juga dengan Sesil. Seperti yang disampaikan Ari juga bahwa gadis itu sangat menyukai Rangga. Kiran bisa melihatnya. Kenapa harus pria itu yang menjadi kekasih sementaranya dan bukan karyawannya yang lain? Tentu karena Sesil menyukainya. Perbuatan nekatnya dengan menceburkan diri ke sungai sudah membuktikan ia menyukai Rangga~seperti kata Ari~dengan menggila.

"Aku menyesal, Kiran. Aku...,"

"Ada lagi yang ingin kau sampaikan?!" tanya Kiran tegas memotong ucapan memelas Rangga.

"A-aku..., " mendengar ucapan pria itu yang terbata-bata, memberikan pemahaman pada Kiran bahwa tidak ada lagi yang ingin disampaikannya.

"Aku sudah mendengarnya. Sekarang penuhi janjimu untuk tidak mencegahku pergi!" potong Kiran lagi. Rangga membeliak. Ia merasa sia-sia.

"Satu lagi, hubungan kita sudah berakhir. Dan akan selamanya seperti itu." ucap Kiran sembari melangkah kembali keluar diikuti Ari.

Rangga terduduk lemas di tempat tidur. Ia menutup wajahnya lalu mengusapnya dengan kasar. Ia merasa menyesal dengan semua yang telah terjadi. Kiran tidak memaafkannya!

Jika saja ia tidak mengiyakan permintaan Sesil maka tidak akan jadi begini. Kiran tak akan pernah menemukannya bersama gadis itu di dalam kamar hotel. Kekasihnya itu juga tidak akan sedih, dan Ari tentu tidak akan bisa mengambil kesempatan pada malam itu.

Matanya memerah. Penyesalan memenuhi rongga dadanya. Ia berdiri kemudian melampiaskannya dengan memukul beberapa kali ke arah dinding. Merasa lelah, ia terduduk di lantai menyender ke tempat tidur. Tetesan darah tampak mengalir dari punggung jari tangannya.

Rangga mendesah pelan, menatap ke arah jam dinding. Jika waktu bisa diputar, maka ia ingin mengulang semuanya. Tapi semua sudah terjadi. Waktu tak akan bisa diputar, sejalan dengan peristiwa yang telah dilaluinya yang tak akan bisa diulang kembali. Sekarang, mau bagaimana pun Kiran pasti akan selalu membencinya. Hubungan mereka jelas sudah berakhir. Ia sudah tidak punya kesempatan.

❇❇❇❇

Kiran melangkah ke luar diikuti Ari. Tidak berapa lama berjalan, langkahnya terhuyung. Ari langsung menangkapnya. Gadis itu memegang kepalanya yang terasa berputar.

"Kamu kenapa, Kiran?" tanya Ari cemas melihat wajah Kiran yang pucat.

Kiran menggeleng lemah, "Aku gak apa-apa. Hanya sedikit pusing."

"Aku gendong, ya?" tanya Ari khawatir.

"Gak usah. Aku masih bisa jalan, Ari." jawab gadis itu dengan lemah.

"Ya, udah. Aku akan membantumu berjalan."

Ari memapah Kiran sampai keluar rumah. Sembari mereka melangkah, terdengar suara pukulan berasal dari dalam kamar. Kiran tak menghiraukannya. Ari tersenyum sinis mendengarnya. Ari paham apa yang sedang terjadi di dalam.

Kau patut untuk menyesal!

Beberapa pengawal tadinya ingin bergerak masuk, mengingat salah satu bos mereka ada di dalam. Namun setelah melihat pria itu keluar, mereka mengurungkannya.

"Mana Kakakku?" tanya Ari menyadari bahwa Kakaknya sudah tidak ada lagi di sana.

"Beliau sudah pergi, Bos. Katanya kami disuruh pulang sama Bos." jawab salah satu dari mereka. Ari mengangguk kemudian melangkah pergi diikuti empat orang pengawal yang tersisa. Orang suruhan Rangga, sesuai dengan perintah Radit, mereka biarkan begitu saja. Masih dalam keadaan terikat.

Mereka kemudian masuk ke dalam mobil yang sama. Dua di depan, dan dua di belakang. Di Tengah, Ari dan Kiran.

"Kemana kita, Bos?" tanya salah seorang yang berada di belakang kemudi.

"Ke rumahku!"

"Tapi...," Kiran ingin protes namun Ari memberi isyarat padanya untuk menurut.

"Pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Mau ke sana sekarang atau nanti, pada akhirnya kau akan tinggal di sana juga."

"Tapi aku malu pada Tante, Ri."

"Dia akan jadi orang tuamu nantinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Merasa tidak mampu lagi mendebat ucapan Ari, Kiran akhirnya terdiam. Keheningan kemudian tercipta di antara mereka hingga supir melajukan kendaraan.

"Kiran...," panggil Ari pelan.

"Hemm...," tidak mengalihkan pandangannya. Masih setia memandang keluar jendela.

"Masih pusing?"

"Sudah nggak lagi."

"Kiran...," panggil Ari lagi.

"Hemm...."

"Apa yang terjadi? Kenapa pria itu sampai membuka bajunya?" tanya Ari menyelidik.

"Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang terjadi. Aku hanya menceritakan kejadian yang sebenarnya padanya."

"Lalu kenapa dia sampai membuka bajunya?" tanya Ari tak puas.

"Kau bisa tanyakan saja padanya. Karena aku sudah tidak peduli mau dia pakai baju atau tidak." Kiran mulai kesal. Sekarang ini, sejujurnya ia malas bicara.

"Tapi kan matamu bisa ternoda." ledek Ari. Ia tak peduli Kiran yang tampak mulai kesal dengannya. Ia ingin menggoda gadis itu sekarang.

"Mataku memang sudah ternoda olehmu." balas Kiran asal.

"Ternoda oleh calon suami kan, gak apa-apa, Kiran." sahut Ari.

"Tapi waktu itu kau belum jadi calon suamiku." jawab Kiran datar.

"Tapi aku langsung melamarmu."

"Mengamcamku, maksudnya?" Kiran melirik Ari.

Yes! Akhirnya kau melihatku.

"Kan, agar kau mau menikah denganku." tanyanya dengan mimik sok imut.

"Baiklah. Kau menang. Mataku sudah ternoda. Kedepannya akan kupastikan dia selalu memakai baju jika berbicara denganku." Kiran mengalah. Iyakan saja, biar cepat.

"Tidak ada lain kali. Aku tidak mau kau bertemu dengannya!" Ari melototkan matanya.

Kiran menatap Ari datar. Merasa malas mendebat pria itu lagi. Gadis itu menghela nafas pelan kemudian melempar pandangan keluar jendela. Hari sudah terang.

"Kiran...," panggil Ari.

"Hemmm," jawab Kiran

"Bukankah kau sangat keterlaluan. Kenapa tidak kau biarkan aku menolongmu tadi. Kenapa kau malah diposisi seperti itu saat kami mendobrak pintu?!"

Apa lagi, sih?!

"Minimal kau biarkan aku tampak keren di depanmu dengan menyelamatkamu. Kau ini memang benar-benar keterlaluan." Ari berpura-pura kesal. Gadis itu menatapnya tak percaya.

Apa yang ada di pikiran pria ini?

"Maaf," ujar Kiran lirih. Sekali lagi gadis itu hanya berpikir, iyakan saja, biar cepat.

Kiran teringat sesuatu. "Ri....," panggilnya pelan.

"Ya...," jawab Ari. Melirik gadis di sampingnya penuh dengan kehangatan.

"Sejak kapan kau memata-matainya? Sejak kapan kau tau dia menjalin hubungan dengan gadis itu?"

"Jangan cari tau apa yang bisa membuatmu sedih...,"

"Aku hanya ingin tau, Ri."

"Semua tidak penting sekarang. Yang penting sekarang adalah pernikahan kita. Yang lain jangan lagi kau pikirkan. Semua hanya menguras emosi yang tak berguna. Aku tidak ingin kau menangis lagi karenanya. Tangisanmu di hotel itu adalah yang terakhir. Kedepannya kau hanya boleh menangisiku. Dan itu pun tangisan bahagia. Aku tidak ingin melihatmu bersedih, Kiran."

Kiran menoleh menatap Ari. Menilik perasaan pria itu dari kedua matanya. Sesaat mereka saling menatap. Tak menghiraukan mata dan telinga para pengawal yang mengamati mereka dalam diam.

Kiran mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela. "Hari sudah terang, Ari. Kita belum sholat shubuh." katanya mengalihkan pembicaraan. Ari tak menjawab. Selanjutnya keheningan menerpa mereka.

1
nurhayati sataral
endingnya tidak menarik, jadi malas bacanya
Tangsah Jagad
ceritanya bagus,di tunggu kisah Kiran dan Radit
nobita
serasa nonton drama.. author ku ini bisa membuat para readersnya masuk dan hanyut dlm alur ceritanya... wow wow... jd nyesek dan pengen nangis berjamaah
nobita
ya ampun ya ampun... aku gk kuat bacanya klo Radit sama Kiran berpisah... piye yo iki? saran aja thor pertemukan Ari dg cewek lain... selain Kiran...
nobita
gk bosan bosannya aku baca karyamu ini thor.. trs ku ulang ulang... emang is the best
nobita
tulisannya rapi... alurnya apik.. mengalir apa adanya... kerenn
nobita
author kesayangan ku ini banyak pengalaman... dan berwawasan luas tentunya...
nobita
Ari tipikal cowok yg usil. humoris, tengil.. sedangkan Radit cowok serius.. pilih yg mana ya?? dua duanya ku suka... karna sama nilainya... hahahah
Fitri Nuryani
siip
Nur Ismawati
segera up lagi ya,,kami tunggu
Dela
jrengggg... jrenggggg pada nungguin kan..penasaran dong.. nyok kita lanjutin bacanya.. untungnya saya nemuin novel ini udah end.. jadi tinggal lanjut baca nuntasin penasaran d dada... emang jempol kamu thor.. pinter banget ngadukin hatil readersmu yg setia...semen kali d aduk
Hj Mia Mubin
akhirnya author kehabisan ide.... tamat sdh. 🤭
🌻Ruby Kejora
Aku mampir kak dan fav novelnya
Edi Candra
setuju lw kiran sama radit..
Mom Dee🥰🥰
terakhir update bulan 4 ini sdh bln 12 thor 🥲
🌻Ruby Kejora: Mungkin masi cari ide kak author nya ato sibuk
total 1 replies
sabila 78
kutunggu selalu karyamu ... please lanjutkan
sabila 78
lanjutkan kakak novelnya
chui
kok cerita y gantung Thor
Sumi
apa Uda tamat Thor ??? ko g up jg si
Quinn ATIFAH 2 👑
daan sekarng sudah END 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!